
"Mama apa-apaan sih bawa lelaki ke rumah....??" tanyaku dengan beringas aku begitu marah melihat ada lelaki lain di rumah ini.
"Rehan ini temen mama cuma mampir aja kok" jawab wanita yang terlihat awet muda itu dengan sabar.
"Mama udah gila ya...?" ucapku ketus ke arah mama tak sedikitpun aku melihat wajah lelaki itu jangankan menyapanya melihatpun aku tak sudi.
"Jebrek....." aku menendang pintu kamarku dengan kasar aku begitu murka saat ini amarah meledak sekita.
"Rehan jaga sikap kamu...!!" ucap wanita itu berusaha menasehati anaknya.
Aku tetap diam tak bergeming.
"Sayang mama mohon buka pintunya " mamaku memohon dari luar kamar agar aku keluar dan menyapa lelaki tua itu mukin.
"Sialan tu lelaki gatel ngapin ada di sini..." umpatku dalam hati dengan kekesalan yang semakin memuncak.
"Sampai kapanpun aku tak sudi punya ayah lagi." ucapku dengan lantang dari dalam kamar raut wajahku begitu mengerikan saat ini
"Eum kayaknya udah Reda aku pamit aja" lelaki itu berdeham mukin tak ingin menambah masalah di rumah ini Dia memutuskan untuk pamit.
"O iya mas salam ya buat Julian" ucap mamaku ke lelaki itu dengan halus.
"Hah Julian...?" umpatku dalam hati dengan terheran-heran.
"Mukin Julian yang lain bukan kampret sialan itu..." ucapku menjawab pertanyaanku sendiri dengan usilnya mulut ini mengatai Julian yang menjadi musuh bebuyutanku.
"Rehan buka pintunya sayang...!!" mohon mamaku lagi dengan ucapan lembut.
"Sekali lagi mama bawa lelaki ****** ke sini kalau gak ijin aku bakal ngambek sama mama" ucapku dengan manja.
"Iya"
Setelah itu aku membuka pintu dan mama masuk ke kamar.
"Anak mama yang paling gateng jangan gitu dong kaya anak kecil aja" ucap mamaku menghampiriku yang duduk di tempat tidur.
"Kok mama tumben udah pulang...?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Iya nih kan besok mama mau ada acara di hotel perusahaan tempat mama kerja mau ada syukuran jadi tadi cuma meeting sebentar terus pulang" jelas mamaku panjang lebar.
"Ohh..."
"Ma...?" ucapku sembari menatap mama dengan manja.
"Apa sayang.." ucap wanita yang masih berseragam lengkap itu mengelus rambut anak lelakinya dengan lembut
"Aku mau ngomong"
"Iya mau ngomong apa sayang"
"Jangan nikah lagi ma aku mohon" ucapku dengan nada merenggek.
"Lagian papa baru setahun lalu meninggal mama terkesan jahat sama papa" ucapku lagi sembari membalikan badan tanda tak setuju dengan hadirnya lelaki baru mengantikan ayahku.
"Han"
"Mama nunggu siapnya kamu Han kalo mau nikah lagi" jelas mamaku berusaha menenangkanku.
Aku hanya terdiam
__ADS_1
"Mama siapin makanan dulu ya tadi mama beliin kamu seafood yg ada di jalan depan kamu suka kan...??" ucap mamaku seketika membuat moodku kembali membaik.
"Serius ma...?" jawabku dengan nada gembira layaknya anak kecil yang di beri mainan oleh ibunya.
"Iya sayang"
"Cepatan ganti baju gih mama siapin dulu makananya ya" perintah mamaku seraya beranjak dari tempat tidur.
"Siap...."
Mereka sudah duduk di meja makan yang bergaya moderen itu dengan meja bulat berukuran besar serta berwarna coklat. ditambah lampu cantik yg mengantung di atas serta menghadap kangsung ke taman dan kolam ikan menjadikan suasana terasa lebih sejuk dan asri.
"Ma ini enak banget lho makasih ya..."
"Iya sayang...." jawab mamku yang sedang menyatap makanan.
Sedang di sisi lain
"Julian udah pulang nak....?" tanya lelaki berjas rapi itu sembari menghampiri anaknya.
Dia sedang duduk sofa itu dengan aerophon terpasang di telingga kanan dan kirinya.
Papanya datang dan melepas jas di depanya namun sedikutpun dia tak mengubris kehadiranya.
"Sialan ganggu aja....!!!" ucap Julian sembari berdiri dan berteriak keras.
"Ngapain papa lepas hah....!!!" Julian begitu marah dia tak terima papanya melepas beda kecil berwarna hitam yang tertempel di telinga itu.
"Kamu ini papa datang gak jawab salam papa....?" Bentak papanya dengan keras
"Dan ini juga, apa-apaan ada rokok disini....!!" ucap lelaki itu sembari melotot tajam ke arah Julian.
"Buagh.... anak kurang ajar kamu....!!!!" lelaki yang sedang lelah itu begitu murka hingga tak bisa mengendalikan emosinya.
"Kurang puas ya papa nyakitin hati mama..??" ucapku dengan menahan rasa sakit di wajahku yang terasa menganjal.
"Kamu berani lawan papa...??"
"Oke saat ini juga aku akan pergi dari rumah...!!" ucap Julian berusaha keras menahan air mata yang sudah mengumpul dan siap jatuh itu
"Jul tunggu kamu gak bakal papa ijinin keluar rumah....!!!" papaku berusaha menahanku dari rumah.
Tanpa berfikir panjang Julian langsung menendang pintu kaca itu dengan brutal
Dan pyur kaca itu pecah tak beraturan
Jebrackkkk....!!!
Dia berlari keluar dari rumah dia butuh waktu sediri sekarang.
Dia berjalan menuju lahan kosong belakang gedung Sekolah itu.
Dia duduk dan menyederkan kepalanya di tembok yang terlihat lusuh dan mengelupas itu
Tanpa sadar buliran bening itu jatuh dadanya sakit di buang putung rokok itu dengan kasar.
"Jul...??"
Eliza datang dan langsung memeluk lelaki malang itu.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku....!!" ucap Julian berusaha menata kembali emosinya.
"Jul kamu gak perlu sedih kaya gini" ucap Eliza sembari menyeka air mata itu dengan halus.
"Jangan sentuh akuuuuuuu...!!" ucap Julian lagi seraya menyingkirkan tanggan halus itu dengan kasar.
"Kamu cerita kalau ada masalah jangan kamu simpan sendiri..." ucapnya lagi sembari menyetuh bibir yang mulai menghitam itu.
"Orangtua aku mau cerai..." ucapnya dengan air mata yg mengucur tanpa ia suruh, air mata itu akhirnya pecah seketika tatapan matanya kosong dan tanganya bergetar hebat dia seperti orang putus asa sekarang.
Eliza ikut menangis melihat ini dia berusaha keras untuk menyembunyikan air matanya.
"Kamu boleh nangis Jul itu hak kamu...." ucap Eliza dengan suara bergetar.
"Aku lelaki tak berguna El aku cengeng...!!" berontaknya dia dalam amarahnya.
"Hey semua orang punya hak kok untuk nangis semua orang punya titik terlemah kamu gak usah inscure lagian di sini cuma ada kita berdua, luapin semua yang kamu rasakan saat ini Jul..." Eliza berusaha menguatkan Julian lagi.
"Jadi serius orangtua kamu mau cerai...??" tanya Eliza dengan iba.
"Iya dan papa aku yg cerain mama aku" jawab Julian dengan bibir bergetar.
Julian mulai mengatur nafasnya dan kini mulai bisa mengendalikan emosinya.
Eliza, semakin tak percaya dengan kenyataan yang terjadi seperti di bayanganya.
"Kamu yang sabar ya..."
"Aku gila El sekarang aku tu pecundang aku gak bisa nglindungi mama aku" ucapnya dengan nada naik turun dia sedang menyalahkan semua permasalahan ini terjadi akibat dirinya.
"Udah Jul stop kamu harus semangat kamu jangan terus terpuruk kaya gini lihat deh kamu tu bukan Julian yg aku kenal dulu" ucap Eliza berusaha menyemangati Julian kembali
"Dan juga kamu jangan terus mabuk kasihan tubuh kamu ntar gimana kalo kamu sakit siapa yang bakal urus kamu, kamu gak kasihan sama mama kamu...??" Eliza berusaha menyadarkan Julian.
"Mama aku sekarang di Bandung..!!" jawabnya dengan bibir bergetar dan air mata itu jatuh kembali.
"Udah kamu harus semangat kamu kan lelaki harus kuat okeee....!!" Eliza berusaha menyetuh tangan itu namun Julian menolak.
""Apa sih gk usah sentuh-setuh bukan muhrim...!!"
"Iya cuma kasihan aja kok aku sama kamu"
"Kamu kan udah aku putusin kenapa kamu masih peduli sama aku" ucap Julian seperti anak kecil yang sedang marah sama ibunya.
"Jul kamu bayangin deh jadi aku semenjak kejadian dulu itu, aku tau kamu jadi aneh kaya gini aku tu udah yakin kamu sedang ada masalah jadi" ucapanku terpotong.
"Jadi apa...?" pelahan dia sedikit mulai tersenyum lagi seperti dulu.
"Terus ini kenapa lagi...??" tanya Eliza dengan menyetuh wajah yang lebam itu.
"Tadi di pukul papaku..." jawabnya dengan nada dramatis.
"Jul walaupun kamu marah kamu jangan kelewatan bicara sama papa kamu dia orangtua walaupun..." ucapanya terputus dan
"Oh kamu bela papa aku...!!!" ucap Julian dengan gusar dia merasa aku tak berpihak kepadanya padahal sebenaranya aku hanya berusaha menasehatinya.
"Gak gitu aku cuma mau bilang ke kamu semua jangan diselesain dengan keras selesain dengan kepala dingin mungkin ada hikmah dibalik ini semua Jul...."
"Ya..."
__ADS_1