Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 121 :


__ADS_3

Lanjutan


Mereka berdua mulai keluar dari rumah Dea, Eliza mulai berjalan ke arah motor yang Dia parkirkan di dekat pohon jambu itu sedang Ayunda mulai berjalan mendekati Eliza.


"Eliza bisa minta waktunya sebentar...?" tanya Ayunda kepada Eliza yang sedang mengaitakan pengait helm itu.


"Maksud tante...?" tanya Eliza dengan nada kurang mengerti.


"Kita makan dulu yuk pasti kamu capek kan pulang sekolah belum makan..." Ayunda mulai mengutarakan maksudnya karena dibalik ada alasan lain Dia ingin berterimakasih atas kebaikan Eliza terhadap anaknya.


"Gak perlu tante soalnya aku udah makan tadi di kantin..." tolak Eliza dengan nada halus semari memberikanya alasan Dia menolak.


"Kali ini aja jangan tolak ajakan tante..." ucap Ayunda lagi dengan tatapan memohon yang membuat Eliza akhirnya luluh menerima tawaran dari Ayunda karena merasa tak enak hati.


"Oh iya Tante bisa..." jawab Eliza dengan jawaban yang membuat Ayunda merasa bahagia.


Mereka mulai mengemudikan kendaraan masing-masing.


Berbeda dari perjalanan saat menuju rumah Dea, Eliza kini berada di belakang sedang Ayunda mengemudikan mobilnya di depan.


Tak terlalu lama setelah memasuki pusat kota Jakarta yang terlihat mulaii ramai itu dengan jalanan yang tampak penuh dengan kendaraan.


Mobil yang di kemudikan Ayunda mulai berhenti di depan restoran megah itu yang menyajikan chinesfood sedang Eliza mengikuti hal yang sama.


Setelah memasuki besment restoran yang terletak di bawah wanita bernama Ayunda itu mulai mengajak Eliza masuk kedalam restoran dengan Eliza yang berjalan mengikutinya di belakangnya.


Terlihat restoran itu tampak penuh pelangan yang begitu banyak dengan berbagai macam usia.


"Oke kamu duduk dulu biar tante pesenin" ucap Ayunda kepada Eliza sebari berjalan menuju tempat pemesanan makanan itu yang terlihat tampak banyak pelangan yang mengantri sedang Eliza mulai mencari tempat duduk yang terlihat masih kosong itu.


Eliza baru pertama kali menginjakan kaki di restoran ini menjadikanya terlihat asing dengan suasana restoran ini.


Dia dan keluarganya pun tak pernah makan di tempat ini.


Tak berapa lama Makanan mulai tersaji dengan berbagai macam menu makanan yang di pesan Ayunda yang berupa masakan china itu.


Ayunda mulai duduk berhadapan dengan Eliza dengan tas bermerek yang Ia letakan di atas meja yang hanya tersisa sedikit tempat.


Ayunda mulai mempersilahkan Eliza mencicipi makaan


"Di makan El makasih lo udah mau temenin tante...." ucap Ayunda sembari mempersilahkan Eliza makan.


"Iya tante sama sama..." jawab Eliza yang mulai mendekatkan gelas berisi thaitea itu didekatnya, Eliza sedikit terheran dengan wanita bernama Ayunda itu karena begitu mengetahui makanan kesukaanya serta minuman yang di pesanya serasa tak salah dari kesuakaanya.


Mereka mulai menikmati makanan yang terlihat masih mengeluaran uap panas itu tanpa suara.

__ADS_1


"Kamu suka kan tante pesenin ini.." tanya Ayunda dengan tangan yang masih sibuk mengaduk kuah yang terkihat mengepul itu.


"Suka kok tan..." jawab Eliza dengan tersenyum.


Nereka kembali diam sembari menikmati makanan itu.


"Eliza..." ucap Ayunda dengan lembut Eliza tak menampik wanita di depanya memang menarik bagi siapa saja dari ucapan penampilan walau Dia tau Dia sekarang sedang berhadapan dengan wanita yang membuat luka parah di hati kekasihnya itu.


"Iya" jawab Eliza sembari menyeruput kuah yang berwarna merah menggoda itu dengan sendok.


"Em tante boleh ngomong...?" ucap Ayunda dengan tatapan yang tak seperti biasa.


"Iya ada apa ya tan..?" tanya Eliza dengan menaikan alis matanya.


"Kamu udah kenal lama sama Julian maksudanya deket gitu...?" yanya Ayunda yang sukses membuat Eliza mulai mengerti khayalanya semakin menjadi nyata sedikit-demi sedikit seraya Pikiranya mulai menelaah perkataan wanita bernama Ayunda tadi.


"Iya hampir satu tahun sih tan..." Dia berusaha menjawab ucapan Ayunda namun dengan menatap dalam ke arah wajah wanita itu.


Suasana seketika menjadi cangung walau sering bertemu dengan wanita itu Eliza merasakan hawa berbeda saat ini.


"Kamu tau keluarganya...?" tanya Ayunda lagi dengan menyeka bibirnya dari tumpahan kuah hot pot itu.


Eliza menjadi semakin yakin jika papanya Julian selingkuh dengan wanita yang kini berada di depanya itu.


"Oh gitu ya tante cuma pengen tau aja kok" ucap Ayunda berusaha menutupi kegugupan itu.


"Dimakan lagi keburu dingin lho nanti gak enak.." perintah Ayunda lagi dengan mengeser dim sum yang masih berada dalam keranjang bambu itu yang terlihat masih panas ke arah Eliza.


"Iya tante... O, iya gimana kondisi kak Rehan saat ini...?" jawab Ekiza dengan menanyakan kondisi kak Rehan.


"Udah baikan kok tapi ya gitu banyak ngeluh ini itu sekarang sih tante udah sewa perawat..." jelas Ayunda mencetitakan kondisi anak kesayanganya saat ini


"Oh baguslah kalau gitu tan aku ikut seneng dengarnya..." ucap Eliza dengan tersenyum.


"Iya habis tante kan harus kerja jadi gak mungkin jika terus ngurus Rehan..."


Ayunda mulai mengambil sepotong dimsum itu dan menambahkan dengan mencelupkanya ke dalam mangkuk berisi saus itu.


"Kamu tinggal diman sih El..?" tanya Ayunda yang sedari awal penasaran dengan alamat rumah gadis cantik yang memiliki lesung pipi itu dan bulu mata yang lentik.


"Saya di perumahan Intanraya jalan Merpati tan.."jawab Eliza tak keberatan memberikan alamatnya kepada wanita itu.


"Oh sebelah kantor BCA...?" tanyanya lagi yang seperti mengetahui nama perumahan dan jalan itu.


"Iya tan..." jawab Eliza membemarkan ucapn wanita itu.

__ADS_1


Mereka berbincang-bincang sembari menghabiskan makanan itu hingga hari semakin petang.


"Tante udah sore aku minta ijin pulang ya..." ucap Eliza yang mulai memasukan ponselnya kedalam tas dan mulai menetengnya sembari Dia beranjak dari tempat duduk.


"Oke kamu pulang duluan gak papa El makasih ya buat waktunya biar saya bayar dulu..." ucap Ayunda ikutan berdiri dan meraih dompet yang berada dalam tas bermerk Hermes itu.


"Tapi pesanan saya...?" ucap Eliza seraya mengeluarkan sisa uang jajanya yang masih dua ratus ribu itu yang di lihat oleh Ayunda.


Udah biar tante yang bayar salam buat mama papa kamu ya..." jawab Ayunda dengan mengembalikan uang itu kesaku Eliza dengan tersenyum.


"Iya Tan..."


Eliza segera keluar Dia meninggalkan Ayunda yang masih di depan kasir itu Dia mulai melirik jam tangan yang setia berada di pergelangan tangan kirinya yang ternyata sudah menunjukan pukul lima sore.


Dia mulai mengambil motornya tak lupa dia memberikan bayaran parkir sebesar dua ribu rupiah itu.


Dalam perjalan pulang Eliza tampak murung pikiranya kini terasa bertumpuk-tumpuk ditampah di pertemgahan perjalananya dia kembali menemui kemacetan yang tak ada habisnya itu.


Saat sampai rumah.


Eliza buru-buru membuka gerbang dan memasukan motornya kedalam. Dia mulai melirik kearah jendela dapurnya yang tampak mamanya sedang menyiapkan makan malam Ia menghembuskan nafas berat sembari menyeka keringat di pelipisnya.


"Ceklek..."pintu dibuka perasan Eliza semakin was-was.


"Pulang mahrin lagi ya...?" ucap wanita itu yang terlihat sedang sibuk mengaduk kopi yang berada dalam cangkir berwarna coklat itu.


"Iya nih ma habis latihan buat perpisahan kelas dua belas..." jawab Eliza dengan lesu ingin sekali Dia menceritakn pertemuanya dengan tante Ayunda kepada mamanya namun Dia urungkan.


"Oh gitu udah kaya pegawai kantor aja ya pulang selalu larut" ucap wanita itu sedikit mengeraskan suaranya berharap Eliza sedikit menyadari kebiasanya yang kurang baik.


"Mama, mama sekali aja kek ngertiin aku" Eliza hanya bisa mengucapkan dalam hati tanpa berani mengutarakan.


Dia tak menjawab ucapan wanita itu dan hanya meningalkan suara telapak kakinya.


Dia mulai mendekatkan wajahnya di dekat cermin itu tampak Dia tellihat kelelahan hari ini.


Tak lupa Dia terus mengecek notif dari ponselnya berharap Julian mengirimkanya pesan atau panggilan keluar yang membuatnya sedikit bisa menghilangkan rasa letihnya, namun nsayang Julian hanya Mengirimya stiker berbentuk hati.


Eliza membanting kasar ponselnya kedalam kasur itu Dia begitu membenci sifat Julian yang sekarang begitu tak peduli denganya Dia sekarang mengangap tak layakhalnta semua lelaki itu sama hanya diciptakan untuk menyakiti wanita.


Dia kembali teringat ucapan dari adik kelasnya yang memuji suranya bagus.


Dia tersenyum serta membuatya merasa percaya diri sekarang dengan kemampuan suaranya.


Dia mulai berjalan ke kamar mandi dengan handuk yang melingkar di lehernya.

__ADS_1


__ADS_2