
Hari ini aku kembali masuk ke sekolah seperti biasa namun langkahku terasa berat, kejadian hari sabtu kemarin benar-benar membuatku frustasi.
Aku bangun lebih awal tak seperti biasa, saat fajar menyingsing aku sudah membuka mata. Karena sedari semalam aku tidak bisa tidur dan hanya memejamkan mata ini tak kurang dari empat jam lamanya walau yang kulakukan tak lain hanyalah berguling-guling diatas kasur.
Entah kenapa ingin rasanya aku memeluk mama, yang sekarang sedang berada di dapur untuk menyajikan sarapan.
Karena jarang aku melihat mama seperti sekarang ini karena biasanya aku masih berbalut selimut tebal disaat jam segini.
"Tumben banget kamu bangun pagi El..." tanya mamaku sambil menumis bumbu yang membuat indra pemciumanku bergetar.
"Gak tau kenapa kok aku rasanya kangen banget sama mama ya" ucapku sambil memeluk tubuh mama dari belakang aku tempelkan badan ini kepunggung wanita kesayanganku ini.
"Tumben deh ada apa hayo...??" rupanya mamaku curiga dengan sikap anehku.
Namun aku tak mungkin nenceritakan kepada mama masalah yang sedang aku hadapi sekarang.
"Kok malah bengong ada apa sih...?" tanya mamaku dengan mengerutkan kening.
"Gak papa lagi pengen aja..." jawabku dengan lesu.
Kini aku masih terus berada dengan posisi yang sama.
Hingga ayah datang berpakaian sudah rapi seperti biasa.
"Cepetan ma siap-siap ayah ada rapat pagi ini..." ucap Ayahku dari arah kamar.
Setelah itu mama melepas pelukanku dan berjalan ke kamar untuk bersiap mandi dan berangkat kerja.
"Tumben kamu jam segini kedapur...?" tanya ayahku dengan rasa heran.
"Gak papa lagi pengen aja" jawabku dengan menidurkan kepala ini di meja makan.
Setelah selesai sarapan kedua orang tuaku sudah siap untuk pergi ke kantor.
"Mama berangkat dulu ya sayang..." ucap mamaku dengan meninggalkan satu kecupan di keningku.
"Iya ma..." jawabku seperti biasa.
Kedua orang tuaku mulai berangkat kerja dengan mengendarai mobil, mobil itu mulai melaju menghilang dari padanganku mataku saat ini.
Aku tersenyum disaat aku sedaang ada masalah seperti sekarang rasanya aku tak berani menceritakan seperti waktu kecil dulu, ketika ada masalah aku selalu bercerita lengkap kepada mama.
Aku kembali masuk ke rumah untuk bersiap-siap untuk ke sekolah tak lupa segelas susu sudah siap untuk menemaniku seharian nanti.
"Tennn..." Bunyi klakson yang terdenger nyaring dari luar rumah segera aku menghabiskan sarapanku tak lupa aku meneguk susu ini dengan tak meningalkan sisa setetes pun.
__ADS_1
"Teeen..." terdengar bunyi klakson lagi mungkin Julian tak sabaran, aku segera berjalan menuju pintu depan dan membuka gerbang.
"Sebentar ya..." ucapku kepada lelaki memakai hodie hitam itu.
Dia hanya diam dan menunjukan senyum manisnya seperti biasa.
"Kamu gak masuk dulu...??" tanyaku dengan lembut.
"Gak usah aku disini aja" jawabnya dengan menujukan senyuman itu lagi.
Tak berapa lama aku segera masuk ke rumah untuk memakai sepatu dan mengambil tas ransel milikku.
"Udah yuk..." ucapnya dengan halus.
"Iya" aku mulai naik di belakang seperti biasa. Kita mulai berboncengan seperti kemarin rasanya tak ada yang berbeda selain senyum yang selalu mengembang dan hati yang selalu melayang-layang di buatnya.
"Pegangan sayang..." ucap Julian dengan suara khasnya.
"Iya" aku mulai melingkarkan kedua tangganku di perut rata miliknya aku senderkan kepalaku di pundaknya aku mencium bau parfume serta minyak rambut ini yang membuat jiwaku seakan-akan bisa selalu nyaman berada disampingnya.
"Terimakasih ya Jul kini kamu selalu ada untukku..." umpatku dalam hati dengan rasa bahagia.
Setelah menempuh waktu lima belas menit aku sampai di depan gerbang sekolahku.
"Aku duluan ..." ucapku sembari turun.
Kita tak berjalan bersamaan karena memang ketika kita di sekolah kita akan menunjukan sikap bukan sepasang kekasih.
Namun entah kenapa pikran negatif ini selalu muncul di dalam kepalaku tentang kejadian kemarin.
Banyak siswa siswi berbisik ketika aku berjalan melewatinya.
"Cantik cantik tapi ngeri juga ya..." ucap dari salah satu anak Ips yang sedang berdiri di dekat mading itu.
Aku hanya mengelengkan kepala tanda aku tak mengerti akan maksud mereka
"Gila ya ada cewek sekejam itu..." ucap salah seorang siswa lagi
Aku begitu frustasi aku berjalan seperti biasa namun terasa berbeda aku seakan akan seperti burunan yang siap di tangkap oleh polisi.
Disampingku kini ada Vey dan Rena
"Lo kok aneh sih ada apa...?" tanyaku ke mereka yang haya diam membisu seisi kelasku tampak berbeda aku bagai orang asing rasanya.
"Ini semua pada kenapa sih...??" tanyakku dengan mengangakat kedua telapak tanganku.
__ADS_1
Semua hanya diam dan berpura-pura tuli seakan akan aku hanya orang yang tak mereka kenali.
Aku medudukan punggung ini seperti biasa sebelah Rena namun perlahan Dia berpindah tempat tak seperti biasanya Dia duduk dengan aku.
"El kalau ada masalah cerita tapi jangan nusuk orang" ucap Seyna dengan gaya nada seperti biasa.
"Hah..." ucapku hanya dengan sepatah kata aku terdiam melongo mendengar ucapan Syena.
"Kalian ini ngomong apa sih aku harusnya yang jadi korban bukan aku pelakunya" jawabku kemudia membela diri.
"Ini lihat kesaksian Dea..." ucap salah seorang temanku kedua sahabatku hanya diam tak membantuku sedikitpun.
"Kalian ini apa-apaan sih bukan aku pelakunya..." ucapku dengan suara keras dan lantang aku merasa aku sangat tertekan sekarang.
"Tenang El kita iklas kok kalau sampai lo keluar dari sekolah ini..." ucapan salah seorang teman lelakiku itu membuat hatiku semakin sakit, sesak didada ini sudah tak bisa aku kendalikan lagi rasanya.
Emosiku membuncah aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju toilet dengan sedikit berlari aku berharap disina aku bisa mengendalikan emosiku agar bisa sedikit menjernihkan pikiranku yang kelu ini.
Kini aku sedang berada di toilet wanita aku hanya membasuh wajahku di depan washtafel tanpa aku sadari sudah ada ketiga teman Dea, walaupum dulu mereka temanku tapi kini rasanya berbeda, kini bisa di bilang kita musuhan.
"Masih berani sekolah rupanya lo El..." ucap Devi yang membuatku langsung menoleh mencari sumber suara.
"Lo harus tangung jawab sama semua perbuatan lo El..." tambah Fitri dengan nada memojokkanku.
"Lo apa-apaan sih bukan gue pelakunya..." jawabku membela diri dengan mematikan air kran.
"Halah lo ngaku jelas-jelas sidik jari lo ada di pisau itu...!!" ucap Devi dengan kasar.
Jantungku serasa berhenti bedetak pikiranku otakku serasa ikut berhenti aku tak menyangka, ternyata aku yang memegang pisau itu terakir kali setelah aku merebutnya dari Dea.
"Lo hampir aja bunuh Dea..." ucap Devi ke arahku dengan mata melotot tajam.
Aku tak bisa berucap mulutku serasa kaku kenapa semua terjadi tak sesui faktanya aku tak menyangka berita ini bisa secepat ini menyebar luas tanpa tau kejadianya seperti apa, padahal hampir aja pisau itu hampir membubuhku.
Seketika aku tertunduk lesu aku sederkan tubuhku di dinding aku menyadari itu memang kesalahanku merebut pisau dari Dea sebab aku tak ingin Dea melakukan hal bodoh itu.
"Rasain lo Eliza lo bakal di penjara....." ucap Fitri dengan terus mpojokanku raut wajahnya terlihat sangat membenciku sekarang.
Ingin rasanya aku berteriak secang-kencangnya ingin ku mengadu kepada Tuhan kenapa begitu berat beban yang aku hadapi sekarang.
"Duagh..." bahuku di tendang oleh Devi dengan sepatu keras miliknya serasa sakit tapi lebih sakit pikiranku sekarang.
"Gue gak pernah nyaka lo setega itu ke Dea padahal jelas-jelas lo sendiri yang mulai permasalahan ini...." ucap Devi lagi dengan kasar seraya berbalik arah dan pergi meninggalkanku.
Aku terdiam mencerna semua ini kenapa Tuhan begitu mudahnya bagi seseorang mengira aku pelakunya kenapa semua terjadi tak sesui faktanya.
__ADS_1
Perlahan aku mulai menangis dalam diam aku sudah tak mampu berdiri lagi rasanya terasa menyakitkan bagiku sekarang untuk menatap Dunia yang begitu kejam terhadapku.
Aku tak bisa berbuat apapun apalagi mengadu ini semua kepada orang tuaku ini masalah sepele tapi berakir setragis ini menyebabkan aku tertuduh atas kejadian ini.