
Setelah selesai makan malam Julian mulai berbincang kembali dengan adik serta mamanya.
Julian sedang menidurkan kepalanya di pangkuan wanita berpakaian piyama tersebut.
Terlihat Julian sedang melepas kerinduan yang selama ini Ia dambakan.
Julian begitu menikmati setiap detik yang Ia rasakan saat ini karena baginya hal ini begitu berarti, dia mulai mengahrgai waktu karena waktu akan terus berlalu dan berhanti dengan yang baru.
Kini tangan mulus mamanya mampu menjadi obat kesedihan yang Ia rasakan saat ini.
Dan wanita itu terus mengelus-elus lembut rambut anak lelakinya.
Dia terus memandangi wajah anaknya dengan gumpalan awan yang mulai menebal di pelupuk matanya yang siap jatuh kapan saja. Dia begitu bahagia sekarang begitu baiknya Tuhan kepadanya memberikan kejutan yang tak pernah Ia duga.
Matanya terus memandang wajah putih nan bersih itu tak henti-hentinya di dalam hatinya dia mendoakan hal terbaik untuk anaknya kelak itulah seorang Ibu begitu berat mengegam sebuah amanat.
Sedang adiknya, Reva sedang belajar di meja belajar sebelah rajang tempat tidur itu.
"Jul maafin mama ya mama gak bisa terus ada di samping kamu" ucapnya dengan suara bergetar.
"Gak papa ma" jawab Julian sembari memandang gemerlapan bintang di atas langit yang terlihat dari balik jendela berukuran besar itu.
"Kamu jangan bandel ya rubah sikap keras kamu apapun yang papa lakuin sekarang kamu harus sabar kamu harus paham jangan selesain masalah dengan amarah ya nak..."ucap wanita itu dengan nada halus nan menengkan hal itu selalu membuat Julian merasa nyaman.
"Iya ma tapi hatiku sakit ma lihat papa seperti sekarang...." Julian tak mengelak Dia bukan manusia sempurna Dia punya dendam dengan ayahnya Dia ingin bercerita banyak tapi itu tak mungkin dia justru akan mengores luka di hati mamanya.
"Kamu harus maafin kesalahan papa, Tuhan aja pemaaf masak kamu engak...??"
"Tapi aku menderita ma dengan kelakuan papa sekarang..."
Wanita itu jelas lebih menderita di banding anak laki-lakinya dia berusaha sekuat baja setegar rumput yang di terjang badai.
"Ingin rasanya ma setiap hari aku tidur di pangkuan mama..." ucap Julian sembari menyentuh jemari wanita itu dengan lembut dia menelusuri setiap jari yang dulu membesarkan dia hingga sedewasa sekarang.
Reva sangat mengerti, kakaknya sangatlah rindu dengan mamanya dia sekarang lebih dewasa rupanya dia tak cemburu justru dia sedang menyembunyikan air matanya yang mulai jatuh itu dia begitu haru dengan pemandangan ini.
Reva terus membaca berulang-ulang kalimat dalam bahasa ingris itu karena saat ini Dia tak bisa fokus dengan belajarnya justru ikut terbawa suasana yang mengahrukan ini.
Anak dan ibunya itu saling terdiam berusaha menikmati waktu yang begitu berharga ini.
Dan akhirnya air mata yang di tahan wanita itu jatuh juga mengenai wajah anak lelakinya.
__ADS_1
"Mama nangis....??" Julian mulai merasakan setetes air mata yang membasahi pipinya, itu seperti satu ketukan beban di hatinya.
"Gak sayang" jawab wanita itu berusaha mengusap air mata di atas pipi Julian, Julian tau mamanya pasti berbohong.
"Mama cuma sedih gak bisa tinggal sama kamu" wanita itu berusaha memutar bola matanya kearah atas agar air mata itu tak jatuh lagi, sedihnya bukan main saat harus berpisah dengan anak yang di lahirkan susah payah dan penuh perjuangan itu.
Mereka saling memendam rasa kesedihan masing-masing karena mereka hanya ingin saling menguatkan satu sama lain.
"Mama di sini bahagia kan...??" tanya Julian sembari menguap rasa lelahnya perjalan baru terasa sekarang.
"Bahagialah mama bahagia kok Jul" ucap wanita itu dengan mengulang-ulang ucapanya yang hanya bualan belaka.
Perlahan Julian mulai tertidur dipangkuan wanita itu, namun wanita itu justru lega karena dia bisa menangis tanpa di ketahui anaknya air mata itu jatuh sudah tak terbendung lagi.
Dia mencium kening anaknya dengan lembut.
"Ma jangan nangis ntar kak Julian bangun lho" Reva segera menghampiri mamanya yang sedang menangis itu.
"Mama gak kuat dek buat nahan semua ini" ucap wanita itu dengan suara parau
Anak gadis itu menguatkan mamanya di usap lembut air mata yang menetes itu.
"Udah stop kedatangan kak Julian harus di sambut bahagia jangan sedih ma". gadis itu jelas terlihat lebih kuat karena dialah penyemangat wanita itu saat ini.
Di sisi lain.
"Mbk Inah...." ucap lelaki yang baru pulang dari kantor itu dengan suara sedikit keras.
"Iya pak ada apa..?" pembantu bernama Inah itu segera menghampiri majikanya.
"Tolong bikinkan saya kopi ya ..." ucapnya lagi sembari melepas dasi yang melekat di sisi kerah baju kerjanya.
"Baik pak" jawab pembantu itu dengan sopan.
Pembantu itu segera berjalan ke dapur sedang lelaki yang baru pulang dari kantor itu sedang melepas lelahnya bekerja seharian dengan merebahkan badanya di atas kursi sofa.
"Tadi Julian ke Bandung...??" tanyanya ke pada mbk Inah yang datang membawa secangkur kopi panas.
"Iya pak" jawabnya dengan menunduk.
"Kok gak bilang sama saya"
__ADS_1
"Iya ini suratnya pak maaf tadi mau kasih ke bapak tapi kayaknya bapak buru-buru" jelas pembantu itu dengan alasanya.
"Oh iya gak papa" ucap lelaki itu yang tak mempermasalahkanya.
Isi surat...
"Maf pa Hari ini aku minta ijin pergi ke Bandung semoga papa mengijinkan"
Lelaki itu tersenyum hatinya tersentuh tidak seharunya dia melarang anaknya bertemu ibunya.
"Jul jul kadang kamu masih mirip anak kecil sifat kamu masih kekanak-kanaakan" ucap lelaki itu dengan tersenyum membayangkan tingakh anak lelakinya itu waktu balita yang meminta apa-apa Selalu ada kata ijin.
"Mbk..." ucap lelaki itu dengan suara serak khasnya.
"Iya pak" jawab mbak Inah.
"Besok kalau Julian pulang kamu pesenin dia ayam geprek yang biasa dia makan ya" ucap lelaki itu dengan gembira karena dia ingin memberikan kejutan untuk anaknya ketika pulang.
"Oh iya pak" jawab pembantu itu seraya berjalan ke dapur.
Lelaki itu mulai merasa tak seharusnya dia memiliki sifat kasar seperti sekarang terhadap anaknya karena tanpa ada Julian di rumah, rumah terasa sangat sepi.
Terbesit di hatinya dia juga rindu dengan anak gadisnya.
"Reva maafin papa.." ucapnya dalam hati
Dia mulai menyeruput kopi dalam cangkir tersebut satu sruputan sembari menyalakan televisi.
Tak ada acara lain selain siaran berita yang Ia tonton.
Dia melirik jam dinding berwarna putih itu yang sudah menunjukan di angka 10 dan jarum panjang di angka 06
Hampir dua jam lamanya dia berada di depan televisi dia memutuskan untuk beranjak dan membersihkan diri.
Dia berjalan menuju kamar Julian Dia hidupkan lampu itu dan Ia pandangi setiap sudutnya, ada sebuah bingkai foto saat liburan bersama keluarga kecilnya waktu itu di Bali. Terlihat berjejer empat orang yang terlihat begitu bahagia memang saat itu rumah tangganya masih baik sebelum pertemuan dengan Renata terjadi.
Tapi foto itu menjadi berbeda ketika foto dirinya di coret lingkarang spidol hitam oleh Julian.
Kemudian dia menarik laci kayu itu dia mendapati beberapa foto wanita yang pernah dia nikahi secara sah itu dia tak menyangkal dia hanya lelaki bodoh yang tak tau malu.
Hatinya mulai bergetar dia duduk di tepian ranjang tempat tidur Julian.
__ADS_1
Terkadang cinta memaksa kita egois memaksa kita harus mengorbankan segala hal. Memaksa kita harus meninggalkan orang yang justru lebih peduli dengan kita.
Memang cinta terkadang tak ada duanya dengan dosa.