
Langit mulai kelabu soritan cahaya mentari itu perlahan mulai menghilang tergantinkan cahaya remang dari lampu jalanan itu.
Eliza masih berdiri di dekat Cafe itu menungu kakaknya datang.
Tak berapa lama lelaki yang memakai hodie hitam itu segera menghampiri adiknya yang sudah menunggunta sedari tadi.
"Cepet naik..." ucapnya dengan nada datar ke arah adik perempuanya. Dia tak marah namun menyayangkan sifat lelaki bernama Julian itu yang tak punya rasa tanggung jawab terhadap adiknya.
Eliza segera naik ke atas punggung motor dan lelaki itu kembali melajukan motor bermerk scopy itu dengan kecepatan rata-rata.
"Kok gak tangung jawab banget sih Julian itu..." ucap lelaki itu dengan nada sinis.
"Dia ada urusan kak..." jawab Eliza dengan menatap jalanan itu dengan tatapan kosong.
"Urusan...??"tanya lelaki itu menertawai lelucon adik perempuanya itu.
"Iya..." jawab Eliza lagi sedikit mengeraskan suaranya karena %mainya jalanan saat hampir malam hari.
Dio sedikit menahan amarahnya karena jika Dia meluapkan emosinya pun rasanya tak ada gubanya walau saat Julian datang menjemput Eliza tadi terjadi percekcokan di antara keluarga mereka.
Didalam perjalanan Eliza hanya diam sembari merenung atas kejadian hari ini yang kini terasa membekas di lubuk hatinya
Kakak beradik yang berboncengan itu telah sampai di rumah lama milik orangtuanya yang kini di tingali oleh adik kandung mamanya.
Eliza mulai turun dan berjalan masuk ke rumah .
Sedang di depan ruang tamu itu sudah ada kedua orangtuanya serta kak Bima dan kak Tea semua sedang asik menonton acara televisi.
"Asallamualaikum" ucap Eliza sembari mengucapkan salam semua menjawab ucapan salam Eliza kecuali wanita yang saat ini sedang duduk dengan raut wajah murung.
Merasa sedang tak ingin berkumpul Eliza segera ke kamar yang Ia tempati bersama mamanya. Dia melewati ruang tamu itu dan berjalan ke pintu kamar yang berada disebelah kamar kak Bima.
Wanita yang memakai daster batik itu segera menghampiri Putrinya dengan amarah yang sudah siap meledak.
"Ma" ucap lelaki yang sedang asik menyeruput kopi itu dengan perlahan dan berusaha menghentikan langkah kaki istrinya.
"Pa udah jangan ribut terus biarin mama..." ucap Bima berusaha menahan ucapan papanya itu.
__ADS_1
Lelaki itu menaruh kembali cangkir yang masih berisi kopi itu ke atas meja dengan mengelengkan kepala.
"Ceklek..." suara pintu di buka dan saat ini Eliza sedang duduk di tepuan ranhang tempat tidur itu.
"Udah puas nak jalan-jalanya sampai lupa waktu hampir sholat mahrib kamu baru balik iya gitu....?" ucap wanita itu dengan nada tunggi dan amarah ysng membara.
"Maaf ma.." jawab Eliza dengan tertunduk lesu.
"Apa kamu cuma bilang maaf mana lekaki yang namanya Julian itu yang sangat kamu bangga-banggakan....?" ucapnya ketus ke arah anak perempuanya dan membuat hati Eliza seperti mendapat sayatan.
"Ada urusan..." jawab Eliza yang tak akan pernah mau menceritakan semua ini kepada wanita yang ini saat inisedang berdiri berkacak pinggang di depanya.
"Oh ternyata gitu ya mama tau Juliam itu hanya mainin perasaan kamu Eliza mama mohon sekali lagi kamu jangan berhubungan dengan lelaki itu lagi.. " ucap wanita itu berusaha menasehati anaknya agar tidak berhubungan dengan Julian lagi.
"Stop kalau mam cuma mau larang aku pisah sama Julian aku gak akan pernah bisa aku cinta sama Julian..." jawab Eliza dengan bibir bergetar Dia memang cinta mati dengan lelaki itu.
"Eliza dengerin mama...!!!" wanita itu serasa berkelut dengan emosi hingga tanganya hampir saja menampar wajah anaknya namun berhasih Dia urungkan.
Eliza hanya diam dan air mata itu jatuh dengan perlahan serasa beban di hatinya perlahan mulai terbuka.
"Ma cukup jangan pernah bawa bawa Julian kesetiap masalah yang rumit ini" ucap Eliza beumrisaha menyeka air mata itu.
''Mama cuma gak mau sampai kamu hamil seperti anaknya temen mama" Wanita itu memang sangat khawatir dengan anaknya hingga Dia berusaha melarang anaknya pacaran.
"Aku bisa jaga diri ma" ucap Eliza dengan nada tegas.
"Mama ini apa-apaan sih Eliza kan udah gak sama Julian kita di Bandung buat liburan bukan buat berantem kaya gini...!!" lelaki itu datang dam berusaha menghentikan perdebatan anatara anak dan istrinya.
"Ayah stop bela Eliza aku cuma mau ngasih nasehat yang baik buat Dia gak ada yang lain..."jelas wanita itu seraya pergi dari kamar itu.
Sedang lekaki itu hanya diam dan kembali menutup pintu kamar itu dengan perlahan.
....
Lelaki itu bersama Ayunda sedang berada di dalam mobil suasana tampak hening tak ada suara apapun selain suara derungan mesin mobil itu. Lelaki itu sedang kalaut dengan pikiranya namun lebih kalut lagi Ayunda yang sangat terpukul atas kejadian ini.
Ayunda hanya menatap ke arah luar kaca mobil itu dengan tataoan kosong serasa ramainya jalanan ini seperti layak halanya pikiranya saat ini yang tak karuan.
__ADS_1
"Udah gak usah di pikirin...." ucap lelaki uang tengah memainkan setir itu jepada Ayunda.
"Apa kamu bilang gak usah aku pikirin mas lihat kejadian tadi aku malu mas malu..." ucap Ayunda dengan kesal raut wajahnya jelas menandakan Dia sedang tidak baik-baik saja.
"Iya aku tau Julian benar-benar marah sama kamu tapi itu wajar sayang ya Dia berusaha membela mamanya wajar kan...?" ucap lelaki itu berusaha mengendalikan emosi Ayunda yang saat ini sedang kalang kabut tanpa memahai perasaan mantan istri dan anaknya.
"Tapi aku juga punya anak lelaki aku gak tau bakal kaya giman jika Rehan saat ada di posisi Julian.." jawab Ayunda dengan nada naik turun.
Ayunda mulai mengatur deru nafasnya agar sedikit lebih beraturan saat ini Dia benar-benar frustasi membayangkan kejadian tadi seolah-olah kepalanya siap meledak seketika.
"Minum dulu..." lelaki itu mengulurkan sebotol air muineral ke arah Ayunda.
Ayunda menolak dengan mengelengkan kepala serta mencoba memejamkan kedua bola matanya agar setidaknya pikiranya sedikit tenang.
"Ini semua bukan salah kita, kita punya hak kok...." ucap lelaki itu yang terdengar mengelikan bagi telinga Ayunda.
"Mas jangan bahas kita topik masalah bukan di kita tapi mereka mas...." jawab Ayunda dengan jengkel.
"Kenapa engak...?? kita ngelakuin semua ini atas dasar cinta cepat atau lambat semua juga akan tau sayang..." jelas lelaki itu dengan nada tinggi berusaha memeberi penjelasan kepada wanita yang saat ini terlihat sedang tak ingin di gangu.
"Mas yang jadi masalahnya mantan istri kamu mas apa kata Dia di sosmed soal aku kalau sampai berita ini keluar bakal hancur karir aku mas...." ucap Ayunda dengan oerasaab campur aduk memikirkan pekerjaanya.
"Tenang... kamu harus tenang aku bakal jamin berita ini gak bakal ke sebar kemana-mana aku akan temui Amelia akan aku tutup mulut Dia...!!" lelaki itu berusaha menengkan Ayunda dengan segala cara.
"Membahas nama itu rasanya hati ku kebas seraya itu hanya bayangan mas aku gak nyangak wanita sebaik itu ternyata orang yang aku sakitin" ucap Ayunda yang terdengar sendu itu.
"Ayunda selama ini aku korbanin semua buat kamu jadi plis buang semua rasa bersalah kamu Dia udah aku cerain kelar kan semua masalah...." jelas lelaki itu yang tak pernah memusingkan perihal kecil yang terjadi tadi.
"Wajah kamu masih sakit...?" ucap Ayunda ketika melihat wajah lelaki iti terlihat lebam dan mulai membiru.
"Sedikit sakit biasalah aku lelaki gak perlu di besar-besarin di kompres juga nanti sembuh sendiri..." jawab Lelaki itu berusaha menengkan Ayunda walau rasanya benar-benar membyatnya susah mengerakan mulutnya.
Mobil berwarna hitam itu mulai berjalab menuju halaman hotel yang mereka tempati.
"Aku duluan aku pusing mas..." ucap Ayunda seraya berjalan keluar tampa menoleh ke arah lelaki itu sedikitpun.
"Ayunda...!!" lelaki itu berusaha menahan Ayunda bamun sayang Ayunda sedang ingin sendiri saat ini.
__ADS_1