Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 137


__ADS_3

Hari ini Eliza kembali ke Jakarta setelah hampir lima hari lamanya menghabiskan waktu liburnya di Bandung, namun sayang liburan yang di banggakan itu tak berjalan seindah di pikiranya. Terkadang memang benar realita tak sesuai ekspetasi.


Dia terus mengotak-atik layar ponsel itu sembari menunggu lelaki kesayanganya membalas pesanya. Dia sedang berbaring di tempat tidur berwarna baby blue itu dengan bermalas-malasan.


Tak berapa lama Julian mengangkat pangilan telephon dari Eliza. Dan membuat si penelepon senyum kegirangan.


"Hallo sayang" ucap Julian dari seberang telephon. Yang membuat Eliza kembali tersenyum ya karena satu suara lelaki itu mampu mengubah suasana hatinya hingga menjadi mekar seperti sekarang.


"Apa kabar aku udah pulang Jul ke Jakarta..." jawab Eliza sembari menanyakan kabar ke Julian yang saat ini masih berada di Bandung ya walau hanya dua hari tak bertemu rasanya seperti hampir dua tahun lamanya.


"Baik sayang maaf ya aku gak bisa nemuin kamu atau ngaterin kamu...." ucap Julian dengan nada meminta maaf.


"Oh iya kamu baik-baik aja kan disana....??" tanya Julian memanyai kabar Eliza.


"Iya aku baik-baik aja, kamu sendiri bagaimana ..?" jawab Eliza sembari menanyakan kabar Julian disana.


"Aku gak papa El sebentar lagi aku juga akan pulang ke Jakarta lagian sebenatar lagi kita juga akan masuk...." ucap Julian yang membuat Eliza tak sabar ingin bertemu.


"Udah makan kamu sayang...?" tanya Julian yang membuat Eliza seperti sedang di suapi Julian walau hanya ucapan manis yang keluar dari bibir ciuman pertamamya itu.


"Udah" jawab Eliza berbohong karena ketika Julian mengangkat telephonya mendadak nafsu makanya hilang dan kini merasakan kenyang.


"Eliza kakak masuk.." ucap lelaki bernama Dio itu yang datang menuju kamar Eliza.


Mendengar ucapan serta langkah kaki kakanya membuat Eliza segera mematikan panggilan telephon itu.


"Oh yaudah aku tutup dulu Jul ada kakak aku..." ucap Eliza sembari mengakhiri pangilan itu.


Dio langsung datang membuka pintu itu dan menghampiri adiknya seraya memeluknya dengan jail.


"Kak lepas risih tau..." ucap Eliza berusah melepas pelukan dari kakaknya itu.


Dio justru semakin tertawa melihat kelakuan adiknya karena terlihat masih lucu mirip boneka hidup, baginya Eliza tetap sama saat masih sekolah TK yang terlihat imut dan mengemaskan.


"Adek ku sayang makan dulu gih biar sini gantian kakak yang main ponsel kamu..." ucap Dio berusaha merebut ponsel milik Eliza namun dengan cepat Eliza berhasil menghindar dari tangan jail kak Dio.


"Apa sih kak keluar deh dari kamar aku..." teriak Eliza yang merasa terganggu dengan kehadiran kakaknya yang super rese itu.

__ADS_1


"Masih soal Julian ya....?" tanya lelaki bernama Dio itu dengan mengedipkan kedua kelopak matanya.


"Iya kenapa emang" jawab Eliza sembari menyederkan kepala diantara tumpukan bantal itu.


Dio terkekeh dengan ucapan adiknya yang terlhat jadi korban perasaan itu.


"Eliza Anandia Putri dari Handoko benar benar cinta mati sama Julian" teriak Dio dengan nada tinggi dan suara melengking.


"Kakak apa-apaan sih mirip toa masjid tau gak suara kakak melengkin gak ada enaknya di dengar." ucap Eliza begitu risih dengan ucapan kakakya yang terasa mengangu pendenagrannya.


Lelaki itu terus mengoda adik kesayanganya itu dengan jail hingga membut Eliza menuruti kemauan kakaknya.


"Liburan kok di kamar terus sini dong duduk dekat kakak" ucap Bima kepada adik perempuanya yang terlihat lesu sembari berjalan ke arah dapur dan melewatinya dengan raut wajah masam.


Eliza tak menjawab ucapan kakaknya Dia segera berjalan menuju meja makan dan melakukan rutinitas makan pada umumnya.


Setelah selesai makan Dia duduk di kursi taman yang tampak basah itu akibat hujan semalaman. Tak berapa lama datang kak Tea yang berjalan menuju kursi taman itu dan mulai duduk di sebelah Eliza.


Mereka mulai berbincang-bincang Eliza terlihat nyaman saat mengobrol denga kakTea yang memiliki sifat rendah hati itu dan harmonis itu.


"Gak kok kak" jawab Eliza tentu Dia tak ingin menunjukan kesedihanya.


"Beneran kalau ada apa-apa  cerita ke kakak, aku siap kok jadi teman cerita kamu " ucap Tea kepada Eliza dengan nada halus dan selalu menunjukan lesung pipi miliknya.


"Iya kak siap..." jawab Eliza dengan tersenyum tipis.


"O iya ambil cuti berapa hari kak" tanya Eliza ke arah kak Tea yang sedang mencicipi jus mangga buatanya itu.


"Hari senin kakak udah masuk jadi ya Raca ikut sama omanya" jawab wanita bernama Tea itu sembari menaruh kembali gelas itu di atas meja.


"Jadi wanita karir gak capek ya kak" tanya Eliza sembari menatap wajah kak Tea dengan tatapan penasaran.


"Ya tinggal yang ngejalanin aja sih emnag nanti kalau kuliah mau ambil jurusan apa " jawab kak Tea yang begitu membuat Eliza


''Gak tau deh kak" ucap Eliza yang tak mengetahui jurusan apa yang ingin Dia ambil saat kuliah nanti.


Dan terlihat Raca mulai menghampiri kak Tea dengan terus memangil wanita itu dengan sebutan bunda. Eliza hanya tersenyum membayangkan kelak akan jadi seperti itu.

__ADS_1


"Jadi ibu itu gimana sih kak rasanya.?" tanya Eliza ketika megetahui Raca yang terlihat begitu bahagia saat dipeluk kak Tea.


"Ya jadi seorang ibu itu harus bisa jadi apa saja" jawab Kak Tea yang terlihat memiliki jiwa keibuan itu


Tiba-tiba Eliza teringat kembali akan permasalahan keluarga Julian. Hingga tak terasa buliran bening itu jatuh.


"Kenapa kamu kok nangis " tanya Tea dengan nada khawatir.


"Ya aku habis lihat drama aja ceritanya tentang pelakor terus aku kok kaya ngerasain rasanya di tinggal suami yang selingkuh"jawab Eliza sembari menyeka air mata miliknya yang jatuh dengan sendirinya.


"Eliza Eliza kamu masih muda dek itu semua cuma perasaan kamu aja, ya kakak doain entar kalau kamu nikah dapet suami yang baik seperti kak Bima" ucap Tea kepada adik iparnya itu dengan terseyum sedang tangan kananya sedang menepuk-nepuk tubuh Raca dengan lembut agar membuatnya tertidur.


"Tapi kenapa ya mama sifatnysa ngekang aku banget kaya membenci Julian padahal mama belum tau sifat asli Julian" cerita Eliza terlihat begitu mengebu-ngebu menceritakan sifat wanita yang di pangil mama itu.


"Ya namanya juga orang tua pasti gak ingin anaknya tersesat ke jalan yang gak bener aku tau kok di blik sofat mama yang keras ada sifat mulia yang kamu gak tau" jelas kak Tea dengan sabar menasehati Eliza yang belum dewasa itu.


"Iya tapi bukanya kelewatan ya..?'' tanya Eliza yang masih membela diri.


"Apanya...?, wajar Eliza sini deh kakak peluk biar rasa sedih kamu berkurang.'' ucap Tea sembari memeluk tubuh Eliza dengan tangan kananya.


Mereka terus tertawa hinga datang Dio dan Bima


"Hayooo ngomongin apa nih para ibu-ibu..." ucap Bima yang datang dari arah dapur menuju taman menghamluri adik serta istrinya itu.


"Masih calon kak" jawab Eliza dengan wajah kembali di tekukk


"Iya tapi kalau sama yang kemarin kurang deh" ledek Bima lagi berusaha mengodai adik perempuanya itu.


"Kurang apanya...?" tanya Eliza dengan raut wajah panik karena baginya Julian itu sempurna.


"Kurang restu dari mama" lanjut Bima dengan tertawa, menertawai tingkah laku adiknya.


"Ih kak Bima" teriak Eliza yang kesal dengan kakanya.


"Mas jangan godain adeknya kasian" lerai Tea yang tak suka akan keributan itu.


Mereka terus berbincang-bincang sembari tertawa ria disaat mereka sibuk waktu seperti ini sangat berharga baginya.

__ADS_1


__ADS_2