Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 99


__ADS_3

Dia berangkat dari kota Bandung pukul lima sore, langit tampak mendung dan siap memuntahkan beban yang sedang di tahanya itu.


Setelah selesai membeli tiket dia berjalan menuju tempat menunggu kereta tiba tak lama kemudian kereta jurusan stasiun Jakarta itu tiba, dan ternyata itu kereta terakhir yang beroperasi hari ini.


Dia mulai masuk sembari membawa barang bawaanya ke dalam.


Masih ada beberapa tempat duduk yang kosong segera dia duduk di kursi yang berjajar di tepian gerbong itu sebelum orang lain lebih dulu menepatinya.


Dia mulai menyenderkan kepalanya di kursi perlahan dia mulai terlelap hawa sejuk nan tenang itu mampu membawa Julian ke alam mimpi.


Dia melalu perjalanan di kereta dengan peluh asa karena diluar hujan tampak sudah menyapa.


Suara rintikan hujan itu mampu menjadi melodi dan seakan-akan memutar kembali kenangan yang terjadi hari ini.


Dia selalu teringat senyum wanita yang di pangil mama yang begitu meneduhkan hatinya, sayang dia harus berpisah karena keadaan.


Hampir tiga jam lamanya Julian berada di kereta akhirmya dia sampai di stasiun kota jakarta.


"Akhirnya sampai juga...." ucapnya sembari merengangkan tangan melepas letih yang Ia rasakan saat ini.


Dia mulai turun melalui pintu gerbong dan berjalan menuju tempat untuk menunggu kereta tiba tak lupa barang bawaanya selalu melekat di tanganya.


Dia mulai melihat ponsel berwarna hitam miliknya itu karena sedari tadi belum ia jaamah sedikitpun.


Terlihat Eliza mengrimnya sebuah pesan dan dengan segera Julian mulai membukanya.


"Akhirnya setelah purnama tiba kamu buka blokirnya juga El" ucap Julian dengan girang hatinya meloncat-loncat bagai katak bermain di atas daun teratai.


Dia mengeser ponselnya dan mulai melihat isi pesan dari Eliza.


"Kok engak ngabarin sih pergi ke Bandung..." isi pesan dari Eliza membuat dia semakin percaya diri bahwa ketampananya tak memungkiri dia disukai banyak orang.


Julian mulai memainakn jemarinya di atas layar bening itu.


"Nyariin ya..." isi pesan yamg di kirimkan ke Eliza.


Dia tampak cengar-cengir akhirnya wanita yang disayanginya itu mulai berlabuh kembali di hatinya.


"Maaf mas ini saya mau lewat" ucap salah seorang anak muda yang terhalang jalanya oleh Julian.


"Oh iya maaf ya mas" jawabnya sembari berjalan menepi, karena asik dengan ponselnya Julian sampai lupa bahwa dia berada di tengah jalan.

__ADS_1


"Berat banget ni barang isinya apa ya..?" ucap Julian terlihat frustasi, tangan kanan kiri Julian penuh sudah dengan kardus serta tas teng-tengan hampir mirip orang pulang dari perantauan yang membawa banyak oleh-oleh untuk keluarga tercintanya.


Dia mulai keluar stasiun dia menginjak kembali kota kelahiranya yang terkenal akan macet serta banjir itu.


Dia memesan taksi yang berjajar rapi di tepian jalan, nampak juga penjual kaki lima yang menjajakan barang jualanya terliahat beberapa sudut jalanan juga banyang air menggenang karena hujan juga baru mereda.


"Pak antarkan saya ke jalan Rajawali N0 17 ya pak" ucap Julian ke supir taksi uang sedang mengelap kaca mobil berwarna biru muda itu.


"Oh siap silahkan masuk" ucap sopir taksi itu sembari membukakan pintu mobil untuk Julian masuk.


Kurang lebih setengah jam Julian sampai di rumahnya, hari sudah semakin malam dia memencet tombol bel itu karena jarang sekali mbak Inah ada di luar waktu malam.


"Ting tung"


Mbak Inah dengan segera membukakn Pintu Dia berjalan tergopoh-gopoh dari arah dapur.


"Oh mas Julian silahkan masuk mas..." ucapnya seperti biasa selalu dengan ramah.


"Iya mbak makasih ya tolong ini di bawain ke dapur ya mbak" ucap Julian sembari menyerahkan barang bawaanya yang begitu berat.


"Oh iya mas" jawab mbak Inah sembari membawa barang bawaan Julian masuk ke dapur.


"Tolong jangan sampai ketahuan bapak..." ucap Julian sedikit berbisik ke mbak Inah.


Pembantu itu tampak bahagia karena majikanya pulang memjadikan rumah tak terlalu sepi.


"Bapak udah pulang...??" tanya Julian lagi sembari berjalan mengekor di belakang mbak Inah.


"Udah mas tadi sengaja katanya pulang sore" jawab mbak Inah dengan nada pelan.


Julian mulai mengintip dari arah dapur dan ternyata jalan menuju tangga kosong dia cukup lega akhirnya papanya tak melihat kedatanganya karena jujur Julian takut hal buruk akan menimpa telinganya yang tak berdosa ini.


Dia mulai berjalan mengendap-endap secara perlahan-lahan layaknya seorang pencuri yang akan mengasak uang targetnya.


"Udah pulang Jul...?" ucap lelaki yang memakai celana pendek serta kaos putih itu yang masih terlihat muda padahal umur sudah terlanjur tua.


Ya kerja kerasnya Julian untuk mengendap-endap gagal sudah dia tampak terkejut dengan suara ayahnya yang terdengar bagai suara petir yang datang mengangetkanya.


"Iya pa" jawab Julian dengan nada datar dia tak melirik sedikitpun wajah papanya.


"Duduk dulu papa mau ngomong Jul" ucapnya berusaha mendekati anaknya yang terlihat tampak lelah itu.

__ADS_1


"Capek pa lain kali aja deh" ucap Julian dengan nada naik turun jujur detak jantungnya sedang berdisko rupanya.


Segera Julian meninggalkan lelaki yang di pangil papa itu.


"Akhirnya letusan bom masih tertahan walau sejenak" ucap Julian dalam hati Dia mulai berjalan melewati anak tangga.


"Julian papa mohon dengerin penjelasan papa dulu"


"Aku capek pa jangan tambahin pikiran aku, aku mau istirahat" ucapku yang tak ingin berbelit-belit karena cukup sudah drama dengan papaku.


"Oh yaudah kalau gitu papa tunggu sampai besok ya nak..." ucapan papa yang membuatku keheranan padahal biasanya lelaki itu selalu membentaknya.


Segera Julian berjalan masuk ke kamarnya, belum sempat dia berganti pakaian Dia langsung tertidur dengan pulas rasa lelahnya perlahan mulai mereda


Hingga dia lupa mengerjakan pr untuk tugas besok pagi.


Dep... Dep..


Dia mulai terbangun perlahan dia membuka matanya dan melihat jam sudah menunjukam pukul dua belas malam.


Perlahan Dia mulai membuka matanya Dia dapati Dia masih mengenakan baju yang sama. Dia usap perlahan wajahnya dengan tangan. Setelah itu Dia beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil handuk untuk mandi, mungkin air bisa menjernihkan pikiranya saat ini.


Dia guyur perlahan kepala hinga kakinya dengan air yang mengalir.


Hingga kini bisa Dia rasakan rasa lelahnya yang perlahan mulai menghilang.


Kemudian Dia berjalan menuju meja belajarnya Dia mulai mengerjakan pr yang belum Ia sentuh sama sekali itu.


Dia muali membaca satu persatu pertanyaan dari lembar soal itu sembari mengeringkan rambut dengan handuk yang masih melekat di kepalanya.


Hampir semua selesai namun ada tiga nomer dia kesulitan untuk menjawabnya.


Dia berusaha menghubungi Putri, ya Putri langganan Dia di saat butuh jawaban.


Tak disangak Putri juga belum tidur ruapanya, Julian sedikit heran kenapa semalam ini Putri juga belum tidur.


Tak menunggu waktu lama Putri sudah mengirimkan jawaban lewat pesan.


Julian tampak sumringah karena ingin menghargai kebaikan Putri Julian meladeni chatingan dengan Putri hingga hampir jam dua dini hari.


Mata Julian tidak bisa diajak kompromi ruoanya, matanya mulai lelah mungkin hingga dia meminta Putri untuk tidur.

__ADS_1


"Put tidur gih udah malam lho" isi pesan yang di kirimkan ke Putri.


"Iya Jul nanti besok kita ketemu di Sekolah ya😀" jawaban dari Putri membuat Julian sadar bahwa Putri ada rasa untuk Dia tapi sayang Julian tentu lebih memilih Eliza, ya wanita seribu cahaya itu.


__ADS_2