Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chaper 116


__ADS_3

Julian mulai mematikan mesin motor miliknya itu ketika sudah sampai di depan Rumah milik Rehan.


Tanpa mereka sadari lelaki yang dekat dengan Ayunda itu masih berada di dalam rumah Rehan, Eliza yang mengetahui hal itu langsung memutar otakknya agar Julian tak bertemu dengan papanya karena Dia yakin Julian belum tau ini semua.


"Jul tolong beliin aku minum dong haus nih" ucap Eliza dengan berpura-pura kehausan sembari memegangi lehernya.


"Oh kok gak ngomong dari tadi sih El kan baru aja sampai..." jawab Julian yang tampak lelah itu dengan keringat yang menetes di kedua sisi pelipisnya.


"Ya kan hausnya sekarang Jul..." mohonya lagi dan tatapan yang tidak bisa di tolak oleh Julian.


''Ya Tuhan kenapa ada papanya Julian disini" umpatnya dalam hati dengan mengigit jari, Eliza semakin paham dan pikiran yang dulu hanya jadi lamunanya itu sekarang nyata di hadapanya


"Emang ada warung disini El...?" tanya Julian sembari melepas helm yang berada di atas kepalanya itu.


"Ada Jul kamu lurus aja plis ya..." ucapnya dengan terus memohon.


"Aneh deh El kamu, sebelah mana sih...?" jawab Julian dengan sedikit bingung dan terpaksa Dia harus menuruti kemauan Eliza kekasihnya itu.


Eliza segera menarik tangan kekasihnya menuju arah belokan jalan sebelah kanan.


"Tu ada warung tolong ya Jul..."ucapnya lagi dengan telunjuk mengarah ke posisi warung kecil itu.


"Iya kamu pengen minum apa ...?" tanya Julian dengan perhatian.


"Pocari aja seperti biasa..." jawab Eliza ngasal karena sekarang jantungnya seperti sedang senam aerobik.


"Yaudah tunggu ya kamu disini aja panas soalnya..." ucap Julian seraya berjalan menuju warung kelontong itu.


Sedang Eliza sedang berjaga-jaga di dekat pagar perempatan jalan itu karena lelaki yang Ia tau papanya Julian itu hampir berjalan ke luar dari rumah kak Rehan.


Eliza sangat gelisah Ia tak bisa membayangkan jika hal buruk akan terjadi hari ini.


"El ini ..." ucap Julian sedikit berteriak ke arah Eliza yang berdiri di dekat pagar itu.


Dengan sekuat tenang Eliza menyusul Julian dengan mempercepat langkah kakinya.


"Kita minum disini aja yuk..." ucap Eliza dengan tangan menahan agar Julian tetap diposisi yang sama.


"Kamu kok aneh banget sih ada apa sih samapi ngos-ngosan gitu...,??" ucao Julian dengan menahan oanas dari terik matahari itu.


"Gak gak papa kayaknya kak Rehan belum sampai deh mending kita disini dulu..," Eliza berusaha menahan agar Julian tak berjalan ke arah rumah kak Rehan.


"Apaan orang tadi kan udah ada mobil di depan rumanya pasti udah pulang lah...." ucap Julian meradang Dia menebak ada sesuati hal yang sedang di sembunyiamkan Eliza.


"Jul makasih banyak ya kamu udah beliin aku minum..." Eliza segera mengambil sebotol minuman itu dari tangan Juliam dengan wajah penuh syukur.


"Hey ini cuma minum bukan emas kenapa begitu banget sih..?"ucap Julian terheran-heran dengan tingkah laku pacarnya.


Eliza hanya diam dan berusaha  mengusap keringat milik Julian itu dengan selembar tisu.

__ADS_1


Julian hanya menikmati momen saat Eliza begitu perhatian denganya.


"Makasih lo ini seger..." ucap Eliza dengan tersenyum sembari meneguk satu teguk minuman yang berada dalam botol itu.


"Tapi serius kan kamu gak lagi nyembuyiin sesuatu dari aku..." tanya Julian dengan nada penasaran.


"Serius Jul gak ada" jawab Eliza dengan yakin.


"Yaudah jadi gak ke rumah Rehan...??" tanya Julian lagi dengan wajah badmood.


"Jadi lah kan aku udah janji sama tante Ayunda" ucap Eliza dengan memohon.


"Kamu tu terlalu gak enakan El, tapi janji kamu aku pegang hanya untuk kali ini kamu jengukin Rehan untuk yang terakir kali" jelas Julian dengan wajah bersungut- sungut


"Iya Jul aku janji lagian mingu terakir ini aku juga banyak latihan vokal jadi aku gak bakal ke rumah kak Rehan"


Mereka berdua segera befjakan menuju rumah Rehan.


"Permisi..." ucap Eliza dengan ramah hatinya terasa lega sekarang karena lelaki yang Ia tau papanya Julian itu terlihat sudah tidak ada.


"Iya oh Eliza silahkan masuk sayang..." ucap Ayunda dengan mempersilahkan masuk dengan ramah.


"Aku tunggu disini aja ya jangan lama- lama bete kalau ikut masuk..." jawab Julian dengan nada kueang sopan.


"Iya Jul tapi jaga ucapan kamu gak enak sama tanye Ayunda kalau denger..." ucap Eliza dengan berbisik ke arah telinga Julian.


Eliza segera masuk dan menemui kak Rehan yang masih berada di yemoat yidur itu.


"Udah mendingan kok makasih ya udah dateng kesini..." jawab Rehan dengan menunjukan senyuman.


"Iya kak aku benar-benar maksih lo kak waktu itu kakak udah selamatin nyawa aku saat kejadian itu...." Eliza segera duduk di kursi yang berada di dekst ranjang milik Rehan itu.


"Iya El kan memang cinta itu bodoh apaun akan dilakukan demi orang yang disayangi tanpa tau akibatnya seperti apa..." ucap Rehan dengan apaadanya nalurinya seperti sedang terbawa suasana.


Eliza hanya diam dengan menunjukan senyum tipis.


Mereka berdua saling bercakap-cakap tanpa disadari hari semakin sore.


"Kak aku pamit ya sama aku mau bilang minggu-minggu ini banyak tugas jadi maaf besok aku gak ada waktu kesini..."


"Tapi itu beneran kan alasan kamu..." Tanya Rehan dengan menastikan alasan Eliza.


"Oh iya kak ..." jawab Eliza dengan terbata-bata.


Eliza segera keluar dan menemui Julian yang sekarang sesang duduk fdengan tante Ayunda.


"Tante kita mau balik dulu ya..." ucap Eliza dengan nada sopan.


"Oh iya terimakasih ya maaf bikin repot aja.." ucap wanita bernama Ayunda itu seraya berdiri.

__ADS_1


Tanpa Julian sadari setelah wanita itu berdiri ada sebuah anting berliontin kristal itu jatuh di lantai Julian segera mengambil dia simpan perlahan-lahan dan Ia maukkan kedalam sakunya.


"Oh iya saya juga minta pamit..." ucap Julian seraya meraih tangan Eliza dan berjalan ke luar dari rumah kak Rehan.


Mereka berdua berjalan menuju motor milik Julian.


"El kayaknya aku curiga deh sama mamanya Rehan..." ucap Julian sembari memakai helm hitam itu.


"Kenapa emang...?" tanya Eliza dengan alis dinaikan.


"Udah buruan naik entar aku ceritain..." jawab Julian menjadi tanda tanya dari Eliza.


"Oke..


Didalam perjalan pulang Julian hanya diam dan membuat Eliza semakin penasaran dengan kekasihnya itu.


"Kita turun dulu yuk..." ucap Julian dengan mematikan mesin dan membuat Eliza tak habis pikir.


"Ada apa sih apa gak lebih baik kita pulang aja ya Jul" jawab Eliza tak mengerti dengan tingkah Julian.


"Jadi kamu nolak...?" tanya Juklian dengan nada kecewa.


"Gak sayang tapi aku kasihan kamu kayaknya capek banget..." Eliza tentu mengerti rasa lelah yang dirasakan Julian akibat dirinya.


"Aku mau tanya apa kamu tadi bohong sama aku...?" ucap Julian yang membut jantung Eliza kembali berdetak tak berirama.


"Soal apa..." tanya Eliza denhan raut wajah gelisah serta panik.


"Papa aku..." Eliza seperti sedang terjatuhi runtuhan batu.


"Jul kamu gak papa kan, gak aku gak bohong ..," Eliza semakin kewalahan menjawab pertanyaan Julian yang membuatnya takut jika hal yang ada ada di pikiranya jadi kenyataan.


"Soalnya aku tadi lihat dasi yang di pakai papa aku pagi tadi tu ada si rumah Rehan terus kata kamu kan Rehan itu udah gak punya papa terus kenapa ada gitu kan aneh..." ucap Julian seraya memasukan telapak tamganya kedalam saku celananya.


"Jul kan yang punya dasi kaya gitu banyak mungkin aja saudaranya" jelas Eliza berusah membuang opini Julian terhadap kejadian yang dia temukan di rumah Rehan.


"Dan lihat ini ini tu mirip anting mama aku, aku yakin karena ini kado dari papa aku buat mama aku waktu itu yang belum di pakai sama sekali..." jelas Julian dengan terus berusaha mengingat-ingat anting ini kembali.


"Jul kan ya mungkin tante Ayunda beli itu kenapa gak kamu balikin aja sih..." Eloza berusah membuang pikiran megatif Julian.


"Gak El ini itu terlihat belinya harus pesen dulu di toko yang berlebel seperti ini, sama satu hal anting ini gak di jual bebas lihat ini..." ucap Julian dengan menunjukan detail anting yang memiliki warna cantik di balut kristal biru itu.


"Ya aku cuma prasangka aja sih nanti ada waktunya kok aku tau semua ini dengan jelas" ucap Julian lagi dengan berbalik badan dan menuju motornya kembali.


"Jul kamu gak papa kan...?" Eliza mulai khawatir dengan Julian.


"Gak kok, udah buruan naik ..."


Eliza segera naik di belakang Julian perasan Eliza jadi tak menentu.

__ADS_1


Mereka menghabiskan waktu perjalanan itu hanya dengan diam sedang Julian masih penasaran dengan prasangaknya itu apakah akan menjadi sebuah kenyataan.


__ADS_2