Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 68


__ADS_3

Hari ini tepat aku memulai kembali sekolah setelah kurang lebih dua minggu libur semester serta tahun baru.


Tak ada yang spesial dari liburanku selain menghabiskan waktu dirumah.


Tentang hubunganku dengan Julian bisa di bilang sedang tak baik karena keegoisan kita masing-masing.


Sebelum berangkat menuju Sekolah seperti biasa rutinitasku, seperti layaknya cewek kebanyakan.


Aku berdiri di depan cermin yang berada di ruang tengah memiliki diameter 60 cm kali 100cm setidaknya cukup untuk melihat pantulan diriku.


Tak lupa aku meyemprotkan parfum yang biasa aku kenakan agar lebih membuatku percaya diri, parfune bermerk dari paris tentunya yang aku kenakan.


...


Saat sampai di sekolah...


"Hay El...." sapa seseorang dari belakangku yang terdengar familiar di telingaku.


"Oh, kak Rehan..." ucap ku sambil membalikan badan dan menuju sumber suara.


"Em.. sedirian aja...?" tanyanya sambil menatap ke arahku.


"Iya nih... habis kepagian berangkatnya" jawabku dengan senyuman tipis dan menggaruk kepalaku yang tak gatal.


"Em.. boleh kan jalan bareng sampai ke kelas..?" tanyanya ke arahku.


"Boleh kak"jawabku sambil menyamkan langkah kaki kak Rehan.


Kita terus berbincang sambil sesekali bercanda, dia sedikit berubah semenjak pertemuan kita kemarin.


Dia terlihat lebih dewasa sekarang dan membuatku percaya dia tak mukin melakukan hal bodoh seperti waktu dulu.


"Perlu di anterin gak El..?" ucapnya sambil menghentikan langkah kakinya ketika tepat di depan pintu kelas Bercat coklat itu.


"Gak usah kak" jawabku meyakinkan.


"O,,,,, yaudah duluan ya"


"Iya kak" jawabku sedikit gugup


Setelah itu segera aku berjalan menuju anak tangga yang tinggal beberapa langkah lagi.


Aku sedikit menahan nafas dan berhenti sejenak saat aku berpas-pasan dengan Putri dia hanya sedikit melirik ku tanpa menyapaku dan terus berjalan melewatiku tanpa mempedulukan keberadaanku.


Aku kembali berjalan dan menuju ruang kelas tak aku ambil pusing perihal Putri tadi.


Suasana di kelas masih tampak sepi mengingat jam masih teramat pagi.


.....


Sampai bel pulang berbunyi Julian juga tak menemuiku aku berusaha meliriknya dari bilih jedela kelasnya tampak dia sedang memasukan buku ke dalam ransel tasnya.


"Aneh" ucapku dalam hati sambil senyum- senyum sendiri.


"Lu liatin siapa sih El...?" tanya Rena yang mukin penasaran dengan arah bola mataku.


"Gak apa-apa kok" jawabku membual


Segera aku bergegas menuju parkiran bersama ke dua temanku.

__ADS_1


Tak terduga saat aku akan mengendarai motor maticku tiba-tiba ban belakangnya kempes.


"Kayaknya bocor El ban kamu..." ucap Vey


"Iya kayaknya" jawabku sambil mengecek kondisi ban motorku.


"Sory ya El aku gak bisa anterin kamu ke bengkel soalnya aku buri- buru"


"Iya gak papa Ren"


Dengan terpaksa aku mendorong motor maticku sendiri.


"Kasian ni cewek...'' goda seorang kakak kelas yang terkenal playboy itu.


Aku tak menangapinya dan beusaha menahan malu tentunya


Bengkel masih sedikut jauh dan tentunya saat ini semua siswa sedang berhamburan keluar sekolah dan tentu aku menjadi tontonan dari semua pasang mata.


"Sini aku bantuin" ucap Kak Rean sembari merebut alih motorku.


"Eum.. Tapi kak" ucapku berusaha menolak bantuanya.


''Udah gak papa" jawabnya dengan terus mendorong motor.


Aku bisa dibilang malu tapi aku juga bersyukur akhirnya ada yang membantuku walaupun rasanya tak enak hati.


Setelah sampai bengkel dekat perempatan Jalan kak Rehan segera memberitahu penambal ban tersebut.


"Kamu tunggu dulu ya aku mau ambil motor aku di Sekolah"


"Iya"


"Sebentar ya neng nunggu sepeda yang ini kelar dulu" ucap penambal ban berkaos lusuh itu.


"Iya pak" jawabku dengan sopan.


Dari kejahuan tampak Julian sedang mengendarai sepedanya mukin akan berhenti disisini tapi tak berapa lama kak Rehan juga ada di belakang Julian.


Dia turun dan......


"Lo telat ...." Ucap kak Rehan mendahului Julian dengan menyeringai puas serta tangan yang diilangkan berasa dia sudah pemenangnya.


"Oh,,, dan lo nerima.....!!!!" ucap Julian dengan kasar ke arahku dan dengan bola mata diputar.


"Ini gak seperti yang kamu pikirkan Jul"


"Jul...." ucapku berusaha mengejarnya


"Oh,, oke kalau ini mau kamu...!!!" ucapnya sambil kembali menaiki motor merah itu tanpa mempedulikan teriakanku.


Tak terasa air mataku jatuh entahlah dari mana datangnya sakit ini.


"Gak papa kan El kamu .."


"Gak kak mending kakak balik dulu aja nanti aku bisa sediri dan makasih kak" ucapku sedikit datar mengingat kondisi hatiku yang sedang tak baik.


"Gak papa kok lagian kan hari ini juga masih siang"


Aku tak bisa menolak ucapan kak Rehan tapi pikiranku sekarang sedang ke Julian dia pasti sangat marah terhadapku.

__ADS_1


Setelah kurang lebih setengah jam akhirnya motorku kelar belum sempat aku mengeluarkan lembaran dari sakuku kak Rehan udah membayarnya terlebih dahulu.


"Gak usah kak"


"Udah gak papa"


Setelah itu kita melanjutkan perjalanan pulang dan kak Rehan membuntutiku di belakang.


"El aku duluan ya...." ucapnya sedikit berteriak mendahuluiku karena belokan depan arah ke rumahnya.


"Syukurlah jadi tak terlalu jagung aku" umpatku dalam hati dengan lega.


"Iya kak makasih ya...."


...


Aku terus berusaha menelpon Julian namun dia tak juga meresponya.


''Plis Jull angkat....''' umaptku terus dalam hati.


Dreeet betapa bahagianya aku saat tau dia menelponku.


"Mukin dia.."ucapku dengan riang.


"Hallo sayang..." ucapku penuh semangat.


"Cowok kamu kecelakaan..." jawab seseorang dari seberang telephon yang terdengar asing di telingaku.


"Apaaaaaa....!!!!!" Ucapku dengan keras


Aku terdiam mulutku kaku dan air mata ku tiba-tiba menetes tanpa aku suruh.


"Juliannnnn.....!!!" Teriaku dengan keras


''Sekarang dimana dia..." tambahku dengan keras dan air mata yang terus mengalir.


"Dia sudah di bawa Ambulan ke rumah sakit kota"


Segera aku tutup telephon aku tak ingin mendengar apapun dan aku menangis sejadi-jadinya aku merasa bersalah karena jika tadi dia tak marah mukin saja hal ini bisa terhindari.


"Maafin aku Jul..." ucapku penuh penyesalan.


Aku kalang kabut pikiranku kacau serta syok aku mencoba merilekskan diri, aku basuh wajahku dengan air tapi air mata ini juga tak ingin berhenti rasanya.


''Oh oke aku harus tenang, dia pasti baik-baik saja'' ucapku agar aku tenang.


Dan aku berusaha berfikir positif.


Aku kembali mengecek ponselku dan aku akan memesan taksi online untuk mengantarkan diamana tempat Julian di rawat.


Setelah taksi datang aku segera naik dan mulai melaju menuju Rumah Sakit.


Dalam perjalan aku hanya diam aku tak mempedulikan pakaianku yang masih rapi dengan seragam sekolah hari ini sesekali aku mengusapbuliran bening ini agar tak terlihat oleh supir taksi.


Kurang lebih tiga puluh menit akhirnya aku sampai di Rumah sakit.


Aku segera turun dan menyerahkan uang lembaran lima puluh ribu.


"Makasih pak" ucapku sembari mengulurkan uang lima puluh ribuan.

__ADS_1


__ADS_2