Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 49: Gejolak


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan tak ku sangka kejadian ini terjadi lagi, selang infus yang tertempel di pergelangan tangan kananku serta bantuan alat nafas yang tertempel di hidung.


Dia hadir lagi mukin dia yang membawaku ke tempat ini jujur aku sangat rindu tapi sakit hatiku mukin sekarang lebih mendominasi, tentu aku sangat senang bila kembali melihat wajah tampanya dengan semubaratan senyum dan lesung pipinya yang selalu aku dambakan.


"Jul aku sangat rindu sama kamu namun hatiku masih terasa sakit" ucapku berkali-kali saat aku berada di taman tadi.


Namun bila melihat serta mengingat dia dengan putri hatiku sangat marah terasa sakit serta tak rela.


Di saat dia memelukuku itu sunguh sangat kerinduanku yang paling aku dambakan namun karena hati ku terlanjur terhianati aku dengan terpaksa menolak.


"El....!!"


Aku buyarkan lamunan ku dan kulihat dia menatapku dengan tatapan sendu ingin rasanya aku mengatakan aku tidak apa-apa namun dengan ketidak sopananaku aku membentak dia dan menolak dia berada di sini aku bimbang antara otak dan hatiku yang tak sejalan ini semua membuatku tertekan.


Setelah aku memalingkan wajah dan suster yang merawatku menyuruh dia agar pergi.


Dengan kesedihan yang justru mendalam dia pergi dengan kecemasan yang tampak dari wajahnya dan tak terasa air mata ini kembali jatuh, dadaku sesak dan nafasku tak teratur serta detak jantung yang tak berirama.


"Udah mbak Eliza yang tenang ya nanti sebenatar lagi orang tuanya datang" ucap suster berbaju putih itu dengan senyum khasnya.


Namun tak aku jawab dan hanya aku balas dengan senyuman yang aku paksakan.


Aku terus menangis sembari suster itu terus memegang tangan aku yang mungkin sedang mengecek tensi darahku yang aku tau mungkin sekarang sedang tinggi.


Dia menanyaiku beberapa hal namun itu semua aku tidak menghiraukan karena aku merasa benar-benar jatuh untuk yang sekarang.


"Eliza...."


Mama datang menghampiriku dan langsung memelukku dengan erat dan itu membuat isak tangisku justru semakin menjadi.


"Kamu gak papa kan sayang...??" tanya mama aku yang terlihat kawatir.


"Gak ma aku baik-baik aja" jawabku penuh kepalsuan.


"Sukurlah lain kali jangan keluar dulu kalo badannya belum fit..." ucap mama aku sambil melepaskan pelukan.


"Iya ma" jawabku lunglai.


Dan karena aku tak ingin kedua orang tuaku melihatku lemah air mata ini segera aku usah dan aku berusaha menyembunyikan semua kesedihanku.


"Tadi siapa yang bawa kamu kesini nak ...??" tanya mamaku dengam penasaran.


"Tadi ada seorang cowok buk yang bawa mbak Eliza ke sini dan dia bilang dia temannya" jawab suster itu yang membuatku sedikit lega.


"Oh syukurlah kalo gitu kapan-kapan mama mau bertemu ya sama temen kamu itu"


"Iya ma" jawabku tanpa sadar.


****


Julian pov


Kring..


Pukul lima pagi aku sudah bangun segera aku mandi, karena sebelum ke sekolah aku ingin ke klinik tempat Eliza di rawat tentu aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.


"Tumben kamu udah bangun Jul...??" ucap ayahku yang terlihat keheranan.


"Iya nih yah mau ada tugas mendadak" jawabku sambil nyengir.


"Oh..." balas ayahku dengan datar


Segera aku mandi dan menyelesaikan rutinitas pagiku dengan cepat tak lupa aku menunaikan sembahyang terlebih dahulu setelah itu aku bersiap-siap, tepat pukul setengah enam aku sudah selesai dan segera aku mengeluarkan motor dari garasi.

__ADS_1


Senyumku merekah karena sebentar lagi akan bertemu Eliza.


Dengan semangat pagi dan matahari yang mulai menampakan diri segera aku melajukan motorku penuh semangat yang berkorbar.


Aku berhenti sejenak di tepian minimareket yang buka dua puluh empat jam untuk membelikan beberapa buah serta bingkisan tangan tentunya untuk dia tak lupa sebungkus coklat.


Setelah itu aku segera bergegas menuju klinik kurang lebih hanya sekitar lima belas menitan saat sampai disana aku lega karena mobil yang di kendarai kedua orang tua Elza masih terpakir di sudut klinik tempat Eliza di rawat.


Segera aku masuk menuju pintu masuk tak lupa aku memberikan senyum manisku kepada penjaga klinik.


Segera aku menuju ruang tempat Eliza di rawat dan aku berharap semoga orangtua Eliza menyambut baik akan kehadiranku.


Langkah kakiku semakin terasa berat jantung aku berdegup teramat kencang karena senbentar lagi aku akan melihat orang tua Eliza yang mukim suatu saat akan menjadikan aku sebagai mantunya.


Tiba-tiba aku tersenyum sendiri layaknya orang yang baru menjadi miliarder.


Tap..tap suaru langkah kakiku yang semakin pelan dan berat.


Saat sampai di depan pintu aku sedikit mengintip dan dia ternyata sedang tidur bibirnya terlihat pucat pasi dan hidung cantiknya tertutupi selang alat nafas.


"Aslllamualaikum ....." ucapku penuh sopan sambil membuka pintu tak lupa aku tunjukan senyum manisku yang sedari tadi terus memenuhi lekuk wajahku dan tanpa punya malu aku beranikan melakukan ini semua dan dengan perasaaan campur aduk.


"Walaikum salam" jawab wanita yang duduk di kursi sembari menyeka beberapa bulir keringat yang keluar dari wajah gadis manis itu.


Segera aku melangkahkan kaki masuk dan menyerahkan beberapa bingkisan yang sudah aku beli tadi.


"Duduk sini kak..." tunjuk lelaki paruh baya tersebut yang masih terlihat awet muda sembari menyodorkan kursi yang dia duduki.


"Maaf pak saya berdiri aja" jawabku menolak tawaran dari lelaki tersebut dengan sopan.


"Udah gak papa..." ucapnya yang membuatku sedikit bimbang.


Karena tak mau berlama-lama segera aku duduk karena aku tak ingin berdebat soal kursi dan membuat Eliza terbangun.


"Iya buk.." jawabku sedikit tersenyum.


"Makasih ya saya gak bisa balas budi kebaikan kamu..." ucap Bu Ratna yang membuatku sedikit tertegun, ternyata selama ini aku salah menilai akan sifat asli ibu Ratna.


"O iya namu kamu siapa...?" sekarang giliran Om Handoko yang menanyaiku.


"Saya Julian om..." jawabku dengan percaya diri.


"Oh iya kamu temen sekelasnya ya..??" tanya Om Handoko ke arahku.


"Bukan om saya beda kelas" jawabku dengan santai.


"Oh gitu kalau gitu om mau beli sarapan dulu ya..." ucap Om Handoko sembari meninggalkan aku dan Bu Ratna.


"Baik om" jawabku sedikit tersenyum.


Sejenang hening namun segera aku mengeluarkan suara agar suasana tak terlihat canggung.


"Bagaiman keadaanya dia buk..." tanyaku ke Bu Ratna


"Sudah baikan sore nanti pulang kok" jawabnya yang membuatku sedikit tenang.


"Oh syukurlah buk" jawabku dengan lega.


"Semenjak dia ada masalah sama pacarnya sikap dia jadi begini padahal tante sudah larang agar tidak pacaran dahulu" ucap bu Ratna sedikit memperjelas ucapnya.


Deggg....... Degggggg.....


Oh Tuhan ini semua salah aku dengan hati yang meratap segera aku menunjukan ekpresi seolah-olah aku hanya pendengar bukan pelakunya.

__ADS_1


"Oh iya buk"


"Dan yang lebih parahnya tangan dia, dia lukain sediri dengan pisau" ucap Bu Ratna lagi yang membuatku semaki lesu.


Sretttttt.


"Serius tan...??" tanyaku dengan nada sangat terkejut.


"Iya" jawabnya dengan tatapan kosong memandang arah luar kamar.


"Terus dia gak apa-apa kan buk??" tanyaku dengan kawatir.


"Gak kok..." jawab Bu Ratna dengan simpel


"Ya padahal semenjak dia gak pacaran kondisi dia masih stabil" tambah Bu Ratna melanjutkan ucapnya.


Aku tak menjawab aku mengepalkan tangan kuat kuat dan gigi yang aku gemeretakan.


"Oh iya kamu gak telat ke sekolah kok malah kesini dulu...??" tanya Bu Ratna dengan sedikit menyelidiki.


"Ya saya kawatir aja tan soalnya kemarem saya gak sempat nungguin" jawabku sambil merangkai kata-kata agar terdengar manis.


"Kamu ini sekolah lebih penting lebih baik kamu berangkat sekarang"


Dan kulihat arloji berwana hitam yang ku kenakan di tangan kiriku telah menunjukan pukul setengah tujuh segera aku putuskan untuk segera meningalkan klinik ini.


"Oh iya tan kalau gitu saya pamit dulu ya buk semoga Eliza cepet sembuh" pamitku ke Bu Ratna.


"Iya nak Jul hati-hati ya sama ini tolong berikan kepada wali kelas El kalau saat ini belum bisa masuk"


"Baik buk..." jawabku sembari berdiri dan menerima amplop dari Bu Ratna.


"Ma....."


Seketika pandanganku aku alihkan ke sumber suara


"Eliza....??" ucapku dengan gembira karena yang ingin jumpai adalah dia.


"Lo ngapain ada disini lagi sih Jul"


"Sayang jangan gitu dia relain pagi-pagi datang jemput kamu lo..." seka Bu Ratana agar tak membuat emosi Eliza menjadi.


"Tapi ma....??" jawabnya dengan layu.


"Em... Buk saya berangkat dulu ya..??" ucapku sambil mencium tangan Bu Ratna.


"Iya hati-hati ya nak Jul" jawab Bu Ratna


Setelah itu aku keluar tak lupa aku tunjukan senyuman yang girang walaupun Eliza membalasnya dengan tatapan kesal.


Segera aku melajukan motorku menuju sekolah.


Belum sempat aku belok ke arah kanan jalan aku melihat putri sedang bertikai dengan Dea tentu aku ingin segera menolongnya.


"Putri.....!!!" ucapku sembari melajukan motor menuju ke arah mereka


 


\\\\\*


 


Apa yang akan terjadi selanjutnya dari cerita ini...????

__ADS_1


Next....


__ADS_2