Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Pikiran Kotor


__ADS_3

Hongkong,


terkenal dengan perkembangannya yang ekspansif, pelabuhan laut dalam alami, dan kepadatan penduduknya yang sangat tinggi.


Hongkong merupakan negara yang kecil. Tidak luas.


Bayangkan,


Kamu bisa mengelilingi seluruh stasiun di negara Hongkong, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam menggunakan kereta MTR atau Mass Transit Railway.


Itu artinya,


kamu bisa mengunjungi seluruh kota di negara, hanya dalam waktu kurang dari satu hari.


Waw, menakjubkan bukan?


Eih, tunggu dulu..


meskipun Hongkong tidak memiliki wilayah daratan yang luas, tapi kemajauan tekhnologi dan pembangunan di negara ini cukup maju loh...


Menarik untuk ditiru.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan sosok perempuan cantik yang selama ini menjadi pujaan hati, sedang memakai handuk kimono. Dengan rambutnya yang basah terbungkus handuk berwarna putih.


"Dingin banget, Rey..." bibirnya sampai bergetar menggigil. Bahkan, kakinya juga ikut bergetar saat dia berjalan, saking dinginnya. "Aku lupa menyalakan air hangat."


Didepan laptopnya, Reyhan menggeleng. "Sudah dibilangin musim dingin juga.." Lalu, lelaki itu meneruskan aktifitasnya. Memeriksa dokumen penting yang akan ia gunakan untuk pertemuannya nanti sore.


Tidak ada sahutan lagi, Nayla segera mengambil baju dikopernya untuk dia kenakan. Mereka sengaja tidak memindahkan barang-barangnya dari koper, karena hanya akan menginap tiga hari saja dihotel itu.


"Kamu, mau yang anget-anget?" Dengan nada menggoda, Reyhan bertanya. Sembari menutup laptopnya, lelaki itu kemudian berjalan menghampiri sang istri.


Nayla membelalak, sebelum kemudian berdecak kesal didepan almari.


"Enggak." Jawab gadis itu cepat.


Seolah, Nayla tahu maksud perkataan dari suaminya.


Anget-anget itu apa? ya, Memang apalagi kalau bukan aktifitas bergumul di atas ranjang? Iya, aktifitas yang seperti biasanya itu lo..


Yang, gak pakai baju !


"Kalau begitu, pakai ini" Reyhan memakaikan sebuah syal, berwarna pink smothh. Ia lingkarkan ke leher istrinya.


Satu lagi,


Reyhan juga sudah membelikan mantel overcoat musim dingin untuk sang pujaan hatinya Nayla, dengan model casual bergaya korea dan berwarna mocca.


Ia yakin, istrinya itu akan semakin cantik saat mengenakan mantel pilihannya.


"Biar apa?"


"Biar anget.." Reyhan menyeringai lebar, sebelum melanjutkan kalimatnya, lelaki itu tersenyum mengejek "Pikiran kamu itu, jangan mesum terus."


Aduh, sialan..


Nayla tertawa lebar. Pikiran buruknya kepada sang suami begitu mudah dibaca oleh Reyhan. "Iya-iya... maaf" Ucap nya disela-sela tawa itu.


"Aku akan memaafkan, tapi kamu harus melakukan sesuatu untukku.."


"Melakukan apa?" Balasnya menggoda, gadis itu kalungkan kedua tangannya ke leher sang suami. Dan sesekali, dia dengan sengaja menggigit bibir bawah nya sendiri didepan Reyhan.


"Apa lagi kalau bukan.."

__ADS_1


Belum sampai Reyhan menyelesaikan ucapannya, Nayla berbicara cepat memotong.


"Iya-iya, nanti malam ya.."


Cletak


Reyhan sentil kening Nayla dengan keras. "Apalagi yang kamu pikirkan? dasar gadis nakal.."


"Duh, sakit..." Nayla tarik tangannya dari leher Reyhan, lalu ia mengusap-usap keningnya. Sumpah demi apa, sentilan di keningnya terasa ngilu. "Ngapain sih, sentil-sentil,? Sakit tau..."


"Itu hukuman.." Jawabnya sambil menyeringai. Lalu, Reyhan menarik sebelah tangan Nayla, membawanya segera keluar dari kamar. "Sudah yuk, cari makan"


Keduanya keluar dari kamar hotel dengan ekspresi berbeda. Nayla tampak cemberut, ia kesal dengan Reyhan yang dengan sengaja menyentil keningnya. Sementara, Reyhan dengan senyum diwajahnya yang terus mengembang. Lelaki itu senang.


Entah, apa yang membuatnya begitu merasa senang.


Mungkin,berjalan berdua dan berpegangan tangan dengan istrinya, seperti ini? Atau mungkin, berkaitan dengan proyek kerja sama? Atau,


bisa juga, Reyhan merasa senang karena statusnya sebagai suami Nayla yang sudah diketahui oleh lelaki itu.


Disepanjang jalan menuju tempat makan yang akan Reyhan tuju, tangan mereka saling menggenggam bertautan.


"Sudah, jangan cemberut gitu sayang..." Dia kecup punggung tangan istrinya, sambil berjalan dan mengedipkan matanya genit.


"Bicaralah, kalau kamu diam saja, aku jadi ingin mencium mu disini.."


"Jangan gila, ini ditempat umum..." Iya, mereka berjalan kaki menuju tempat makan.


Bukan hanya mereka, bahkan berjalan kaki sudah menjadi kebiasaan penduduk Hongkong.


"Bodo amat.. Hongkong negara bebas. Jadi sekalipun berciuman ditempat umum, tidak akan viral seperti di Indonesia. Lagian, kita sudah menikah. Sah-sah saja dong.."


"Aku akan marah, kalau kamu berani mencium ku didepan umum.."


Sambil berjalan beriringan, Nayla menatap Reyhan tajam. Menaikkan dagunya untuk menunjukkan bukti kemarahannya.


Dan, Reyhan membalas tatapan itu. Tak kalah menaikkan dagunya juga.


Lama, mereka bersitatap seakan perang dunia ke tiga akan dimulai, sampai.


"Hahaha"


Reyhan dan Nayla tergelak bersama-sama menyadari kekonyolan yang mereka ciptakan sendiri.


Diakhiri dengan, ciuman Reyhan di punggung tangan Nayla.


Tanpa terasa, dua insan yang sedang dimabuk cinta itu sampai di tempat tujuan. Restauran cepat saji khas negara Hongkong. Mereka memesan menu. Dan menikmati hidangannya dengan hikmat.


"Cobain, enak loh Nay.." Reyhan memotong beberapa bagian sirloin steak miliknya, dan menyuapkannya pada Nayla.


Dengan senang hati, perempuan itu menerima suapan sang suami. "Iya, enak banget Rey..." Apalagi, ditambah dengan sikap Reyhan yang romantis seperti ini. Kadar kenikmatan makanannya nambah berkali-kali lipat.


Serius !


Dering ponsel membuyarkan keduanya, Nayla melirik saku celana Reyhan. Dimana, dari situlah sumbernya suara itu.


"Pak Bima.." Reyhan memberi keterangan sebelum Nayla bertanya. "Kamu lanjutin makanannya, aku angkat telfon dulu?"


Nayla hanya mengangguk. Dan, ia kembali fokus pada makanannya.


Membiarkan sang suami menyelesaikan urusan pentingnya terlebih dahulu, agar setelahnya,


Reyhan bisa memberikan semua waktunya untuk Nayla.


Untuk bulan madu, yang sudah Reyhan janjikan.

__ADS_1


Eh, bulan madu?


Oh, pipi Nayla bersemu merah.


hanya karena fikirannya memikirkan kata bulan madu.


Sial sial sial


Kenapa fikiran Nayla jadi nakal begini sih? Berselancar kemana-kemana. Membayangkan sesuatu yang, tidak seharusnya ia bayangkan.


Kenapa jiwa liar nya kembali lagi?


Astagaa...


Gadis itu memejamkan matanya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran kotor itu. Sebelum pipi nya, semakin bersemu merah.


Pikiran kotor itu harus segera pergi.


Ya memang sih, kata dalam tanda kutip bulan madu itu memiliki banyak arti. Banyak makna yang tersembunyi.


Tapi, Nayla harus membuang pikiran itu sekarang. Biarkan, semua berjalan seperti seharunya. Nayla pejamkan matanya lebih erat lagi, dan ia menggeleng-geleng lebih keras.


Ayolahh, pergi... !


Tanpa Nayla sadari,


Reyhan sudah kembali sejak tadi. Dan memperhatikannya dengan tatapan mata tak percaya.


Lelaki itu duduk, dikursinya semula. Matanya tak lepas dari Nayla. Reyhan menatap Nayla dengan perasaan geli terhadap gadis itu.


Tapi, sekaligus merasa lucu.


Entah apa yang dipikirkan oleh istrinya, sampai harus menutup mata dan tidak menyadari kehadiran Reyhan disampingnya.


"Lagi mbayangin apa?"


Byarr...


Mata Nayla terbuka lebar. Malu, gadis itu sangat malu. Bisa-bisanya ia ketahuan sang suami. Mau ditaruh dimana nanti mukanya?


Ia menggeleng sambil menutupi rasa malunya, sambil tertawa hambar. "Rey.. "


"Iya, kamu lagi mbayangin apa sampek merem-merem gitu?" Sembari terkekeh mengejek, Reyhan memasukkan sepotong daging kemulutnya.


"Eng-enggakk kok..."


"Pikiran kotor mu, hadir lagi ya?" Tanyanya, lalu tergelak keras. Dan sesuai sasaran, Reyhan tau apa yang Nayla pikirkan saat melihat, pipi gadis itu semakin bersemu merah, bak kepiting rebus. "Aku tau apa yang kamu pikirin.."


"Memang, aku memikirkan apa?"


"Iya iya, nanti malam ya?" Jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaannya, tapi Nayla paham kemana arah bicara suaminya.


"Reyhan, ih..."


Sebal, gadis itu memukul lengan Reyhan dengan keras.


"Sudah sudah, cepetan dihabisin, setelah itu kuantar kamu kembali ke hotel.. karena aku sudah ditunggu pak Bima.. Gak papa ya?"


Nayla masih ingin merajuk, tapi usapan tangan Reyhan dikepalanya membuat ia harus mengurungkan niatnya. Dan lebih memilih mengangguk setuju.


Tentu saja, agar urusan penting Reyhan segera terselesaikan. Selanjutnya, biar suaminya bisa fokus terhadap bulan madu mereka.


Apa? Bulan madu?


Ups.. ya Ampun pikiran itu kembali lagi..

__ADS_1


__ADS_2