
Bel pulang telah berbunyi Julian segera memasukkan beberapa buku itu kedalam tas ranselnya.
"Hati ini libur dulu ya belajar kelompok soalnya gue ada janji..." ucaop Julian kepada ketiga sahabatnya itu sedang Putri terlihat masih sibuk dengan kertas ulangan itu.
"Put gue duluan ..." ucapnya ke arah Putri dan hanya ditangapi senyuman oleh Putri.
"Jul lo mau ada janji sama siapa sih?" tanya Denis sedikit penasaran karena sobatnya itu tak seperti biasa pulang secepat itu.
"Adalah someone" jawab Julian tak memusingkan ucapan Denis
"Widih Julian lagi mau cari vitamin nih..." ledek Roy dengan menunjukan tampang menyebalkan itu.
"Apa sih lo jones..." ucap Julian membalas ledekan Roy
"Yeee gak tau aja cewek gue sekampung..."
"Iya kampung gorila.." jawaban Julian sukses membuat semua tertawa.
Julian segera mengambil motor kesayanganya itu dia mulai menaiki dan menjalankan mesinya.
Julian menunggu Eliza di tempat biasa belakang sekolah yang jarang di lewati oleh siswa
"Nunggu lama ya...?" tanya Eliza dengan nafas tersengal-sengal.
"Ngak kok buruan naik.." jawab Julian dengan wajah datar.
Julian segera menyalakan motornya kembali mereka hanya saling terdiam seakan akan tak saling kenal
Eliza mulai merasakan hawa berbeda mulutnya serasa menjadi kaku yang tak seperti biasanya saat bertemu kekasihnya itu.
Tak berapa lama ternyata Julian menepikan motornya di Cafe yang terletak sedikit jauh dari sekolah itu.
"Turun..." ucap Julian ketika mesin motor itu mati.
Dengan segera Eliza turun dan menungu Julian memarkirkan motornya serta melepas helm itu.
Tak seperti biasanya Dia tak menyentuh telapak tangan yang biasanya digegam erat olehnya Julian terlihat acuh saat ini.
Mereka masuk dan mencari tempat duduk yang kosong yang hanya tersisa tiga slot kosong.
Eliza mengekori Julian dari belakang mereka duduk di meja yang terletak di sisi kiri baris keempat.
__ADS_1
Mereka berdua saat ini sedang bersama menikmati sisa waktu sore itu dengan secangkir coklat panas yang baru Ia pesan
"Jul..." ucap Eliza pada akhirnya dia seakan akan tak mampu menahan perasannya untuk berbicara.
"Iya" jawab Julian yang masih terlihat sibuk dengan layar ponsel itu yang tak seperti biasa dilakukan Julian saat ngedate dengan dirinya.
"Bisa gak taruh sebentar ponsel kamu...?" ucap Eliza dengan memohon.
"Kenaap sih" ucap Julian tanpa melihat arah sumber suara.
"Maaf aku gak maksud bentak kamu sayang" ucapnya pada akhirnya dengan rasa bersalah
"Oke" jawab Eliza tak mau pusing dia segera menyeruput coklat panas yang masih sedikit mengeluarkan uap itu tanpa mempedulikan sifat Julian.
"Jul kamu kenapa sih semenjak terakir dari rumah kak Rehan itu kamu beda..?" tanya Eliza dengan sekuat tenaga menyimpan pertanyaan itu dan akhirnya jebol sudah dia tak mampu menahanya lagi.
"Gak kok apanya yang beda coba sebutin..?" ucap Julian dengan nada tak ada salahnya.
"Gak kok Jul mungkin perasaanku aja kalau gitu..." jawab Eliza menyerah pada akhirnya.
"Mau aku pesinin roti bakar..?" tanya Julian yang berusaha menghibur kekasihnya itu yang terlihat tampak murung.
Julian saat ini sedang mencari tempat les yang cocok untuknya karena baginya Dia tak akan pernah mengecewakan mamanya Dia sesang berusaha keras mendapatkan nilai tinggi ulangan nanti.
"Jul wekend jalan yuk" ajak Eliza berusaha mencairakan suasan yang terasa kaku itu.
"Aku gak bisa deh El soalnya aku ada les bahasa ingris sama latihan basket" bualnya Julian menolak ajakan Eliza.
"Oh yaudah kalau gitu... " Akhirnya Eliza menyerah Dia kembali diam sembari melihat wajah tampan yang membuatnya kini sedih itu
"O iya itu deket bibir kamu ada ap Sih...??" Julian menyentuh bibir itu dengan selembar tisu itu dengan manisnya Julian menyeka sisaan coklat uang menempel itu.
"Ntar kalo di biarin bisa mengeras sayang..." ucapnya dengan nada manis dan halus namun Eliza tetap diam Dia tampak tak peduli dengan yang dilakukan Julian entah kenapa hatinya justru merasa sakit.
"Sayang jangan pernah berpikir aku beda ya jujur aku pengen banget ujian nanti nilai aku bagus makanya dari tadi tu aku sibuk nyari tempat les...." jelas Julian dengan jujur namun bagi Eliza itu seperti jawaban yang tak mudah Ia terima.
"Iya" jawab Eliza dengan senyum yang dipaksakan.
Eliza jadi mengurungkan niatnya untuk meminta menemaninya ke rumah Dea bersama tante Ayunda.
Waktu begitu cepat berlalu hingga tak terasa hari semakin sore Julian masih tetap sama lebih banyak diam dan mengotak-atik ponselnya itu tanpa lelah hingga menbuat Eliza seperti barang sisa yan tak diangap.
__ADS_1
"Jul aku duluan ya soalnya mama aku nelpone suruh pulang cepet nih..." Eliza beranjak dari tempat duduk meningalkan Julian dan secangkir coklat panas yang kini dingin itu.
"Oh kok buru-buru banget sih masih juga jam lima" jelas Julian yang tanpa sadar sikapnya membuat Eliza melakukan hal itu.
Ingin rasanya Eliza meluapkan emosinya namun dengan sekuat tenaga dia menahanya karena jik Dia lakukan akan memperkeruh siasana.
"Mama aku sudah di depan aku duluan..." ucap Eliza lagi kewalahan mencari alasan agar segera bebas dengan Julian.
"Sayang kamu kenapa sih kok jadi cemberut gitu...?"
"Aku gak papa Jul beneran ini memang udah sore aja kan aku juga masih banyak tugas buat latihan vokal besok"
Eliza segera keluar dari kafe itu entah kenapa baru saat ini hatinya terasa sakit melebihi sakitnya waktu sebelum- sebelumnya disaat dia mengabaikan hatinya serasa luka itu semakin terbuka nyata.
Dia menyetop taksi berwarna biru muda itu dan segera menumpanginya sebelum Julian tau.
Dalam perjalanan Dia lebih banyak diam menatap arah luar dari bilih kaca taksi itu.
Samapi rumah...
Sayang kok baru pualng sih dari mana...?" tanya wanita paruh baya yang masih lengkap mengenakan baju kantornya karena baru saja sampai rumah.
"Iya ma maaf ya tadi ada tugas banyak di kelas jadi harus dilembur deh di rumah temen" jawab Eliza berbohong.
"Oh yaudah kalau gitu cepet ganti baju habis itu kita makan bareng ya" jelas wanita itu kepada putri satu-satunya itu.
"Iya ma"
"Pasti gara gara Julian kamu jadi beda gini ya kan...?" wanita itu seperti tau perasaan putrinya karena Dia juga pernah muda.
"Ma plis jangan bawa-bawa Julian dia tu bukan seperti yang mama Pikirkan..." jelas Eliza berusaha membela pacarnya.
Wanita itu hanya tersenyum menangapi sifat putrinya yang masih labil.
Eliza segera berjalan meninggalkan mamanya dan mulai menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Mungkin tadi lagi baper aja kali ya aku..." ucap Eliza sembari menjatuhak tubuhnya dia atas kasur.
Dia membuka ponselnya dia sangat berharap Julian mengirimnya pesan atau menelponya tapi sayang Julian tak melakukan seperti apa harapanya.
Eliza tak memusingkan hal itu Ia kembali menjauhkan ponsel itu darinya.
__ADS_1