
"Beb.." terdengar bunyi Getaran benda berbentuk pesegi panjang yang berada di dalam saku celanaku.
Tak menunggu lama aku segera mengambil dan melihat layar ponselku yang tertera muncul notif dari icon berbentuk pangilan itu segera aku lihat isi pesan tersebut.
Aku ketik dan aku geser, aku lihat betapa terkejutnya aku saat ada seseorang yang mengirimkan aku sebuah vidio.
Tampak saat ini Julian sedang mabuk di suatu tempat yang terlihat asing dengan mataku, dia sedeng meneguk beberapa air di dalam botol hijau itu dan yang kutahu bukan teman sekolah itu menertawai Julian dan mengambil vidio.
"Oh aku ditipu....??" ucapku dengan gigi bergemeretak
Sial....
Tubuhku lemas aku tertunduk lunglai di basment Rumah Sakit.
Aku berusaha menghubungi nomer yang mengirimi aku vidio itu namun nihil ternyata dia sudah memblokir nomerku.
Aku tertawa pilu aku menertawai betapa bodohnya aku ini.
Aku mengusap air mataku, ternyata rasa kawathirku sia-sia belaka.
Aku memutuskan untuk balik ke rumah aku berjalan menuju halte dengan tatapan kosong aku menatap bahu jalan yang tampak ramai serta derungan aspal dengan roda hitam itu bergerumu ditambah panasnya sinar matari.
Aku mengusap keringat yang membasahi wajahku rasa lelah dan kacau kini beradu menjadi satu.
Tak berapa lama bus berwarna biru muda itu datang yang terlihat sudah dipenuhi banyak penumpang, aku tak mendapatkan tempat duduk yang kosong aku berdiri di samping lelaki berkepala plontos dengan kumis tebal serta kaca mata berwarna hitam.
"Ouhhhh..." Aku masih mencerna kejadian hari ini yang terjadi seperti skenario dalam film layar lebar aku menertawai diriku yang bodoh.
Aku berusaha menjauhkan badanku dengan lelaki tua itu agar aku tak bersentuhan entahlah aku hanya takut pikiran negatifku menjadi nyata.
....
Sampai di rumah
Aku banting tubuhku yang lemas ini ke dalam ranjang tempat tidur berwarna baby blue yang masih tampak rapi, aku menangis sejadi-jadinya aku begitu bodoh rasanya menjadi wanita.
Aku berkali-kali terjebak dalam permainan cinta yang rumit ini.
.....
Julian pov
Malam semakin larut aku masih terus menghisap sebatang rokok murahan ini rasanya nikmat dan lenyap, tak lupa aku meneguk beberapa cairan dalam botol hijau yang berada di gengamanku rasanya seperti pembantu arah dalam khayalanku.
Aku memang gila rasanya saat tahu ayah dan ibuku akan bercerai.
__ADS_1
Aku tak peduli apa yang aku lakukan kali ini salah atau benar yang jelas aku bukan lelaki sempurna tentunya.
Aku tak menyangka keluargaku yang terlihat harmonis tanpa ada cela bisa terjadi perpisahan yang menyakitkan seperti ini.
"Lo gak balik men....?" ucap lelaki yang memakai seragam yang sama seperti yang aku kenakan.
"Gue nyaman disini lo balik aja" jawabku dengan lesu dan arah bola mata yang kosong.
"Serius disini gak ada siapa-siapa dan kalo ada apa-apa bukan tangungan kita'' ucap lteman yang satunya lagi.
"Gue ini laki-laki bangsat bukan perempuan lo bisa pergi dari sini....!!!" ucapku dengan brutal dan emosi yang akan meledak.
"Woy lo tu anak baru kemarin sore berani lo sama kita" ucapnya menjawab ucapan Julian yang angkuh itu.
Duas teman yang satunya lagi memukul pipi julian yang sebelah kiri
"Lo mending pergi dari besment kita, disini gak butuh teman tongkrongan kaya lo anak songgong...!!" perintahnya dengan bengis sembari menendang kaki Julian dengan sepatunya.
"Gue gak peduli..."
"Udah deh kita tinggalin aja bocah ini lama-lama juga jadi mayat" ucap lelaki yang lebih sagar lagi dari temanya.
Setelah itu mereka pergi meninggalkan Julian.
Aku tertawa keras aku menertawai kegilaanku hari ini aku tak sadarkan diri tubuhku melayang hebat seperti terbang tinggi di angkasa rasanya kebahagian semu seperti aku gengam sekarang.
Flasback on
Rumah Julian
Terdengar beberapa kali cekcok antara pasang suami istri itu salah seorang mereka sedang mempersiapkan makan siang, karena tak seperti biasa lelaki berkepala empat itu sudah pulang kerumah saat hari masih siang.
"Kamu gak seharusnya nodai pernikahan kita pa..." ucap wanita memakai daster hitam itu dengan berurai air mata berusaha memgang pergelangan tangan suaminya.
"Lepas...!!! jangan pegang tangan aku" jawabnya sembari memyingkirakan tangan mulus itu.
"Pa kenapa papa jadi berubah seperti ini"
"Kamu yang bikin aku berubah.." jawabnya dengan angkuh dengan tatapan tak ada belah kasih.
"Aku salah apa pa kita bisa bicara baik- baik kalo memang dari aku ada yang salah" ucapnya berusaha mempertahakan rumah tangganya.
"Plak... Kamu bisa diem gak aku capek dan aku mau kita cerai...!!" ucapnya dengan ketus dan keras.
"Papa jaga ucapan papa itu gak baik" ucapnya lagi berusaha meraih tangan yang biasa menjadi sadaran di hidupnya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari dari balik pintu anak lelaki berseragam abu-abu itu melihat kejadian itu dia menyaksikan dengan hati yang terluka hebat.
"Apa yang papa omongin benar pa.." ucap anak laki-laki itu menghampiri bapaknya.
"Iya Jul papa udah gak nyaman sama mama kamu..." ucapnya tanpa tau rasa sakit yang di rasakan anak serta istrinya.
DUASSSSS....!!! dengan berani anak lelaki itu menampar keras wajah bapaknya dengan tangan kanannya.
"Dasar anak kecil berani kamu tampar bapak kamu sediri...!!"ucapnya dengan amarah yang membara serta menujuk-nujuki arah anak lelaki itu.
"Papa gak seharusnya merusak rumah tangga papa sendiri apa papa tidak ingat sudah punya dua anak hah...!!!" ucapnya dngan membabi buta.
Dia segera pergi dari rumah itu dia mengendarai kembali motor yang belum sempat ia masukkam ke dalam rumah dan dia berjalan tanpa tau arah.
...
Dia berhenti di sebuah gang kecil dan bertemu gerombolan anak sekolah lain yang terlihat seperti preman dengan pakaian acak-acakan.
Dia memutuskan turun dan bergabung.
"Punya mata gak lo kalo jalan liat-liat" ucap lelaki bertampang sangar itu ketika tak sengaja kakinya terinjak oleh Julian.
"Sory gue hanya mau gabung" jawabnya dengan terus berjalan meleati anggita geng utu dengan santai.
"Woy ada temen baru nih tapi sayangnya songong" ucap lelaki berambut cepak itu
"Gue mau gabung" jawabnya lagi sembari memposisikan diri.
"Boleh...... Duduk dulu aku kasih hadiah buat kamu" ucapnya sembari melempar kardus kecil dan sebuah korek api
"Lo pasti belum pernah coba yang ini juga kan" tambahnya lagi mengulurkam botol hijau itu.
Julian mulai mencoba satu persatu benda haram tawaran bocah preman itu, lama kelamaan dia tak sadarkan diri dia hanyut dalam kenikmatan dunia yang semu. tanpa Julian sadari ada salah satu anak lelaki berbadan tinggi itu mengambil ponsel miliknya.
"Dasar cewek murahan gangu orang lagi party aja"
"Siapa sih...?" tanya Julian setengah sadar.
"Woy cewek lo nelphone nih.." ucapnya sembari melempar ponsel ke arah Julian.
"Buang tu barang sial..!" jawab Juluan dengan sempoyongan dan tersungkur di kursi yang sudah tak terawat itu.
"Huih dasar anak manja hahahaha..." ucap lelaki itu menertawai Julian.
"Kita isengin aja nih cewek...." ucap lelaki memakai topi hijau itu dengan mengedipkan mata.
__ADS_1
"Silahkan bebas men..." jawab Julian dalam keadaan sudah mabuk.