
Hari sabtu...
Sepulang sekolah Julian sudah menjemputku di kelas tak layak halnya kekasih yang menjemput wanitanya.
Dia sudah berdiri di depan ruang kelas hari ini sengaja aku mengenakan sweter berwarna army pemberianya waktu itu.
Aku mulai melangkah untuk menemuinya serasa hati ini berayun-ayun di buatnya.
"Cie ada yang mulai pdkt lagi nih..." ucap Rena dengan menyengol bahu kiriku.
"Apaan sih orang gak sengaja...." jawabku berusaha memperlihatakn aura wajah biasa-biasa saja.
"Haduh hari gini masih ada rahasia- rahasiaan ini udah jaman moderen El bukan jaman kuno kaya dulu ..." tambah Vey yang membuatku harus memaklumi mereka kali ini karena yang di ucapkan mereka memang sunguh kenyataan yang terjadi.
"Gue duluan..." ucapku dengan nada was-was karena aku tau mereka sedang mengosipi aku ribuan kali.
"Iya hati-hati" ucap Vey dengan suara menyemangatiku.
"Semoga senin lo bisa masuk ya El" tambah Rena lagi dengan nada mengejek.
Aku hanya tertawa menanggapi tingkah laku mereka.
Aku mulai berhenti ketika aku sudah berada di dekatnya.
Dia selalu menampilakn senyum yang tak pernah aku lihat di wajah orang lain selain hanya Dia, senyum yang menawan dan penampilan sesempurna itu hanya Dia bagiku.
Aku mulai menata hati agar tak sakit kembali aku berjanji akan mencintainya sampai nanti terkadang cinta membuat kita terpedaya hingga terkadang akal sehat kita tak percaya ketika hal yang kita lakukan salah.
"El udah belum ..??" ucapnya dengan antusias terlihat sorotan bola mata itu merujuk ke arahku.
"Iya udah kok" jawabku dengan memberikan kode aku siap.
"Suka ya...??" tanya Julian yang membuatku bingung.
"Apanya...??" tanyaku dengan alis mata aku naikan.
"Sweternya..." jawabnya sunguh membuatku terlihat bodoh.
"Iya makasih ya Jul" jawabku dengan nada pelan.
Semalam aku udah janjian dengan Julian bahwa pulang sekoalah Dia ingin mengantarkanku pulang.
Aku melirik jam digital yang aku kenakan di pergelangan tangan kananku aku tersenyum ternyata waktu masih siang tak ada salahnya hari ini aku berduaan bersama Julian, lelaki yang dulu mendekatiku dengan seribu cara dan menyakitiku dengan seribu alasan.
Dia mulai meraih tangan kiriku dengan naluri yang sudah terlatih tangan kita menyatu membentuk sebuah ikatan batin.
Jujur aku masih takut aku masih gugup rasa sakit yang dulu pernah aku rasakan sakan menampar kembali hatiku yang sudah mulai pulih ini , namun bisa apa jika soal cinta sudah diambang mata selain kita berjalan untuk mencoba.
Terkadang hatiku menerimaya namun terkadang aku dilema dibuatmya.
Seakan-akan ribuan kata tak bisa kuuraikan untuk mengartikan hanya untuk sebuah kata cinta.
Kita berboncengan layaknya awal pertama Dia mendekatiku rasa yang sama yang kini kurasakan, rasa sayang, rasa rindu rasa peduli dan rasa ingin selalu di dekatnya.
Hatiku mulai bersedia menerimanya lagi sebab dirinya candu yang membuatku selalu terpaku.
"El..." ucapnya dengan nada berat.
__ADS_1
"Iya..." jawabku sembari melihat pantulan wajahnya di kaca sepion.
"Kita jalan-jalan dulu yuk" ucapnya dengan memelankan suaranya.
"Iya terserah kamu asal jangan kemalaman pulangnya" jawabku dengan perasaan campur aduk.
"Siap sayang"
Dia mulai melajukan motornya dengan perlahan-lahan, seolah-olah Dia tau bahwa Dia sedang ingin menikmati waktu yang terkadang tak bisa kita rasakan kembali.
Kita berkeliling kota Jakarta hingga kita turun di sebuah lahan kosong penuh rerumputan yang berada di belakang gedung sekolah.
Aku mulai turun disusul Julian.
"El kita duduk di situ yuk" ucapnya sembari meraih tanganku lagi serasa Dia tak ingin melepaskan karena begitu erat gengamanya.
Kita mulai duduk di tepian lahan kosong ini beralaskan dedaunan kering.
Kita saling terdiam berusaha menikmati alam berusaha berdekatan dengan alam aku memandangi penuh rasa syukur terkadang hidup kita bahagia atas kehendakNya.
"El..." ucapnya memecah keheningan.
"Iya..." jawabku menoleh melihat bola mata yang teduh itu.
"Kamu bahagia gak sih kalau hati kamu sama aku lagi...?" ucapnya yang membuat jantungku tak berirama, namun jujur itu jawaban yang tak mungkin aku uraikan didepanya sebab aku susah payah membangun cinta ini kembali.
"Hem..." aku hanya menjawabnya dengan dehaman.
"Rasa yang dulu itu masih sakit" ucapnya dengan nada bergetar dengan telunjuk Ia tempelkan di hati aku.
"Udah mereda" jawabku dengan senyuman.
"Iya gak papa tapi aku akan ikuti alurnya saja Jul" ucapku dengan memaafkan kesalahanya namun ada satu hal yang ingin aku ungkapkan tentang rasa sakitku waktu itu.
"Maksud kamu...??"
"Jujur Jul disaat hati kita ingin memaksa itu berat Jul buat ngejalaninya" jawabku dengan memandang arah lain dengan tatapan kosong.
"Iya aku minta maaf aku mohon kamu pakai ini lagi" ucapnya dia sembari mengulurkan cincin yang pernah aku kembalikan ke Dia waktu itu.
Aku menerima tak ada salahnya aku mencobanya kembali Dia mulai memakaikannya kembali di jari manisku.
Julian memelukku kembali dirangkulnya pundak aku dengan tangan kekarnya itu, kini serasa hatiku mulai menghangat dan berlanjut nyaman.
Kita saling terdiam, mengingat kembali kenangan yang pernah kita lalui.
Perlahan langit tampak menghitam disusul hujan gerimis melodi nan unik ini sedang menyatu di dalam sanubariku suara bernada tik tik, disertai deruan angin semilir ini mampu membuat jiwaku lebih tenang, serta mampu menghipnotisku hingga aku terpedaya oleh gulatan asmara.
Julian berdiri dia menarik tanganku untuk ikutan berdiri seperti yang di lakuakn Dia sekarang.
Dia muali memeluk tubuhku dengan erat sembari mencium bibirku dengan rasa yang membuatku tak ingin melepaskanya.
Aku sedang bahagia Tuhan, karena Dia lelaki yang sangat aku sayangi sedang bergembira bersamaku.
Di bawah anugerahmu ini aku tak menyangkal aku menajadi wanita sempurna sekarang.
Alam pun iri karena mereka merasa sendiri dan hanya sepi yang menemani.
__ADS_1
Hujan terus menguyur dua pasang kekasih itu saling tertawa bersama seakan-akan hilang semua beban yang di pikulnya itu.
Mereka menikmati anugerah dari Tuhan yang tak ada duanya.
Mereka saling bercumbu menikmati setiap detik yang terus berputar itu.hatinya menari ria seakan-akan mereka sedang hidup di dunia mereka, berdansa dalam gulatan cinta.
Tak ada yang lain selain hati yang menyatu.
"Eliza aku sayang kamu..." teriak dari salah satu mereka yang sekujur tubuhnya sudah basah tak ada sisa.
"Iya Jul aku juga sayang kamu" ucap si wanita dengan ikutan berteriak seakan akan mereka sedang saling terpedaya oleh kekuatan cinta.
"Namun aku takut Jul..." Julian terhenti dengan ucapan Eliza.
"Takut apa...?" tanyanya dengan membasuh wajah yang beraiar itu agar pandanganya jelas melihat ucapan Eliza.
"Aku takut aku sakit hati lagi karena buat nyembuhin itu harus kamu..." jawab Eliza dengan nada naik turun Dia seperti kembali merasakan sakit hati waktu itu.
"Aku janji El aku engak akan ngulangi untuk kedua kalianya pegang janji aku" ucap Julian berusaha menengkan hati Eliza.
"Tapi aku masih takut Jul..." ucap Eliza lagi dengan nada sayu.
"Untuk apa lagi.." Julian berusaha mendekati wajahnya lebih dekat ke arah Eliza.
"Aku Takut kehilangan kamu" jawaban Eliza membuat Dia paham tak mudah baginya untuk menyembuhkan goresan luka itu
"Jadi kita balikan" ucap Julian memastikan hubunganya dengan nada semangat.
"Tapi ada satu hal Jul" seka Eliza lagi dengan tatapan memohon.
"Untuk apa...?" tanya Julian penuh tanda tanya
"Kita rahasiakan ini aku engak mau satu pun tau kalau kita balikan" jawab Eliza sembari mengusap wajahnya yamg oenuh air itu dengan tangan.
"Kenapa...?" tanya Julian penasaran.
"Karena kita belum dewasa dan belum waktunya" jawab Eliza dengan tersenyum.
"Oke aku janji" ucap Julian dengan yakin.
Kedua jari kelingking itu saling menyatu hingga membentuk jari silang tanda janji yang sudah terikat.
Mereka berdua sedang bahagia, semesta memang sedang merestui mereka.
Hujan mulai mereda namun langit mulai meredup menampilkan sang mentari yang mulai tengelam.
"Kita pulang yuk..." ajak Julian sembari meraih tangan Eliza kembali.
"Iya" jawab Eliza mengiyakan perintah Julian namun Julian terus menatap wanita itu dengan senyum tanda tanya.
"Kenapa...?" tanya Eliza lagi dengan rasa penasaran mendapati keanehan dari mimik wajah Julian
"Aku takut kamu sakit" ucap Julian dengan nada was-was.
"Selagi ada kamu aku ada obat Jul karena sesunguhnya rasa sakitku ada disini" ucap Eliza dengan jari telunjuk Ia tempelkan di dada Julian.
Setelah itu mereka berdua pulang dengan hal yang sama seperti saat siang hari tadi.
__ADS_1
Julian hanya tersenyum ketika mendapati kekasihnya tertidur di pundaknya.
Hingga Dia membawa Eliza pulang dengan hari hampir malam.