
Matahari mulai terbit dari ufuk timur,sinarnya dengan sempurna menyoroti celah-celah jendela kamar Eliza.
Eliza terlambat bangun akibat semalam terhanyut dalam kesedihanya saat berpisah dari Julian. Menjadikanya sulit untuk tidur karena di pikiranya hanya ada Julian dan Julian. Terkadang cinta hanya berpura-pura membuat kita bahagia dan sesunguhnya hanya membodohi kita.
"Eliza...." Ucap wanita paruh baya yang terlihat sudah siap dengan baju seragam kerjanya yang sekarang sedang berdiri di depan pintu kamar Eliza
"Iya ma..." jawab Eliza dengan mata masih tertutup.
"Ini udah jam enam kamu gak sekolah" tanya wanita itu sembari masuk ke kamar Eliza dan mendapati putrinya masih berbaring di tempat tidurnya Dengan mata terlihat sembam semalam Dia tak mengetahui jika julian mengantarkan Putrinya di sebabkan Dia ada acara makan malam dengan teman masa kuliahnya.
"Sayang kamu gak masuk sekolah...?" tanya wanita itu pada putrinya yang terlihat sedang menyelimuti seluruh badanya dengan selimut tebal itu.
"Gak ma..." jawab Eliza dengan nada pelan.
"Kenapa...?" tanya wanita itu merasa heran dengan tingkah laku Eliza yang tak seperti biasanya yang selalu bersemangat saat sekolah.
"Aku gak enak badan kayaknya ma..." jawab Eliza sengan wajah Dia tutupi dengan selimut itu hingga tak menampakn batang hidungnya.
"Tapi gak panas kok.." wanita itu justru nenyentuh dahi putrinya yang terlihat ada tanda-tanda deman dan membuatnya mengerutkan keningnya.
''Perut aku yang sakit ma..." ucap Eliza mencari alasan lain agar membuat mamanya percaya.
"Oh yaudah istirahat ya mama udah hampir telat nih harus segera berangkat" wanita itu melirik jam tangan yang melingakr di pergelangan tangan kananya dan mendpati hari semakin siang tak berlama-lama wanita itu segera beranjak pergi dari kamar putrimya.
Pintu kembali di tutup Eliza mulai membuka mata dan meyibakan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya,
Namun tetap sama rasanya Dia hanya ingin menangis seperti semalam, karena seperti biasanya saat jam segink Julian akan datang lima menit lagi setelah mamanya berangkat ke kantor dengan ucapan yang selalu membuatnya semakin merasakan sakit ditinggal satu maahkluk Tuhan itu.
__ADS_1
Hinga siang hari Dia masih tetap di posisi yang sama tidur tengkurap dengan terus meneteskan air mata karena Dia tak rela di tinggalkan kekasihnya, saat ini memang Dia sedang menjadi budak cinta rupanya tak bisa apa-apa hanya karena cinta semata.
Kenangan dengan Julian rasanya terus berputar-putar di memorinya Dia tak menyangka secepat ini Julian pergi meninggalkanya walau hanya beda tempat tapi rasanya jauh apalagi ketika Dia tak bisa melihat secara langsung dan hari ini Dia tak nasuk sekolah Dia tak ingin menyaksikan gurunya akan menginformasikan bahwa ada salah satu muridnya pindah sekolah, itu hal yang menakutkan bila di dengar oleh telinga Eliza.
Seperti biasa Dia terus memainkan ponsel miliknya dan terus menghubugi Julian walau sebenarnya hal itu justru akan menganggu Julian saja.
Dia terus menunggu balasan dari Julian yang tampaknya sedang tidak online menjadikan dia putus asa berkepanjangan Dia tak nafsu makan ruapanya karena makanan tidak sebanding dengan cinta. Dan setiap melihat arah Jendela matanya kembali berair karena itu kenangan terakir Dia dengan Julian berpelukan yang terasa membuat hatinya terkuka.
Perpisahan ini terasa menyakitkan karena Dia tau tak dari awal menyebabkan hatinya tak siap menerima kenyataan ini semua.
Dan kengan semalam baginya itu hanya mimpi perpisahanya yang seharusnya tak menjadi nyata.
Ketika mengingat wajahnya senyumanya serta ke khasan gaya bicaranya membuat Eliza semakin menangis menjadi-jadi.
........
Saat sampai di sekolah Dia menatap sekolah ini tampaknya kelak akan menajdi sejarah di hidupnya, galau hanya karena di tinggal kekasih pindah sekolah. Karena di setiap sisi sekolah ini ada kenangan manisnya bersama Julian
"Hay El lo kemarin gak masuk kenapa...?" tanya Devi kepada Ekiza yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam ruang kelas.
"Sakit gue biasa panas dingin..." jawab sayu dan membuat ketiga temanya menjadi tanda tanya besar.
"Oh kamu udah tau belum satu teman sekelas kita pindah lho" ucap Fitri yang tak mengetahui sebenarnya Julian adalah kekasih sahabatnya.
"Oh..." jawab Eliza yang tak terkira kenangan itu seperti kembali muncul dan membuat dia kembali Diam dengan kepala Dia tundukan di atas meja beralaskan kedua tanganya.
"Lo serius cuma demam aja...?" tanya Intan yang tampak tau Eliza sedang berbohog Dia mencoba menyentuh dahi milik Eliza.
__ADS_1
"Iya tu El mata lo kenapa kok merah" tanya Fitri sembari melirik ke arah Eliza.
"Gak papa kok" jawab Eliza dengan menutup kedua bola matanya dengan telapak tanganya.
Ketika Eliza menoleh ke arah tempat duduk yg di tempati Julian air matanya kembali menetes dan hidungnya tampak memerah rasanya Dia benar-benar tak siap dengan semua ini '' begitu jahanya Jul kamu iya kamu kuat tapi aku engak sekuat kamu"
Namun Dia berusaha menyeka secepat mungkin sebelum ketiga temanya mengetahui.
"Kamu kok nangis sih....?" yanya Devi yang mengetahui Ekiza meneteskan air matanya.
"gak tadi cuma kelilipan aja tau" jawab Eliza dengan memaksakan senyum getirnya.
Pelajaran dimulai seperti biasa dan Eliza menunjukan sikap yang tak biasa dengan terus diam mencoba menerima semua ini namun tampaknya Dia tak memiliki rumus yang menjadikan Dia gagal.
Dia tak pergi ke kantin dan hanya duduk di kelas seakan-akan Dia ingin menemui kedua sahabtnya dulu Vey dan Rena Dia ingin sekali memeluk erat mereka menceritakan semua kesedihan hatinaya saat ini terhadapnya agar setidaknya hatinya punya tempat bercerita.
Sampai rumah seperti biasa Dia langsung ke kamar atas dan merebahkan tubuhya ternyata menang benar cinta itu membuat kita terpedaya olehnya. Dia terus mencoba menghubungi Julian yang tampaknya tidak online berkali-kali Dia menunggu hingga hampir satu jam Julian baru mulai menghubunginya dengan vidio call.
Eliza begitu bahagia tampak di layar ponselnya Wajah manis Julian entah kenapa membuat nya kembali menangis Dia tak marah namun Dia hanya serba salah saat Julian terus mengodanya menertawai kecengenganya.
Eliza hanya Diam sembari menahan air matanya agar tak menetes ternyata sia-sia belaka dan menjadi pemandagan menyakitkan bagi Julian.
Melihat wajahnya justru membuatnya semakin bersedih bisa dikatakan kembali perpisahan ini memang menyakitkan . Hingga akhirnya Dia memutus sambungan vidio call itu.
Dia marah pada dirinya sediri kenapa hatinya terlalu tipis tak bisa sedewasa umurnya tak bisa sekuat air lautan ketika di terjang ombak.
"Kamu tu jahat Jul kamu tu jahat banget ninggalin aku hanya mengucapkan perpisahan ini dalam waktu sehari dikira itu mudah buat aku melakukanya, dikira aku itu kamu yang siap menerima kenyataan dalam waktu singkat tolong pahamilah hati ku Jul" begitulah ungkpan isi hatinya dalam teks pesan untuk Julian.
__ADS_1