Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 80


__ADS_3

Sebentar lagi ada turnamen basket antar Sekolah SMA se Jakarta, yah setiap hari aku selalu melihat Julian latihan, setiap jam istirahat serta waktu pulang Sekolah lapangan selalu ramai oleh para  siswa yang melihat latihan basket, pesona dari pemain basket di Sekolahku masuk dalam kriteria para kaum hawa.


Namun untuk kali ini kecemburuanku sedang diuji hebat sepertinya.


Bermula saat aku mulai melihat latihan basket saat jam istirahat.


"Eliza lihat latihan basket yuk...?" ajak sahabatku yang memang sudah kuanggap seperti kakaku sendiri.


"Oke..." jawabku dengan memperlihatkan gigi putihku tak lupa senyum mengembang sudah kutampakan.


"Wih ada yang kesemsem nih..." celoteh Rena yang membuat aku ingin menepok jidatnya karena bibirnya terlalu berisik.


"Suthhhh...., jangan keceng-keceng" ucapku sembari menutup mulutnya dengan jari telunjukku.


"Tapi gue beli minum dulu ya...." Vey yang sekarang ikutan nimbrung.


"Buruan Vey jangan lupa gue sama Rena jus seperti biasa" jawabku sembari mendorong badanya maju.


"Santai kali siap...." ucapnya dengan semangat.


"Sip...."


Terdengar sorak sorai dari tim childers itu mulai megelegar, suasana menjadi meriah apalagi utuk kaum lelaki yang mulai mengeluarkan suitan khasnya.


Tim chiliders yang berangotakan siswa berbadan profesional serta memiliki bentuk tubuh yang sempurna mampu membuat mata siapapun tak berkedip, dengan baju seragam ketat berwarna menarik itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para siswa lelaki.


Dan Julian dengan gestinya mulai melatih ketangkasan dia dalam bermain basket terlihat wajah tampannya kini penuh peluh keringat.


Hati Eliza sekarang sedang menari ria matanya tak luput memandangi cowok berbadan kurus itu.


Dia senyum-senyum sendiri mukin laletpun jadi iri dibuatnya.


"El tumpah tu minuman lo .." ucap Vey membuyarkan lamunanku.


"Oh iya" jawabku sambil mengatur posisi cup berisi jus buah melon ini agar tak miring.


Sementara kak Rehan sekarang sedang sibuk dengan urusan ujian jadi waktunya hanya dihabiskan untuk belajar di kelas.


"El lo gak mau ikutan apa....??" tanya Sena yang tanpa aku sadari sudah berdiri di sampingku yang kembali mengusik hayalan manisku.


"Pengen sih tapi telat" jawabku sambil menyeruput jus dengan sedotan berwarna hitam ini.


''Lihat tu jadi para idola para cowok tau" tambah Rena lagi sembari memakan stik kenatng berbumbu bubuk cabai itu.


"Bener sih kalian" timpal Vey mulai ikut-ikutan.

__ADS_1


Terlihat mata Dea kini merujuk ke arahku dengan tatapan angkuhnya serasa dendam kita mulai beradu.


Mata kita bertemu dan dia memutar bola matanya sembari memutar jempolnya ke arah bawah dan memberikam senyuman mengejek.


"Sialan tu Dea...." ucapku sedikut pelan namun siswa si sekitarku mukin mendengar. Gigiku mulai menyatu dan menimbulkan bunyi krek.


Dan dengan sengaja Dea melepar tisu bekas keringatnya ke arahku


"Woy punya mata gak lo...." teriaku dengan keras dan terlihat semua pasang mata kini merujuk ke arahku namun sepertinya Julian tak mempedulikanku.


"Ups sory gue kira tadi tong sampah...." ucapnya dengan santai dan suara angkuhnya mulai ditunjukkan.


"Dasar Dea gila ya lo....!!!!!" ucapku berusaha meneriaki dia lagi.


"Udah El lagian gak kena juga santai...." ucap Rena berusaha menenangkanku.


"Tapi hampir tau bisa-bisa lo turun pangkat El kalau sampai muka kamu kena tisu yang menjijikan itu" ucap Vey justru membuatku menjadi semakin jengkel.


Namun beberapa saat karena kecerobohan Dea formasi gerakan itu menjadi gagal dan Putri jatuh karena dia yang berada di atas.


"Awwww...." teriak Putri yang jatuh dari gerakan tim itu karena kesalahan Dea kurang fokus.


"Dea lo gimana sih ..." ucap Devi menyalahkan kejadian ini perihal kesalah Dea.


"Putri lo gak papa..." ucap Dea begitu panik


Dan dengan cekatan Julian menghampiri Putri sontak menjadi tontonan dari semua pasang mata.


Dan yang membuatku begitu ingin berteriak sekeras-kerasnya saat Julian mengangat tubuh Putri dan membawanya ke UKS aku yang berada di sebelah UKS, yang memang letak UKS berada di dekat  halaman sekolah .


Julian hanya melewatiku tanpa mempedulikan keberadaanku sepatah kata pun tak keluar dari bibirnya, bau rambut yang tak berubah itu membuatku ingin menariknya sekarang karena aku begitu tak rela dia peduli dengan wanita lain.


"Dasar tu cewek gatel amat...." batinku berkomat-kamit melihat wanita itu yang memunculkan coretan luka di dadaku.


"Lo gak papa kan Put...??"ucap Julian yang terdengar begitu khawatir.


"Gue gak papa kok" jawabnya merintih sambil menahan easa sakit


"Tolong cepet pangilin anak UKS...!" teriaknya mengarah ke teman Putri


Hatiku benar-benar cemburu sekarang melihat begitu perhatianya Julian kepada Putri, hatiku sekarang begitu panas terbakar rasa cemburu yang terus berkobar.


Ingin rasanya aku memukul kaki Putri yang sakit itu biar dia lebih menderita batinku dengan kesal dan mulut yang sudah siap meledak meneriaki dia.


"Uhhh kasihan cowoknya lebih tertarik dengan cewek lain...." ucap Dea yang enatah kapan datangnya sudah ada di sampingku.

__ADS_1


"Sakit kan..." ucap Dea lagi dengan menjulurkan jarinya ke arah dadaku dan matanya melotot tajam.


Dengan segera aku mulai meladeni ucapanya.


"Tau apa lo tentang gue dan sory ya jangan setuh baju bersih gue dengan tangan kotor lo....!!" ucapku dengan judes ke arahnya.


"Hu hu hu kayaknya lo keberatan deh nahan air mata lo sini biar gue bantu bawa uh kasian..." ucapnya dengan ejekan begitu manis yang membuat ubun-ubunku justru semakin mendidih sempurna.


"Kalian ini apa-apaan sih" lerai Rena yang sudah tau kelanjutan dari cerita selanjutnya apa.


"Dasar lo jones bangga banget sih...!!" ucapku dengan brutal ke arahnya.


Setelah itu aku berlari pergi dan memberikan minuman yang belum terminum sebagian itu kepada Rena.


"Eliza tunggu-tunggu lo kenapa sih...."


"Gue cemburu" jawabku terus berjalan cepat sebelum air mata ini jatuh bukan pada tempatnya.


"Yeee El ini minum kamu..." ucap Rena justru membuat kemarahanku semakin menjadi-jadi.


Dasar Putri lo bener beber bikin otak gue meledak sekarang....!!"


"Eliza berhenti lo mau kemana sih..."


"Gak perlu ikutin gue..." ucapku berusaha membuat ke dua temanku tak berjalan mengikutiku.


Aku langsung menuju gedung belakang sekolah aku mulai mengatur deru nafasku dan seketika aku menangis aku begitu cemburu melihat kejadian tadi.


Kenapa rasanya sesakit ini saat melihat orang yang aku cintai lebih peduli dengan orang lain rasanya aku benar-benar bersulut api cemburu.


"El udah deh lo tu jangan cemburu buta gitu sadar El...." ucap Vey yang mulai duduk di sebelahku.


"Lagian kan kaliaan udah putus jadi lo harus bisa nerima jika Julian tu bukan milik lo lagi..." tambah Rena sembari menyeka air mataku.


"Iya aku tau kok tapi berat buat gue nglepasin Julian hatiku seaakan-akan udah menyatu dengan dia...." jawabku dengan suara bergetar.


"Udah dong nangismya lo gak malu apa kalau di lihatin kucing lo nangis buat orang yang bukan milik lo..." ucap Vey yang membuat hmataku sedikit tersadar.


"Iiihhh lo tu kok bisa-bisanya bercanda udah tau gue lagi sedih...." ucapku dengan nada jengkel


Setelah itu justru mereka menertawaiku terbahak-bahak.


Tanpa mereka sadari sehabis Putri mendapatkan perawatan Julian segera mengejar Eliza karena dua tau dari raut wajah Eliza tersirat jelas rasa cemburu yang begitu membuatnya merasa bersalah.


Saat mengetahui Eliza sudah baikan dia menghentikan langkahnya dan berdiri di dekat Eliza dan ke dua temanya dia hanya tersenyum.

__ADS_1


"Maafin gue El gue gak bermaksud lain..." ucapnya sembari melihat orang yang pernah membuat lukisan indah di hatinya itu dengan tatapan penuh makna.


"Gue masih sayang lo kok..."


__ADS_2