
Pulang sekolah ini badanku terasa letih segera saat berjalan keluar kelas dengan sedikit mempercepat langkah kaki ini.
"Put ntar jalan yuk..." ucap Feri yang tiba tiba mengejutkanku dari belakang.
"Boleh" ucapku sedikit terpaksa dengan senyum yang srdikit kutunjukan walaupun sebenarnya aku ingin menolak ajaknya.
"Oh iya kamu bawa motor gak...??" ucapnya menanyaiku sambil berjalan mengekor di belakangku.
"Bawa kok..." jawabku sambil terus berjalan.
"Yaudah hati-hati ya Put ntar aku jemput" ucapnya sambil berusaha mengandeng tangganku.
"Oke" jawabku sambil sedikit menarik tangan dan berpura-pura mengusap leherku yang sebenarnya tak terasa gatal.
Sebenarnya aku tak ingin pergi denganya menatap dirinyapun sekarang membuatku sedikit ragu namun aku sangatlah jahat bila aku melakukan itu.
"Yaudah Put gue balik dulu ya soalnya masih ada urusan" ucapnya yang membuatku sedikit lega.
"Syukurlah" ucapku dalam hati sambil terus berjalan kembali.
"Putri..." ucap seseorang yang terdengar berjalan di belakangku dan aku kira itu Feri aku berusaha mengacuhkanya.
"Put...." ucapnya lagi yang membuatku membalikan badan karena merasa jengkel.
Set setengah mati aku terkejut ternyata dia Julian.
"Ada apa Jul" ucapku sedikit malu
"Mau nanya aja sih sore nanti ada waktu gak" ucapnya sambil mensejajarkan langkah kakinya denganku.
"Gak ada kok" jawabku sedikit berbohong
"Oh kalo aku ajak jalan sebentar gak apa kan...?" ucapnya sedikit pelan.
"Tentu" ucapku sedikit girang
"Tapi serius lo put kamu gak lagi ada jalan sama Feri kan.....?" ucapnya lagi memastikan.
"Tau deh" jawabku sedikit terdengar bodoh.
"Soalnya denger-denger tadi kalo Feri mau ajak jalan kamu.....???" tanya Julian sedikit menyelidiki.
"Oh ya Jul aku duluan ya...." tanpa menjawab pertanyaanya aku berjalan cepat sembari menyembunyikan rona wajahku yang tiba-tiba menjadi merah.
"Put kalo gak bisa kabaainrin ya..." ucapnya yang masih terdengar di telingaku.
"Iya" jawabku sambil terus berjalan cepat menuju parkiran.
Kenapa sih saat ada Julian suasana hatiku menjadi tak seperti biasanya.
Layaknya seperti bunga yang selalu mekar ketika didekati kumbang.
"Oh Jul... jangan buat diriku terus menderita" ucapku berulang di sepanjang perjalan dan aku terus membayangkan apa yang akan terjadi nanti dan aku terus bertanya-tanya dalam hatiku menyakan pertanyaan konyol tetang isi hati Julian terhadapku.
Ketika sampai di rumah segera aku menuju kamar tak lupa ku ucapkan salam sebelum masuk rasanya aku ingin bertemu dengan teman ternyamanku yaitu kasur.
Aku terus menguap di sepanjang perjalan menuju kamar.
Dan ketika sampai di ranjang, aku langsung menghempaskan tubuhku dengan keras.
"Huam.." aku kembali menguap lagi segera aku berbaring dan tidur aku pejamkan mataku dengan perlahan .
Tik.... satu detik
Tik.... dua detik
Dan seterusnya.
__ADS_1
Tok..
Tokk...
Tokkkk...
"Put..." Ucap suara yang terdengar Familiar di telingaku.
"Iya...." ucapku sambil membuka pintu kamar sembari berjalan gontai menuju arah pintu.
Ku lihat dia dengan mata sedikit ku usap berkali-kali dan ternyata dia benar Julian yang datang masih memakai seragam sekolah yang terlihat maskulin dan dengan bau parfume yang biasa ia kenakan, aku serasa seperti terhipnotis oleh ciptaan Tuhan yang satu ini apa boleh aku meminta aku hanya ingin memiliki dia.
"Kok kamu malah ngelamun sih...?" ucapnya dengan terus menatapku.
"Gue boleh masuk kan put" ucapnya langsung melangkah masuk dan membuatku sedikit terhenyak.
"Boleh" jawabku mempersilahkan masuk tanpa menghiraukan salah atau benar yang aku lakukan.
Dak dig dug mukin itu suara jantungku saat ini sesosok lelaki yang aku dambakan kini hadir nyata di depanku.
"Ada apa....???" tanya ku dengan menatap dalam arah matanya.
"Gue gue..." ucapnya tersendat ketika bibir manisnya mendarat lembut di pipiku.
Cup***
Deru nafas ini berteriak minta di turuti keinginan sesat yang saat ini terus memuncak hebat.
"Gue suka sama lo Put...."
"Begitupun aku Jul"
Gue tertawa puas begitupun Julian
Kita terdiam sejenak mencerna semua kejadian sesat ini.
"Putri mendekatlah" ucapnya dengan mengoda aku yang memang wanita normal nafsuku pun keluar.
Aku terus terpedaya oleh ciuman ini tak aku hiraukan keadaan sekelilingku.
Dia mengodaku dengan buas tak lupa semua baju yang kupakai dia lepaskan begitupun dia yang sama denganku sekarang.
"Oh Jul... Ini kelewatan...!!!" ucapku dengan pelan.
"Ini memuaskan put asal bisa bersamamu semua membahagiakan" jawabnya sambil terus nelakukan hal yang tak semestinya.
Kedua sejoli tersebut terus memadu kasih namun belum sampai ketitik yang terlarang.
"Putri..."
"Putri..."
"Putri ...."
Ucap Julian yang tiba tiba menghilang dari pandangan mataku.
"Julian" ucapku keras dan tak terasa keringat dingin sedari tadi membanjiri tubuhku.
Aku menangis ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi aku takut jika hal ini sunguhan.
Dan ternyata yang memangil aku sedarai tadi hanyalah mama.
"Iya ma sebenatar" ucapku sambil berusaha terlihat baik baik saja.
"Kamu ini kebiasaan ya habis pulang sekolah langsung tidur sampai sore hari gini"
"Habis mandi kamu....??" tanya mama dengan terus melihat wajahku yang basah seperti orang habis mandi.
__ADS_1
"Iya ma aku tadi tidur terus mandi" jawabku sedikit kikuk.
"pantes keringet kamu banyak" tambah mamaku.
"Aku mau ganti baju dulu ya ma" ucapku mencari alsan agar mama keluar dari kamarku.
"Eh kamu ini cepat makan udah di tunggu sama ayah tu" perintah mamaku lagi sedikit marah.
"Iya ma Putri segera ke bawah kok" jawabku sambil senyum terpaksa.
"Yaudah buruan" tambah mamaku lagi dan segera berjalan keluar dari kamarku.
Segera aku menutup pintu
Aku memukul tubuhku dengan bodoh kejadian tadi seperta nyata dan tak terlihat halusinasi sedikitpun saat dia datang saat dia mendekat dan menciumku itu benar-benar nyata.
Aku sentuh bibirku dan tubuhku.
Aku jadi terus mengingat dia dia dan dia sampai rasanya hari ini juga aku ingin bertemu dengan dia.
"Aku rindu Jul.." ucapku sedikit pelan dan terdengar bodoh.
Tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan detak jantungku berdegup kencang layaknya sehabis lari di kejar anjing.
Hufddd....
Hatiku saling beradu yang satu berkata kenapa hanya mimpi tidak menjadi kenyataan, namun yang satunya lagi kenapa aku memimpikan hal yang tak seharusnya.
Aku terus bergelut dengan pikiranku yang kalut sampai rak terasa ponselku berdering sedari tadi segera aku mengambilnya.
Dan aku lupa kalo sore ini aku ada janji sama Julian.
"Kenapa kejadian ini bisa terjadi secara bersamaan ya Tuhan??" ucapku mengrutuki diriku sendiri.
Aku lihat wajahaku di pantulan cermin sedikit memerah saat aku mengingat sebuah nama Julian.
Aku segera membalas beberapa pesan darinya dan aku berusaha mencari alasan saat ini aku sedang ada kencan dengan pacarku agar dia sedikit memahami.
Segera aku mandi dan ku lihat jam diding berwarna putih tulang itu sudah menunjukan pukul lima sore.
Aku sedikit mempercepat rutinitas mandiku dan segera berganti baju.
"Hufd ada-ada saja Julian" ucapku sedikit tersenyum berharap dia memujiku saat bertemu nanti karena aku berpenampilan yang tak seperti biasanya.
Aku segera ke meja makan yang di sana udah ada ayahku yang sudah duduk dan menantiku untuk makan bersama.
"Mau kemana Put rapi amat???" tanya ayahku yang terlihat heran.
"Mau keluar bentar yah" jawabku sambil menarik kursi.
"Sama siapa.......????" tanya ayahku kembali sambil mengambil kuah sayaur yang masih terlihat panas.
"Temen lah" jawabku sedikit tersenyum tipis.
"Anak jaman sekarang ya pah udah mulai berani maia cinta-cintaan" tambah mamaku terlihat mengodaku.
"Apa sih ma yah aku kan mau bahas soal pensi ma" jawabku berbohong.
"Iya-iya udah tu di makan lagian dipangil dari tadi lama banget keburu dingin kuahnya" seka mamaku agar aku tak berdebat dengan ayah.
"Sip ma" jawabku sambil mengacungkan jempol.
Ting tung.....
Suara bel berbunyi.
"Sayang ada tamu tolong bukain pintu ya...!!" ucap mamaku memerintah.
__ADS_1
Betapa terkejutnya saat aku membuka pintu.
kamu ...... ????