
Tak berbeda dirumah Reyhan, setelah Reyhan dan Anak-anak asuhnya sarapan bersama, mereka semua sibuk menyiapkan keperluan sekolahnya masing-masing.
Biasanya, Jeni dan teman-temannya yang sudah besar akan ikut membantu adik adik mereka. Di panti, hubungan mereka terjalin rukun dan saling menyayangi.
Itu terjadi karena mereka memang tidak punya siapa-siapa lagi.
Reyhan juga sibuk dikamarnya. Memilih buku mana yang akan dibawa ke Tokonya hari ini.
Sambil menunggu toko, Reyhan berniat mengerjakan skripsi nya. Reyhan bertekad segera menyelesaikan skripsinya itu agar segera wisuda.
Reyhan mengambil ponselnya. Ada panggilan masuk dan itu dari Hasan.
"Halo san.. ada apa?" Reyhan menjawab telfonnya sambil tetap memilih buku.
"Pagi ini aku mau bawa Naura jalan-jalan. Tiga puluh menit lagi aku akan sampai dirumahmu." Jawab Hasan diseberang sana.
"Hey mana bisa.. Naura harus berangkat sekolah Broo.. nanti sore saja". Tolak Reyhan
Reyhan merasa jengkel. Pasalnya Hasan selalu lupa waktu kalau sudah bersama Naura.
"Aku ga mau tau Rey.. kemaren aku sudah berjanji akan membawanya jalan-jalan".
Hasan masih kekeh dengan kemauannya.
"Yaudah.. hari ini doang ya aku ngijinin kamu bikin Naura bolos sekolah"..Jawab Reyhan mengalah. Reyhan tau sifat Hasan. Hasan tidak akan mau mengalah apalagi soal Naura.
"Hasan hasaaan... Dulu saja kau sangat jengkel saat aku lebih mementingkan Naura dari pada diriku sendiri, sekarang ketularan kan lo.."
Ledek Reyhan sambil setengah bergumam mengingat masa masa dulu. Hasan sudah bener-bener berubah.
"Ngomong apa kamu?" Tanya Hasan sinis. Hasan menyadari kalau dulu dirinya begitu tidak suka kepada anak anak asuh sahabatnya itu. Termasuk Naura. "Aku berangkat sekarang ke rumahmu."
klikk.. Hasan langsung mematikan telfon nya tanpa menunggu jawaban Reyhan.
Hasan melangkah ke kamarnya. Menatap dirinya di cermin.
Sudah rapi. batin Hasan
Hasan bersiap akan menjemput Naura, si gadis kecil kesayangannya.
Sementara itu, Reyhan berjalan keluar kamar. Menuju ruang tengah dimana disana ada dua kamar yang berukuran besar. Satu kamar untuk anak laki laki dan satu kamar untuk anak perempuan.
Reyhan mengetok pintu kamar anak perempuan.
Tok . tok. tok...
"Jen... Jeni..." Panggil Reyhan pada Jeni. Reyhan memanggil Jeni karena dia adalah anak yang paling besar dipanti Reyhan.
"Iyaa kak..." Jeni menjawab Reyhan dengan sedikit berteriak. Berjalan ke arah pintu lalu membuka pintunya.
Ceklekk...
"Ada apa kak?" Tanya Jeni yang berdiri dibalik pintu dengan sragam putih abu abunya. Jeni mengkerutkan dahi. Tidak biasa biasanya Kakaknya itu mengganggu jam pagi nya.
"Hari ini Naura tidak masuk sekolah. Kamu ganti saja sragamnya dengan baju biasa. Lalu tolong antar dia ke kamar depan ya . " Titah Reyhan pada Jeni.
Kamar depan yang dimaksud disini adalah kamar Reyhan. Reyhan sengaja memilih kamar diruang depan dekat pintu masuk utama. Agar dia bisa mengawasi keluar masuk anak anak asuhnya.
"Oke kak. siap.."
Kata jeni. Jeni hendak menutup pintu. Lalu diurungkan niatnya. dan kembali menyembulkan kepalanya keluar. "Ada lagi kak?"
"Tidak Jen... teruskan kegiatanmu" Reyhan tersenyum. Lalu melangkah pergi kembali kekamarnya.
Tidak salah Reyhan memutuskan merawat Jeni kala itu. Menjadikan Jeni adik nya. Jeni bisa menjadi tangan kanan Reyhan sekarang. Bahkan diusianya yang baru 17 tahun, Jeni sudah bisa mengurus adik adiknya yang lain.
Lihatlah, gadis itu tumbuh cantik dan pandai.
__ADS_1
Tak berselang lama, Jeni sudah membawa Naura ke kamar depan.
Reyhan dengan lembut mengusap puncak kepala Naura sambil tersenyum.
"Om Rey, kenapa Naura tidak boleh sekolah? Apa ibu guru bilang Naura nakal?" Tanya gadis kecil itu polos. Naura yang sedari tadi sudah semangat akan pergi sekolah merasa kecewa.
"Tapi Naura tidak nakal om Rey, Naura nurut kok."
Reyhan tersenyum mendengar pertanyaan bocil itu..
"Tidak Sayang.. bukan seperti itu.." Jawab Reyhan pelan sambil sibuk menyiapkan laptopnya.
"Hari ini ada seseorang yang ingin membawa Naura jalan jalan. Coba tebak siapa?"
Jawab hasan sambil mengalihkan pandangannya ke Naura.
"Siapa?" jawab Naura kebingungan. Naura memutar bola matanya ke atas. Naura mencoba menebak, siapa yang akan membawa nya pergi.
"Naura tau.. Om Hasan bukan?"
Jawab Naura melebarkan senyumnya.
Reyhan ikut tersenyum. Betapa lucunya gadis kecil ini. Pantas saja Hasan sampai sebegitu sayangnya.
Belum sempat Reyhan menjawab. Terdengar suara pintu diketokk..
Tokk.. tokk.. tokk...
"Rey, aku didepan" Hasan memanggil Reyhan setengah berteriak.
"Om Hasaaann" Nauraa menjawab Hasan sambil berlari menuju pintu depan. Membukanya dan memeluk kaki seseorang dibalik pintu itu.
"Om Hasan sudah kangen Naura ya? hihi" Tanya Naura poloss yang mendongakkan kepala nya keatas sementara tangannya masih memeluk kaki Reyhan.
"Hay Naura.. Iya, Om Hasan kangen tau sama Naura."
Hasan duduk jongkok. Berusaha mengimbangi gadis kecil itu.
"Rey.. gue bawa pergi dulu bocilmu..." Hasan melangkah menuju mobil sambil berteriak meminta izin Reyhan. Masa bodoh mau dijawab apa tidak. Pokoknya Hasan mau hari ini Naura bersamanya.
***
Jam menunjukkan pukul sembilan. Hasan berjalan tegap menuju kelas yang akan diisinya.
Tangan kanannya memegang laptop dan beberapa buku sebagai bahan mengajarnya hari ini. Sementara tangan kirinya menggendong Naura kecil.
Kalian tau? Para Mahasiswi pengagum rahasia Hasan sangat heboh.
Mereka larut dalam asumsi nya sendiri.
Bahkan ada yang berdebat karena beda pendapat tentang gadis kecil digendongan Hasan adalah anaknya atau sepupunya.
Benarr benar yaaa
Hasan memang berniat membawa Naura ke kelasnya sebentar pagi ini, setelah selesai barulah Hasan akan membawa Naura jalan jalan.
"Jadi disini ya tempat kerjanya Om Hasan?" Tanya Naura dengan suara cemprengnya sambil melihat sekeliling. Terlihat jelas betapa dia sangat merasa asing ditempat itu.
"Iya Naura.." Hasan menjawab sambil tersenyum pada gadis itu.
Sedari tadi gadis kecil.itu terus mengoceh mengatakan apa saja yang ada dihatinya. Hasan dengan sabar menjawab setiap.pertanyaan Naura dengan lembut.
"Naura.. nanti didalam Naura ga boleh nakal ya Sayang, Naura harus duduk diam.. okke?" Kata Hasan ketika sudah sampai didepan pintu.
"Iya Om...Naura mau nurut sama Om Hasan," jawab Naura sambil tersenyum lebar. Gadis kecil yang penurut.
Hasan tersenyum kepada Naura. Lalu Hasan menurunkan Naura dari gendongannya. Tanggan nya beralih memegang handle pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Selamat Pagi Pak Hasan..." Sapa mahasiswa dan mahasiswi secara bersamaan.
"Selamat pagi.." Jawab hasan santai. Naura berjalan dibelakang Hasan setengah berlari. mengikuti langkah kaki Hasan.
Hasan menaruh buku dan laptopnya dimeja. Lalu meraih Naura dan meletakkan Naura diatas kursi pojok dekat meja nya.
"Naura, kamu duduk disini dulu ya sayang.." titah Hasan sambil mengusap puncak kepala Naura.
"Ingat, ga boleh nakal..."
Naura hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Dia duduk patuh dikursi yang disediakan Hasan.
Sementara Hasan mengajar, Naura fokus ke salah satu Mahasiswi Hasan yang sedari tadi duduk sendirian dan tampak melamun.
Itu adalah Nayla.
Nayla masih menyesali apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Satya, sang kekasih.
Bahkan Nina dan Sari sudah kehabisan cara membuat Nayla tersenyum. Padahal kedua sahabatnya itu tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi Nayla.
Bukankah seharusnya hari ini Nayla bahagia?
Naura memaksa diri turun dari kursinya, berjalan perlahan menuju bangku sebelah Nayla.
Entah, seberapa sibuknya Hasan sampai dia kehilangan pengawasan terhadap Naura.
Nayla sendiri tidak menyadari kehadiran bocah kecil itu disampingnya.
Semua sibuk dengan tugasnya masing. Mata Nayla fokus kedepan memperhatikan Pak dosennya walaupun pikirannya entah kemana.
Lama memperhatikan Nayla yang tak juga menyadari kehadirannya, Naura memberanikan diri menyentuh punggung tangan Nay.
"Kakak sedih?" tanya Naura kecil pada Nayla.
Nayla sedikit terkejut. Diliriknya naura yang berdiri menatapnya.
Ternyata bocah.... batin Nay.
Nay berniat mengabaikan bocah itu, tapi sayang,
Manik mata hitam bulat dan putih bersih itu berhasil menyentuh hati Nay. Tanpa sadar Nayla tersenyum tipis. merasa kehadirannya disambut sontak membuat Naura kecil ikut tersenyum.
Gadis kecil itu sangat menggemaskan. Lihat senyumnya, sangat manis.
Nayla meraih tubuh bocah kecil itu, menggeser kursinya sedikit kebelakang dan ditaruhnya bocil itu di pangkuannya.
Nayla masih saja diam. hanya senyum yang terpancar ketika dia memandangi gadis kecil itu.
"Kakak kalau senyum cantik deh.." Ucap.Naura dengan tulus. Sejenak Nayla berhasil.melupakan masalahnya. Ingin sekali Nayla menjawab setiap perkataan bocil itu, hanya saja dia menahan diri.
Kau tau, dosen galak itu sedari tadi melirik tajam padanya.
Kalau bukan karena Naura, Pak Hasan pasti sudah menghukum Nayla lagi karena Nay tidak konsentrasi pada kelasnya.
Sepanjang materi, Naura duduk manis dipangkuan Nay.
"Kak, aku pergi dulu ya, Om Hasan mau mengajakku jalan jalan..." Rengek Naura minta diturunkan dari pangkuan Nay. " Kakak jangan sedih.."
Nay menurunkan Naura. Hah rasanya sangat tidak rela berpisah dengan bocil itu. Padahal baru beberapa jam mereka bertemu.
Tapi mau tidak mau Nay harus tetap menurunkan Naura karena kelas Pak Hasan sudah selesai.
"Naura pergi dulu ya kak," Naura tersenyum kepada Nay. Lalu melangkah pergi meninggalkan Nayla.
Oh, Jadi Naura namanya... batin Nay
Nayla menatap tidak rela melihat Naura berjalan bersama pak Hasan.
__ADS_1
Nayla masih tidak mengerti kenapa sorot mata gadis kecil itu sangat hangat.Bahkan mampu mencairkan suasana hatinya yang sedang tidak baik baik saja.
"Kekantin yukk Sayang..."