
H-3 sebelum Liburan ke Bandung.
Ayunda dan lelaki itu sedang menikmati makan malamnya di sebuah Cafe dengan ditemani secangkir kopi dan sepotong steak yang baru tersaji dipiring melamin berwarna hitam itu dengan ditambahkan buncis dan kentang goreng serta wortel sebagai pelengkapnya.
Hampir seminggu mereka tak bertemu disebabkan kesibukan mereka masing-masing.
Langit tampak kelabu hanya terbantu sorotan cahaya sang rembulan yang berdiri gagah di atas cakrawala.
Sorotan lampu di tepian jalan itu mampu menyoroti lukisan tuhan yang tampak sempurna itu.
"Aku minggu depan ada tugas ke Bandung alhamdulilah sih proyek besar dari pemengang saham itu mulai berjalan..." ucap lelaki yang sedang melepaskan jas yang seharian menempel di tubuhnya itu Sedang Ayunda mulai menarik kursi dan duduk berhadapan dengan lelaki tersebut.
"Serius mas bakal dapet besar-besaran dong bonusnya kamu..." jawabnya dengan mulai duduk dan membetulkan posisi duduknya agar lebih terasa nyaman.
"Iya alhamdulialh, cepet cicipi keburu dingin lho makananya...." ucap lelaki itu dengan mulai memotong daging berbumbu barbeqeu
"Mas aku tu sebenarnya lagi diet tapi karena udah mas pesenin mau gak mau harus aku makan..." jelas Ayunda sembari memotong steak daging itu untuk kali ini dia mengalah dengan makanan karena merasa tak enak hati jikalau menolak pemberian dari lelaki yang saat ini sedang bersingah di hatinya.
"Konsisten banget sih udah cukup sayang badan kamu segitu entar yang ada kamu digoda cowok lain janganlah...." ucap lelaki itu yang tak setuju dengan ucapan Ayunda, Ayunda hanya terkekeh mena
"Mas ini bercanda aja aku kan pengen hidup sehat aja mas kita kan harus jaga kesehatan kita masin-masing." jelas Ayunda dengan memegang garpu berisi potongan daging itu sembari menyeruput air mineral yang baru dia pesan.
Lelaki itu hanya berdeham menangapi ucapan Ayunda.
"Terus gimana kamu mau ikut gak ke Bandung" tanya lelaki yang tengah menikmati secangkir kopi itu melanjutkan pertanyaanya yang tadi dengan nada serius.
"Pengen sih mas tapi tau sendiri Rehan gimana" jawab Ayunda dengan berat hati
"Tenang aja nanti kamu aku pesenin hotel buat kamu sama Rehan santai aja aku yang bayar..." ucap lelaki itu dengan terus membuujuk rayu Ayunda.
"Gak gitu mas kamu kan tau sendiri Rehan tu gampamg-gampmag susah.." jelas Ayunda sembari mengunyah daging yang baru Ia masukan kedalam mulutnya.
"Ayolah sayang kali ini aja kita liburan bareng..." bujuk lelaki itu lagi dengan meraih tangan Ayunda dan mulai di gengamnya.
"Iya nanti aku pikir-pikir dulu ya mas" jawab Ayunda berusaha memberikan harapan karena Dia merasa tak enak jika terus menolak.
"Iya tapi aku pengenya kamu gak usah mikir lama-lama lusa kita langsung berangkat" ucapnha tak bertele-tele.
"Iya juga sih kebetulan aku juga mau kerunah temen online ku di Bandung yang sekarang sedang merintis usaha barunya buka butik..." ucap Ayunda dengan tatapan wajah serius Dia baru teringat teman kenalanya lewat online itu yang ternyata bertempat tinggal di Bandung.
__ADS_1
"Oh tunggu kamu punya temen online gak salah dengar aku...?" tanya Lelaki itu sembari menyingkirkan sisaan daging itu dari hadapanya sembari berdecak dengan mengelengkan kepala.
"Hahaha mas kadang ya kita tu butuh teman yang bisa mendengarkan keluh kesah kita gak ada salahnya dong kita punya temen yang mampu jadi pendengar kita atau sekedar teman buat cerita" jelas Ayunda dengan tersenyum.
"Hahah Iya sih terserah kamu taoi ingat jangan samaoi orang itu berbuat jahat sama kamu apalagi jaman sekarang penipuan itu banyak dari online" lelaki itu tertawa Dia tak habis pikir dengan Ayunda yang begitu mudah berteman online dengan seseorang yang belum bertemu seklipun.
"Mas ini berlebihan" ucap Ayunda dengan mengelengkan kepala.
Mereka mulai menikmati diner malam itu kembali sembari berbincang-bincang.
"Oh iya gimana sama nilai Julian..?"tanya Ayunda dengan nada perhatian terhadap calon anaknya itu.
"Bagus kok tumbem lo kali ini dia masuk liama besar" jawab lelaki itu dengan rasa bangga.
"Oh gitu alhamdulilah aku ikut seneng mas..." ucap Ayunda dengan rasa bangga, walau ketika menyebut nama Julian ia kesulitan menelan makanan itu.
"Gimana Rehan mau kamu kuliahin dimana" tanya lelaki itu dengan serius karena baginya Rehan adalah anaknya juga
"Dia sih udah daftar di beberapa Kampus mas besok pengumunanya ya doain aja dia dapet universitas yang terbaik" jawab Ayunda dengan santai baginya tak ada kesusahan saat ini untuk masalah kuliah anaknya.
"Kenapa gak di Binus aja aku banyak kenalan orang dalem..." ucap lelaki itu sembari mengambil ponselnya dari saku celananya karena sedari tadi berdering dan hanya Dia diamkam.
"Aku sih terserah Rehan aja mas" jawab Ayunda yamg mulai berhenti makan dan mengambil tisu yang tertera di tempat tisu itu untuk menyeka sisaan makanan di dekat bibirnya.
Mereka terus berbincang hingga larut malam sembari menikmati sajian desret brownis berisi coklat yang terlihat meleleh itu
....
Ayunda mulai menutup pintu rumahnya dengan perlahan. Dia mendapati anak semata wayangnya tengah duduk di sofa sembari menonton acara televisi.
"Habis dari mana ma malam-malam gini baru pulang...?" tanya Rehan dengan nada sinis.
"Tadi makan dulu sama temen..." jawab Ayunda yang mulai berjalan menghampiri anaknya.
"Oh temen apa demen...." ucap Rehan dengan angkuh tak peduli ucapanya akan menyakitkan ibunya atau tidak.
"Rehan sini deh mama kangen banget sama kamu kapan sih kamu ngurangi sifat ego kamu...?" tanya Ayunda dengan menghela nafas dengan berat sembari mendekati anaknya.
"Ma aku kan udah bilang aku bakal berubah kalau mama tingalain laki-laki brengsek itu..." jelas Rehan dengan nada kasar.
__ADS_1
"Suthhh gakboleh gitu sayang..." Ayunda berusaha mendinginkan amarah Rehan.
"Kamu udah makan" Tanya Ayunda sembari menawarkan bingkisan makanan itu kepada Rehan.
"Udah" jawabnya datar tanpa mau melihat wajah ibunya.
"Han.." ucap Ayunda dengan lembut.
"Eum.." Rehan hanya berdeham sembari mengotak-atik ponselnya.
"Kita liburan ke Bandung yuk" ajak Ayunda dengan semangat.
"Tumben mama nawarin liburan kenapa emang...?" Tanya Rehan dengan nada keheranan.
"Ya kan habis kamu sakit kamu di rumah terus gak bosen emang...? kita cari udara segar disana biar kamu lebih fres.." tambah Ayunda lagi sembari menatap wajah Rehan yang terus dialihkan ke arah ponselnya.
Rehan hanya berdeham baginya alasan ibunya tak terlalu peting.
"Lagian mama ada temen rumahnya di Bandung sekalian mama mau main kesana..."
"Boleh asal jadwalnya jangan bertabrakan sama urusan kampus aja..." jawab Rehan pada akhirnya dan membuat Ayuda lega.
"Iya sayang..."
"O iya ini ada hadiah buat kamu dari temen bawahan mama..." ucap Ayunda sembari mengeluarlan sebungkus kado yang terlihat mewah itu dari lelaki yang nenemaninya diner tadi.
"Oh buat apa kan aku gak ultah" jawab Rehan tanpa ada rasa tertarik sedikitpun dengan barang itu.
"Kan kamu habis lulus sayang terima ya etika baik temen mama" jelas Ayunda dengan nada halus.
"Yaudah taruh situ aja entar aku buka'' ucap Rehan berusaha menghargai pemberian dari bawahan ibunya itu walau rasanya tak sudi untuk mebukanya.
"O iya ma besok aku mau ajak jalan Eliza menurut mama gimana" ucap Rehan dengan menoleh ke arah mamanya berharap wanita yang sedang duduk disebelahnya itu mendukung keinginanya.
"Kok mama malah bengong sih...?" tanya Rehan dengan nada jengkel karena merasa tak dihargai pembicaraanya.
"Han leih baik jangan, Dia kayaknya udah punya pacar mending sekarang kamu fokus buat kuliah..." jelas Ayunda berusaha menghindari topik pembicaraan tentang Eliza sebab Dia sudah yakin Eliza adalah temen dekat Julian.
"Hah gak salah mama sendiri sibuk sama urusan mama kenapa aku di larang..?" ucap Rehan denga nada tinggi.
__ADS_1
"Mama mau mandi bersih-bersih badan udah malam mending kamu tidur gih." Ayunda tak mempedulikan ucapan Rehan Dia segera beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.
Rehan hanya terdiam sembari membanting remot televisi itu baginya ibunya tak bisa dijadikan teman untuk berbagi cerita.