
Keesokan harinya.
Seperti biasa saat jam istirahat lapangan sekolah itu masih sama ramai seperti hari-hari biasanya.
Namun untuk kali ini aku tak punya niat untuk melihat latihan basket seperti biasanya ya bisa di bilang saat ini aku masih cemburu buta sama Putri waktu itu.
"El lo gak keluar lihat latihan basket...??" tanya Rena berusaha mengajaku seperti biasanya.
"Gak ah males gue..." jawabku sambil terus membolak-balik buku kimia ini.
"Kenapa emang....??" tanya Vey berusaha mendekatiku dengan duduk di sebelahku.
"Dari pada aku nonton tapi makan hati lebih baik aku di kelas ngerjain tugas ya gak" ucalku tanpa bertele-tele.
"Widih sok rajin lo El..." ucap Rena sedikit mengejekku.
"Diem lo pada..." ucapku dengan judes.
"Suthh ada yang lagi patah hati kayaknya" teriak Syena sedikit memperlambat suaranya dan membuat gedang telinggaku sedikit terusik.
"Syena lo bisa diem gak..." ucapku sambil menunjukan kepalan tangan.
''Sory Elizaa tapi bener kan..?" ucapnya lagi sambil mengelus-elus rambut lurusnya itu.
"Tau ah" jawabku dengan wajah aku tekuk mirip baju belum di seterika
"Yaudah kita cuci mata dulu yuk Ren biarin Eliza di sini sendiri" ucap Vey seraya menarik tangan Rena dan pergi meninggalkanku.
"Silahkan dikira gue takut" ucapku dengan keras.
"Yaudah duluan ya" mereka pergi dan melambaikan tanggan ke arahku.
Aku masih diam di kelas memang sekarang aku sedang patah hati, melihat latihan sama saja menambah coretan luka di hatiku.
"Permisi..." ucap seseorang dari depan pintu perlahan orang itu masuk.
"El..'' ucapnya setelah itu aku menoleh.
"Oh kak Rehan rupanya" ucapku sambil melihat si empunya suara.
Dia kemudian berjalan duduk di sampingku, jujur kedatanganya justru membuat beban pikiranku menambah.
"Lo kenapa gak ke kantin ....??" tanyanya dengan suara khasnya.
__ADS_1
"Masih keyang kak, kakak sendiri kesini ngapain...??" tanyaku berusaha menanyakan periah kedatanganya kesini karena tak seperti biasanya.
"Gue kangen lo..." jawabnya yang membuat hatiku menertawai tingkahnya.
"Bercanda mulu kakak ini...." jawabku basa-basi.
"Kok lo gak bales chat gue sih sibuk ya...??" tanyanya lagi sembari mebuka buku tulisku yang berada di depanya.
"Iya maaf gak sempet..." jawabku singkat.
Aroma tubuh kak Rehan serasa menghipnotisku dengan aroma laki yang begitu menyengat
Tanpa mereka sadari Julian sudah berada di depan pintu kelas Eliza namun karen melihat ada Rehan di sana menjadikan Julian berhenti "kali ini aku gagal lagi" batinya dalam hati.
....
Jam istirahat.
Sekarang aku kembali berpas-pasan dengan putri dengan keadaan kakinya di balut perban dan jalan terpincang-pincang.
Aku berhenti dan menyilangkan tangan di dada,
"Lain kali jaga hati orang dong jangan main ngembat aja..." ucapku angkuh di depannya dan berusaha menghalangi dia jalan.
"Udah deh gak usah sok gak tau, kenapa lo kemarin pake acara jatuh segala dan dengan murahnya lo nerima bantuan Julian..." jelasku panjang lebar dengan begitu beraninya aku melabrak wanita yang mengusik ketenamgan hatiku saat ini.
"Lo tu ngomongin diri lo sendiri yang rendah hah ngaca El, gue kalo boleh minta juga gak jatuh soal Julian jangan salahin gue dia memang gak seperti lo hatinya baik bantu siapa aja..." jawabnya yang membuat tanganku semakin gatal ingin menutup mulutnya.
"Dasar pincang banyak bacot juga ya lo...." ucapku dengan kasar emosiku sekarang ingin tumpah rasanya.
Eliza mulai menjambak rambut Putri dan keributan itu tak bisa di hindarkan lagi mereka saling jambak-jambakan.
"Dasar lo gila ya El...." ucapnya sambil melotot tajam ke arahku dengan berusaha melepaskan tanganku dari rambutnya.
"Rasain ini" ucapku terus menarik rambutnya karena begitu bencinya aku dengan Putri.
"Eliza lo tu apa-apaan sih..." ucap Putri berusaha menarik rambutnya dari cengkraman Eliza.
"Lepas ....!!" ucap Putri lagi dan perlahan Putri jatuh jarena dia tidak bisa menyeimbangkan badanya lagi akibat cengkraman Elkza begitu kuat.
"Udah stop kalian ini apa-apaan sih..." ucap Julian sambil nembantu Putri berdiri. Julian justru lebih memilih menolong Putri dan itu membuat Eliza semakin marah.
Dengan kasarnya Julian menarik tangan Eliza membawanya pergi.
__ADS_1
"Sakitt Jul lepas lo pikir gak sakit apa...." teriaknya sambil berusaha melepaskan gegaman Julian yang terasa menyiksa itu.
"Lo tu malu-maluin gue gak bikin ribut kaya gitu...!!" ucapnya dengan ketus dan melonggarkan gengamanya.
"Hah lo tega ngomong gitu ke akuĀ ...??" tanyaku dengan raut wajah sangat kecewa.
"Terus sekarang ngapain lo seret aku kesini apa cuma mau ngeluapin amarah kamu sama aku karena Putri aku jambak tadi hah....??" ucapku lagi berusaha mengulik maksud dari semua ini.
Plakk ... Dia menampar wajahku mulutku terasa kaku sekarang.
"Lo bisa gak sih waras sedikit gue tau lo masih sayang sama gue tapi gak gini El justru itu bikin gue gak suka..." ucapnya lebih menyakitkan dari tamparan yang keras ini.
"Maksih Jul..." ucapku sambil memegang pipi yang terasa panas ini namun lebih panas hati aku sekarang
"Sory El gue gak bermaksud..." dia berusaha menyentuh pipiku namun aku menghindar sebisa mukin.
"Gue sekarang sadar kok Jul memang gue yang lebih menjijikan gue pantes kok nerima tamparan ini...." jawabku dengan berlinangan air mata aku berusaha pergi karena hatiku sudah tak kuat merasakan sakit saat ini.
"Eliza tunggu...!!" dia berusaha mengejarku namun tak aku hiraukan.
"Gue gak maksud gitu El gue cuma gak mau kamu bikin malu diri kamu sendiri..." ucapnya yang masih terdengar jelas di telingaku.
"Gak papa gue Jul makasih ...." ucapku lagi dengan menghentikan langkah kaki ini.
Lalu aku tersenyum dengan senyuman menyakitkan ini.
Aku mulai menyeka air mataku yang mulai jatuh
Oh memang ya cinta kadang membuat kita gila membuat kita buta dan membuat otak kita lumpuh.
Saat ini aku sedang bersandar di punggung kedua shabatku.
"Lo kan udah gue bilangin El lo tu jangan ngelampiasin amarah lo lewat Putri justru itu bikin Julian jadi gak suka sama lo" ucap Rena berusaha menghiburku.
"Iya kalian bener tapi hati gue gak bisa Ren hati gue udah terlanjur sayang sama dia" jawabku dengan air mata yang terus mengalir.
"El lo mulai sekarang harus latih diri lo buat bisa nerima kalo Julian tu memang udah bukan milik lo lagi lo harus tau itu" tambah Vey lagi berusaha menyadarkanku bahwa cinta tak mesti kita miliki.
"Iya gue tau tapi sakit bangeet Vey" jawabku masih dengan rasa sakit yang tak kunjung mereda ini.
"Sini biar aku peluk " mereka menawarkan pelukan hangat.
"Jujur aku capek Ren Vey sama Julian terus dan dia gak bisa jadi seperti semula...." aku menangis sesegukan di pelukan mereka.
__ADS_1
"Udah deh gak papa kamu luapin semua kesedihan kamu ke kita" ucap mereka sedikit menyejukkanku.