
Lanjutan....
Setelah selesai mengantarkan Eliza sampai rumahnya, Julian segera pulang Dia mulai membuak gerbang dan berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah yang tampak murung dan sayu itu serta tatanan rambut yang terlihat acak-acakan.
"Mbak tolong bikinin nasi goreng ya..." ucap Julian kepada Mbak Inah yang sedang menyapu halaman rumah.
"Iya mas..." jawab mbak Inah seraya menghentikan pekerjaanya dan berjalan masuk kedalam.
Julian membanting tas ransel itu dengan kasar diatas sofa.
Sembari menungu nasi goreng dihidangkan Julian meraih ponsel didalam sakunya dia mulai mengeser dan melakukan vidio call dengan Eliza.
Julian kembali terhibur dengan terus tersenyum ketika melihat wajah Eliza dari layar ponsel miliknya itu walaupun belum satu jam Dia berpisah dengan kekasihnya rasa rindunya tak bisa tertahankan.
Dibalik layar itu Eliza sedang bersandar diranjang tempat tidurnya dengan masih memakai seragam sekolah begitupun Julian yang juga belum melepaskan baju seragamnya. Mereka saling tertawa, bercanda dan terpancar jelas dari wajah mereka terlihat begitu bahagia.
"Maaf mas nasi gorengnya sudah siap..." ucap mbak Inah dengan tangan kanan membawa sepiring nasi goreng dan tangan kiri membawakan jus buah kesukaan Julian.
"Oh iya makasih ya mbak taruh di meja aja..." ucap Julian tanolpa mengalihkan pandanganya dari layar ponsel itu.
"Sayang suapin dong" ucapnya di depan layar itu dengan manja dan memperlihatkan sajian nasi goreng yang menbuat Eliza ikut tergoda.
"Makan sendiri atuh kasep .." jawab Eliza dengan gaya bicara logat sunda.
Julian semakin bersemangat ketika makan ada yang menemani begitupun Eliza berusaha menyemangati Julian untuk mengahbiskan makanan itu ya walaupun hanya hal kecil dan terkesan recehan namum memiliki arti yang mendalam.
Hampir dua jam lamanya mereka melakukan vidio call hingga terdengar suara mobil masuk yang memperlihatkan lelaki yang tengah pulang dari kantor itu
"Teen tenn tenn..." suara bunyi klakson dan membuat mabk Imah segera membuka pintu gerbang untuk tuanya.
Melihat kedatangan papanya, Julian hanya mengeluarkan amplop berwarna coklat itu dan menaruhnya diatas meja dengan kasar serta meninggalkan nasi goreng yang masih tersisia sebagian itu.
"Jul kok gitu sih kan gak baik..." ucap Eliza berusaha menasehati pacarnya dari layar ponsel miliknya.
"Biarin aja udah gak nafsu..." jawab Julian sembari menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya.
Eliza hanya diam ingin sekli rasanya menasehati kelakuan Julian yang kurang baik itu secara langsung namun saat ini mereka berpisah tempat.
"Jul udah dulu ya..." ucap Eliza berusaha mengakhiri obrolan itu.
"Mau kemana sih kaya ada tugas aja..." jawab Julian yang engan ditinggalkan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Aku belum mandi anak manja..." ucap Eliza dengan menaikan alis matanya.
"Oh yaudah mandi dulu sana pantes baunya ampe sini..." ledek Jukian dari balik layar ponsel.
Mereka berdua saling terkekh hingga pangilan itu berakhir.
....
Saat malam hari
"Took took.." suara pintu di ketuk.
"Jul buka pintunya nak..."
"Apa sih gangu aja...." jawab Julian berusaha bangun dari tempat tidurnya dengan rasa sangat malas.
"Maaf kalau hari jumat ayah ada rapat keluar kota jadi gak bisa nak..." ucap Lelaki itu di depan anaknya dengan wajah terlihat letih.
Julian hanya diam dan mngambil nafas dari dalam serta membuang muka ke arah lain.
"Oh oke gak papa kok pa lagian itu amplop sebenarnya juga gak peting-penting amat paling cuma buat pamer aja..." jawaban Julianembuat hato lelaki itu seperto terserey ombak karena terasa begitu menyakitkan.
Julian membanting pintu itu dengan kasar emosinya benar-benar memuncak hingga membuat diding itu seperti bergetar.
"Jul.... Julian, buka dulu pintunya papa mau ngomong nak" ucap lelaki iti dengan suara serak dan di ikuti batuk.
Julian tak menangapi dia hanya diam sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia kembali menghubungi Eliza entahlah saat ini hatinya sedang butuh kasih sayang namun Elisa tampaknya sedang sibuk panggilan darinya tak di jawab olehnya.
Dia beralih menghubungi mamanya namun dia urungkan niat itu karena saat ini dia sedang emosi Dia takut jika emosinya meledak dan akan membuat mamanya khawatir.
Dia terus mengotak-atik layar itu hingga jemarinya lelah, perlahan Dia mulai tertidur dengan masih berpakaian seragam sekolah itu.
Hingga bunyi dering ponsel yang keras itu tidak dapat membangunkanya.
...
...
Eliza mulai memakai baju handuk dan berjalan keluar dari kamar mandi dengan kepala yang juga terlilih handuk. Dia berusaha mengambil ponsel miliknya yang sedari tadi berdering di atas bufet tempat tidurnya itu, Dia tersenyum ketika layar ponselnya tertera nama Julian yang melakukan panggilan masuk.
__ADS_1
Dia mencoba menelpone Julian kembali lagi namun sayang hanya pangilan keluar yang di dapat.
Eliza memertawai kelakuan pacarnya itu yang saat ini seperti anak kecil yang selalu ingin dimengerti.
Eliza hanya mengirimnya setiker berbentuk hati itu dan mulai turun menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga itu.
"Ma... yah... ini ada rapat wali murid besok bisa dateng kan...?" ucap Eliza kepada kedua orangtuanya sembari menyerahkan amplop berwarna coklat itu.
"Coba sini mama lihat..." ucap wanita yang tengah menikmati secangkir teh hangat itu sembari mengambil amplop itu dari tangan anaknya.
Wanita itu mulai membuka dan membaca isi dari selembar kertas itu sedang lelaki berpakaian kaos itu sedang menikmati semangkuk bakso.
"Oh bisa kok sayang'' ucap wanita itu dengan tersenyum.
"Makasih ya ma..." jawab Eliza dengan jail tanganya mencomot kripik pangsit yang belum tercelup di kuah bakso itu.
"Duduk sini dulu" wanita itu mulai menarik putrinya dan mendudukan disebelahnya.
"Sayang maafin mama ya kemarin sempet lupa hari ulang tahun kamu rencananya mama sih kalu kamu setuju gimana kalau liburan nanti kita ke Bandung...." ucap wanita itu dengan tatapan bersalah karena melupakan hal penting bagi putri kesayanganya.
Eliza seperti mendapat angin segar hatinya seperti sedang melonjak-lonjak kegirangan.
"Serius maaaa....?" tanya Eliza dengan terkejut dan wajah sumringah.
"Iya tapi kenapa kamu kok seneng banget hayoo ada apa...??" tanya wanita itu dengan nada keheranan.
"Ya pengen aja ma jalan-jalan kerumah oma emang kapan ma...?" jawab Eliza kewalahan menjawab ucapan mamanya.
"Entar dulu nunggu mama sama Ayah ambil cuti dulu entar kita atur jadwal..." jelas wanita itu yang membuat Eliza semakun tak sabar.
"Sipp makasih mamaku sayang...." Eliza memeluk tubuh wanita itu dengan erat karemlna sebentar lagi dia bisa mewujudkan impianya dengan Julian.
"Oh iya jangan lupa ajak cucu kita tu biar lebih seru Dio sekalian juga" tambah lelaki itu yang mulai menghabiskan kuah bakso yang tingal bebefapa sruputan itu.
"Iya tu ma pasti seru ajak Raca" ucap Eliza sembari mengambil alih remot televisi itu karena Dia tak menyukai acara yang ditonton kedua orang tuanya yang hanya menampilakn tayangan politik.
Weheeheehe
Chapter selanjutnya akan berisi cerita Eliza dan Julian di Bandung ditambah konflik dengan Nyonya Ayunda plus Rehan.
Ikuti terus kisahnya ya....💖
__ADS_1