Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 79


__ADS_3

Semenjak pertemuanku dengan Julian kemarin kita belum berjumpa lagi aku rindu tentu namun aku bisa apa selain menanti kehadiranya menemuiku.


Entah kenapa kejadian waktu itu terus mendorong pikiranku untuk terus mengulik tentang keluarganya.


Hari ini hari minggu aku hanys menghabiskanku bermalas-malasan di kamar ya memang waktu terbaik bagi murid adalah hari minggu.


Di luar lagit tampak mendung dan perlahan disusul gerimis datang menjadikan kemalasanku berlipat ganda.


"Eliza sarapan dulu" ucap mamaku dari luar kamar.


"Iya ma" jawabku masih sibuk dengan ponsel pintar ini


"Awas ya kalau sampai jam delapan kamu gak keluar dengan terpaksa mama akan panggil ayah kamu....!!" ucap mamaku dari pintu mengancam.


"Iya ma" aku masih sedikit lega karena waktu masih menunjukan pukul tujuh.


Aku masih terus sibuk nengotak-atik ponselku hingga aku benar benar lupa waktu, rasa penasaranku akan sosok papanya Julian semakin menjadi.


Aku benar-benar mirip hacker sekarang berusaha mengintai akun seseorang.


Saat aku menemukan profil ig seseorang aku benar-benar penasaran karena morip dengan ayahnya Julian, belum sempat aku mengulik lebih jauh pangilan dari luar pintu itu menghentikan langkahku.


"Eliza.....?" ucap mama keras dari luar pintu.


"Iya ma..." jawabku dengan segera aku bangun dari tempat tidurku dan segera membuka pintu.


"Kamu ini jadi gadis males banget sih buruan sarapan habis itu cuci sepatu kamu..." perintah mamaku dengan super bawel.


"Dasar si mama" umpatku dalam hati.


"Kan hujan ma gak kering nanti..." jawabku mamyun sambil mencari-cari alasan.


"Gak usah banyak alasan buruan sarapan tu udah ditunguin ayah..."


"Iya mamKu yang bawel..."


"Anak gadis manja banget"


"Muah udah diem dong ma ini aku mau otw ke dapur..." ucapku sambil memberikan kecupan manis di pipi mama.


Setelah itu Eliza ke dapur dan menuju meja makan.


"Siang banget bagunya anak kesayangan ayah ..." ucap ayahku yang menjadikan aku mirip seperti putri kerajaan.


"Kan minggu yah jarang lo aku bangun siang kan sekali-kali gak papa..." ucapku sambil dudk di kursi kayu itu.


"Itu ayamnya buat kamu aja biar mama kamu masak lagi...." ucap ayahku sedikit berbisik takut mama kedengaran mukin.


"Sip...." ucap Eliza mengambil dua buah paha ayam besar yang tersisa itu.


"Yah mama Bawel deh sekarang....." ceritaku dengan cemberut.


"Udah biarin aja kan tanggal tua belum ayah kasih jatah tuh..." jawab ayahku dengan suara sedikit pelan dan membuat hatiku bergelitik.


"Ih ayah ini bercanda aja...." ucapku dengan geli mendengar ucapan ayahku.


"Udah cepetan dimakan keburu dateng..."


"Ah ayah ini, ngomong-ngomong ayah kenal gak sih sama papnya Julian...?" mulut ini dengan bodoh nya menyerocos bagai kran yang bocor.


"Siapa....??" tanya ayahku dengan alis dinaikan.


"Itu anak yang waktu itu pernah kesini mahrib-marhib...." jawabku langsung tanpa berpikir panjang.


"Oh Julian itu ya, gak kenal lah siapa emang nama bapaknya..?" Ayahku semakin menjadi penasaran tentunya.


"Gak tau aku juga yah..." jawabku dengan kebodohan yang hakiki.


"Emang dia mau ngelamar kamu, tumben kamu cerita kaya gini ke ayah...." ucap ayahku dengan nada mengodaku.


"Ya gak lah yah kepo aja aku ...." jawabku tanpa mau bercerita lagi.


Setelah selesai makan Eliza langsung menunuju tempat mencuci baju Ia mulai mengambil sepatu dan mencucinya dengan kemalasan yang sekarang sedang bersender di punggungnya.


Setelah itu dia menjemur dan langsung kembali ke kamarnya lagi


"Mau tidur lagi kamu El..." tanya mamaku yang sedang sibuk merapikan buku di laci dekat tekevisi itu


"Ada tugas ma banyak..." jawabku berbohong tentunya.


"Alasan aja kamu ini...." tambah mamaku lagi


Aku hanya menertawai ucapan mamaku sambil berkomat-kamit


"Dasar emak-emak..." ucapku sedikit pelan


....


"El pulang sekolah nanti gue jemput" ucap Julian singkat dari layar ponselku.


Eliza berasa seperti mendapatkan durian runtuh dia benar-benar sedang bahagia sekarang.


"Jul lo serius...??" pikiran gilanya mulai merambah dengan gesit jarinya mulai menari ria di layar ponsel itu dia jelas tak akan menolak ajakan lelaki tampan itu.


"Lo ngapain senyum-senyum kaya gitu El...??" celoteh syena yang sedang duduk di sebelahku.


"Kepo deh" jawabku sambil memajukan bibirku.


"El bagi dong kalo dapet cogan..." ucapnya lagi dengan mata berkedip dua kali.


"Eh emang kue apa bisa di bagi-bagi" jelasnya sambil berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Liat aja El bakal gue embat cowok lo..." ucap Syena cewek berbadan seksi itu.


"Silahkan..." ucap Eliza sembari menjulurkan lidah dan berlalu pergi meninggalkan Syena.


Dia saat ini sedang di kamar mandi sekolah sudah tentu Dia sedang memgoleskan bibirnya dengan lipstik yang dia beli beberapa hari lalu itu.


Saat pulang sekolah tiba


"Gue duluan ya...." ucapku mendahului mereka.


"Okee.." jawab mereka berdua.


Benar saja di parkiran sudah ada Julian dan dengan mudahnya senyuman Eliza mengembang bak roti yang baru saja selesai di panggang.


Dengan malu-malu Eliza berusaha mendekati Julian


"Nunggu lama ya...??" tanyaku basa basi


"Gak mana kuncinya...?" dia sudah terlihat santai dan menanyakan kunci yang masih berada dalam sakuku.


"Oh iya jadi lupa kan..." ucapku menjadi salah tingkah.


"Ini Jul..." ucapku sambil mengulurkan kunci bergantung boneka doraemon itu.


"Yaudah kamu tunggu di gerbang aja..." perintahnya dengan halus dan membuat senyumanku meleleh.


"Iya" jawabku malu-malu


Oh Tuhan kenapa jatung ini terus berdeguup kencang sekecag angin topan


"Naik..."


"Iya Jul" segera aku naik dan aku sekarang seperti sedang di bawa awan untuk berkeliling indahnya angkasa, anginpun mukin iri denganku.


Perlahan hindungku mulai jail bau rambut Julian memang saat ini benar-benar melumpuhkan otakku hingga aku tak bisa berpikir jernih layaknya orang normal


"Jul kita mau kemana...??" dengan nakalnya bibir ini berucap tanpa bisa di rem.


"Gue mau ajak lo kesuatu tempat..." ucapnya dengan suara khasnya.


"Serius Jul...?. Tanyaku memastikan.


Saat sampai aku semakin menjadi bingung ini tempat dimana Julian di keroyok preman waktu itu.


"Mau ngapain Jul....??" tanyaku terheran-heran.


"Udah turun dulu gih..." perintahnya sembari menghentikan motor.


"Bang beli dua ya satu rasa cofe satu moccachino" ucap Julian kepada pedagang pop ice yang berada di sisi kanan jalan itu.


"Lo dulu mau beli ini kan tapi gara-gara lo ngejar gue jadi gak beli..." tanyanya dengan memainkan bola matanya.


Aku hanya menangapi dengan senyum


"Ini mas" pedagang utu mengulurkan dua buah palstik cup kepada Julian


"Makasih ya..."


"Ini buat kamu kita duduk di pos situ yuk....." perintahanya dengan sendirinya kaki ini mulai melangkah.


Hatiku semakin terheran-heran dengan tingkah Julian sekarang.


"Setelah itu kita duduk"


"Lo lipstikan...??" tanyanya heran ke arahku


"Gak kok..."


"Menor tau..." ucapnya rengan nada menngejek.


"Sial" batinku dalam hati


"Gak sumpah" jawabku bohong


"Eh seriusan lo nih keliatan bibir lo sedikit merah" ucapnya sambil berusaha menatap bibirku lagi


Julian benar-benar bikin aku malu saat ini


"Udah gak usah malu lain kali gak usah pakai lipstik"


"Iya" jawabku malu-malu kucing.


"Jul lo mau ngapain sih...?"


"Gue pengen kita balikan seperti dulu ..."


"Serius...??"


"Iya" jawabnya dengan serius dan ketampananya berlipat ganda.


"Elizaaaaa... Bangun bego ini guru udah datang lo udah kelamaan tidur...!!" ucap Rena yang perlahan membuatku terbangun dari mimpi indahku.


sebab sedari jam pertama tadi jam kosong dengan mudahnya mata ini terlelap.


"Hah...??" mataku terbuka lebar-lebar aku baru menyadari aku hanya mimpi.


"Lo habis mimpi serem ya...??" tanya Rena dengan alis dinaikan.


"Gak kok..." jawabku dengan lesu dan sedikit panik.


"Gue kelaman tidur ya...??" tanyaku sambil memastikan justru aku saat ini sedang mimpi

__ADS_1


"Iya hampir sejam lo tidur lo gak tau kan ada tugas dari bu Indah..." jelas Vey sedikit berbisik ke arahku.


"Biarin deh ntar gue kerjain di rumah..." jawabku dengan enteng.


"Mentang-mentang lo pinter aja...."


Saat jam istirahat tiba


"El lo kok cemberut terus sih kenapa...?" tanya Rena menoel pipiku yang mulai cubi.


"Gak ada apa-apa kok..." jawabku lesu.


"Yaudah kita mau ke kantin dulu ya..."


"Iya" jawabku datar.


Dia kembali menidurkan kepalanya di meja dia sedang galau sekarang karena kejadiaan tadi hanyalah mimpi khayalan.


Perlahan pandangan matanya teralihkan ke arah luar ruang kelasnya, dia melihat Julian berjalan menuju kelasnya jatungnya justru berdegup semakin kencang melebihi angin topan tadi dalam mimpinya.


Aku seketika mencubit pipiku lagi barang kali aku bermimpi lagi


Aku memasang raut wajah ceria sebisa mukin berharap mimpiku menjadi nyata.


"Permisi mau ambil buku milik bu Siska" ucapnya dengan sopan.


''Iya" jawab beberapa temanku yang duduk dibangku depan


Yah dia hanya mengambil buku rupanya umpatku dlam hati dengan sangat kecewa


Namun betapa terkejutnya hatiku saat dia menghampiriku


"Kamu gak ke kantin....??" tanyanya dengan so sweet.


Mataku tak berkedip dan otakku kelu seketika.


"Gak" jawabku sambil berpura-pura membuka buku.


"Ini tadi aku beli roti sobek, belum aku makan buat kamu aja gih kamu belum sarapan kan....??"


"Jul plis deh tolong jangan buat hatiku cenat-cenut" ucapku dalam hati.


"Lo kenapa sih...." tanya Julian keheranan.


"Gak papa...." jawabku masih dengan mata tak berkedip menatapnya.


"Makasih ya kok gak kamu makan aja sih Jul..." ucapku lagi basa basi padahal dalam hatiku jelas aku tak rela bila roti ini diambil lagi.


"Udah tadi kan beli dua''


Aku hanya terdiam.


"Yaudah mau ada tugas mendadak nih duluan ya...." ucapnya dengan pergi berjalan keluar pintu.


"Iya"


Mana mukin roti pemberian dia akan aku makan.


"Lo aneh deh tadi lo manyun sekarang senyum girang lo sakit ya El....??" ucap Vey sambil menempelkan tangan ke dahiku.


"Gue masih waras kali bagi dong jawaban fisika Vey gue lupa ngerjain nih..."


....


Waktu pulang tiba Eliza keluar dari kelas dia berharap bisa bertemu Julian lagi pangeran yang sekarang bertahta dengan manis di hatinya.


"El tunguin napa sih ..." teriak Rena yang mulai mengejarku.


"Iya buruan lah....!!" jawabku dengan jengkel karena aku gak mau ketinggalan momen bertemu Julian.


"Mau kemana sih buru-buru aja..."


"kepo...."


Aku masih melamun di jalan menuju parkiran, aku benar- benar terus terngiang-ngiang akan mimpiku tadi berharap menjadi nyata.


"Keluarin duluan tu motor kamu Vey motor aku masih di dalem solanya" perintahku ke dia dengan berkacak pinggang.


"Iya tunggu lah tu kakak kelas masih ngeluarin juga...." jawabnya dengan cuek.


Saat sedang mengantri mengambil motor aku kembali melihat Julian yang sudah nampak berbeda dari sebelumnya.


Wajahnya mulai ceria sedikit demi sedikit dan ketampanya mulai muncul kembali


"Wot giliran lo tu El ngelamun aja... " ucap Vey yang menggangu kebahagianku saja.


"Iya-iya"


"Sini biar aku yang keluarin aja...." Julian datang dan langsung mengambilkan motor miliku.


Memang ya mimpi indah bisa aja nyata batinku menatap Julian yang sekaramg sedang mengambilkan motor miliku.


"Makasih ya Jul" ucapku dengan senyum.


"Iya sama-sama lagian motor aku di belakang motor kamu sekalian aja" jawabnya dengan menunjukan bibir yang mengodaku itu


"Oh serius iya ya..." jawabku terlihat bodoh.


Kadang memang benar cinta membuat kita lebih bodoh daripada kerbau.


Dalam perjalan pulang hati serta otak ini tak henti-hentinya sedang menghibahi Julian .

__ADS_1


Aku hanya senyum-senyum sendiri bak orang sedang kasmaran.


__ADS_2