
"Oke.... layaknya kali ini permainan terlalu seru kalau di lanjutkan dan kali ini aku akan buat perhitungan sama Julian...!!" ucapku sambil tertawa puas dan amarah yang terus membara
"Hal yang membuatku semangat untuk melakukan rencana gila ini, orang yang tepat telah ada untuk melanjutkan drama percintaan antara Eliza dan Julian" dehamku lagi sambil tersenyum licik.
"Mustika putri...!!!" ucapku dengan senyum sinis.
"orang yang tepat bukan ...??" tambah Devi yang berdiri di sampingku.
''Cepetan lo sekarang bawa dia
kesinii..... !!!!!'' ucapku dengan keras ke arah msreka berdua.
"Oke mudah itu buat kita" jawab Fitri terdengar bersemangat.
Segera mereka berdua menuruti apa perintah dari aku
Dan disini aku terus berfikir licik, hal apa yang akan aku balas ke Julian dan Eliza.
"Mereka harus putus dan Eliza biar terlihat makin gembel...!!" ucapku sambil menyeringai puas.
"Lama banget sih nih orang.." umpatku kesal dalam hati karena jam istirahat akan segera selesai.
"Lama banget sih lo...!!" ucapku ke mereka berdua dan di samping mereka sudah ada Putri.
"Sory Dea.." ucapnya sambil buru buru mendekat ke arahku.
"Ada apa Dea..??" tanya Putri ke aku dengan nada bertanya-tanya.
"Gue ada tawaran spesial buat lo...".
"Apa...??" jawabnya sedikit judes.
"Lo jomblo kan..???"
"Gue punya cowok lah dikira lo apa gak pernah punya pasangan" jawabnya yang membuat seketika gigi ku bergemeretak.
"Buat sekarang lo harus mau lakuin apa yang gue mau...!!'' ucapku to the point ke arahnya.
"Hah gue gak salah dengar kan ...??" jawabnya yang membuat kepalaku langsung mendidih.
"Makanya kuping lo dibuka lebar-lebar jangan terus ditutupin sama rambut lo..."
"Udah deh langsung aja apa maksud lo nyuruh gue kesini..."
tanyanya yang mukin sudah tidak sabar mendengar rencana aku kali ini.
"Gue mau lo jadian sama Julian...!!" ucapku sambil berkacak pinggang.
"Whatttt..... Lo lagi gila ya De perasaan gak waras amat pikiran lo...??" ucapnya yang membuat ku menjadi kesal berasa dia tak takut akan ucapan aku dan justru memancing emosi ku.
"Gue akan bonusin lo dengan naik ke tingkat utama di grub vokal dan itu akan mempermudahkan lo ikut lomba".
Dia terdiam dan mukin mencerna ucapanku.
"Sory Dea itu gak penting" jawabnya yang membuat tanggan ku siap mendarat di pipinya.
"Pikirkan baik-baik Put" ucapku sedikit menahan emosi.
"O iya kalo lo gak mau turuti apa mau gue, gue yang akan susun rencana buat ngehcurin lo dengan perlahan" ancamku ke dia dengan buas.
''Maksud lo apa ngancem gue
__ADS_1
kaya gitu...??" ucapnya sedikit ketakutan.
"Terserah gue akan keluarin lo dari sekolah ini lo sih pakai gak tau siapa gue'' ucapku dengan ketus ke arahnya.
"Dasar lo Dea wanita busuk.....!!!" ucapnya menanggapi ucapanku serta mengataiku.
"Upsss lo berani ngomong kaya gitu depan gue...??" ucapku sambil melotot ke arahnya.
''Itu aku bicara apa adanya Dea" jawabnya dengan gamblang.
"Oke kali ini gue setuju sama ucapn lo jadi kita deal kan buat rencana kita..!!!" ucapku sambil mengulurkan tanggan tanda deal dan alis yang aku naikkan.
"Tapi ini semua hanya akting kan...??'" jawabnya sambil bersalaman dengan aku.
"Yaiyalah lagian ogah amat gue comblangin orang kalau gak ada maksud tertentu" ucapku kasar ke dia.
"Oke akan aku lakuin ini semua tapi pegang janji lo Dea awas aja kalo lo cuma nipu gue....!!!" ucapnya sambil berlalu pergi.
"Dasar wanita bodoh dia.." ucapku sesikit pelan namun menusuk.
"Maksud lo De..".
"Udah lo diem aja susun rencana baru buat kita musnahin Eliza dari sekolah ini" ucapku sembil berlalu ke kelas dan mereka berjalan mengekoriku dari belakang.
***
"Lo dari mana Put kok muka lo lucek amat...??" tanya Sabrina yang duduk sebangku sama aku.
"Lo kenal Dea gak...??" tanyaku langsung ke dia.
"Dea.... Si itu ya, cewek yang belagunya minta ampun.." jawabnya sambil sedikit berpikir.
"Terus..??" tanyanya dengan mengitrogasiku.
"Gila gak sih, gue di ancem buat deketin Julian ...''' jawabku dengan nada tinggi dan emosi yang mulai merasuk ke ubun-ubun kepalaku.
"Apa...??? Lo serius Put???" tanyanya keheranan.
"Iya terus yang bikin gue jijik sama dia, dia akan keluarin gue dari sekolah kalau gue gak turuti maunya" ucapku lagi sambil memainkan bolpoint.
"Entar dulu gue cerna semua ucapan kamu" ucapnya sambil sedikit berpikir.
"Emang hubunganya kamu deketin Julian apa sama Dea...??" tanya Sabrina dengan wajah penuh penasaran.
"Nah itu yang buat gue binggung...." jawabku apa adanya.
"Oke kita harus selidiki terlebih dahulu apa motif dibalik rencana si Dea" jawabku mempertegas rencana balik buat hancurin Dea.
"Tenang Put gue bakal ada disampong lo kok truss gimana dengan Fahmi...??"
"Ini cuma akting kali mana mukin gue suka sama Julian" jawabku terdengar sadis.
''Awas lo Put lo telen sendiri ucapan lo..." ucapnya sedikit meledekku.
"Liat aja.." jawabku sambil bersedekap tangan.
Otakku sekarang sedang berdenyut hebat
"Apa yang harus aku lakukan ya
Tuhan...???" ucapku dalam hati sambil sedikit melamun.
__ADS_1
"Dasar Dea ... Dea mentang-mentang penyumbang dana terbesar disekolah ini jadi semua harus takluk sama lo" umpatku kesal dalam hati.
"Woy lo lagi lamunin apa sih....???" ucap Sabrina yang membuatku sedikit terkejut.
"Apaan sih lo kagetin gue aja....!!" jawabku spintan langsung memukul dia dengan bolpoint
"liat noh ada Julian didepan kelas..." ucapnya yang membuat buluk kuduk ku merinding.
"Terus ada urusan gitu sama gue...??" tanya ku ke dia sambil mengakat bahu
"Samperin lah..." jawabnya yang membuatku ingin menerkam dia mentah-mentah.
"Lo gila kali dikira gue cewek murahan dong...?" jawabku ssdikut meredakan emosi.
''Katanya lo mau deketin dia...???" ucap dia yang membuatku langsung tertawa palsu.
"Ya gak gue juga yang deketin duluan udah deh lo gak usah intruksi gue kita liat aja apa yang di mau dari Dea...!!" ketus ke dia dengan membalikan wajah ke arah lain.
''Oh gitu.."
"Ya iyalah..." jawabku sedikut membentak dia.
***
Aku lihat jam dinding yang terpasang di kamar yang sudah menunjukan pukul sebelas siang.
Hari ini aku tidak sekolah lagi entah apa yang menjadi penyebab hingga duka ku ini jua tak kunjung reda.
Aku lihat langit tampak gelap dan awan putih berkumpul melapisi langit
Pertanda mukin sebentar lagi hujan layaknya perasaanku kali ini yang selalu gelap dan butuh setitik cahaya.
Aku menghirup nafas tak beraturan segera aku bangkit dari kasur dan beranjak menuju cermin aku melihat pantulan wajahku yang terlihat menyedihkan dengan bibir selalu pucat serta goresan memar saat kemarin aku diperlakukan kasar oleh Dea.
"Rehan..." menginggat nama itu serasa hatiku dicacah kasar.
Dia awal mula menjadi penghancur hubunganku dengan Dea juga sekarang dengan Julian.
Aku seperti terjebak dilingkaran percintaan yang dia mulai dengan Dea.
Rasanya aku ingin pergi jauh dan sanggat jauh aku ingin pikiranku tenang dan senyumku kembali muncul
Rasanya di sini tak ada harapsn untukku hidup lagi.
Tak aku sentuh ponselku dari kemarin aku biarkan mati layaknya tanpa pemilik
Aku lelah menangis, mengingat drama percintaanku dengan Julian yang mukin akan kandas.
Sebesar apa salahku ke dia hingga dia akan memutuskan hubungan kita yang belum genap tiga bulan
Begitu rumit serta mengaduk-aduk semua perasaanku.
Ku pandangi deretan foto saat kita bersama, bunga yang masih tersusun rapi yang setiap tanggal jadian kita dia selalu mengirimkan untuk aku, serta kado yang selalu ia persembahkan untuk ku dan selalu meninggalkan jejak manis.
Dan kini menjadi saksi bisu hubunganku dengan dia
Begitu membuatku asing seasing sekarang
Biarlah ....
Akan ku mulai Eliza yang baru....!!!!.
__ADS_1