Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 146


__ADS_3

Lanjutan dari sebelumnya.


"Kamu gak tau apa-apa mingir..." ucap Julian terhadap Eliza demgan nada tinggi karena Dia tak ingin terlihat lemah didepan orang banyak apalagi dengan keadaan tak berdaya seperti ini tentu akan membuat dirinya semakin terpuruk.


Sedang Rehan mulai pergi meninggalkan Julian dan Eliza tampaknya hatinya sakit berganda dengan kehadiran Eliza yang membuat hatinya semakin sakit walau nyawanya dikorbankan demi Eliza namun rasanya itu tak mampu menyandingi sosok Julian di dirinya.


Rehan kembali melihat wajah dari Eliza dari jauh dengan kembali mengambil sepeda motor miliknya dan berjalan keluar dari Kedai kopi itu. Sedang Julian tampak mencerna semua kejadian yang membuatnya semakin terpuruk dengan terdiam dengan tatapan mata kosong.


Terlihat Julian begitu kesakitan akibat dari ulah Rehan serasa Dia benar-benar mendapatakan balasanya walau Dia lelaki namun rasa sakit hatinya karena ulah papnya kini semakin terasa.


"Udah Jul kamu gak papa..?" ucap Eliza sembari mendekati Julian denagn perlahan menyetuh tangan Julian namun hanya mendapatkan penolakan belaka.


"Aku gak papa juga.." jawab Julian denhan mencoba berdiri semdiri walu menahan rasa sakit yang teramat berasa itu.


"Jul kita pulang aja kita ke rumah aku oke" ucap Eliza berusaha membantu Julian saat ini dan menawarkan tumpangan rumahnya bagi Julian.


Julian hanya menurutinya walaupun Julian tampak kesakitan tapi setidaknya Dia masih bisa membawa motor dan memboncengkan Eliza pulang walau di perjalanan mereka hanya saling diam bagai sesosok orang asing Eliza paham betul keadaan Julian sedang tidak baik-baik saja.


"Jul serius kamu gak papa...?" ucap Eliza kepada Julian dengan memberanikan diri bertanya karena Dia tau Julian tampaknya tak ingin diajak berbicara.


"Gak El" jawab Julian yang menenangkan Eliza walu sejujurnya dia hanya berbohong.


"Biar aku yang di depan" tawar Eliza lagi berusaha membantu Julian yang jelas akan mendapatkan penolakan keras darinya.


"Gak gak papa sayang" jawab Julian dengan kembali tersenyum memaksa wajah kakunya untuk sedikit melentur.


Sampai di rumah Eliza.


Rumah megah itu tampak sepi hanya ada tukang kebun bernama pak Armo itu yang terlihat sedang memotong tanaman liar yang tumbuh di luar pagar.


Julian menghentikan motornya dan berjalan masuk ke dalam rumah itu di bantu Eliza.


"Oke kamu duduk dulu biar aku bikinin teh manis" ucap Eliza dengan tersenyum sembari membantu melepas tas milik Julian.

__ADS_1


"Tapi mama kamu El" jawab Julian dengan nada khawatir karena Dia tau wanita yang diapanggil mama oleh Eliza itu tampak tak suka akan kehadiranya.


"Mama aku lagi keluar kota ada tugas dari kantornya" jawab Eliza dengan berbohong walau Dia tau akibatnya jika mamanya pulang ke rumah dan mendapati Julian berada di rumahnya akan ada perang besar.


"Kamu gak lagi bohong kan satang...?" ucap Julian ke arah Eliza denagn tatapan mencari kepastian.


"Gak kok sayang" jawab Eliza berusah tersenyum ke arah Julian tanda tak ada yang ditutup-tutupi olehnya.


Eliza mulai berjalan ke arah dapur dan membuatkan secagkir teh manis buat Julian agar sedikit membaik kondisinya.


Segera Eliza berjalan ke arah ruang tamu dan menemui Julian yang tampak kelelahan itu dengan tangan kanan kiri membawa napan berisi secangkir teh manis dan beberapa kue buatan mamanya.


"Jul aku sedih kalau kamu terus-terusan kaya gini plis Jul kamu coba iklas dan menerima semua ini mungkin udah ..." ucap Eliza sembari menaruh teh manis yang berada dalam cangkir itu ke arah Julian.


"Oke cukup dulu kata-katanya aku capek" jawab Julian yang membuat Eliza berhenti melanjutkan ucapanya yang terpotong itu tampaknya Dia harus menyadari sifat Julian yang terlihat sedang frustasi itu.


Eliza begitu miris melihat kondisi Julian yang tak ada habisnya berkekahi dengan Rehan walau dia belum pernah berada di posisis Julian namun Dia sedikit bisa merasakanya. Rasa sakit saat orang tua berpisah rasa sakit saat bertemu orang yang membuat kehidupan keluarga kita hancur tanpaknya ujian itu hanya diberikan kepada orang-orang kuat.


Perlahan Julian mulai tertidur dengan wajah di penuhi luka itu sedang Eliza tak berani menyentuh hanya menyeka sisaan air mata pilunya.


"Pak Armo..?" ucap Eliza dengan sedikit berbisik.


"Iya mbk" jawab pak Armo dengan menoleh ke arah Eliza.


"Tolong jaga rahasia ini ya kalau Julian berkunjung disini sama orang rumah" llanjut Eliza lagi dengan kedua jari menutup bibirnya  sejujurnya Ia butuh bantuan pak Armo untuk membantunya memutupi kehadiran Julian saat Kedua orang tuanya pulang nanti.


"Oh iya mbk siap" ucap Pak Armo dengan meyakinkan anak majikanya.


Hampir setelah sholat mahrib Julian baru terbangun dari tidurnya.


Perlahan Eliza mendekati Julian dan membantu membangunkanya.


"Kamu udah mendingan Jul...?" tanya Eliza dengan perlahan seraya menyetuh bahu milik Julian dengan lembut.

__ADS_1


"Udah kok makasih ya ..." ucap Julian yang terlihat mulai baikan itu sembari berdiri namun di tahan oleh Eliza.


"Tunggu dulu kita makan dulu ya..."ucap Eliza ke arah Julian dengan menghadang tangan milik Julian.


"Gak usah sayang aku langsung pulang aja" jawab Julian menolak permintaan Eliza walau perutnya tampak berbunyi tanda Dia lapar sekarang ini.


"Gak Jul kita makan dulu aku udah masakin kamu masi goreng lho" ucap Eliza lagi dengan tatapan memohon dan karena merasa kasian Julian menerima tawaran Eliza yang tak dapat Dia tolak lagi itu.


"Yaudah tapi bener kan mama kamu lagi keluar kota..." jawab Julian sembari memastikan keadaan aman.


Eliza mulai berjalan ke dapur diikuti Julian yang berjalan mengekorinya di belakang Julian mulai duduk dan Eliza mulai mengambilkan nasi goreng komplit untuk Julian diatas piring berwarna putih itu.


"Gimana enak gak Jul...?" tanya Eliza sembari menuangkan air putih dalam gelas milik Julian.


"Iya bener sayang enak..." jawab Julian yang terlihat lahab menyatap makanan itu.


Eliza menjadi tersipu malu oleh Senyuaman Julian yang tampak membuat candu itu.


Setelah selesai makan Julian segera pamit pulang dengan terlebih dahulu mencium pipi Eliza


"Sayang makasih ya aku beruntung punya kamu..." ucap Julian dengan memberikan satu kecupan untuk Eliza dan diterima manis olehnya.


"Aku Jul yang lebih beruntung punya kamu" jawab Eliza semakin bahagia memiliki pasang sesempurna Julian.


Julian hanya tertawa dan memakai helm miliknya


"Jangan lupa besok aku jemput jangan kesiangan bangunya..." ucap Julian lagi mengingatkan pacarnya agar tidak telah bangun.


"Iya sayang daa..." jawab Eliza dengan melambaikan tangan sembari tersenyum.


Julian mulai melajukan motornya pergi dan membuat Eliza semakin percaya jika kisah cintanya akan terus membahagiakan seperti ini.


......... .......... ........

__ADS_1


Walau terkadang kita pelaku dan Tuhan penentu. Tak ada salanya kita berbaik sangka padaNya bukan begitu para readers....😁


__ADS_2