Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Ibarat Sebuah Rumah


__ADS_3

Jeni terisak disamping Nayla. Mengingat masa lalunya yang kelam. Penuh penindasan.


Sesekali dia mengusap matanya yang sembab.


Tapi suara tangisan itu masih terdengar dan semakin pelan.


Jeni tersenyum masam. Merutuki dirinya sendiri yang masih saja lemah.


Dasar payah !!!


"Maafin Kak Nay ya Jen, membuat kamu sedih lagi.."


Nayla mengusap lembut puncak kepala Jeni. Tidak habis pikir, didunia ini ternyata benar-benar ada penindasan semacam itu.


"Jeni kangen Ibu kak.."


Berkata sambil membuang nafas kasar. Memejamkan mata dan membiarkan air matanya habis tak bersisa. Detik berikutnya Jeni menarik nafasnya panjang, menghembusnya pelan. Dan seketika dia menghentikan tangisnya.


"Sudahlah... itu hanya masa lalu. Toh sekarang Jeni sudah punya kak Rey.."


Jeni tersenyum lebar. Senyum yang penuh kedamaian dan keamanan.


"Kalau begitu Jen, bagaimana nasib teman-teman mu ditempat itu sekarang?"


Nayla bertanya dengan antusias.


Kali ini dia sangat tertarik mendengarkan cerita kisah nyata tentang manusia misterius yang sudah menjadi suaminya.


"Seminggu kemudian.. Kak Reyhan melaporkan kasus itu ke pihak berwajib. Setauku, sekarang, teman-teman sudah aman ditangani badan perlindungan anak dikota itu. Sedangkan Bang Dirman, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mendekam dipenjara."


Nayla mengangguk-anggukan kepalanya paham.


Benarkah Reyhan setulus itu?


Senyum simpul tersirat diwajahnya. Bangga. Dinikahi laki-laki yang berhati baik.


"Eh, tadi kak Nayla tanya siapa Kak Reyhan untuk kita kan?


Kak Rey itu ibarat rumah. Sesuatu yang memberi kita keamanan. Bukan hanya aku. Tapi kita."


Jeni berucap tanpa melihat Nayla. Dia menatap jauh pemandangan didepannya. Sedangkan Nayla, hanya diam.


Nayla tidak ingin menghakimi sendiri. Dia hanya ingin mendengar. Selebihnya, berusaha memahami.


"Kak Nay pernah denger kalau ibu adalah malaikat tak bersayap, sedangkan ayah malaikat tak berkuda? Ya, seperti itu lah Kak Rey. Dia malaikat yang tak berkuda dan tak bersayap. Dia bisa jadi ayah disatu sisi, dia juga bisa menjadi seorang ibu, meskipun tak sesempurna seorang ibu pada kenyataanya."


Nayla tersenyum kali ini. Senyum yang tulus.


Hatinya berdesir. Mengirimkan gelenyar aneh yang dibawa oleh aliran darah dari indra pendengarannya menuju hati.


Reyhan, maafkan aku belum sepenuhnya melupakan Satya. Tapi aku janji akan berusaha untuk itu.


Kamu memang pantas dicintai Rey


"Masih ada lagi yang mau ditanyakan? Aku harus membantu Mbak Nana memasak Kak.."


Tanya Jeni menatap Nayla.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tak terasa hampir dua jam sudah Nayla mendengarkan cerita tentang hidup Jeni dan Reyhan.


Meski belum sepenuhnya. Tapi cukup untuk membuat hati Nayla perlahan menerima Reyhan dengan perasaan yang baik.


Tanpa paksaan.


"Sepertinya tidak... itu sudah cukup. Terimakasih Jen..."


Jeni berdiri. Hendak beranjak meninggalkan Nayla yang tengah tersenyum puas dari rasa penasarannya.


"Jen tunggu...."

__ADS_1


Jeni berhenti setelah Kakak iparnya itu dengan sigap menghadang nya. Menghalangi langkahnya.


"Apalagi Kak....?"


Bukankah baru saja dia bilang sudah cukup? Kenapa kakak iparku menggemaskan begini sih?


Nayla tersenyum kikuk. Merasa bersalah sudah mengganggu waktu masak bocah itu.


"Eee itu, Jen, apa Reyhan pernah punya pa..caaa..r?"


Tanya Nayla dengan terbata.


"Haha, Kakak kenapa lucu begini sih..? kalau mau tanya ya tanya aja, yang penting jangan sampek kedengeran sama Kak Rey..


Setauku nih ya, Kak Rey gak pernah ada pacar. Tapi dia punya sahabat perempuan. Sering kesini juga dulu. Namanya Kak Luna.."


"Luna? Apa dia perempuan yang baik?"


"Dia baik kepada kami. Tapi Jeni gak terlalu suka. Entah lahh....


Tapi ada satu lagi. Seorang perempuan terang-terangan bilang suka sama Kak Rey.


Sayangnya kak Rey gak suka kayaknya sama dia. Soalnya dia judes banget sama kami. Namanya Alma.


Dah ya kak, Jeni pergii masak dulu....


Byeee Kak..."


Belari ke dapur meninggalkan Nayla dengan rasa penasarannya.


Alma,?


***


"Beneran nih kita jadi pulang kerumah Papa kamu?"


Reyhan bertanya sambil menggoda Nayla.


Entahlah, Reyhan tidak tau apa yang membuat istrinya itu seperti orang gila. Ups.. maaf


Tapi aneh kan? Duduk sendiri, dan senyum-senyum sendiri?


Coba kalau orang lain yang melihatnya? Pasti sudah takut. Lari kabur lah...


"Gak mau disini lebih lama lagi? Sepertinya kamu betah deh disini.. Orang tadi aku lihat kamu senyum-senyum sendiri..."


Seru Reyhan lagi mengejek Nayla. Lihatlah istrinya itu....


Sok sibuk. Sok cuek. Sok gak mau denger apa yang Reyhan katakan. Padahal sangat jelas dari ekpresi wajahnya dia tengah menahan kesal.


Dan ini yang membuat Reyhan semakin suka menggodanya.


Saat ini mereka tengah berdua dikamar. Nayla duduk diranjang tidurnya. Sambil memainkan ponselnya.


Jujur, Nayla memang kesal banget sama suaminya itu. Bukan hanya karena dia yang selalu menggodanya.


Ada sesuatu yang lain yang membuat Nayla hari ini tidak nyaman.


Sedangkan Reyhan tampak sibuk berkutat dengan laptopnya.


Bukan bekerja sih. Reyhan menyicil tugas skripsinya.


Jangan lupa.


Reyhan masih kuliah. Dan tinggal beberapa bulan lagi dia akan diwisuda. Meskipun Reyhan sangat sibuk.


Tapi masih sempat-sempat saja menggoda Nayla kan?


"Diam kamu... Aishh

__ADS_1


Kenapa kamu jadi cerewet begini sih Reyhan.? Perasaan dulu kamu pendiem deh sebelum menikah. Mana sopan banget lagi.."


Nayla menjawab tak mau kalah. Tangannya masih sibuk membuka akun instagramnya lewat ponsel.


"Aku cerewet juga sama istri sendiri kok.. Masalah emang?"


Jawab Reyhan sambil tersenyum menyeringai.


"Lagian kenapa pulang kalau kenyataannya dirumah juga masih sibuk sama laptopnya ?"


Protes Nayla yang tanpa sadar malah membuat Reyhan tertawa puas.


Menyebalkan?


Reyhan memang menyebalkan. Kalau memang pekerjaannya belum selesai kenapa harus pulang sih? Mana sedari tadi menggoda Nayla terus... Astagaa


"Haha, maksudnya kamu gak suka aku abaikan begini? Maunya diperhatikan terus ya?"


Jawab Reyhan sambil menutup laptopnya.


"Bukan gitu... Kalau kamu ditoko buku kan paling tidak aku aman gak ada yang godain terus. Lagian kamu juga untungkan, bisa lihat cewek-cewek cantik yang sedang beli buku?"


Seru Nayla dengan asal.


Reyhan tersenyum menyeringai. Lagi-lagi dia dibuat gemas oleh tingkah laku istrinya itu.


Mati-matian dia menahan hawa nafsunya. Kalau seperti ini terus, mana kuat?


"Oh, jadi maksudnya sekarang kamu cemburu?"


Reyhan berjalan medekati Nayla. Mengedipkan sebelah matanya menggoda Nayla. Membuat Nayla meloto kearahnya.


"Apa? Cemburu? Mana ada?"


Nayla berusaha mengelak. Menolak membenarkan tuduhan yang diberikan kepadanya itu.


Nayla kan hanya berkata iseng saja tadi. Lagian mana ada Nayla cemburu? Mustahil secepat itu kan Nayla jatuh cinta?


Kini Reyhan sudah duduk ditepi ranjang disamping Nayla. Reyhan sengaja duduk didekat Nayla tanpa menaikkan tubuh sepenuhnya dengan kaki yang masih menggantung.


Dia memandangi Nayla dengan seksama. Sedangkan yang dipadangi merasa kikuk. Salah tingkah sendiri.


"Kamu cantik.."


Dua kata yang seketika mampu membuat kedua pipi Nayla merah bersemu. Tangan Reyhan membelai rambut Nayla yang menutupi sebagian wajahnya. Menyelipkannya dibelakang telinga.


"Kamu istriku kan? boleh aku cium?"


Duh,


Jantung Nayla berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Laki-laki yang sudah berhak atas tubuhnya itu kenapa harus bertanya dulu sih?


Ya, dan tanpa sadar Nayla mengangguk.


Reyhan mencium bibir Nayla sekilas. Kemudian mencium lagi. Mencium semakin lama dan memberanikan diri memainkan bibirnya sendiri dibibir Nayla. Menggigit kecil disana. Lembut. Membuat Nayla meleguh nikmat.


Reyhan yang memabukkan !


Tok Tok Tok...


"Mas Rey makan malam..."


Seketika Reyhan melepaskan ciumannya dengan Nayla.


"Astaga, Mbak Nana lagi kan.! Mengganggu kesenangan.." Reyhan bergumam lirih membuat Nayla terkekeh geli.


"Sabaar..."


Ucap Nayla sambil mengusap lengan atas Reyhan.

__ADS_1


"Yaudah yuk makan. Trus kita pulang.."


Ajak Reyhan pada akhirnya dengan wajah lesu.


__ADS_2