Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 75


__ADS_3

"Lo ngerokok...?" tanya Roy dengan mata terkejut.


"Kenapa,  lo gak kenal kan makanya kali- kali lo keluar biar gak cupu..." ucap Julian sembari menyalakan korek api.


"Ini masih mending gue juga mabuk lho..." ucap Julian lagi sambil tertawa namun tertawa yang terdengar memilukan.


Roy tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu dia mrngelengkan kepanya berkali-kali.


"Heeem,  oke Jul gue udah lama kenal lo tapi baru kali ini gue gak tau apa masalah yang sedang lo hadapi dan lo bukan Julian yang gue kenal dulu..." ucap Roy dengan nada pasrah karena Julian tipe orang kepala batu.


"Bluuuh.... hidup tu kadang gak adil Roy" ucap Julian sambil mengeluarkan asap dari bibirnya yang terlihat dia begitu menikmati.


"Kenapa...??" tanta Roy dengan mengangkat alis.


"Ya karena gue gak tau jawaban dari pertanyaan gue sendiri..." jawab sambil menepuk bagu Roy.


"Hey lo kok habis ngilang perasaan jadi aneh demam lo..." ucap Roy sambil menempelkan telapak tangganya ke dahi Julian.


"Apa-apaan sih gue sehat kok tapi otak gue yang sakit...." jawab Julian menghempaskan tangan Roy.


"Gak ngerti gue Jul ama omongan lo, lo kayaknya habis nginep di rumah Roma Irama kali ya lo jadi puitis gini" ucap Roy sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal.


Dalan hatinya Roy pengen menertawai tingkah aneh sahabatnya itu.


Uhuukk Julian tersedak dengan asap hitam itu.


"Bajingan lo Roy..." ucap Julian dengan kasar.


"Udah deh Jul mending lo buang tu barang sampah, kalo gak duitnya mending buat kita nongkrong" tambahnya lagi berusaha memperingati Julian.


"Apa-apaann lo ganggu kebahagiaan gue aja" masih dengan sifat keras kepalanya Julian tak mengubris omongan temanya.


"Mending masuk ke kelas deh gak enak ama awan ngetawain lo tu" ucap Roy seraya melangkah pergi meningalkan Julian sendiri.


Dia membuang sisa rokok yang belum habis separuhnya itu ke tanah.


Dia frustasi, Dia cerna kembali ucapan dari Roy tadi dia merasa dia tak layakhalnya orang tak berguna.


...


Hari ini hari kamis tepat aku akan praktek biologi di Lab dan kebetulan sama jadwalnya dengan kelas Julian.


Kita mulai berjalan keluar kelas menuju Lab biologi yang berada di lantai dua,  begitupun kelas Julian.


Perasaaan campur aduk kini menghampiriku dan keringat dingin sudah sedaritadi membanjiriku.


"Duh kenapa harusa barengan sih..." ucapku berkali-kali dalam hati.


Dan dengan nakalnya mata ini ingin menengok wajahnya yang biasa menjadi peneduh hati itu.


Dan sialnya mata kita bertemu


Dammmm.....)


Dengan segera dia mengalihkan matanya ke arah lain.


Oh Tuhan kenapa langkah ini terasa berat.satu kosong rupanya.


Saat sampai di Lab kebetulan ada dua baris, baris kanan di isi oleh kelasku dan baris dua di isi oleh kelas Julian.


Aku perlambat jalanku agar aku mendapat tempat duduk paling belakang.


"Selamat pagi anak-anak" ucap Bu Tika dengan ramah menyapa para siswa.

__ADS_1


"Pagi Buuuu" jawab serentak oleh para siswa.


"Hari ini kita akan belajar anatomi anak-anak...." ucap Bu Tika dengan tegas.


Mataku mulai tak fokus penyebabnya sudah tentu lelaki yang duduk di baris tengah yang mulai menyederkan kepala di meja itu.


Bu Tika mulai menjelaskan tentang bagan dalam kerangka tubuh manusia dan organ- organ dalam tubuh ya memang ku akui bu Tika guru paling favorit kalo soal biologi karena cara mengajarnya yang humbel juga ringkasan materi yang dibawakan ringan.


Pikiranku kembali tak bisa fokus yang ada di otakku hanya Julian begitu sebalnya aku saat dia dan putri jalan bersamaan seolah-olah dia memang kekasihnya dia banyak ngobrol dengan Julian walau Julian tak menangapinya dia memang cantik aku akui  dan prestasinya lumayan bagus.


Satu persatu siswa di beri tugas untuk memasang potongan organ ke manekin yang tertera di depan itu dan juga menjelaskan nama serta fungsinya.


"Eliza bisa fokus itu yang kamu pegang bukan alat peraga..." ucap Bu Tika saat mendapatiku memegang tanaman.


"Maaf bu..." jawabku dengan malu.


"Huuu..." seru semua siswa


Aku harus menerima malu, Julian melihatku dan dia sedikit tersenyum penuh ejekan dan dua kosong ternyata.


"Dasar Julian Dokta" batinku dalam hati


"Dan untuk tugas minggu depan kalian akan di bagi menjadi beberapa kelompok diskusi dan untuk hari ini cukup sekian" ucap Bu Tika kepada anak-anak sembari membereskan buku absensi.


Aku mulai lega serasa bebanku berkurang satu persen.


"Lo gak ke kantin El...?"  ajak Vey dan Rena.


"Gak deh, masih kenyang soalnya tadi udah sarapan banyak" jawabku menolak ajakan mereka bisa dibilang aku tak ingin ketemu Julian lagi karena kalau ke kantin pasti melewati kelas Dia.


"O yaudah kita duluan ya"


"Oke..." jawabku sambil jalan menuju kelas.


Jul...


"Kenapa sih Jul lo tu pinter banget bikin hati aku sakit bikin hidup aku beda serasa senjapun juga berkata, bahwa kamu tak lagi sama serasa duniaku hampa tanpamu sekarang semua kenangan kita hanya berlalu bagai ombak di laut.


Aku terus membayakan wajah lucunya dulu yang membuat setiap senyumanku ini lebih berarti.


Sesaat mereka datang.


"Cieee ngelamun..." celoten Rena yang mendapatiku sedang melamun sambil mekambaikan tangan ke arah wajahku.


"Apa sih Ren" jawabku kesal karena mereka memang penggangu.


"Lagi mikirin siapa sih...?" tanya Vey penasaran.


''Gak ada" jawabku malu malu kucing.


"Tadi ada yang nitip salam lho" celoteh Rena dengan jaim.


"Em buat siapa...?" tanyaku sedikit malu dan penasaran tentunya.


"Ya kamu lah" jawabnya sembari mencoel pipiku.


"Serius...!!"ucapku bersemangat aku berharap itu Julian.


"Siapa...?" tanyaku lagi semakin penasaran.


"Kak Rehan" jawab mereka serentak dan raut wahahku yang semula bagai bidadari yang berseri-seri kini berubah menjadi manyun kagi


"Oh biasa dia hanya iseng kok" aku menghembuskan nafasku dengan kesal dan ternyata kak Rehan lagi.

__ADS_1


"Beuh kalo iseng kok serius ya tadi bilangnya" goda mereka lagi berusaha mengangkat bibirku yang manyun.


"Apa sih udah deh mending lo pada makan jajan kalian, gue mau ke toilet"


Aku hanya mencari alasan dan agar terhindar dari godaan mereka pikiranku satat ini terpenuhi Julian dan kak Rehan aku ingin membasuh wajaku sekarang agar pikiran itu sedikit menghilang.


"Hati-hati lo banyak cowok.." ucap Rena memperingatiku dengan centil dengan sedikit menaikan suaranya yang mekengking.


Ya benar saja saat sampai toilet banyak anak cowok sedang nongkrong karena toiletnya berada di belakang gedung Sekolah menjadikan tempat favorit untuk coeok-cowok nongkrong, entahlah. Apa hebatnya toilet dengan ruang kelas mukin sudah menjadi momok bagi sebagian kalangan siswa.


"El..." ucap seseorang dari belakang.


"Kak Rehan...?"


Lagi-lagi dia selalu hadir di kehidupanku aku tak membenci maklhukmu ini ya Tuhan namun hatiku hanya ingin bebas darinya.


"Jangan di toilet situ soalnya penuh" ucapnya sambil menarik tangganku keluar dari jalan menuju kamar mandi.


''Oh" tubuhnya seperti maghnet hanya sekali tarikan dengan mudah tubuh ini mengikut olehnya.


"El..." ucapnya sambil menatap mataku dalam-dalam.


"Apa....?" tanyaku dengan nada biasa saja.


"Nanti pulangnya barengan aja ya kebetulan aku tadi gak bawa motor" ucapnya yang membuat seluruh otakku terasa kembali penuh karena pikiranku baru berkurang karena Julian tadi dan sekarang ketamabah kak Rehan lagi.


"Yaudah aku ke kelas dulu ya" pamitnya ke arahku sambil membalikan badan.


"Iya"


"Hati-hati, jangan lupa nanti" ucapnya mengingatkanku lagi.


"Iya"


Aku segera masuk ke toilet belum sempat aku membasuh wajahku bel masuk berbunyi.


Dengan buru-buru aku berjalan menuju kelas


Bruk.... tanpa aku sadari aku nenyeggol bahu seseorang dan membuat orang itu hatuh tersungkur ke lantai.


"Maaf ya" ucapku sambil berusaha berdiri dan melihat orang yang aku tabrak tadi.


"Iya" jawabnya dengan datar.


Dan ternyata putri yang sedang membawa buku paket Bu Tika memang bebar dia gadis pibtar buktinya saja Bu Tika menyuruh dia membawa buju paket serta peralatan mengajarnya.


"Sory soalnya buru-buru" jawabku dengan raut wajah panik berusaha membantu dia meraoikan buku serta kertas yang tersebar rapi itu.


"Iya gak papa" jawabnya dengan tersenyum.


Ya Tuhan kenapa hari ini aku sial banget ya batinku dalam hati mengebu-ngebu.


Aku mulai berjalan ke kelas dengan perasaan tak menentu.


Sampai kelas jangan di tanya lagi kedua sahabatku memang seperti paparzi yang selalu kepo denganku meleibihi ibu kandungku sendiri.


Benar saha tampang kekepoan mereka mulai terpancar jelas.


"Gak usah nanya aku gak papa...!!!" ucaoku mendahului mereka sebelum bertanya.


"Yeeee kepedean Dia Vey...." ucap Rena dengan nada mengejek.


Dan di balas dengan suara tertawa mereka.

__ADS_1


__ADS_2