
Aku menoleh ke arah sumber suara.
"Gak papa kak..." jawabku datar, karena aku yakin dia pasti kak Rehan.
"Lo habis ngejar Julian...?" ucapnya dengan nada terdengar jengkel.
"Gak" jawabku bohong.
"El udah biarin aja dia, kamu kan udah di putusin dia buat apa kamu ngejar dia...?" ucapnya seperti sedang menceramahiku.
"Aku masih sayang dia" jawabku dengan suara berat, seberat rasa sakit ketika Julian mengacuhkanku.
"El lo bisa lihat kan kalau Julian tu udah gak resfec sama lo buat apa lo masih mau ngejar dia" kak Rehan memang sangat membenci Julian di mata Kak Rehan Jyluan tad ada baiknya.
"Plis deh kak sampai kapanpun aku gak akan pernah cinta sama kakak aku hanya anggap kakak sahabat gak lebih" ucapku finis.
"Em iya sih kalau buat sekarang hati kamu masih tertutup buat aku tapi lihat aja aku yakin suatu saat nanti kamu bakal buka hati kamu buat aku" imbuhnya lagi dengan percaya diri.
"Dan aku mohon sekali lagi stop buat deketin aku lagi...!!" ucapku lagi dengan nada menekan, aku berusaha bangkit berdiri.
Tanpa mereka sadari Julian melihat dari kejauhan saat mereka sedang berbincang.
Julian memang masih sayang dengan Eluza tapi ketika melihat kedekatnya dengan Rehan perlahan rasa cinta itu gugur sedikut demi sedikit.
Di sisi lain lelaki berkemeja garis putih itu sedang menunggu kekasihnya di meja restoran yang tertera angka no tiga dua, ya dia papanya Julian yang sedang menunggu wanita selingkuhanya.
Dia terus menghubungi lewat telephon gegam yang sedari tadi tak luput dari tangannya.
"Maaf ya mas nunggu lama" ucap wanita yang masih terlihat awet muda dengan senyum tipis, walau umurnya hampir kepala empat dengan pakaian kerja yang masih rapi menjadikan dia terlihat perfecsonic.
"Oh... iya gak papa" jawabnya dengan nada santai.
Wanita bernama Ayunda itu sudah duduk berhadapan dengan lelaki berbadan tegap, meraka sedang diner di sebuah restoran ternama di pusat kota.
Restoran bergaya klasik dengan tatanan lampu yang cantik menjadi saksi bisu cinta terlarang itu sudah ke lima kali mereka diner di tempat ini.
Banyak pasang muda mudi memang di sini terkenal akan cita rasa makanan dan tempat yang nyaman.
"Mau pesan apa kamu dek...?"ucapnya menawarkan menu dengan nada lembut.
"Aku sama kaya mas aja" jawabnya sedikit malu-malu.
__ADS_1
"O yaudah bentar ya aku panggil pelayan dulu"
"Iya mas"
Mereka berbincang-bincang samapi larut malam dengan obrolan seputar kerja hingga samapi ke hal yang lebih serius.
"Gimana mas sama istri kamu dia udah tau ya hubungan kita..." tanyanya dengan was-was terlihat jelas dahinya ia kerutkan.
"Dia udah aku talak..." jawabnya tanpa tau yang dia lakukan salah.
"Kamu serius aku jadi gak enak mas" ucap Ayunda dengan cemas dia sebenarnya bisa merasakan yang dirasakan istri selikuhanya itu karena dia juga wanita.
"Udah tenang aja dia udah aku suruh angkat kaki dari rumah" jawabnya dengan enteng tanpa tau perasaan si Empunya nama bagaimana.
"Kamu kok tega sih mas padahal tadinya aku mau kita pisah aja karena gak baik kalau kita lanjutkan" imbuhnya lagi dengan perasaan bersalah sebab gara-gara dia, hubungan suami istri itu jadi tak baik.
"Eum... Udah habisin makanan kamu gak usah kamu mikir macam-macam." ucap lelaki itu menenangkan wanitanya.
"Aku janji dalam waktu dekat akan nikahin kamu" tambahnya lagi dengan senyum tanpa tau malu.
"Mas aku belum ngomong sama Rehan aku takut dia gak setuju." jawab Ayunda sedikit khawatir karena anak lelakinya memiliki sifat keras kepala.
"Kamu ini mas.." jawabnya dengan nada ketar-ketir.
"O iya gimana soal Julian...??"" ucapnya lagi sembari menyruput kopi dalam cangkir berwarna silver itu dia sudah lebih tiga bulan menjalin hubungan gelap dengan lelaku yang ia panggil Mas itu.
"Ya bisa di bilang dia sekarang belum bisa nerima keadaan tapi lambat laun dia juga akan ngerti" jawabnya sambil memotong steak dengan pisau dan garbu yang sedang ia pegang.
"Aku jadi gak enak mas" ucapnya merasa bersalah.
"Udahlah ini semua aku lakuin buat kamu" dia menghetikan makanya dan berusaha menenagkan Ayunda dengan di ikuti senyuman.
"Dia ikut kamu atau istri kamu..?" tanya Ayunda lagi dengan serius.
"Sampai kapanpun Julian akan ikut aku...." jawabnya tanpa ragu.
Mereka saat ini sedang di mabuk asmara sampai mereka melupa bahwa usia tak lagi muda.
"Besok wekend ada acara gak kamu...??" tanya lelaki itu sembari meraih tangan mulus Ayunda sedang, yang sebelah kanan masih sibuk menyendok makanan.
"Gak ada sih mas paling lembur kerjaan emang ada apa...??" tanyanya antusias.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa kok, nanya aja'' dia menarik kembali kata-kata yang akan diucapkan dia hampir aja keceplosan.
...
Di rumah Julian saat malam hari
"Plakkkk... apa-apaan kamu habisin duit papa cuma buat beli barang sampah kaya gini" bentak papa ke arahku sembari menendang botol minuman yang berada di lantai kamar yang berserakan.
"Bukan urusan papa" jawabku dengan santai, Sekarang aku menganggap papa tak layak halnya bajingan darat.
"Papa gak akan kasih uang jajan kamu selama seminggu....!!" ucapnya dengan tegas dan mengancam.
Aku tertawa sinis, aku segera menutup pintu kamarku dengan keras, kepaku pusing badanku seperti melayang-layang, aku jatuhkan badanku ke atas tempat tidur badanku tumbang rasanya.
Perlahan aku memejamkan mata.
....
Di sisi lain wanita berdaster biru muda itu sedang duduk di tepi ranjang tempat tidur miliknya yang terlihat begitu memilukan, dia sedang membayangkan pahitnya bahtera rumah tangga yang sudah di ujung tanduk.
Dia mengusap air matanya perlahan dan berusaha mengatur deru nafasnya semaksimal mukin agar seisi rumah tak tau dia sedang menangis, dia selalu terbayang akan anak lelakinya yang sangat ia sayangi tapi harus berpisah darinya sebab suaminya sampai kapanpun tak akan mengijinkan Julian ikut denganya.
Sekarang dia tinggal di rumah ibunya dia memang terlahir dari orang punya tapi sayang dia hanya menjadi ibu rumah tangga dia tak meneruskan kuliah waktu itu,
Dia tau kalau selama berbulan-bulan suaminya punya selingkuhan dan ketika pulang kerja suaminya selalu marah- marah tanpa sebab namun dia tak pernah membalas apa yang di lakukan suaminya sebab dia tau mukin suaminya sedang kelelahan, toh dia juga sadar dia hanya wanita rumahan.
Dia iri dengan wanita lain yang memiliki nama, ketenaran dan juga pangkat sedang dia hanya ibu rumah tangga biasa yang hanya punya nama.
Tanpa dia sadari dia melamun hampir dua jam lamanya dia terus memegangi surat talak dari suaminya namun dia tak akan hadir ke persidangan sebab suaminya sudah tak sudi lagi melihat wajahnya.
"Ma... Mama nangis...?" tanya gadis berwajah oval itu, ya itu adiknya Julian
"Gak kok, mama cuma keinget sama kakak kamu apa mukin dia sudah makan" jawabnya membual dia tak akan mukin menceritakan kepada anak gadisnya itu.
"Mama jangan sedih ya aku yakin kok sebentar lagi kakak pasti akan nyusul kita di sini dan perlu mama inget mama gak usah mikirin papa biarin dia bertingkah seperti itu aku yakin suati saat Tuhan akan balas perbuatan papa" ucap gadis itu berusaha menenakan ibunya walau dia tau hatinya sediri setiap waktu juga menangis walau dalam diam.
"Iya sayang makasih ya udah bisa kuatin mama"
"Iya ma" jawab anak gadis itu seraya memeluk ibunya dengan ikutan meneteskan air mata.
Wanita itu memeluk erat putrinya namun justru air matanya semakin mengalir deras air matanya sedang di pompa sekarang, dia merasakan sakit yang begitu mendalam .
__ADS_1