Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 63: Hari Peneriamaan Rapor


__ADS_3

Hari ini hari Sabtu tepat hari aku menerina rapor hasil belajarku selama setengah tahun, ya bisa di bilang nilai ku cukup lumayan untuk semester ini aku berhasil masuk lima besar.


"Eliza ini rapor nya kamu bawa mama balik dulu ya" ucap mamaku sambil menyerahkan hasil rapor kepadaku.


"Iya ma" jawabku sambil memeluk mama seraya melepaskan kebahagiaan ini


Kalian pasti tau alasan aku masih tingal di sekolah tentu aku berserta kedua teman ku sedang membahas acara libur tahun baru nanti.


Bisa di bilang aku sangat bahagia menyambut liburan kali ini.


"Eliza...." ucap vey seraya memeluku tanpa sebab.


"Iya apa sih norak deh" jawabku sambil berusaha melepaskan ikatan tanganya.


"Gue masuk sepuluh besar keran gak sih.." ucapnya sedikut berteriak.


"Iya keren itu" jawabku sambil mengacungkan jempol.


Setelah itu kita berbincang-binacang dengan teman sekelas yang lain membahas hasil nilai yang tak ada habisnya.


Tapi untuk Rena kali ini nilainya melorot aku sebagai sahabatnya tak henti hentinya menghibur dia.


"Udah deh Ren kan masih ada semester depan kamu bisa merubah nilai kamu" ucapku menghibur dia.


"Iya El maksih ya" ucapnya sambil memeluk aku.


Tak terasa pandangan mataku teralihkan akan sosok dia.


"El ngapain deh lo senyum sendiri..?"


"Apa sih" jawabku berusaha menghidarkan pandanganku dari arah bawah.


"Tau gue lo lagi liat cowok lo main basket kan...?" tanya Vey yang tepat sasaran.


"Apa sih, ya gak lah" jawabku sedikit menyanngkal walau aku tau jantungku saat ini sedang berdebar tak karuan.


Melihat dia dari kejauhan menjadikan aku semakin kagum.


Kita terus bebincang-bincang bersama tak terasa satu persatu teman kita sudah pulang dan tersisa hanya aku Aftur Vey dan Rena.


***


Hari semakin siang aku terus tegelam dalam keseruan gelak tawa canda dan ria.


"El..." ucap Julian yang entah aku tak menyadari kedatanganya.


"Tuu di jemput sama pangeran ciee" ucap Vey mengoda.


"Yaudah gue duluan ya" ucapku seraya berjalan berbalik menuju arah Julian berdiri.


"Iya El nanti kapan-kapan kita bahas lagi lo keseriusan kita ke Jogaja o iya Jul lo harus ikut...!!" ucap Vey sedikit berteriak.


Julian hanya membalas dengan senyum begitu malunya aku akan tingkah kedua temanku.


Dia meraih tangan ku dalam diam aku segera menerima dan mengegamnya.


Aku terus tersenyum bahagia mukin indah nya bunga yang berusaha melirikupun tak bisa menandingi kebahgiaan yang aku rasakan saat ini.


Seru amat sih tadi kamu sama temen kamu...?" tanya Julian sambil berusaha mengaitkan kunci helmnya.


"Iya Jul habis lagi pada seru-serunya bahas liburan"


"Serius deh kamu keliatan beda"


"Apanya sih yang beda..??"


"Adalah"


"Serius Jul mukin apakah wajah aku berbeda...??"


"Gak kok.."


"Kita mau kemana Jul..?" tanyaku yang penasaran.

__ADS_1


"Nanti kamu tau" jawabnya justru membuatku tambah penasaran.


Dasar Julian ini selalu membuatku terkejut akan tingkahnya.


"Jangan lupa ya pegangan yang erat"


"Siap.."


Dan tak berapa lama Julian mulai melajukan motornya.


Dia mukin sengaja memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan membuat badanku selalu menempel di belakang badanya yang tegap aku mencium aroma tubuhnya yang membuatku terus terhipnotis bau yang selalu aku rindukam bila si empunya tak ada di sisiku.


"Jul bisa pelan dikit gak...?" ucapku berusaha memperingatinya.


"Udah sih" jawabnya justru meraih tanganku dan melingkarkanya di perut sixpacknya.


Aku berusaha menolak tapi usahaku pasti akan sia sia.


"Kamu mau gini kan" ucapnya sambil senyum yang tak mengerti aku maksudnya.


"Mesum kamu Jul..!"


"Udah sih ngaku aja"


Tak berapa lama setelah kita melewati padatnya jalanan dia mengajaku menepi di taman waktu pertama kita jadian dahulu


"Turun sayang..!"


"Iya" jawabku dengan segera turun


"Gak papa kan kesini aja"


"Iya gak pap kok"


Setelah itu kita berjalan menuju kursi yang terlihat masih banyak yang kosong, aku memilih duduk tepat di dekat danau.


"Kamu sini dulu aku mau pesen minuman"


"O iya"


Aku teringat kembali akan kejadian saat Julian nembak aku disini, membayangkanya aku jadi tersenyum tanpa tau malu.


"Woy liat apa sih..." ucap Julian yang datang mengejutkanku.


"Gak apa apa kok Jul"


"Nih minum.." ucapnya sambil menyerahkan sebotol minuman dan sekotak dimsum.


"Kamu Jul...??" tanyaku keheranan.


"Siap bilang ini buat kamu aja buat kita berdua lah"


"Ih kamu jail deh..."


"Nih sedotanya"


Setelah itu kita minum berdua dengan sedotan yang berbeda wajahku dan wajahnya bersatu kita seperti sebuah marsmelow disatukan.


"El...?" tanyanya sendu.


"Iya"


"Aku mau ngomong nih" ucapnya yang membuat seketika aura di wajahku panas.


"Ngomong apa jangan buat aku deg degan deh"


"Serius..!"


"Bisa gak kalau kita liburanya berdua aja"


Seketika senyuman yang sedari tadi terukir manis menjadi pudar.


"Emang kenapa Jul kan kalo kita ikut promo itu lebih murah"

__ADS_1


"Ya aku pengen kita berdua aja El..."


Jujur aku takut bila hanya berdua kita belum muhrim aku sedikit ragu akan dia.


"Tau kan alasanku kenapa aku gak ingin ikut" ucapnya acuh.


"Kenapa..?"


"Aku gak suka ada Afrur" jawabnya jelas membuatku bimbang.


"Oh itu masalahnya..."


"Bisa di bilang gitu"


"Jul kamu percaya kan sama aku kita ngisi liburan bareng-bareng itu lebih seru"


"Iya tapi aku pengen berdua aja."


"Kalo gak kita liburan sendiri aja" tambahnya lagi berusaha memkasa aku mengikuti keinginanya.


"Kamu marah Jul.."


"Maaf sebelumbya aku sudah bayar dp nya buat kita berdua" jawabku menyerah pada akhirnya.


"Apa...!! kamu kok gak ijin sih sama aku taudah kamu pergi aja sendiri....!!"


"Pokoknya aku gak suka liburan kalo ada Aftur..." ucapnya bersungut-sungut.


"Iya udah nanti aku pikirin lagi ya.."


"Kamu jelek deh kalo marah"


"Ya biar kamu tambah sayang kan maksudanya" ucapnya sengaja mengambil dimsum dan mencocol saus dan mengarah kan di wajahku.


"Apa sih Jul ah sausnya kena ni di wajah aku"


"Oke baikalh sini sayang" ucapnya seraya memaksa pipiku di dekatkan ke arah bibirnya.


"Jorok deh jul kamu jilat pipi aku"


"Habis kamu cerewet sih ..."


Aku bersama dia mengahabiskan waktu berdua hingga matahari pun mulai berjalan ke ufuk barat.


Tampak danau makin ramai dan penuh suasana seperti ini tak membuatku nyaman, untunglah aku cukup puas untuk hari ini


Segera aku bersamanya memutuskan untuk pulang dia selalu mengandeng tanganku dengan erat.


Kita lalui jalanan yang muali ramai dan raungan armada yang berlalu lalang dengan kegembiraan yang tak ada ujungnya.


Setelah setengah jam kita sampai di depan rumahku .


"Jul gak masuk dulu..."


"Gak deh"


"O iya habis ini langsung tidur ya"


"Iya sayang"


"Cie yaudah keburu mama kamu ngeliat aku pualng dulu ya..."


"Iya"


Tak terasa buliran bening ini menetes melihat dia yang mulai menjauh dari pandangan mataku hatiku seketika menjadi sendu.


Walau kita hanya berpisah tak berbeda tempat namun aku berasa jauh sangat jauh.


Andaikan sebuah pena bisa menuliskan arti dirimu di hatiku pastilah selembar kertas tak akan cukup.


Jikalaupun aku menjadi seorang puitis bait pertama dan terakir pasti tak akan kosong akan namamu.


Julian Evgar kamu sebuah nama yang sekarang aku ukir luas di hatiku dan aku kunci rapat-rapat hanya di hatiku.

__ADS_1


Terima kasih untuk segelanya atas hadirnya dirimu untuku.


__ADS_2