
Setitik noda bukan berarti menghitamkan semuanya.
Ada kalanya,
Warna putih mampu merangkul noda itu, lalu menjadikannya lebih bercahaya.
Ceklek.
Pintu rumah terbuka. Lelaki pemilik lesung pipi yang menawan itu pulang dalam keadaan larut.
Bahkan semua lampu di sisi sudut rumahnya sudah mati. Menyisakan lampu meja nakas ruang tamu yang memberi cahaya temaram.
Salah satu tangannya menenteng bungkusan plastik berwarna putih. Satu tangannya lagi sibuk mendekap laptop dan kunci mobil dengan gantungan dompet kecil berwarna coklat.
Langkahnya masih tegap. Tapi, rasa lelah di sekujur tubuhnya tak dapat Reyhan ingkari.
"Ya Tuhan, capek sekali hari ini."
Rasa kaku menyerang sekujur tubuhnya.
Mungkin otot-ototnya ingin segera diistirahatkan. Sayangnya, perut Reyhan tidak se-frekuensi dengan tubuhnya.
Reyhan lapar, dan perutnya meminta makan sebelum ia mengistirahatkan tubuhnya.
Tadi,
Saat senja mulai menawan, Reyhan baru bisa keluar dari kantor untuk menjemput mama Riana dan papa Zeko di rumah sakit.
Pekerjaan kantornya sungguh sangat banyak, belum lagi ia harus menyiapkan pertemuannya besok dengan pengurus penting perusahaan Antara Mulia.
Sebelum ia merencanakan pertemuan ini,
Reyhan sudah mencari seluk beluk keluarga Satya. Bagaimana prinsip hidup mereka, bagaimana etika mereka dan bagaimana mereka mengenal Satya.
Keluarga terhormat, pasti memiliki etika yang baik juga dalam menanggapi setiap permasalahan yang ada.
Setelah mengetahui banyak hal tentang mereka, barulah Reyhan yakin dengan adanya pertemuan ini.
Sesampainya dirumah sakit,
Lelaki itu sekalian menyelesaikan admistrasi perawatan papa mertuanya, sebelum membawa mereka pulang.
Pun sesampai dirumah mereka, Reyhan juga tidak langsung bisa pulang.
Lelaki itu duduk sebentar menemani mama Riana sampai pak Damar dan bi Sriya kembali kerumah itu.
__ADS_1
Setelahnya, Reyhan baru pamit kembali ke panti.
Ia bahkan sampai melupakan ponselnya yang kehabisan daya sejak sore tadi.
Sekarang, Reyhan sudah berdiri di rumahnya sendiri. Laki-laki itu menatap ke lantai dua. Semua pintu kamar milik anak-anaknya sudah tertutup rapat.
Dan bisa ia pastikan, penghuninya sudah terbang ke alam mimpi dengan damai dan tenang.
ya, Semoga saja.
Berjalan kearah dapur, lalu menaruh bungkusan plastiknya diatas meja makan. Reyhan lantas masuk ke kamar mandi yang tak jauh dari area dapur itu, dan mencuci wajahnya yang lusuh.
Dia amati pantulan wajahnya didalam cermin. Dan seketika ia teringat dengan sang istri.
Biasanya kan, setiap malam sebelum tidur, mereka melakukan kegiatan gosok gigi bersama.
Tapi, ia merasa janggal dengan perasaannya yang mendadak gundah gulana. Tapi, dengan tiba-tiba bisa berubah kembali menjadi tenang-tenang saja.
Reyhan tidak pernah tahu apa penyebabnya, entah kenapa hari ini perasaannya gelisah, tapi disisi lain ia juga merasakan perasaan yang membuatnya bersemangat. Mendadak tidak nyaman sejak tadi pagi Nayla memutus sambungan telefon mereka. Tapi, mendadak pula dia merasakan ketenangan disaat bersamaan.
Bagaimana menjelaskan,
Saat perasaan tidak karuan berjalan beriringan dengan perasaan tenteram.
Nayla pasti baik-baik saja. Begitu keyakinan yang ia tancapkan dihatinya.
Setelah mengucapkan itu, dia berjalan kembali ke meja makan.
Reyhan berniat menelfon Nayla nanti setelah dia selesai menyelesaikan urusan perutnya yang lapar.
Sebelum, ia melihat seorang perempuan yang berdiri membelakanginya.
"Loh, mbak Nana?" Panggil Reyhan, saat didapati perempuan yang ia percaya menjaga anak-anaknya itu tengah membantunya menyiapkan bungkusan plastik berisi makanan kedalam piring. "Belum tidur, mbak?"
Mbak Nana tersenyum lebar, lantas perempuan itu memencet saklar untuk menyalakan kembali lampu dapur. "Belum mas, tadi denger mas Reyhan pulang. Eh bawa makanan, yasudah aku bantu nyiapinnya dulu."
Perempuan itu berjalan ke dapur. Membawa plastik bungkusan lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Terimakasih." Memberi senyuman setelahnya. "Padahal aku bisa sendiri loh."
"Gak papa mas. Udah biasa juga kok." Membalas sambil tersenyum, Mbak Nana amati lelaki yang sudah ia ikuti sejak bertahun-tahun lamanya. Dalam pandangan Mbak Nana, Reyhan masih sama seperti dulu.
"Nanti piringnya taruh disana saja ya mas. Biar aku yang nyuci." Menyusuri tangga berjalan ke lantai dua.
"Tak cuci sendiri gak papa lo mbak."
__ADS_1
"Jangan mas, setelah makan, mas Reyhan langsung masuk kamar saja." Larangnya halus.
"Loh kenapa?"
Mbak Nana tersenyum kecil. Dia tidak menjawab pertanyaan Reyhan.
Menjalankan niatnya sedari awal naik ke lantai dua, Mbak Nana memeriksa anak-anak satu persatu.
Memastikan mereka yang masih dalam pengawasan sudah benar-benar tidur.
Sama seperti Reyhan yang begitu memperhatikan tumbuh kembang mereka, Mbak Nana pun melakukan hal yang sama. Bagi perempuan itu, anak-anak itu adalah anak-anaknya sendiri.
Pintu kamar Afif dia buka, gadis kecil itu sudah tidur dengan memeluk boneka doraemon kesayangannya. Lalu, Mbak Nana ke kamar Naura.
Tidak jauh berbeda, Naura pun tidur dengan memeluk boneka teddy bear berwarna pink.
Tak lupa, Mbak Nana juga memastikan ke kamar Janu dan Chandra.
Setelah tugasnya selesai, Mbak Nana turun.
Tepat saat Reyhan menghabiskan makanannya. "Sudah, tinggalkan piringnya disitu mas. biar saya yang bereskan."
"Serius mbak?" sedikit bingung.
"Iya, mas Reyhan segera ke kamar aja." Lalu mbak Nana benar-benar segera membereskan semua barang diatas meja makan, membawanya ketempat cucian piring. "Selamat malam mas."
Sambil berjalan ke lantai atas, Reyhan membalas ucapan mbak Nana. "Selamat malam kembali mbak."
Dan setelahnya, Reyhan segera naik ke lantai atas.
Dia berdiri didepan pintu kamarnya, pintu kamar dengan lock smart. Terkunci dengan sidik jari atau berupa kartu khusus yang sudah didaftarkan.
Saat kuncinya terbuka, maka pintu akan berbunyi.
Reyhan masuk kedalam, seluruh lampunya sudah mati. Menyisakan cahaya remang-remang dari sorotan sinar diluar ruangan.
Saat Reyhan berjalan kearah ranjang, seseorang yang berdiri di belakang pintu sejak tadi, memanggil namanya..
"Reyhan.."
Suara khas seseorang yang sangat Reyhan kenal, membuat lelaki itu mematung ditempat. Tak berselang lama, seseorang itu memeluknya dengan erat dari belakang, membuat tubuh Reyhan menegang hebat.
Suara lembut yang selalu ia rindukan. Suara yang tidak pernah asing dari telinganya meskipun orang itu memanggilnya dengan menangis. Suara yang....
"Rey..."
__ADS_1