Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 165


__ADS_3

Pernikahan Ayunda sudah usai sehari lalu saat ini Rehan sedang bersama om Lukman adik terakir dari ayah kandungnya yang kini tinggal di hotel karena urusan pekerjaan dan rencananya Rehan akan ikut serta pindah ke Medan nanti malam bersama om Lukman.


Hatinya terlanjur sakit dan karena Ayunda telah menikah lagi menjadikan kini kepercayaanya hilanglah sudah.


Kekecewaan yang dirasa Rehan rupanya kini membuatnya tak mampu melanjutkan hidup di Ibukota ini tempat tanah kelahiranya ataupun bertemu mamanya dan lelaki bernama Wijaya yang stausnya sekarang menjadi ayah angkatnya saat ini.


Dan jika itu Dia lakukan sama saja Dia menjatuhkan diri di lubang kesengsaraan yang sma lagi sampai akhir sisa nafasnya pun Dia tak akan pernah merestui pernikahan gila itu.


Serta karena alasan lain tiada lain dan bukan Ialah karena Eliza wanita yang telah diperjuangkan cintanya itu terasa hanya berbuah rasa kecewa karena harapanya akan memiliki Eliza itu tampaknya hanyalah mimpi baginya dan harapan itu tampaknya pupuslah sudah karena Eliza lebih memilih lelaki bernama Julian itu.


Kopi hitam serta beberapa minuman soda itu tampak setia menemani kelamnya masa-masa Rehan saat ini dengan di bantu sebungkus rokok rasanya kesenduan hatinya itu bisa terlampiasakan Dia tak mengabari mamanya dan Dia percaya saat ini mamaya telah menikah dan hidup bahagia.


Kini tampakya Dia tak akan menggangu acara bahagia mamanya dengan Wijaya lelaki brengsek baginya yang sudah menghancurkan hidupnya saat ini.


"Han kamu serius mau ikut om ke Medan...?" tanya lelaki yang masih setia melajamg itu walau umurnya sudah cukup dan terbilang mapan dalam urusan pekerjaan namun memang datangnya jodoh adalah kehendak dari sang kuasa


"Iya om aku serius..." jawab Rehan sembari menghisap rokok itu dan mengeluarkan kepulan asap itu dari mulutnya.


"Om sudah bilang berkali-kali rokok itu tak baik untuk kesehatan" ucap lelaki yang terlihat sedang mengerikan rambutnya yang basah itu dengan handuk.


"hahahha om om ini cuma lagi kepengen aja tapi serius lho om ini nikmat banget..." jawab Rehan justru terkekeh dengan kebiasan hidup bersih adik lelaki ayahnya itu baginya apa salahnya menghabiskan uang dengan rokok toh semua ini normal bagi lelaki.


"Terus untuk kuliah kamu bagaimana?" tanya lelaki itu lagi dengan tampang terlihat serius.


"Aku sudah atur semua om dan om Andre juga turun tangan bantu urusan kuliah aku" jawab Rehan dengan santai sembari menenguk seteguk kopi hitam itu.


"Oh begitu syukur deh jadi om gak perlu capek-capek mikirin itu lagi, mendengar cerita kamu om gak maksa kamu tapi om akan bantu kamu apa saja kedepanya.. "jelas lekaki bernama Lukman itu yang sekarang terlihat mulai menyisir rambutmya denagn rapi hidup mandiri menjadikan lelaki itu serba disiplin tak seperti keponakanya yang terlihat hanya bermalas-malasan saja.


"Iya om aku gak bisa memaksa mama buat membatalkan pernikah itu tapi ini pilihan mama jadi ya aku harus belajar iklas..." jawab Rehan dengan tertawa pilu.


"Tapi ingat ya Han hidup itu keras jadi jangan berpikir kamu akan selamanya menikamti hidup sesantai ini jika kamu serius ikut om ke medan kamu harus belajar keras untuk hidup..."jelas lelaki itu lagi menasehati keponaknya agar tak mengangap kehidupan selalu sama.


"Oh baik om, maaf om aku mau ketemu teman aku sebelum nanti malam keberangkatan kita boleh kan..." ucap Rehan sembari beranjak dari tempat duduk itu dan mengambil celana panjang berbahan jens itu.


"Terserah kamu anak malas..." jawab Lukman dengan terkekeh.


Tak lupa Rehan juga mengambil jaket hitam miliknya yang berada di gantungan baju itu setelah selesai Dia keluar dari kamar hotel dan menuju ke arah bawah basment Hotel temaot Dia menginap.


Dia mulai melajukan motor hitam itu untuk menuju ke rumah Eliza tak lupa Dia mampir terlebih dahulu ke toko bunga langananya untuk menberikan sebucekt bunga untuk wanita yang dicintainya itu.


Hingga tak berapa lama Dia sampai di depan rumah Eliza.


"Permisi..." ucap Rehan yang terlihat berdiri di depan gerbang pintu masuk itu.

__ADS_1


"Iya mas ada apa ya...?" tanya pak Armo penjaga kebun itu yang kebetulan hari ini jadwalnya Dia masuk kerja.


"Elizanya ada pak . ?" tanya Rehan langsung tanpa bertele-tele sembari melepas helm yang bertenger di atas kepalanya.


"Oh ada sebantar ya saya pangilkan..." jawab pak Armo seraya membukakan pintu gerbang dan berjalan masuk kedalam rumah dan memangil anak majikanya jika ada tamu.


"Tokkk tokk maaf mbak ada yang mencari mbk Eliza" ucap pak Armo di depan pintu kamar Eliza sembari mengetuk pintu


"Siapa...?" tanya Eliza yang terlihat sedang melingkarkam handuk untuk menutupi tubuhnya karena Dia baru selesai mandi


"Maaf mbak saya kurang tau yang jelas ada lelaki seumuran dengan mbak yang datang dan sudah nunghu di depan" jawab pak Armo nmemberikan pernyataan dengan jujur.


"Oh baikalah..." jawab Eliza dengan terburu-buru memakai baju.


Setelah pak Armo pergi Eliza segera berjalan ke arah pintu utama dan membuka pintu dan betapa terkejutnya Dia saat mengetahui ada Rehan yang sudah duduk manis di teras itu wajahnya tampak kikuk pikiranya jadi memikirkan kejadian waktu kemarin di minimarket itu.


"Oh kak Rehan ..." ucap Eliza dengan sopan sembari duduk di kursi yang berjarak satu kursi itu dengan Rehan.


"Iya maaf ya kalau ganggu, em aku boleh ngomong sebantar...?" ucap Rehan denagn nada berat dan serius tampaknya Rehan ingin membicarakan hal penting terhadap Eliza.


"Oh iya kak ada apa...?" tanya Eloza demhan nada antusias.


Eliza merasa cemas cemas hebat ketika mendengar jawaban dari Rehan yang tampak ingin membicarakan hal serius itu pikiran negatif itu kini seperti melayang-layang di otakknya.


Dia mulai mengambil gelas bening itu dan menuanginya dengan jus angur yang berada di dalam lemari es itu.


Di lanjutkan Dia mengambil nampang dan berjalan ke arah teras depan namun mendadak langkah kakinya terasa menganjal karena Rehan terus menatapnya dan membuat Eliza menjadi salah tingkah.


"Ini kak minumnya..." ucap Eliza kepada.Rehan sengan lembut dan terlihat kini gadis yang terlihat natural itu mulai salah tingkah akibat tatapan mata Rehan.


Hingga akhirnya Eliza duduk kembali dan Rehan mulai membicarakan apa maksudnya


"El aku mau ngomong sesuatu..." ucapnya dengan tatapan sendu dan pandangan mata terlihat kosong.


"Ngomong apa kak...?" tanya Eliza dengan raut wajah was-was Ia takut kak Rehan akan menembaknya untuk kesekian kalinya


"Nanti malam aku akan pindah ke Medan" ucap Rehan dengan tatapan memdakam dan dengan nada berat terlihat sesunguhnya Rehan sedih jika harus meninggalkan wanita di hadapanya namun untuk apa jika cintanya sudah bertepuk sebelah tangan.


Mendengar ucapan kak Rehan Eliza tampak terkejut serasa alairan darahnya seperti berhenti sesaat.


"Seriussss kenapa kak...?" tanya Eliza denag mata terbelalak.


"Udah gak usah kaget aku cuma mau berpamitan aja dan ini ada sebucket bunga mawar putih kesukaan kamu aku mohon ya jangan lupain aku walau aku hanya mirip kertas usang yang memepel di sebuah majalah baru..." jawab Rehan dengan terkekeh Dia sangat tak menyaka sebegitu terkejutnya Eliza denag rencana kepergianya.

__ADS_1


"Kak ngomong apa sih kakak kenapa harus pindah ada apa kak.. ?" tanya Eliza lagi menanyakan alasan dasar lelaki itu memutuskan untuk pindah.


"Kamu tau sendiri kemarin hari pernikahan mama aku dan tentunya kini sudah sah dengan lelaki bernama Wijaya itu so buat apa aku masih disini buat apa El...?" jawab Rehan denagn nada kesal karena ketika mengingat alsana Dia pergi rasanya Dia ingin membunuh lekaki bernama Wijaya itu.


"Ya aku paham betul perasaan kakak bagaimana tapi maaf aku gak bermaksud kak.." lanjut Eliza dengan berat hati di tinggalkan orang yang kenal dekat denganya karena Eliza sudah mengangap lelaki di depanya itu sebagai kakaknya sendiri.


"Kamu gak perlu mikir yang macem- macem niat aku kesini cuma satu aku mau pamit aja karena biar kesanya aku pergi tanpa kabar..." jelas Rehan dengan seksama


Eliza hanya diam menganguk melihat tatapan mata kak Rehan rasanya Dia sangat tak mampu apalagi meneliti Dia hanya mencoba meresapi setiap permasalahan yang terjadi dengan langkah kak Rehan itu.


"El...?" ucap Rehan dengan tatapan mendalam sembari meraih tangan mulus itu.


"Iya kak" jawab Eliza tak menolak sentuhan tangan itu karena baginya ini hari terakir Dia tak ingin membuat Rehan semakin bertambah sedih hatinya memang tak buat lelaki itu namun sikap baiknya tentu untuk siapa saja dan karena sentuhan itu hanya berlangsung sangat singkat.


"Em aku boleh minta satu ciuman gak..." ucap Rehan dengan cepat dan membuat Eliza terkejut Dia jelas tak mungkin memgijikan kak Rehan melakukan itu karena sesuatu yang sensitif itu milik Julian seorang.


"Maaf kak aku gak bisa..." ucap Eliza dengan cepat ke arah kak Rehan walau Dia tau ucapanya akan membuat hati kak Rehan sakit.


"Oh yaudah gakpapa,maaf juga kaluaku terlalu lancang..." jawab Rehan dengan nada sangat kecewa dan membuat Eliza tak tega melihatnya.


"Kayaknya hari hampir sore juga aku pamit pulang ya" lanjut Rehan melanjutkan ucapanya yang terpotong.


Tak terduga Eliza langsung berdirii dan memeluk tubuh tinggi yang mulai berdiri itu dengan lembut.


"Maafin aku ya kak hati aku emang benar- benar gak bisa milih kakak tapi suatu saat nanti aku berdoa semoga kakak menemukan wanita yang tentunya jauh lebih sempurna dari aku..." ucap Eliza dengan nada bergetar Dia rupanya tak tega menolak berkali-kali ungkapan cinta dari lelaki yang berada di pelukanya itu.


Rehan merasa sangat haru akirnya wanita yang sangat disayanginya itu memeluknya Dengan erat walau hanya perpisahan yang membut mimpi indahnya menjadi nyata seperti ini.


"Iya gak papa aku pamit ya selamat tinggal" ucap Rehan yang mulai melongarkan pelukan itu dan berpamitan kepada Eliza.


Dan Eliza hanya menganguk sembari menyeka air matanya entah kenapa hatinya sangat tak tega melihat lelaki itu pergi dari rumahnya Dia merasa salah pernah membenci lelaki baik itu hingga akhirnya Dia bisa meyimpulkan Julian dan kak Rehan adalah sama.


Rehan mulai menutup pintu gerbang itu dan melambaikan tangan ke arah Eliza dan Eliza hanya bisa membalasnya sengam senyuman pilu itu.


Eliza meraih sebuket mawar putih yang terlihat masih segar itu dan Dia cium berkali-kali perlahan lahan dan Dia hirup.


Kepegian kak Rehan yang terasa sama dengan kepegian Julian dua bulan yang lalu.


Kini Dia bisa merasakan keluarga adalah segalanya Dia mulai berjalan ke pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur hatinya merasa begitu terenyuh saat mengingat permasalahan yang di hadapi orang yang sama dan lelaki yang sama- sama mencintainya jika dibilang dunia itu sempit ada kalanya perkataan itu benar.


Dia meraih ponsel rosegold milknya entah kenapa kali ini Dia begitu rindu dengan Julian walau kata rindu itu selalu berulang-ulang Ia katakan.


Dia terus mencoba memangil dengan pesan suara dan juga vidiocall tapi nihil adanya Dia semakin merasa Julian sedikit demi sedikit terasa berubah Dia memang hanya setia yang bisa Dia handalkan.

__ADS_1


Dia menutup layar ponsel itu ternyata setelah kepergian Julian kini hari-harinya tampak berbeda hinga menjadikan Dia memiliki sifat posesif berlebihan.


__ADS_2