
05.00
Aku mulai membuka mataku,dengan perlahan aku menatap langit-langit kamarku yang masih terlihat redup, karena aku tidur dengan lampu ku matikan.
Aku mulai mematikan alarm yang menunjukan pukul lima pagi itu, benar saja pagi ini aku bangun tepat waktu namun ketika akan mengangkat tubuhku tiba-tiba kaki ini terasa berat.
"Oh aku lupa kemarin habis lari" ucapku dengan mata langsung terbuka lebar.
Aku mulai membuka gorden kamarku terlihat langit yang sedang menampakan lukisan indahnya.
Memang ciptaan Tuhan tak ada duanya.
Aku tersenyum aku terlihar lebih semangat pagi ini.
Setelahnya aku melakukan rutinitas pagi yang seperti biasa aku lakukan.
"Pagi ma... yah..." ucapku kepada kedua orang tuaku yang sudah siap dengan baju kerjanya masing-masing dan siap berangkat ke kantor.
"Tumben anak mama udah bangun...?" tanya mamaku dengan mengerutkan kening mungkin srdikit heran.
"Iya ma"
Sekitar pukul 06.35 kedua orang tuaku sudah siap bekerja.
Ya mereka walau sudah tua masih terlihat romantis, "apakah aku kelak bisi seperti ini dengan Julian" pikiran nakalku mulai menjamah namun dengan cepat aku buang pikiran itu.
Aku langsung mandi dan melanjutkan aktifitas pagiku.
Tenn... Tenn..terdengar bunyi suara klakson dari depan rumahku dengan segera aku mengintip dari jendela kamarku terlihat ada kak Rehan yang sudah rapi dengan baju seragam yang dibalut dengan jaket hitam, yang terlihat menawan.
"Ada masalah lagi rupanya...." gerutuku dalam hati.
Aku yang belum sepenuhnya siap berangkat sekolah harus meladeni anak manja kelas dua belas ini.
"Maaf ada apa ya kak....??" tanyaku kangsung to the point.
"Kok belum rapih sih....??" ucapnya dengan cengar-cengir.
"Lho kan aku berangkatnya masih setengah tujuh kak ini masih jam enam...??" jelasku dengan nada keheranan.
"Udah cepetan naik nanti keburu terlambat lho " ucap kak Rehan yang membuat otakku serasa di aduk-aduk.
"Aku berangkat sendiri kak, kakak duluan aja" ucapku sedikut berteriak berharap rencana gilanya bisa aku batalkan.
"Gak aku akan nunggu disini..." ucapnya yang membuatku mengeretakan gigi.
"Dasar kepala batu" gumanku kesal dalam hati
Aku mengambil nafasku dengan perlahan setelah itu aku hembuskan, aku segera masuk rumah dan mengambil tas raselku.
"Wih cantik banget..." ucapnya dengan menaikan alis sebelah kananya.
__ADS_1
"Apa sih kak biasa aja perasaan" jawabku menyangkal ucapanya.
"Cukup kali ini aja ya kak lain kali jangan lagi" tambahku lagi dengan wajah aku tekuk sebisa mukin.
"Hahaha siap"
"Udah buruan naik" ucapnya lagi sembari menepuk tempat duduk yang belakang.
Segera aku naik dan kak Rehan mulai menstarter motor berwarna hitam ini
"Pegangan ya" ucaonya dengan halus.
"Ya Tuhan jangan uji hati ini lagi" doaku kepada Tuhan dalam hati.
"Kak jangan ngebut nanti jatuh lho..." ucapku berteriak karena kak Rehan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
"Biarin asal kamu jatuhnya ke hati aku" ucapnya dengan nada gembira.
Aku tersenyum hatiku kembali melayang layang di buatnya.
"Kok diem udah sampai nih..." ucap Kak Rehan membuyarkan lamunanku.
Astaga karena keasikan berdebat dengah hati menjadikan aku lupa kalau aku sudah sampai di sekolah.
"Mau turun sendiri apa di turuni...??"
Segera aku beranjak turun.
Dan aku berusaha berjalan secepat mukin mendahului kak Rehan agar Julian tak melihat ini.
"El tunggu...." ucap Kak Rehan berusaha mengejarku.
Aku tak mengubris ucapan kak Rehan aku sedikit berlari menuju kelas agar aku tak ketahuan oleh Julian.
El lo mau ikut pensi gak buat acara kelulusan rahun ini ucap Rena yang ku kira Julian hampir aja jantung ini mau copot dibuatnya.
"Emang ada acara apa saja...??" tanyaku berusaha mengatur deru nafasku.
"Lihat nih lo ikut aja El...." ucap Rena lagi seraya menyodorkan selembaran kertas acara perpisahan tahun ini.
"Lo ikut drama aja El, seru lhoo.." tambah Vey menyemangatiku
"Nanti aku pikir-pikir lagi deh...." capku dengan nada terlihat tak tertarik.
Tak berselang lama bel masuk berbunyi dan pelajaranpun dimulai.
....
"El lo mau gak gabung lagi bikin drama seperti waktu pensi dulu..?" ucap Stevi yang berjalan tergopoh-gopoh mendekatiku.
"Emang rencananya mau peranin judul apa...??" tanyaku berusaha mengahrgai ucapanya.
__ADS_1
"Kurang tau sih tapi yang jelas tentang kisah cinta kayaknya..." jelasnya dengan memasang wajah permohonan.
"Kan lo tau sendiri waktu itu kamu peranin tokoh Juliet bagus banget jadi kak Fina percaya sama kamu El..." jelasnya lagi panjang lebar.
"Entar deh aku pikirin lagi..."
"Tapi aku nuggu kabar baik dari kamu lo El kalau kamu siap"
Setelah itu tanpa aku sadari Julian datang dan langsung memegang perhelangan tanganku dengan kuat.
"Ikut aku....!!" ucapnya sembari menarik tanganku mengajakku ke grdung belakang sekolah.
"Jul lepas" ucapku berusaha melongarkan tangan iniml.
"Ikut aku" ucapnya lagi dengan amarah yang belum mereda.
"Jelasin ke aku kenapa kamu giniin aku" wajahnya terlihat sedang menahan amarah yang siap meledak seketika itu.
Aku hanya terdiam berusaha menatap arah lain berusaha tetap diam dan menahan emosiku.
"Jelasin Eliza gue gak bisa kamu diemin kaya gini terus-terusan" ucapnya lagi dengan nada sedikit kasar.
"Aku gak mau sakit hati lagi Jul aku capek" ucapku dengan nada bergetar.
"Oke aku minta maaf aku tau aku salah tapi tolong untuk kali ini maafkan aku" dia berusaha mengendalikan emosinya dan berusaha minta maaf kepadaku.
"Gak aku mau kita udahan aku terlanjur cinta dengan lelaki lain" jawabku dengan suara berat aku tentu berbohong dengan ucapanku kali ini.
"Bohong..." ucapnya dengan tak percaya.
"Terserah" ucapku pasrah.
"Kenapa cincin ini kamu kasih aku lagi...??" dia bertanya namun dengan nada naik turun mukin dia berusaha menahan emosinya.
"Itu tandanya aku udah bisa lupain kamu aku udah buang rasa sukaku ke kamu jauh-jauh" aku menatap arah lain aku tak kuat bila mematap matanya kini.
"Bohong" ucapnya dengan lantang lagi tak peduli bahwa dia masih di sekolah.
"Tatap aku El lihat mata aku" dia berusaha memegang wajahku dan berusaha memposisikan mataku dengan matanya.
Aku tetap melihat arah lain aku takut pendirianku akan goyah
"Aku tau kamu masih cinta sama aku aku gak pernah suka sama Putri sedikitpum kamu harus percaya itu"
"Cup" dia memeluk tubuhku erat dan dia mulai menjamah bibirku dia menyium bibir ini dengan perlahan.
Perlahan aku mulai merasakan sentuhan ini namun dengan segera aku berusaha melepaskan badanku dari pelukannya.
"Udah puas kamu sekarang biarkan aku pergi karena aku tegasin sekali lagi aku udah gak cinta sama kamu Jul" ucapku seraya berlari pergi aku sudah tidak kuat Tuhan menahan ini semua berpura-pura aku bisa padahal aku sesunguhnya tak berdaya.
"Eliza tunggu aku" Julian berusaha mengejarku.
__ADS_1
"Aku tau kamu bohong...!!" ucapnya lagi dengan berteriak keras sembari memukul tembok yang tak bersalah itu.