
Hari-hari berlalu sudah hampir seminggu aku tak pernah melihat Julian masuk sekolah.
Sifat lucu serta tingkah konyolnya tak pernah aku jumpai lagi saat ini.
Punggung yang selalu menjadi sadaran ketika aku lelah itu kini sedang hilang menghilang tanpa jejak,
Aku sekarang sedang khawatir dengan keadaanya.
Suara lembut yang biasa aku dengar kini tinggal serpihan kenangan.
Sayang aku tak pernah menau tempat tinggalnya yang aku ingat hanya nama jalan itupun terdengar samar-samar aku sekarang jadi peduli dengan keadaanya.
Aku berusaha mencari kabar tentang dia ke semua temanya tapi nihil tak ada satupun yang memberikan informasi jelas tentang keberadaanya.
Aku sedang galau sekarang hatiku gundah gulana.
Saat ini aku sedang melamun di depan jendela kamarku sembari menatap awan putih bergelombang indah itu.
Aku kembali membayangkan saat-saat aku bertemu Julian, saat dia mendekatiku untuk pertama kali saat hubungan kita di uji oleh banyak rintangan dan kenangan yang aku ukir bersamanya sangatlah indah bak sebuah lukisan di awan, cerah membingkai di ufuk senja.
Cintaku ke kamu Jul bagaikan air, mengalir dari hulu ke muara dan kaulah samuderanya.
Aku tersenyum membaca beberapa isi percakapanku dengan dia waktu itu aku tersenyum sendiri dan kadang aku juga sedih.
Aku kembali memainkan jariku di atas layar persegi panjang berwarna bening ini, aku geser hingga akhir isi pesan
Aku tertawa pilu ketika membaca isi pesan perminta maafnya waktu itu.
Andai waktu bisa di putar kwmbali aku akan memperbaiki semua aku memaafkanmu Jul.
......
Hari ini aku berangkat sekolah agak terlambat karena aku bangun tidur kesiangan.
Sinar matahari pagi sudah masuk lewat celah jendela kamarku.
Menandakan hari semakin siang.
Aku berangkat dengan terburu-buru berharap jalan tidak semakin ramai karena mengingat hari ini hari Senin.
Aku tak mempedulikan pakaianku, aku hanya peduli waktu, aku memohon agar aku tak terlambat lima menit saja karena kalau terlambat bau pesing toilet akan jadi temanku nanti selama lima belas menit.
Aku mmemulai melajukan motorku dengan perlahan. Melewati barisan perumahan dan setelah itu aku memasuki gerbang depan perumahanku.
Dan dengan sialnya pagi ini jalan sudah terpenuhi oleh kendaraan bermotor roda dua dan bus yang tersebar rapi di bahu jalan.
Dan memang aku harus menyalahkan atas diriku aku menyalahkan kenapa aku bangun kesiangan namun nasi sudah menjadi bubur tak dapat mukin waktu kembali lagi.
Aku terus berdoa berharap aku bisa secepatnya sampai sekolah.
Namun aku hanya bisa pasrah berharap Tuhan menolongku saat ini.
Teeen...teeeennn bunyi klaskson terus menari-ria di dekat gendang telingaku, banyak pengendara yang saling dahulu mendahului agar cepat sampai tempat yang di tuju.
Motorku tak bisa bergerak kedepan.
Aku hanya bisa terdiam, sejenak mataku teralihkan ke sebuah pintu angkuta berwarna merah itu, bola mataku terus menelaah seseorang yang berada dalam barisan penumpang yang ada di depan.
"Julian...." satu kata yang bisa aku ucapkan saat itu aku terus melihat dan memperjelas pandangkanku.
__ADS_1
Mataku tak berkedip melihatnya...
Kenapa dia jadi seperti itu, baju seragam yang terlihat kotor dan rambut acak-acakan, serta pandangan mata yang terlihat kosong.
Angkot itu mulai melaju kedepan sedikit demi sedikit kemacetan mulai reda walau hanya beberapa saat, pikiranku tak tertuju ke Sekolah sekarang aku lebih peduli dia, dan aku akan mengikutinya.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit angkot itu berhenti di depan gang kecil dan Julian turun aku mulai melaju membututi dia dari belakang dia berjalan sempoyongan layaknya seorang pemabuk berat.
Aku mulai memarkirkan motorku dekat penjual pop ice yang pedanganya sedang sibuk menata barang jualanya.
Aku berjalan mengikuti dia dan dia berjalan belok ke kiri jalan dan duduk di sebuah rumah kosong tak berpenghuni itu.
Dengan langkah berat aku melaju ka arahnya yang sedang duduk di temani botol warna hijau tua itu aku yakin Dia Julian orang yang selama ini aku cari.
"Plakkkk.... Lo tu apa apaan sih Jul.....???" ucapku dengan rasa kecewa melihat keadaan dia saat ini tanpa sadar tanganku menampar wajah malang itu.
Dia hanya diam tak membalas tatapanku sedikitpun, aku sangat heran dengan keadaanya sekarang.
''Lo kenapa jadi kaya gini...!!! Ucapku lagi berusaha menatap mata yang biasa menjadi penyejuk hati ini.
"Gue kawatir sama lo Jul..." ucapku lagi, aku tertunduk lesu sembari berusaha menyetuh kedua tangannya.
"Lo.. .... .." ucapku dengan bibir bergetar.
"Apa...?, lanjutin gue udah gak butuh cewek kaya lo gue gak butuh cewek manja seperti lo...!!" ucapnya dengan nada tinggi dan suara itu menjadi tamparan keras bagiku.
"Oke aku gakpapa tapi aku mohon kamu jagan kaya gini Jul" ucapku dengan berat memohon kepadanya hatiku memang sakit tapi lebih sakit lihat Julian yang seperti ini.
"Woy lo siapa datang ke markas kita...?" ucap salah satu gerombolan yang terlihat sama seperti Julian.
"Lumayan juga cewok lo" ucap lelaki berambut merah itu.
"Bagi dong brow jangan pelit-pelit" celotoh seseorang dengan mengedipkan mata kirinya.
"Aku mohon Jul kita pergi dari sini..." ucapku berusaha menarik tanganya, aku sedikit panik sekarang.
"Mending lo pergi dari sini cantik ini bukan tempat lo...!!" ucap lelaki bertopi lusuh itu sembari menyeringai puas.
Tanpa aku sadari ada seseorang yang menyeret tanganku dengan kasar.
''Jangan setuh dia anjing.....!!!!!" ucap Julian dengan melepaskan tanganku dari cekraman lelaki bertopi itu.
'Buagh.....'
Dengan brutal Julian membogem keras wajah lelaki itu
"Lo gak perlu gangu cewek gue, gue tegasin sekali lagi ....!!!" ucap Julian dengan sangar mata yang semula diam itu kembali bangkit .
"Sialan lo mending lo pergi dari sini bangsat" ucapnya membalas memukul wajah Julian jauh lebih keras sembari menyentuh pipi kanannya.
Brukkkk Julian tersungkur ke tanah
"Juliannn" ucapku dengan keras
"Whaaaaa dasar lelaki letoy.... mati lebih bagus lo" ucapnya menyeringai puas.
"Dasar kalian anak brandalan" jawabku dengan lantang.
Setelah itu mereka meningalkan aku dan Julian dengan angkuhnya, Julian masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
Cairan berwarma merah tua itu terus keluar dari bibir serta hidungnya.
Aku tertunduk di hadapanya sembari menyeka air mataku.
"Jul lo tu kenapa sebenarnya...??" ucapku bertanya-tanya.
Tiba-tiba ada seseorang bapak-bapak penjual bubur ayam itu berhenti tepat di depanku.
"Ada apa neng..?" tanyanya dengan rasa peduli.
"Ini teman saya habis berantem pak sama anak brandalan yang berjalan ke samping gang kecil itu" jawabku menjelaskan keadaan Julian.
"Oh, memang neng di rumah kosong itu sering di jadiin tempat nongkrong anak sekolah yang bolos, sini biar bapak bantu" ucapnya menjelaskan seraya membantu aku memindahkan Julian.
Setelah itu Julian di senderkan di pos kamling yang berada di sisi sebrang jalan.
''Terimakasih banyak ya pak'' ucapku kepada bapak-bapak itu.
''Iya sama-sama neng" jawabnya seraya mendorong kembali geroboknya dan pergi
"Jul bangun Jul...." ucapku mengoyangkan bahunya.
Dengan keadaan panik aku berusaha menghubungi Dika teman Julian.
"Hallo Dik..."
"Ada apa El...?" tanyanya dari seberang telephon.
"Lo sekarang kesini Julian ada sama aku tapi dia tak sadarkan diri" ucapku menjelaskan keadaan Julian.
"Oh okeee." jawabnya melegakanku.
Aku berusaha membersihkan tetesan darah agar tak mengenak baju seragamnya.
Perlahan dia membuka matanya
"Kamu sadar Jul...?" tanyaku dengan tersenyum.
"Lepasin tangan kotor lo...!!" ucapnya menghepas tanganku keras.
"Lo tu sebenarnya kenapa sih Jul...??" ucapku berusaha meraih kembali tanganya.
"Cukup El kita cukup sampai disini...!!!" ucapnya dengan jelas ke arahku.
Air mataku terus menetes tanpa aku suruh.
"Okeee kalo kita putus aku terima tapi alasanya apa Jul...?" ucapku menanyai alasanya aku berusaha menahan agar dia tak pergi.
"Lo gak perlu tau alesanya apa yang jelas aku lagi pengen sendiri..." dia berusaha mengalihkan padangan matanya ke arah lain.
"Maafin aku Jul kalo kamu jadi kaya gini gara-gara aku" mohonku kepadanya agar dia sedikit luluh.
"Hahaha lo gak perlu jual air mata buaya lo ke gue...!!!!" ucapnya yang membuat hatiku tertampar keras
"Lepas...." ucapnya sambil berdiri membuat keseimbangan tubuhku goyah dan dia berlalu pergi.
"Jul tunggu ..." ucapku berteriak
Dia tak menoleh dan tetap berjalan pergi
__ADS_1
Hatiku semakin sakit melihat dia pergi aku tak mengejarnya karena aku berharap Dika segera datang dan bisa mengejar Julian.