
Eliza sedang di buat dilema setelah percakapanya dengan wanita bernama Ayunda tersebut Dia meminta Eliza untuk datang ke rumah sakit namun dengan permintaan khusus.
Saat ini Eliza dan Julian sedang berboncegan menuju sekolah mereka.
"Jul aku mau ngomong..." ucap Eliza dengan nada berat Dia berusaha mempererat peganganya.
"Em boleh emang mau ngomong apa...?" tanya Julian yang masih terus fokus dengan jalanan.
"Tadi aku di kabari sama mamanya kak Rehan kalau kak Rehan udah siuman, aku di suruh kesana buat nemenin kak Rehan nanti pas pulang sekolah..." ucap Eliza berusaha jujur karena berbohong depan Julian baginya sangatlah sulit.
"Terus...?" tanya Julian dengan menaikan alis matanya tanda Dia ingin di jelaskan maksud dari pembicaraan kekasihnya itu secara langsung.
"Sayang plis anterin aku ya..."ucap Eliza lagi dengan nada memohon di tunjuknya wajah yang membuat Julian tak bisa menolak permintaan Eliza.
"Oh iya sekalian aku juga mau jenguk Rehan kalau gitu..." jawaban dari Julian membuat hati Eliza sedikit melega walau tanpa Eliza sadari Julian hanya basa-basi sekedar ucapan terimakasih karena menyelamatkan Eliza waktu itu.
"Makasih ya Jul..." ucap Eliza berusaha memeluk tubuh tegap milik kekasihnya itu dengan semakin erat.
"Iya sayang..." jawab Julian dengan senyum yang dipaksakan.
....
Sepulang sekolah Julian bersama Eliza berboncengan menuju rumah sakit tempat Rehan dirawat mereka saat ini masih berada di jalan raya dengan ditemani kemacetan yang tak ada habisnya tak lupa terik matahari juga turut hadir memberikan susana semakin lengkap.
"El tapi jangan lama-lama lho soalnya aku banyak tugas ni.." ucal Julian mencari alasan agar Dia nanti dan Eliza tak berlama-lama di rumah sakit.
"Iya Jul paling juga cuma bentar aja kok lagian gak enak sama mamanya kak Rehan..." jawab Eliza sepaham dengan perkataan Julian.
Mereka saat ini masih berda dalam depetan motor yang terkena macet menunggu si lampu merah.
"Oh iya aku mau nanya ni El..." tanya Julian berusah memecah kehiningn agar rasa lelahnya tak terlalu terasa.
"Tanya apa..?" ucap Eliza dengan rasa penasaran.
"Kamu kenal keluarganya Rehan...?" pertanyaan Julian hanya diangap lelucon bagi Eliza.
"Sedikit tau aja sih Jul kenapa emang...?" tanya Eliza penasaran.
"Oh Kamu kenal mamanya...?" tanyanya lagi kemudian lampu merah itu berubah menjadi hijau dan Julian muali melajuakn motornya.
"Kenal..." namun Eliza kembali terdiam Dia mulai teringat kembali saat Dia tak sengaja melihat lelaki yang mirip dengan papanya Julian berada di tempat kak Rehan beberapa waktu yang lalu.
"Kok malah ngelamun sih sayang..." ucap Julian yang mengetahui pantulan wajah kekasihnya dari kaca sepion.
"Jul sebentar lagi sampa nih..." Eliza berusaha mengalihkan pembicaraan sebab suara derungan motor membuatnya harus sedikit meningikan volume suaranya.
"Oh iya.."
Setelah itu mereka sampai di basement rumah sakit
"Udah turun.." ucap Julian dengan mematikan mesin motornya.
__ADS_1
"Iya...,"
Eliza mulai turun di susul Julian
Mereka mulai mencari kamar tempat Rehan di rawat
Benar saja didepan pintu bertuliskan ruang VIP itu didepanya sudah ada wanita yang mereka temui saat pertama kali di rumah sakit ini beberapa waktu lalu Eliza menyadari itu wanita yang menelponya tadi pagi.
"Hai nak Eliza ya...?" Tanya wanita berbadan ramping itu dengan halus tak lupa senyuman manis yang selalu di tunjukan itu selalu menambah kesan elegan darinya.
"Iya tante saya Eliza.." jswab Eliza dengan menganguk.
"Kalau yang ini siapa...?" Tanya wanita itu sedikit penasaran sembari mengulurkan tangan.
"Saya Julian tan..." jawab Julian dengan tersenyum sembari menerima uluran tangan wanita didepanya itu.
"Oh masuk kalau gitu Rehan udah nungguin"
Eliza mulai melangakahkan kakinya masuk disusul Julian dan wanita bernama Ayunda itu.
Senyum mengembang terpancar dari wajah Rehan saat ini Dia begitu bahagia wanita yang sangat dia cintai itu datang di hadapanya.
Eliza segera menghampiri lelaki yang membuatnya berhutang budi itu
"Bagaimana kabar kakak....?" tanyanya dengan lembut hingga membuat Julian cemburu dibuatnya.
"Baik makasih ya udah mau dateng..." jawab Rehan dengan terus menatap wajah Eliza.
Mereka kini saling berbincang.
Julian melihat pemandangan itu serasa hatinya di diaduk-aduk saat ini dia bagaikan patung berdiri.
Sedang wanita bernama Ayunda itu sedang duduk sembari memainkan ponselnya karena mengingat pekerjaan kantornya saat ini masih mengunung belum sedikitpun terjamah oleh tanganya.
"Ehemm kayaknya aku butuh minum deh El..." ucap Julian dengan berdeham tanda kode keras ke Eliza.
"Ini ada minum kok mau tante ambilin..." ucap wanita itu dengan perhatian Dia tawarkan satu botol air mineral yang masih tersegel itu.
"Gak usah tante makasih" jawab Julian menolak.
"Ma..." ucap Rehan dengan tatapan memohon.
"Iya ada apa sayang...?" tanya wanita itu berusaha menghampiri anaknya.
"Keluar dulu dong sama Julian plis aku mau ngomong berduan sama Eliza..."
Julian mendengar itu serasa hatinya mulai memanas Dia jelas tak rela pacarnya seperti sedang di curi cowok lain.
"Oh iya..." jawab wanita itu dengan menghembuskan nafas, Dia menyadari anaknya sedang dalam keadaan labil.
Mereka berdua sedang berada diluar kamar dan duduk di kursi yang terletak di tepian rumah sakit.
__ADS_1
"Nama kamu siapa tadi...?" tanya Ayunda dengan sopan sembari meraih ponselnya kembali.
"Julian tan..." jawab Julian dengan cangung.
"Oh tinggal di mana...?" ucap wanita itu lagi menanyai tempat tinggal Julian.
"Jalan Merpati Tan..." jawab Julian meberikan nama Jalan alamat rumahnya.
Mereka bedua saling terdiam Ayunda tak menyadari anak lelaki yang sedang berada di hadapanya adalah anak dari lelaki yang dekat denganya.
Dia masih terus sibuk dengan poselnya.
"Tan kayaknya udah sore udah cukup aku mau ijin pamit..." ucap Julian mulai memecah kecangungan itu dia merasa di posisi kurang nyaman saat ini.
"Oh iya kita masuk dulu ya..." ucap Ayunda seraya berjalan masuk dan di ikuti Julian yang berjalan di belakang.
"Eliza pulang yuk udah sore nih..." ucap Julian dengan tatapan serius dan membuat Eliza tau kode dari Julian itu.
Wajah Rehan langsung berbeda seketika
"Kok buru-buru aja sih El masih juga jam lima belum malam..."
"Rehan ini udah sore mereka belum pulang ke rumah kasian lah" wanita itu berusaha membujuk anaknya agar sedikt memahamai yang lain.
Rehan hanya diam tak di gubris ucapan mamanya tersebut.
Dia membuang muka ketika Eliza berpamitan.
"Tante kita pamit dulu ya..." ucap Eliza dengan sopan sembari menundukan badan ke arah wanita itu, disusul Julian melakukan hal yang sama.
Mereka berdua berjalan keluar namun tampang Julian saat ini terlihat meradang.
"Sini deh jadi gini alasan kamu ngajak aku kesini buat nunjukin kemesaraan kamu depan aku kalau kamu peduli sama Rehan...?" ucap Julian dengan membabi buta Dia begitu cemburu melihat kelakuan Rehan terhadap Eliza tadi.
"Jul kamu kenapa mending kita makan dulu deh..." Eliza mulai meraih tangan kokoh itu di tariknya menuju sebuah kedai makanan yang berada di pingir jalan.
"Pak pesen ayam bakarnya dua ya paket lengkap sama Dua gelas es teh seperti biasa.." ucap Eliza kepada penjual ayam bakar itu dengan logat seperti biasa.
"Iya neng siap silahkan duduk dulu...," jawab pak Ahmad penjul ayam bakar tersebut dengan gembira.
"Duduk dulu sayang...,," ucap Eliza dengan manis Dia berusaha agar lelaki kesayanganya itu bisa meredakan emosinya.
"Oke gini ya kamu tau kan kondisi kak Rehan saat ini Dia butuh penyemangat lagian aku berhutang budi padanya Jul angap aja yang aku lakuin saat ini hanya untuk membayar hutang budiku waktu itu" jelas Eliza dengan pelan-pelan.
Tak berapa lama pesenan makananya itu datang.
"Ingat ya El hanya utang budi tapi awas lo kalau sampai kelewatan...!!" ucap Julian dengan mata menatap tajam kearah Eliza.
"Iya sayangku dimakan dong entar keburu dingin gak enak.." Eliza berusaha mendekatkan sepiring nasi lengkap dengan ayam bakar itu kedepan Julian.
"Suapin dong..." ucap Julian dengan manja
__ADS_1