
At 12.00 Jam Makan Siang.
Wanita paruh baya itu sedang menyiapkan makanan untuk anak lelakinya serta ibunya hari ini dia memasak makanan kesukaan Julian, Gulai ayam kampung dan dibantu wanita berpakaian rumahan yang sehari-harinya membantu pekerjaan rumah di rumah milik ibunya ini.
Wanita bernama Amelia begitu pandai memasak seperti ibunya yang memiliki lidah juara soal rasa.
"Jul... buk... sini udah siap lo Gulai ayamanya.." ucapnya sembari menaruh kuah itu kedalam mangkuk berbahan kaca tersebut dengan perlahan-lahan.
"Iya ma" jawab Julian dengan beranjak dari tempat duduknya, Mendengar ucapan mamanya Julian sangat bahagia dia segera berjalan kearah meja makan tersebut dengan menampakan pemandangan berbagai makanan nan lezat yang sudah tersaji rapih dan nikmat itu.
"Masak banyak banget ma...??" tanya Julian dengan mata terbelakak kagum.
"Aduh Jul.. Jul... kamu ini ayo buruan mabil piring kamu biar oma ambilin..." wanita yang sudah memakai kaca mata itu terkekeh memdengar ucapan cucunya yang tampak bahagia Dia begitu senang cucu jauhnya itu terlihat begitu antusias dengan makanan resep darinya.
"Oh iya Reva mana ya ma..." tanya Julian yang mulai menarik kursi kayu jati iti dan mulai Dia duduki.
"Reva tadi ke rumah temenya ada tugas dari organisasi di sekolahnya, kan dia jadi bagian bendahara jadi harus datang tadi gak bisa di ijin Jul..." jawab wanita itu menjelaskan kepada Julian dan di jawab angukan oleh Julian.
Wanita berkacamata itu mulai mengambil kan Julian nasi dan di berikannya.
"Makasih ya oma.." jawab Julian dengan tersenyum.
"Iya tu ambil sendiri laukanya.." perintah omanya tersebut yang muali kembali duduk.
"Iya oma.." jawab Julian seraya menyedok kuah gulai itu dan di taurh di atas seporsi nasi tak lupa dia mengambil kerupuk udang kesukaanya.
Rumah yang di tingali itu lumayan tampak sepi hanya ada Julian dan ketiga wanita itu sedang lelaki yang dipanggil kakek itu sedang kerumah anaknya yang paling bungsu.
Amelia mulai duduk dengan keringat diaera wajahnya yang muali tampak bermunculan.
"Bentar ya mama ganti baju dulu habis masak gerah soalanya.." ucapanya sembari mengibas-ibaskan pakaian yang dia pakai.
"Iya ma" jawab Julian.
"Mau berapa hari sayang di Bandung...?" tanya wanita yang mulai mengambil air minum itu.
"Seminggu oma" jawab Julian yang mulai terlihat lahap menyatap makanan.
__ADS_1
"Baguslah nanti biar kita ke rumah budhe kamu katanya dia lagi bangun usaha kulimer kita kesana yuk sekalian lihat-lihat siapa tau nanti kamu bisa kaya budhe kamu..." ucap wanita itu yang mulai menikmati makan sianganya sembari menujukan senyum.
"Oh iya ma" jawab Julian dengan rasa menghargai wanita yang di panggil oma itu.
"Ayo buruan di makan dong nanti keburu dingin lho..." ucap Amelia yang sudah berganti pakaian dan mulai duduk di dekat Julian.
"O iya Jul kamu kesini udah pamit sama papa kamu..?" tanyanya sembari mengambil piring dan menaruhinya nasi.
"Udah sih ma tapi papa gak ada di rumah tadi kayanya lagi tugas ke luar kota.." jawab Julian yang sebenarnya menjawab hal itu membuat hatinya sedih namun Dia salut terhadap mamanya yang masih peduli dengan lelaki yang membuatnya sakit hati.
"Oh syukurlah berarti usaha papa kamu lancar kalau gitu.." ucapnya dengan menatap wajah Julian, ya Dia tak ingin membenci lelaki itu toh berkat lelaki itu membuatnya sekarang menjadi wanita kuat seperti sekarang
ini.
Julian hanya diam mendengar ucapan mamanya serta hal itu juga membuat nafsu makanya terasa perlahan menghilang.
Disaat berbincang-bincang ponsel wanita itu berdering dan membua Amelia harus menghentikan obrolanya disaat sedang menikmati makan siang.
"Sebentar sayang ada telepon masuk..." ucap Amelia sembari merai ponsel miliknya dan di geser pangilan masuk itu.
"Iya halo ada apa Ndin..." tanya wanita itu kepada Andin yang tak biasanya menelphone saat jam makan siang.
"O dari siapa...?" tanya Amelia dengan mengeriyitkan kening Dia sedikit antusias dengan seseorang yang mengirim titipan untuknya.
"Kurang tau buk tapi di catatan Ini tertera nama Ayunda...." jawab Andin yang terdengar asing nama itu di telingga Amelia.
"Maaf siapa ya bisa kamu kirim fotonya sekarang barang titipanya buat saya ..." jelas Amelia kepada Andin pegawainya.
"Baik buk..." jawab Andin dan mulai melakukan perintah Amelia.
Amelia terlihat penasaran dengan pengirimnya tersebut begitupun Julian sedikit mendengar nama Ayunda di dalam percakapan didalam telephon itu.
"Ndin..." ucap Amelia setelah memikirkan maksudnya.
"Iya buk" jawab Andin dari seberang telepon.
"Tolong anterin gojek aja ya biar saya yang bayar" ucap Amelia pada akhirnya karena didalam foto kiriman Andin itu terdapat makanan.
__ADS_1
"Oh baik buk" jawab Andin dengan mengerti perintah Amelia
"Ada apa ma...?" Julian yang sudah hampir menyelesaiakan makanya iti bertanya kepada wanita yang sedang mengotak-atik layar ponselnya tersebut.
"Ini ada temen mama ngirim barang Jul..." jawab Amelia yang mulai mematikan layar ponsel miliknya itu.
"Oh dari siapa..?" tanya Julian dengan mengangkat dagu yang terlihat penasaran itu.
"Ini dari kenalan mama..." jawab Ayunda sembari menyendok makanan di piring yang penuh akan nasi dan lauk itu.
"Oh baik baget kayaknya orangnya ya ma.." ucap Julian dengan heran walau rasa pensaran itu tiba-tiba muncul.
"Iya Jul mending sekarang kamu istirahat jangan lupa sembahyang dulu lagian kamu pasti capek kan kamu tidur di kamar Reva ya.." ucap Amelia kepada anaknya dengan tersenyum.
"Oh iya ma...." jawab Julian sembari meneguk air putih di dalam gelas bening itu.
"Iya benar Jul biar lebih enakan badan kamu" tambah wanita yang juga mulai mengahabiskan makaan itu.
"Iya oma" jawab Julian dengan segera beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju kamar adiknya tak lupa apa yang di perintahkan mamanya dia lakukan.
Dia mulai membuka pintu kamar itu yang terlihat rapi dan bersih dia berjalan kearah samping kamar tidur itu dan membuka jendela kamar yang masih tertutup.
Dia mulai melihat udara luar yang menampakan pemadangan danau yang berada di belakang rumah omanya itu yang terlihat begitu indah dan ramainya tempat itu.
Terlihat silih berganti orang berjalan di tepi danau itu walau ada beberapa orang yang hanya mengambil gambar keindahan danau itu atau sekedar menhabiskan waktu makam siang.
Langit tampak cerah berwarna biru muda di tambah sang mentari yang berada di tengah menjadikan keindahan danau itu semakin terasa lengakap.
Rasa lelahnya begitu terasa dia mengambil handuk miliknya yang berada di dalam ransel dan Dia segera berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihakn badanya yang terasa lengket.
Namun pandangan matanya teralihkan pada figura foto yang memeperlihatkan saat mereka berempat berfoto di dekat Monumen Nasional beberapa tahun lalu saat Reva masih sekolah dasar.
Julian tak menyangka begitu sayangnya Reva dengan lelaki yang saat ini sangat Dia benci dan masih mampu menyimpan foto itu.
Dia tersenyum dan menutup foto itu agar tak memperlihatakan wajah lelaki itu.
Dia mulai bejalan ke kamar mandi dan melakukan rutinitas mandi pada umunya dia memutar kran shower dan menguyur tubuhnya dengan perlahan-lahan dia mulai merasakan hawa sejuk dan rasa lelahnya terasa sedikit mereda.
__ADS_1
Tak kurang dari lima belas menit dia sudah selesai dan segera berganti pakaian tak lupa dia bersembahayang.
Setelahnya dia terlihat menguap dan perlahan Dia mulai berbaring di tempat tidur itu.