Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 106


__ADS_3

"Julian aku harus gimana...??" ucap Eliza dengan menurunkan volume suaranya, raut wajahnya terlihat begitu panik saat ini.


"Kamu cepetan sembunyi di belakang pohon itu biar aku yang ladeni orang itu" ucapku memerintah Eliza agar mengikuti saranku walau aku tau itu adalah suara Putri.


Aku mulai memposisikan diriku aku berpura-pura bersendar di dinding dengan kaki aku silangkan, aku berlagak sedang sendiri tak lupa aku berpura-pura memainkan ponsel yang baru saja aku keluarkan dari salu celanaku.


"Oh Putri ada apa...??" tanyaku ketika putri berjalan mendekatiku dengan tangan kanan membawa buku absensi itu.


"Lo kok aneh si Jul ngapain ke gedung belakang sekolah, ngapain sih tumben banget jam segini..." ucap Putri dengan wajah terlihat menatap sekelilingku dengan rasa penasaran.


"Ya cari udara aja..." jawabku sembari memasukkan ponselku kedalam saku celana.


"Tunggu tapi kok aku nyium bau parfume cewek sih serius lo" ucap Putri dengan hidung terus mengendus-endus bau parfume yang tercium menyengat ini.


"Apaan sih gak kok, gak ada siapa-siapa" jawabku berusaha membuat Dia berhenti mencari sumber bau ini..


"Mungkin cuma perasaaanku aja kali ya" dan pada akhinya dia tak mepermasalahkan bau ini.


"yaudah kita ke kelas aja yuk banyak nyamuk lho..." ucap Putri sembari mengibaskan tangan karena banyak nyamuk berlalu lalang disini.


"Iya bener tu mending kamu ke kelas duluan aja" perintahku ke Dia dengan dengan tersenyum.


"Barengan aja" jawabnya yang membuatku harus berpikir dua kali.


"Aku mau ke perpus ngambil buku naskah" ucapku mencari alasan agar aku bisa terbebas darinya.


"Kan udah di bawa Dias'' sialnya Putri tak mudah dibohongi dan tau kebenaranya.


"Maksud aku tu buku kimia yang di suruh pak Harto..." Putri mendengar ucapanku dengan mata melongo.


"Lo kok aneh sih emang pak Harto ngajar Kimia...??" tanyanya yang justru membuatku ingin menepuk jidatku.


Aku hanya tersenyum mendapati kebohonganku yang nyata.


Di sisi lain Eliza sedang dikerumuni banyak nyamuk ingin rasanya Dia berteriak tapi justru akan menimbulkan masalah besar.


"Yaudah ke kelas yuk kayaknya kamu gak enak badan deh..." ucap Putri terlihat khawatir dengan kondisiku mungkin karena ucapanku yang terdengar ngelantur.


"Gak usah deh mending kamu duluuan" ucapku sambil cengar-cengir.


Teeet Teeet... Tak berapa lama bel masuk berbunyi


"Yaudah aku duluan kalo gitu..." ucap Putri pada akhirnya dan membuatku lega seketika.


Setelah situasi aman aku segera menemui Eliza.


"Kamu gak papa ini wajah kamu kok bentol bentol semua...??"


"Lagian si Putri ngapain sih nyariin kamu segala jadi pdkt kan aku sama nyamuk..."


"Jangan cemburu deh..."


"Siapa sih yang gak cemburu pacarnya di deketi cewek lain..."


Uuummuahh....


"Gak usah cium, aku mau ke kekas lagian ini udah jam masuk" ucapnya sembari berjalan mendahului aku.


Aku tersenyum ketika Eliza marah dia tampak lucu dengan sifat kekanak kanakan yang muncul kembali itu.

__ADS_1


Tak berapa lama aku menyusul Eliza meninggalkan tempat ini dan berjalan menuju kelas.


"Dari mana lo brow, kok ke toilet lama amat lo bertelur ya....,??" ucap Dika yang sukses membuat semua menertawai kedatanganku.


"Ya ngeluarin telur naga...." jawabku justru membuat suasana semakin pecah.


"hahahaha" Seketika semua temanku saling menertawai ucapanku yang terasa mengocok perut.


"Kalin ini lucu ya mirip tom and jery di serial tv" ucap salah seorang siswa berambut cepak itu.


....


Saat ini Eliza sedang bertemu dengan Rehan di sebuah proyek yang belum jadi pengerjaanya dan tampak terbengkalai.


Saat ini mereka masih memakai seragam sekolah.


"Kak aku mau jujur..." ucapku berusaha menatap arah matanya.


"Ada apa lagi belum cukup sikap kamu yang kemarin buat aku" jawabnya justru membuatku merasakan sakit hati yang dia rasakan sekarang.


"Ini masalah Dea, jujur semenjak kakak kenal aku pertama kali Dia itu benci banget sama aku Dia kira aku tu ngrebut kakak dari Dia" jawabku panjang lebar sembari aku berusaha duduk di sebelah kak Rehan yang sekarang sedang menatap ramainya jalan raya itu yang tak henti-hentinya kendaraan terus berlalu lalang


"Hanya itu yang mau kamu omongin...?"


"Ya aku hanya mohon ke kakak supaya ngertiin di balik satu alasanku, selama ini jujur kak buat aku tu berat punya musuh uang dulu temen aku sendiri apalagi masalahnya hanya salah paham aku kadang gak ngerti kenapa Dia sebenci itu sama aku...."


"Terus buat apa kamu ladeni Dia kalau cuma ngorbanin perasaan kamu sendiri...?" ucapan kak Rehan sukses membuatku merasa jahat di depan matanya sekarang.


"Maaf kak aku gak maksud gitu" ucapku berusaha meminta pengertianya.


"Udah El aku gak mau bahas Dea cukup kamu tau aja aku yang dulu ya dulu dan sekarang ya sekarang." jelasnya lagi Dia kembali merapikan bentuk dasinya dan seraya pergi meninggalkan aku sendiri di sini.


"Kak mau kemana..." ucapku berusaha menghentikan langkah kaki itu.


Rehan segera berlalu pergi tanpa di sadari Dea sedang mengintai pembicaraan mereka berdua sedari tadi.


Ketika Rehan sudah menjauh Dea segera menghampiri Eliza.


Dia mulai berjalan menuju Eliza yang terlihat berdiri sekarang.


"Ternyata rencana Eliza hanya ingin bikin malu aku di depan kak Rehan rupanya..." ucap Dea dalam hati dengan raut wajah dan hati saling memanas hebat.


"Brengsek ya lo malu maluin gue depan Rehan..." ucap Dea dengan kasar ke Eliza tak lupa tanganya sudah siap menampar wajah Eliza.


"Maksud lo apaan sih De...??" Eliza tak tau apa maksud dari Dea Dia hanya ingin tak ada keributan di dekat jalan raya seramai ini.


"Halah gak usah banyak bacot jujur ke gue lo tadi jelek-jelekin aku depan Rehan kan suapaya lo berasa bidadari iya hah" ucapnya lagi dengan suara mengebu-ngebu dan lantang.


"Lo tu kenapa sih De dendam banget sama gue gue gak pernah suka sama Rehan gak pernah Dea apalagi tau dia cowok lo waktu itu gak mungkin kan aku nusuk kamu dari belakang..." jelas Eliza lagi yang berusaha menjernikhan pikiran Dea yang keruh itu.


"Plak...."


"Buang bualan manis lo, gue gak akan pernah percaya sama sifat palsu lo..." ucapnya dengan keras sembari menampar wajah Eliza dengan kasar.


"Terus cara apa biar lo puas dan percaya kalo gue gak pernah ada rasa sama Rehan...??" tanya Eliza dengan suara parau Dia sedang merasakan sakitnya di tampar oleh mantan teman sendiri, walau berkali-kali kejadian ini selalu terulang kembali.


"Lo harus mati..." ucap Dea dengan menyeringai puas.


Dea mengambil pisau dan mencoba menusukan ke arah Eliza.

__ADS_1


"Lo harus mati Eliza lo harus bikin hati gue sembuh..." ucapnya sembari berusaha menusukan benda tajam itu ke arah Eliza.


Dia mengangkat pisau dan menoba menusuk tubuh Eliza.


"Awwww" tanpa Dea sadari pisau itu justru meleset dari sasaranya Dia justru menusuk tubuh Rehan karena kejadiam begitu cepat saat Dea melakukan hal sekriminal itu.


Tubuh Rehan ambruk dan darah bercucuran mengalir deras, Eliza hanya Diam mematung air matanya Jatuh tanpa Dia suruh sedang Dea berteriak sehisteris mungkin.


"Rehannnnnnnnnn, Rehannnn kenapa harus Elo han kenapa, kenapa lo sayang banget sama cewek biadab ini...." ucapnya dengan nada bergetar hebat tubuhnya ambruk Dia tak kuasa melihat tubuh lelaki yang sangat dia sayangi itu, tangan kananya masih memegang benda tajam itu .


"Lo wanita gila Dea gak seharusnya lo lakuin hal semejijkan ini" ucap Eliza dengan keras dan lantang sembari Dia berusaha membangunkan kesadaran Rehan.


Melihat Rehan tak sadarkan diri Dea berusaha menusuk dirinya sendiri dengan pisau itu namun dengan cepat Eliza menahnya.


"Jangan Dea jangan lakuin hal bodoh lagi" dengan cepat Eliza berusaha merebut pisau itu dan membuangnya ke arah sisi barat.


Kesadaran Dea mulai menghilang dan seketika tubuhnya ambruk ke tanah.


Eliza semakin panik Dia berusaha mencari bantuan dengan berteriak minta tolong.


"Tolong.... Tolong.... " Ucapnya dengan nada keras.


Tak berapa lama Banyak orang yang berdatangan melihat kejadian ini.


"Ini kenapa... ini kenapa...??" pertanyaan yang saat ini silih berganti dan menari ria di kepala Eliza.


"Pak tolong pangilin ambulan segera nanti saya yang akan bertangung jawab..." ucap Eliza dengan pasrah Dia merasa bersalah atas kejadian ini.


Tubuhnya lesu memandangi kedua orang yang di kenalnya sedang tak sadar diri.


Air matanya terus jatuh di saat melihat darah yang keluar dari tubuh Rehan yang terus mengucur deras.


Dia berusaha menelpon Julian.


"Jul angkat dong..."


Tak berapa lama Julian memgangkat telpon itu.


"Halo ada apa sayangku .."


"Jul gak usah bercanda kamu sekarang kesini ke jalan palang merah dekat stasiun arah timur jalan raya..." ucapnya dengan bibir bergetar dan suara yang terdengar sangat panik.


"El..." ucapnya dari seberang telepon.


Eliza segera menutup pangilan itu sekarang Dia sedang berusah mebangunkan kesadaran Dea.


Tak berapa lama Julian datang wajahnya tampak panik dia segera menemui Eliza


"Ada apa...ada apa..." ucap Julian dengan panik dan segera menemui Eliza Julian tertegun hebat ketika mengetahui baju seragam Rehan berlumur cairan berwarna merah serta ada sebilah pisau tajam berukuran sedang itu yang tergelatak.


"Jul Aku takut".ucap Eliza dengan memeluk tubuh pacarnya seerat mungkin tubuhnya bergetar hebat sekarang degan air mata yang terus membajiri wajahnya.


Wiu...wiu...wiuu.. Suara ambulans datang dan dengan cepat tim mendis mengangkat tubuh Rehan bersaaman tubuh Dea.


"Kalian berdua ikut kami untuk penjelasanya..." ucap salah satu tim medis itu.


"Baik kami akan ikut" ucap Julian dengan suara tegas.


"udah nanti kamu jelasin ke aku ya jangan nangis kita naik motor sekarang..." ucap Julian berusaha menengkan pacarnya dengan nada halus sembari mengelus-ekus pundak Eliza.

__ADS_1


Walau pikiranya saat ini sedang kacau balau dia harus bisa nerima jika pelakunya adalah pacarnya sendiri.


Pisau berukuran sedang itu tergelatak tak bertuan disisi kanan dekat bebatuan, menjadi saksi bisu kisah cinta yang tak ada habisnya itu.


__ADS_2