Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 138


__ADS_3

Sehabis makan malam Julian segera berjalan menuju kamarnya karena ini hari terakir Dia di Bandung menjadikan Dia ingin menikmati waktu tidurnya semaksiamal mungkin di temaot omanya.


"Oma aku tidur duluan ya..." ucap Julian kepada wanita paruh baya yang sedang menonton acara televisi itu ya memang kesukaan orang tua masa kini adalah sinetron.


"Oh iya Jul bener ya cepat tidur jangan main hp dulu..." ucap wanita itu tersenyum ke arah cucunya.


"Oh iya oma..." jawab Julian dengan berjalan menuju kamar yang di tempatinya.


Julian melihat jam dinding di sebelah tangga itu yang menunjukan masih pukul sembilan malam tapi entah kenapa rasa kantunknya serasa datang lebih awal.


Dia mulai membuak pintu dan mendapati mamnya sedang duduk di rajang tempat tidur yang di tempatinya sembari melihat sesuatu di kertas itu.


"Julian udah kelar makanya..." tanya wanita itu dengan halus ke arah Julian.


"Oh udah kok ma..." jawab Julian sembari berjalan duduk mendekati mamanya.


Wanita itu berusah menyembunyikan sesuati dari Julian yang membuat Julian sedikit penasaran namun karena tak ingin membuat masalah Dia mencoba untuk mengerti apa yang di lakukan mamnya.


"Ma besok pagi aku pulang ya ke Jakarta soalnya sebentar lagi aku masuk" ucap Julian sembari menindurkan kepalanya di atas bantal itu.


"Iya Jul mama gak papa sekolah yang pinter ya biar nanti dapet beasiswa bisa kuliah di universitas yang kamu inginkan" jawab Amelia dengan ucapan tulus dan penuh makna itu.


"Iya ma yaudah aku mau tidur dulu selamat malam ma" ucap Julian dengan mulut yang mulai menguap itu.


"Iya cepet bobok biar besok bisa pagi-pagi berangkatnya ke Jakarta..." jawab wanita itu seraya berdiri dan menaruh barang yang di sembunyikanya itu di dalam saku bajunya, dan perlahan wanita itu meningalkan anak lekakinya dan menutup pintu kamar itu dengan perlahan.


Julian mulai mencoba memejamkan matanya namun pikiranya kembali teringat dengan tingkah laku mamanya yang mencurigakan itu tampak wanita yang di pangil mama itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Dia mencoba mengusap kasar rambtnya berharap pikiran bekunya sedikit mencair.


Perlahan pikiranya kembali risau memikirkan untuk bertemu lelaki yang di pangil papa itu.


Hingga tak terasa matanya mulai tertutup dan Dia mulai tertidur.


..

__ADS_1


....


Matahari mulai terbit dari ufuk timur sedari fajar Julian sudah bangun dan kini saat masih pukul enam pagi Dia sudah bersiap-siap dengan satu tas ransel yang penuh pakaiany dan satu kardus berisi oleh-oleh dari omanya.


"Ma aku berangkat ya..." ucap Julian sembari berdiri dari tempat duduk dan berjalan ke arah mamanya yang terlihat tak enak badan itu dengan memakai jaket jujur Julian tak tega meningalkan mamanya namun Sekolah baginya juga penting.


"Iya sayang..." jawab wanita itu dengan tersenyum dan menunjukan bibir pucatnya.


"Kak hati-hati nanti kalau libur main lagi ke Bandung..." ucap Reva sembari memeluk kakaknya


"Iya Reva..." jawab Julian sembari meleoas pelukan dari adinya.


"Oma..." ucap Julian seraya berjalan ke arah wanita yang sedang berdiri di dekat kursi tamu itu.


Wanita paruh baya yang memakai kacamata itu memeluk tubuh cucunya dengan erat seakan rasa rindu itu tak ada habisnya.


"Oma aku titip mama..." ucap Julian ke arah omanya yang di tangapi lelucon bagi wanita paruh baya itu.


"Julian Julian harusnya kamu bilang ke mama kamu, aku titip oma ya ma gimana sih kamu ini..." jawab wanita itu terkekeh menangapi ucapan cucunya.


"Yaudah taksinya udah dateng aku berangkat ya..." ucap Julian seraya berjalan keluar.


Julian merasa sedih meninggalkan mamanya yang terlihat tak enak badan itu serta keluarga yang masih memberikan rasa cinta di hatinya dan senyuman yang terukir di wajahnya itu perlahan sirna ketika melihat air mata wanita bernama Amelia itu jatuh namun masih bisa tersenyum ke arah anaknya.


Julian berusah mengalihkan pandangan ke arah lain berharap hatinya semakin teguh untuk melangkah walau hatinya tak tega meningalkan wanita berhati malaikat itu.


"Ke statsiun ya pak" ucap Julian ke arah sopir taksi yang mulai menutup kaca mobil itu.


"Oh iya mas" jawab sopir tanksi itu seraya menjalankan taksinya.


Di dalam perjalanan tak henti-hentinya Julian berdoa kepada Tuhan agar senantiasa melindungi mama serta keluarganya di Bandung.


Tak berapa lama taksi itu sampai di depan stasiun kota Bandung Julian segera keluar dan membayar dengan lembaran uang lima puluh ribu.


Tak butuh mengantri lama dia segera mendapat tiket dan membayarnya.

__ADS_1


Setelah mendapat tiket Julian segera berjalan ke arah tempat menunggu kereta datang sembari Dia mengecek ponsel hitamnya dan ternyata pesan dari mamanya yang membuat hatinya kembaki terenyuh.


Tak berapa lam kereta rute Bandung ke Jakarta kota itu datang Dia segera berjalan dan naik ke atas gerbong yang masih tampak sepi dan kosong itu.


Dia mulai duduk di kursi penumpang tak berapa lama setelah hampir menunggu lima belas menit kereta itu mulai penuh dan siap berjalan.


Setelah hampir menempuh perjalanan tiga jam lamanya Dia tiba di stasiun kota Jakarta dia mulai memesan grab car untuk mengantarkanya pulang.


Saat sampai di depan rumah hatinya kembali sakit perlahan ingatnya kembali teringat kenangan rumah ini yang pernah menjadi saksi bisu kisah hidupnya bersama mama dan palanya ketika masih dalam keadaan harmonis.


Dia berjalan membuka pintu gerbang itu dan mendapati rumahnya tampak sepi dan mobil hitam milik papanya itu tak berada di rumah.


Dia merasa tak kuat menahan amarahnya Julian mulai meluapkan emosinya dengan menendang segala barang yang tertera di setiap sudut ruang tamu itu tanpa ampun Dia benar benar tak habis pikir dengan kelakuan papnya yang membuta otaknya tak bisa berfikir sejernih dulu.


"Mbak..." ucap Julian dengan nada emosi.


"O ya mas..." dengan cepat mbak Inah mulai menghampiri anak majikanya dengan perasaan takut.


"Aku mohon beresin semua pecahan ini dan ini ada sedikit uang buat kamu maaf aku sedang emosi.." ucap Julian dengan frustasi sembari menyerahkan uang seratus ribuan itu.


Merasa ketakutan pembantu itu segera melakukan apa perintah anak majikanya.


"Iya mas...." gadis bernama Inah itu segera membersihkan ruang tamu yang mirip kapal pecah itu dengan sabar.


Julian mulai berjalan menuju kamarnya namun perlahan Dia melirik kamar papanya yang dulu menjadi tempat teristimewa untuk mamanya, Dia tersenyum namun terasa menyakitkan Dia tertawa namun terasa sesak di dada.


Mengingat wanita bernama Ayunda itu lagi membuatnya tak menayangka wanita sebaik itu bisa-bisanya merebut lelaki orang.


Dia begitu naik pitam Dia marah semarah- marahnya hingga Dia serasa kehabisan kata-kata untuk mengibartkan perilaku papanya yang biadap itu.


Dia melihat seisi kamar terasa sama saat sewaktu Dia berangjat ke Bandung yang masih tamoak rapi, menandakan papnya dan Ayunda masih berada di Bandung.


Julian kembali ke kamarnya Dia berjalan sempoyongan merasaakn pahitnya hidup yang Dia rasakan saat ini di otaknya hanya ada wanita yang nernama Amelia itu hingga Dia tak sadar buliran bening itu muncul di sisi matanya.


Dia menutup pintu kamarnya dengan perlahan liburan yang semestinya Ia habiskan dengan Eliza terasa semua gagal sudah.

__ADS_1


Perlahan Dia merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur sembari memejamkan mata berharap semua masalah ini terbawa oleh mimpinya.


__ADS_2