
Hari semakin siang perlahan mentari itu mulai berjalan menepi ke sebelah ufuk timur.
Eliza pulang sedikit lebih sore lagi karena harus mengikuti latihan vokal untuk nanti acara perpisahan kelas dua belas yang kurang satu bulan lagi.
"El gue duluan ya..." ucap salah seorang siswa yang juga ikut serta dalam latihan vokal tadi.
"Iya hati-hati..." jawab Eliza melambaikan tangan sedang kedua sahabatnya Vey dan Rena sudah pulang terlebih dahulu.
Dia mulai meraih tas ransel itu perlahan dia memasukkan tanganya ke dalam tas itu untuk mencari lembaran kertas berisi rangakian materi vokalnya untuk minggu depan.
"Dimana sih..." gerutunya dengan terus menyusuri isi tas itu.
"Brak.." Kotak pensil berwarna hitam itu jatuh ke lantai dan membuat Eliza harus membungkukan badan tanpa disadari ponselnya juga ikut berdering.
"Dreet dreet..." Dengan kewalahani Eliza mengambil kembali kotak pensil itu sembari mengangkat telephon yang diambil dari saku seragamnya.
Dia mulai mengeser pangilan masuk itu dan mulai berbicara.
''Hallo" suara dari seberang telephon.
"Iya Hallo..." jawab Eliza dengan tangan masih sibuk mengambil beberapa perlatan tulis yang jatuh itu.
"Ini tante El jadi kan nemenin ke rumah Dea...?"ucap wanita bernama Ayunda itu mengutrakan kembali maksudnya.
Eliza terdiam dan menyeka keringat yang menetes di sisi pelipisnya, Dia sempat tak ingat hari ini ada jani dengan tante Ayunda.
Dia mulai memfokuskan pembicaraanya lagi denagn tante Ayunda.
"Iya tante bisa kok..." jawab Eliza menyetujui
Dengan langkah gontai Dia berjalan menuju tempat parkir dan mengambil motor matic yang biasa dia pakai setiap hari.
"Udah mau pulang ya El...?" tanya Julian yang entah dari kapan dia sudah berdiri di dekat dinding yang mulai mengelupas itu dengan tangan membawa buku paket yang jarang di lakukan Julian.
"Ada urusan Jul duluan ya..." jawab Eliza dengan nada cuek dan membuang muka ke arah lain, Eliza bernafas lega akhirnya dia bisa membalas rasa sakit yang dia rasakan waktu jalan kemarin
"Iya hati-hati ya sayang" ucap Julian yang tak di jawab oleh Eliza.
Entah kenapa setiap ucapan yang keluar dari mulut Julian saat ini baginya itu hanyalah omong kosong.
Eliza mulai melajukan motornya keluar dari sekolah dia mulai menelusiri padatnya jalan raya dengan berlalu lalang kendaraan yang melewatinya.
Eliza mulai berhenti di sisi minimarket tempat Dia janjian dengan Tante Ayunda tak berselang lama mobil berwarna putih itu menepi di sisi kanan tempat Dia sekarang duduk di atas motornya.
"Eliza..." ucap Ayunda sembari membuka kaca mobilnya.
"Iya Tan..." jawab si empunya nama ke arah sumber suara.
"Ikut Tante aja .." ucapnya sedikit berteriak karena suara bising di jalanan yang begitu mengusik telinga.
"Engak aku naik motor aja'' tolak Eliza dengan volume nada juga di naikan.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu kamu yang di depan .." ucap Ayunda kepada Eliza lagi.
"Iya Tan''
Eliza segera melajukan motornya dan berjalan di depan sedangkan Ayunda mengikutinya dari belakang.
Kurang lebih lima belas menit mereka sampai di depan rumah milik Dea.
"Ini rumahnya El...?" tanya Ayunda yang mulai melangakhkan kakinya keluar dari pintu mobil.
"Iya tante sebentar...." jawab Eliza sembari membuka helm yang berada di atas kepalanya.
Setelah itu Eliza berjalan menuju pintu gerbang nan kokoh itu. Rumah Dea tak banyak berubah hingga Eliza masih hafal betul setiap sisi rumahnya.
"Ting tung..." Dia memencet tombol itu hingga mengeluarkan suara tanda orang bertamu.
Tak berapa lama munculah wanita paruh baya yang berumur sepantaran dengan Ayunda.
"Maaf cari siapa buk...?" tanya wanita itu ke arah Ayunda dan Eliza.
"Deanya ada buk...." jawab Ayunda dengan ramah.
"Oh ada silahkan masuk..." wanita itu membukakan pintu gerbang dan berjalan masuk sembari mempersilahkan Ayunda dan Eiza duduk di kursi sofa yamg terlhat elegan itu.
"Silahkan duduk dulu..." ucap wanita itu dengan sopan.
"Jadi gini saya adalah mamamnya Rehan dan kedatangan saya kesini ingin bertemu dengan Dea..." ucap Ayunda dengan nada tegas miliknya yang tak terlalu Dia tunjukan ke setiap orang.
"Iya..."jawab wanita itu dengan raut wajah cemas.
"Maaf saya bapaknya Dea..." ucapnya menyapa Ayunda dan Eliza.
"Iya pak saya mamanya Rehan..."
Lelaki itu tak kalah cemas dari istrinya namun Ayunda hanya menangapinya dengan tersenyum.
"Jadi ijinkan saya bertemu dengan Dea pak buk..."
"Oh begitu kita langsung masuk ke kamar aja sialahkan...." wanita itu mulai beranjak begitupn Eliza dan Ayunda mengikuti wanita itu berjalan menuju kamar Dea.
"Ceklek" pintu di buka Ayunda tak menyangka Dia begitu terkejut dengan kondisi mental gadis yang menusuk anaknya. Dia semakin tak tega melihat kondisinya yang terlihat begitu terpuruk dan tampak menyedihkan itu.
"Ini Dea..?" tanya Ayunda dengan menatap wajah Eliza
"Iya Tante" jawab Eliza dengan menganguk.
Ayunda segera menghampiri Dea yang sedang duduk melamun itu terlihat wajahnya seperti ketakutan akan sesuatu hal.
"Ini siapa ma...?" tanya Dea dengan bibir bergetar.
"Dea tenang saya mamanya Rehan..." jawab Ayunda mendahului jawaban wanita yang saat ini berdiri di sebelah Dea.
__ADS_1
Dea semakin ketakutan bibirnya terus bergetar dan air matanya mulaii jatuh perlahan hingga keluar suara sesengukan itu.
"Tenang Dea" Ayunda menghampiri dan memeluk gadis itu lebih dekat
"Dan lo Eliza lo puas sekarang lihat gue yang kaya gini ini maunya lo kan...??" ucap Dea dengan brutal emosinya seakan-akan muali membuncah.
"Dea ..." Eliza bersaha mendekat namun di tahan oleh Ayunda.
"Eliza mending kamu di luar dulu oke .." ucap Ayunda dengan tatapan mendalam.
"Baik tante..." ucap Eliza segera berjalan keluar entah kenapa hatinya ikut merasakan sakit yang dirasakan Dea.
Sedang Ayunda mulai berbicara lebih dekat dengan Dea.
"Maafin aku tan aku gak sengaja demi Tuhan aku gak sengaja nusuk Rehan.." ucapnya terbata-bata dengan air mata terus mengalir deras.
"Oke gak papa tante tau ini cuma salah paham aja" jawaban Ayunda sedikit menenagkan pikiran Dea.
"Dea sudah saya bawa ke psikolog tapi ya belum ada perkembangan...." ucap wanita itu dengan raut wajah putus asa melihat kondisi kejiwaan putrinya.
"Kamu ada dendam sama Eliza...?" tanya Ayunda yang tak di jawab oleh Dea.
Ya begitulah Ayunda tak terlalu menanyakan langsung ke Dea dia cukup tau dari cerita Rehan beberapa waktu lalu.
"Rehan bagaimana Tan...?" ucapan itu bagai makanan nasi basi yang enggan orang untuk menyentuhnya.
"Udah sembuh kok Tante cuma mau pesen sama kamu jangan lakuin hal bodoh lagi karena kita gak akan pernah tau itu akan bahayain nyawa orang atau tidak" jelasnya dengan nada lembut.
"Iya Tan"
"Jadi aku gak di bawa ke kantor polisi kan?" tanya Dea dengan raut wajah semakin ketakutan.
"Gak akan tante jamin" Ayunda berusaha mengelus-elus punggung Dea yang tampak kurus itu.
"Tapi Rehan dia benci banget sama aku..." jelas Dea lagi dengan mengelengkan kepala.
"Dia yang ngomong gak akan laporin kamu jadi kamu harus berusaha rubah sifat kamu sendiri ya" ucap Ayunda yang membuat Dea semakin sadar dengan hal yang dia lakukan salah.
"Iya makasih ya Tante."
"Iya"
"Yaudah buk pak maaf saya harus pergi sekarang karena kebetulan ada janji sama temen jadi gak enak kalau gak dateng..." ucap Ayunda sembari beranjak dari tempat yang Ia duduki.
"Oh iya kenapa gak duduk dulu di depan kita minum dulu..." ucap wanita itu menawarkan berbincang-bincang sebentar namun di tolak oleh Ayunda.
"Gak maaf lain kali saja jika saya berkunjung kesini..." ucap Ayunda dengan nada sopan dan berjalan keluar kamar
Dia segera menghampiri Eliza yang duduk itu dan memgajaknya segera beranjak pulang.
"El kita balik sekarang..." ucap Ayunda dengan menatap ke arah Eliza.
__ADS_1
"Tapi aku pengen ketemu Dea dulu tan" jawab Eliza mengutarakan keinginanya.
"Gak perlu kondisinya belum tepat buat kamu bicara sama Dia..." jelas Ayunda yang di balas anggukan oleh Eliza.