Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 48 : Lanjutan


__ADS_3

Aku segera berlari mengejar Eliza.


Sett..!!!.


Dia menangis di belakang tembok yang terlihat sepi di dekat pagar, ingin rasanya aku memeluknya...


Air matanya terus jatuh dan menepi di setiap sudut wajah mulusnya.


Hatiku bergetar hebat terasa sepeeti tercabik-cabik sebilah  pisau yang tajam.


Perih...., itu yang kurasakan hatiku saat ini


Cemas..., mukin suasana yang tergambar saat ini di wajahku


Tangganku ingin meraihnya namun mendadak menjadi berat.


"Ini sakit...." ucapnya dengan pelan sembari menyeka air matanya.


"Eliza...." ucapku yang terasa tertahan di tenggorokan.


Tiba-tiba dia menjambak rambutnya dengan brutal.


Hatiku kembali bergetar hebat melihat keadaaan Eliza saat ini.


"Begitu jahatnya aku...!!!" gumanku dalam hati dan dengan perasaan iba yang mendalam.


Tak berapa lama dia menangis sesengukan dan tubuh mungilnya dia tempelkan di pagar bercat putih itu.


Aku terus mengintip dia dan melihat gerak-geriknya.


"Andaikan aku boleh meminta aku tak ingin punya rasa suka ya Tuhan" ucapnya sambil kembali menyeka air matanya.


"Aku harus melakukan ini....!!!" ucapku sembari melangkah mendekatinya dan dengan naluriku aku memeluknya dengan erat.


"Lo ngapain lakuin ini Jul...??" ucapnya dengan kasar dan dia berusaha melepaskan pelukanku.


"Maaf El..." ucapku sambil berusaha meraih badanya lagi untuk kembali di pelukanku.


"Lo tu gak seharusnya hadir di kehidupan gue Jul...!!" ucapnya sambil tertatih dengan suara parau.


"Iya El  gue minta maaf..." jawabku dengan nenatap matanya dan berusaha mempertemukan arah matanya yang mukin tak sudi melihatku.


"Elizaa...!!!" ucapku dengan terkejut ketika melihat badan dia limbung dan tersungkur ke bawah.


Langsung aku mengangkat tubuhnya dan membawa dia ke kursi yang ada di dekat pagar.


Begitu kurusnya dia saat ini terlihat pipinya yang sedikit tirus.


Aku terus mencoba membangunkan dia dengan mengerakan badanya namun nihil dia belum juga bangun akhirnya aku memutuskan membawa dia ke klinik yang ada di dekat jalan persimpangan, segera aku mengangkat badanya dan berjalan sedikit cepat.


Aku segera membawanya ke pintu masuk yang bertuliskan UGD, karena sangat kawathirnya aku akan keadaanya dan segera memangil beberapa suster yang berjaga dan menidurkan dia di rajang pemeriksaan.


"Mas bisa keluar sebentar biar saya periksa dulu..!" perintah salah satu suster sembari menutup pintu kaca tersebut.


"Iya sus" jawabku dengan lesu.


Badanku ambruk dan aku sederkan ke diding rumah sakit hatiku tercacah hebat melihat keadaan ini .

__ADS_1


Otakku terasa panas sepanas bara api yang membulat hebat.


Tak berapa lama perawat yang memeriksa Eliza menghampiriku.


"Mas bisa tanya riwayat penyakit adekknya...??" ucapnya menanyakan perihal yang mebuatku sedikit kebingungan untuk menjawabnya.


"Maaf sus saya kurang tau saya temanya" jawabku dengan sedikit pelan dan raut wajah lesu.


"Oh.... Saya kirain mas ini kakaknya" jawabnya sambil berlalu pergi.


"Emang ada apa sus...??" tanyaku sambil berjalan di samping suster menyeimbangkan langkah kakiku dengan susrer berbaju putih itu.


"Tadinya saya mau menanyakan riwayat penyakit pesien ini.." jawabnya yang membuatku sedikit penasaran dengan keadaan Eliza.


"Sus saya boleh tau terlebih dahulu keadaanya...??" tanyaku dengan nada naik turun.


"Saat ini keadaanya sedang stabil tapi syaraf di otakknya sedikit tergangu.." jawabnya yang membuatku penasaran.


"Maksud nya sus...??"


"Dia gak apa-apa kan..??" tanyaku lagi melanjutkan pertanyaanku ke suster.


"Gak apa-apa mas hanya emosinya yang saat ini sedang tidak kondusif"


"Untuk selanjutnya mas bisa ke meja adminitrasi untuk tidak lanjut pemeriksaan ini" ucap suster lagi sembari menunjukan beberapa catatan yang tertera di selembar kertas.


"Baik sus" jawabku sambil berjalan menuju meja yang berada paling depan


Dan menyerahkan hasil pemeriksaan ini.


"El...." ucapku memantung di depan pintu.


"Gue mau pulang...."ucapnya dengan tatapan kosong.


"Eliza aku boleh minjem ponsel kamu...???" tanyaku sembari mendekati Eliza.


"Julian gue mohon lo pergi.....!!" tanpa menjawab justru dia membentak ucapanku dengan mata melotot tajam.


"Maaf mas mbk Elizanya sedang tidak stabil mas lebih baik keluar terlebih dahulu...".


"Tapi sus saya harus menghubungi keluarganya terlebih dahulu..." elaku berusaha agar tetap di sisi Eliza.


"Baik saya bisa mengerti lebih baik mas pulang" tambah suster tersebut.


"Oke El kalo ini emag mau kamu...." ucapku pasrah dan dengan nada bergetar.


Segera aku berjalan keluar dan berlari menuju tempat aku memarkirakan motor.


"Sial


Betapa bodoh nya aku Eliza....!!" umpatku kesal dalam hati.


Terlihat matahari mulai surut dan tergantikan dengan sorotan lampu jalanan yang terlihat redup.


"Elizaa... Maafin gue...!!!!" ucapku tanpa tau malu di jalanan sembari menendang beberapa kali pohon yang tak punya salah ini.


Tanpa berpikir panjang aku putuskan segera beranjak pergi dan menuju rumah Eliza.

__ADS_1


Saat sampai di Rumahnya terlihat ke dua orang tuanya sedang berada di luar aku bimbang antara mendekati atau tidak aku putuskan mengintip dari deretan pohon cemara  yang berjajar rapi di tepi jalanan.


"Eliza ini ada ada saja ya pah..." ucap mama Eliza yang terlihat gelisah.


"Udahlah ma yang peting kita tau keaadaanya dahulu" jawab ayah Eliza sembari menutup pintu mobil sedikit keras.


Samar-samar aku medengarkan percakapan kedua orang tua Eliza yang terdengar kawatir.


Mobil hitam itu berjalan keluar aku terus memandang lurus kedepan melihat arah mobil itu berjalan.


Aku memutuskan pulang karena hari semakin larut aku pun tak ingin lelahku semakin menjadi.


Aku kendarai motorku dengan kecepatan kecang agar segera tiba di rumah.


Sesampainya di rumah langsung aku membuka pintu betapa terkejytnya aku saat melihat mama sudah ada di depan.


"Kok baru pulang kak...?? Tanya mamaku yang terlihat mengintrogasi dan sedikit membuatku kaget.


"Kerja kelompok ma" jawabku lesu sembari melepas sepatu dan berjalan menuju arah tangga.


"Julian gak makan dulu...??" tanya mamaku yang masih berdiri mematung di dekat aquarium.


"Tadi udah makan ma di rumah temen'' jawabku asal dan segera menaiki tangga dengan cepat.


"Yaudah istirahat aja kak" ucap mamaku


Tak ku balas ucapan dari mama hanya senyum tipis yang aku tunjukan.


Sampai kamar aku hempaskan tubuhku kasar di kasur batapa lelahnya hati ku saat ini.


Aku mencoba mengecek ponsel yang mukin dayanya yang mulai menipis


"Putri...." satu nama yang aku ucapkan yang terdengar basi.


"Sial....!!" ucapku brutal


"Elizaaaa......!!!!" Pikiranku kembali memuncak


"Aku salah aku gak seharusnya nyakitin hati dia dan dia hanyalah korban dari Dea" ucapku meronta sembari mengatur deru nafasku yang sedari tadi tak teratur.


Drett...


Ponselku berbunyi dan tertera nama Dea aku bimbang antara meladeninya atau mengabakainya.


"Cewek gak punya aklak..."ucapku sinis


Aku lempar ponselku dan kulanjutkan berbaring.


"Gue kangen El sama lo..." ucapku pelan sembari melihat langit-langit kamar.


"Andaikan gue tau dari awal kali ini semua perbuatan Rehan gue gak akan giniin lo El " umpatku penuh penyesalan.


Dan kata-kata suster tadi terus terniang- niang di otakku tentang penyakit Eliza serta keadaanya selama ini yang tak pernah aku perhatikan dan hanya tersisa penyesalan.


"Sayang maafin aku..." ucapku berulang kali.


"Melihatmu sekarang seperti bukan melihat diri kamu" ucapku pasrah dan berusa menutup mata.

__ADS_1


__ADS_2