Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 36 : Hari Yang Buruk


__ADS_3

Baru kali ini aku meneteskan air mata semenjak putusnya aku dengan Rehan tahun lalu, aku kembali mengingat kejadian tadi saat Rehan benar-benar berucap kasar serta mengataiku dengan kata-kata kasar dan ucapan yang terasa menusuk hati.


"Adaikan Han hati ini tidak bodoh bertatap dengan mu akupun tak sudi


Berbicara dengan kamu pun rasanya tak ada niat


Tapi sekali lagi hati aku yang memperdayaku serta membudakiku yang membuatku semakin tersiksa".


Prakkk...!!!


Aku menapar pipiku keras


"Aku mohon sadarlah" umpatku kesal.


Hatiku serasa diiris tipis-tipis terasa perih 


Sakit dan berbekas.


Crakkkk... Aku pukul keras-keras cermin di kamar ku dan seketika pecah dan berceceran serpihan kaca.


Eliza lah sumber dari setiap kesedihanku dari dulu...!!!!


Kenapa sih lo selalu diperebutkan banyak lelaki....???


Apa sih hebatnya lo dibanding gue...???


Ucapku menanyai semua ini.


Air mata sialan ini terus menetes


Aku kecewa tentu ..!!


Aku sakit hati sudah tidak usah di tanya lagi ...!!


Aku berasa terjebak di permainan yang aku mainkan sendiri.


Aku seka air mataku dengan kasar


"Bodoh ...!"


Aku haruslah lebih kuat diriku yang aku kenal bukanlah seperti ini.


***


Akhirnya aku baikan juga dengan Julian terasa beban berat yang aku rasakan sedikit mereda.


Dea.....


Begitu jahatnya kamu sampai segala hal kamu lakuin ke aku hanya karena Rehan.


Aku sebenarnya sedih melihat tingkah kamu yang terasa percuma setara dengan barang sisa.


"Kasihan...? Untuk sekarang akan aku balas semua kejahatan kamu Dea" ucapku sambil tersenyum sinis.


Aku kembali melupakan segala hal yang terjadi hari ini dan berusaha mengistirahatkan otakku yang semula kacau.


"Eliza....?" ucap mama dari luar pintu kamar.


"Iya ma..." jawabku pelan sambil berpura-pura tidur.


"Mama boleh masuk...?" tanyanya lagi.


"Emmm..." aku berfikir terlebih dahulu.


"Boleh ma" dengan langkah gonatai aku berjalan membuka pintu.


"Ada apa ma ..?" Tanyaku sedikit kesal.


"Mama cuma mau tanya apa benar tadi ada tamu cowo kesini".

__ADS_1


Deg...!!!


Otakku serasa berputar kembali apa yang harus aku jawab di depan mama.


"Eliza jawab mama".


"Ya cuma temen ma main doang" jawabku datar.


"Beneran" tanya mamaku lagi buat memastikan.


"Lagian kenapa sih ma" jawabku sedikit membentak.


"Eliza mama peringatkan sekali lagi ya kalau nilai kamu disekolah tidak ada perkembangan lihat apa yang akan mama lakukan" ucap mama aku terdengar sadis.


"Maksud mama...??".


"Cukup cerna semua ucapan mama jangan bikin mama kecewa".


"Awas Eliza kalo beneran kamu sampai pacaran mama tak akan segan-segan sita ponsel kamu juga setiap hari akan ada guru les buat kamu" jawaban dari mama yang membuat ku bergidik ngeri.


"Mama apa-apaan sih, mama tu terlalu ngekang aku buat ini itu dan yang lain aku cape ma denger nasehat mama yang itu itu terus" jawabku sambil membentak tanpa terasa buliran bening keluar lagi dari pelupuk mataku.


"Plakkk.... !!!"


Mama menapar aku dan segera aku tutup pintu dengan keras dan mengunci kamar.


"Eliza dengerin mama gak!!" ucap mama aku dengan keras


Aku tak menghiraukanya.


Aku kembali menangis sambil memegang pipi aku


Kenapa masalah terus datang silih berganti serta bertumpuk-tumpuk rasanya aku lelah sangat lelah


Aku menangis dalam diam dan segera aku beranjak ke tempat tidur dan kembali memejamkan mata


"Sudah cukup masalah hari ini" umpatku dalam hati.


****


"Julian... Kali ini lo kalah!!!!!" ucapku sambil menyeringai dan disaksikan ke tiga temanku yang setia menjadi bawahanku.


Aku mengintip Eliza yang sudah berjalan ke gerbang sialnya ke dua temanya terus berada disampingnya dan beruntungnya dia tidak membawa motor hari ini.


Dan saat istirahat tadi sudah aku kempeskan ban motor milik Julian jadilah dia tidak akan bisa mengagalkan rencana aku nanti.


Dan tiba waktunya Julian berjalan menuju parkiran, aku tersenyum penuh dosa dan yang bikin aku semangat ngelakuin rencana semua ini saat Eliza sudah terlebih dahulu berjalan keluar Sekolah


Segera aku persiapkan segala hal yang akan aku lakukan.


Hari ini aku sengaja membawa mobil agar rencana ku berjalan mulus.


"Udah siap kan...??" ucapku ke tiga temanku yang sudah berada di mobil.


"Sip ..!!" Jawab Bagas sambil mengacungkan jempol.


Aku segera berjalan menepi dan mengendap-endap melihat jalan yang terlihat agak sepi karena jalan menuju halte melewati pintu gerbang sebelah.


Setttttt.....


Aku berhasi membungkam mulut Eliza dengan kain yang sudah aku beri obat bius yang aku persiapkan sedari tadi dan Eliza langsung pingsan.


.


"Akhirnya...!!!" umpatku sambil menyeringai puas


Andi yang menyetir mobil segera melaju dan menghampiriaku, segera aku angkat tubuh mungil wanita kesayanganku dan segera masuk ke mobil, aku serasa mendapatkan sebongkah emas hari ini begitu bahagianya aku.


"Kerja bagus...." ucapku sambil tersenyum licik.

__ADS_1


"Gile lu Han gampang juga lo dapetin dia" jawab Gilang seraya tersenyum penuh kemenangan.


"Udah buruan langsung menuju lokasi yang sudah gue tentukan" jawabku dengan nada tinggi.


Dengan terburu-buru Andi melajukan mobil dengan kencang.


Tanpa diketahui Aftur melihat kejadian itu dan berusaha mencerna kejadian yang terjadi tadi.


"Ada apalagi dengan Eliza" gumanya dalam hati.


Dia berusaha mengikuti Mobil itu tapi sayang begitu cepatnya mobil itu berlalu


**


"Siall ..."


"Ban nya kenapa bisa bocor sih" umpatku kesal saat mengetahui ban motor aku kempes dan ada paku di sela-sela ban.


"Siapa sih yang tega ngelakuin hal semenjijikan ini" ucapku keras-keras.


"Ada apa sih Jul..?" tanya Dimas yang sedari tadi berjalan dibelakang ku dan segera menghampiri aku.


"Ni lihat...!!" ucapku sambil menunjuk ke arah ban motor aku.


"Waoo... Gile kempes amat Jul" tiba tiba Roy datang dan memencet ban aku.


'Ada apa sih..?" ucap Dika yang bikin aku masih ilfeal melihatnya.


"Yaelah ban bocor doang bengkel dekat Jul" tambahnya yang bikin aku ingin memukul kepalanya dengan batu.


"Lo kalo gak suka sama gue jangan bikin panas kepala gue....!!!!!!!" ucapku sambil mengakat kerah bajunya dan tepat aku berucap di depan mukanya.


"Santai dong Jul gak usah main tanggan" jawabnya santai.


"Hei kalian ini apa-apan sih katanya sahabat tapi kenapa jadi sering berantem gini sih" seka Dimas berusaha meredakan suasana.


"Lo sebenarnya dendam apa sih sama gue'' ucapku lagi sambil menujuk ke arah mukanya yang terlihat memerah.


"Udah deh Dik, Jul jangan kaya anak kecil malu-maluin tau gak sih.." ucap Roy dengan tegas dan membuatku dan Dika seketika meredakan emosi kita.


"Lo mending pulang duluan sama Roy Dik biar gue yang bantu Julian".


"Okeh lebih bagus itu" jawab Dika dengan gampangnya.


Drak.......


"Kalo lo pergi, pergi sana gak usah pancing emosi gue" ucapku keras dan dengan nada yang sangat tinggi.


"Julian lo tu kenapa sih sering sensi gini lo tau kan sifat Dika gak usah lo tanggepin serius".


"Sory Den gue teralau ambisi buat matahin leher dia".


"Udah deh mending kita bawa motor lo ke bengkel".


"Tapi Eliza mana"' ucapku yang baru teringat 


"Lo habis mimpi ya ....?" tanya Denis keheranan.


"Dia gak bawa motor Den tadi gue mau anterin dia" jawabku sedikit putus asa


"Mukin udah naik bus kali Jul tenang aja".


Mendengar jawaban dari Denis membuat hati aku malah jadi tidak tenang


Aku berusaha mencari ponsel dan menelepon dia


Sudah tiga kali dia tidak mengakat panggilan telepon dariku.


"Hufd... mukin dia baru di jalan" ucapku pasrah ke arah Denis.

__ADS_1


*****


__ADS_2