Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 85


__ADS_3

Eliza pov


Seperti biasa setelah pulang sekolah tiada hal lain yang kulakukan selain menidurkan badan ini, hari ini jadwal olahraga di kelasku, hampir sejam lebih aku menunjukan bakat lariku dan kini imbas dari lariku adalah merasakan kram di kaki yang terasa bagai di pukuli dengan rotan di gerakan terasa berat dan amat sakit.


Aku mulai menganti pakaian seragamku dengan baju rumah tak lupa aku menyalakan ac kamarku agar udara sejuk tercipta.


Lambat laun aku tertidur pulas satu persatu hayalanku mulai memberdayaiku di alam mimpi.


Hingga suara dentuamn jam itu tak dapat lagi kudengar


Tok... Tok... Tokk


Ketikuan pintu dari kamarku itu membuatku terbangun dengan begitu malasnya aku mulai membuka mata.


"Siapa....??" tanyaku masih dengan suara orang bangun tidur.


"Ada tamu mbk" ucap pak Armo lelaki Tua yang sekarang bekerja di rumahku untuk membersihkan pekarangan halaman rumahku.


Sebelum aku membuka pintu aku membuka tirai kamar tidurku yang semula aku tutup rapat, aku melihat disekeliling halaman rumah ku dan benar saja ada Dia lelaki yang saat ini sedang kujahui yang sedang membuat coretan luka yang belum pulih sempurna ini.


'Maaf pak tamu yang itu suruh pulang saja...." ucapku dengan nada berat.


"Dan bilang saja aku tidak menerima tamu yang namanya Julian..." ucapku lagi seraya membuka pintu.


"Oh baik mbk akan saya sampaikan pesan untuk mas Julian" jsawabnya segera beranjak pergi.


"Makasih pak" ucapku dengan lesu sembari menutup pintu kamarku kembali.


Aku kembali merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.


Namun mata ini tidak ingin di pejamkan aku sudah berusaha kurang dari lima belas menit tapi hasilnya selalu sama mata ini tetap terbuka lebar.

__ADS_1


Hatiku berteriak minta dituruti maunya segera aku beranjak dari tempat tidur perlahan aku ingin berhenti namun hatiku memaksa, segera aku membuka tirai jendela kamarku aku padangi tubuhnya yang terlihat masih sama, aku kembli melihat senyum yang menawan itu senyum penyemangat waktu itu dan kini hanya tersisa pilu yang kurasakan.


Dia mukin sedang berbincang dengan pak Armo karena terlihat keduanya sedang bercakap-cakap, begitu melihatnya hatiku terasa terlena kenangan-kenangan itu kembali bermuncul satu persatu meninggalkan bekas luka yang mudah tergores sekarang.


Aku tetap di posisiku menatapnya dalam jauh melihatnya dengan mata terbuka namun hati menutup.


Maaf Jul aku sudah terlanjur lelah dengan semua ini tamparan keras waktu itu menjadi aku tau bahwa cinta hanya membuat hidupku hancur membuat hatiku terluka.


Jangan gagalakan rencanaku untuk melupakanmu karena begitu susahnya aku membangun rasa benci ini rasa ingin tidak peduli, rasa ingin menerima bahwa aku baik-baik saja itu sulit Jul buat aku jangan gangu aku lagi untuk kali ini dan seterusnya biarlah waktu menjadi saksi bahwa cinta kita mirip melodi yang terkadang naik kadang turun dan kadang sampai akhir dan berhenti namun memiliki irama yang indah.


Aku menunggu dia pulang karena aku akan memastikan dia baik-baik saja


Setelah itu dia beranjak pulang hatiku lega namun hatiku juga menangis aku terlalu rindu kamu Jul hingga otakku pun lelah memikirkanmu.


Cintaku ke kamu sekarang mirip ombak yang berdebur di pantai ada saatnya muncul dan bergelombang indah ada saatnya aku harus berhenti menepi.


Hati yang terlalu patah kini hanya aku sendiri yang mengegam tanpa aku suruh kamu ikut merasakanya karena begitu sakit Jul.


"Maaf pak tadi ngobrol apa saja....??" tanyaku ke Pak Armo sembari aku duduk dikursi bekas Julian duduki.


"Biasa mbk hanya nanya pekerjaan bapak tadi juga nanyain mbk tapi mbknya gak mau keluar ...." jelasnya sembari menghentikan memotong dedaunan itu dengan tersenyum.


"Iya pak soalnya mama udah bilangin berkali-kali gak boleh ada temen cowok masuk..." ucapku tanpa berbelit-belit.


"Og gitu ya mbk..."


"O iya itu tadi ada titipan dari nak Julian" ucap pak Armo sembari menyerahkan paperbag bergambar teddybear berwarna coklat itu.


"Terimakasih ya pak"


Aku tak akan membukanya aku akan mengembalikanya ketika hatiku siap untuk bertemu kamu Jul

__ADS_1


Karena saat ini hatiku belum siap untuk bertemu kamu dan menatap wajahmu karena terlalu sulit untuk mengatakan aku mudah melupakanmu.


"Oh iya nanti sehabis menyiram bunga bapak makan dulu" ucapku ke pak Armo yang masih bergelut dengan gunting tanaman itu.


"Maaf mbk sehabis selesai saya harus pulang soalnya saya harus mengantarkan istri saya berbelanja untuk keperluan besok jualan" jekas pak Armo yang harus kunengerti.


"Oh yaudah tapi lain kali bapak harus mau ya makan disini" ucapku dengan permohonan.


"Iya mbk"


"Yaudah terimaksih aku masuk dulu ya pak" ucpku sembari melangkahkan kaki menuju rumah


"Iya sama-sama mbk"


Aku mulai berjalan ke kamarku dengan langkah gontai tangan kiriku meneteng barang pemberian Julian ini, aku begitu tersentuh dengan sikapnya serasa aku kembali teringat saat dia memperlakukanku bukan miliknya saat dia mencoba menguji hatiku saat dia mengangap aku hanya mencari masalah untuknya.


Tapi yasudahlah aku saat ini hanya belum bisa memaafkannya dan juga melupakanya dua kata yang saat ini terus aku perjuangakan hingga aku siap menjadi bukan miliknya.


Namun aku kagum dengan kamu Jul kamu melakukan hal ini untukku tapi sayang saat ini hatiku sudah kukunci rapat-rapat dan sudah aku buang kelautan lepas


Dan aku tau Jul hati kamu sedang di uji sekarang tapi tenanglah aku siap jika kelak cinta kita memang hanya sebuah cerita yang berukir indah di atas dunia biarlah semesta menjadi saksinya.


Setekah itu aku kembali melepas cincin pemberiannya air mataku jatuh jujur aku tak rela namun aku harus bisa demi hatiku biar tak terlalu rapuh biar kuat seperti semula agar aku belajar untuk lebih berhati-hati soal cinta karena cinta satu kata namun rumit dan susah payah di jelaskan oleh kata-kata.


Aku kembali berbaring aku tumpahkan rasa yang aku alami sekarang di atas tempat tidurku aku mulai menyalakan lagu yang pas mengambarkan keadaan hatiku saat ini agar aku bisa meluapkanya walau hanya diam.


Lambat laun aku teringat kisah cintaku dua tahun silam dengan Aska ya lelaki pertama yang aku cintai lelaki pertama yang mengajarkanku arti kehilangan dan saat ini aku kembali merasakannya, kembali merasakan sakit yang tak kunjung reda, sakit saat lelaki yang kita sayangi lebih peduli dengan yang lain memang cinta membuat kita egois dan cinta membuat akal sehat kita tak berdaya.


Aku kembali menitihkan air mata aku kembali patah hati Jul untuk kesekuan kalinya.


Love you

__ADS_1


__ADS_2