
"Elizaa.....!!!" teriak seseorang dari depan pintu yang terdengar familiar di telingaku
"Vey dan Rena" umpat ku dalam hati
Aku terbangun dengan kaget
Oh shittt...
Apakah yang harus aku lakukan di depan mereka...??
Otakku berputar-putar dengan buas....
Seketika aku berdiri dan ku tata sedikit rambutku maupun wajahku dengan rapi agar tak terlalu terlihat kacau
"Iya...." jawabku sambil membuka pintu
"Kalian kesini...?" tanyaku lagi sambil berjalan ke tempat tidur
"Masuk...!!" ucapku kemerak
"Iya El" jawab Vey sambil melangakh kan kakinya masuk kekamarku
"Kamu sakit El..??" sekarang Rena yang menanyaiku
"Iya nih gak enak badan" jawabku berbohong
Dia memeluk erat tubuhku
"Oh iya El kamu kok gak ngabarin kita sih kalau sakit kan jadi kita gak terlalu kawatir sama kamu ..." ucapnya dengan terus memeluk erat tubuhku
"Maaf kemaren habis kecapean aku" jawabku yang tak sebenarnya
"Apa yang barusan aku ucapkan, alasan apakah itu...???"
"Hah emang kamu habis dari mana sih...?"
"Itu kemaren aku ke rumah kak Bima" jawabku penuh kebohongan.
"Kalian ambil minum sediri aja ya dibawah" ucapku sambil menyembunyikan wajahku dengan selimut agar tak terlalu tampak oleh mereka.
"El tangan kamu kenapa...???" ucap Rena sambi memyetuh tangan kiriku.
"Ini kemaren pas bantuin kak Tea masak jadi sedikit terluka kena pisau" jawabku mengada-ada.
"Oh gitu..." jawab Vey dan Rena bersamaan
"O iya nih kita bawain kamu buah diamakn ya".
"Iya" jawabku dwngan pelan.
"El kok kamu sembuyiin wajah kamu terus sih" ucap Vey menyelidiki.
"Ngantuk aku" sebisa mukin aku alihin pembicaraan yang pas.
Dan srreekk....
Vey membuka selimut yang menutupi wajahaku.
"Kamu kenapa El...??"
"Kamu habis nangis...???" tanyanya lagi dengan nada kawatir.
"Gak papa ini karena semalem aku gak bisa tidur aja kok" jawabku berbohong.
Gak mukin mata kamu itu merah banget terus sampai sembam gitu lagi
Kamu sakit ap sih....??" tanya Rena layaknya orang yang mengintrogasi.
"Kalian ini aku gak papa....!!!" jawabku dengan keras dan kencang.
"Yaudah tenang dulu..." ucap Vey mengelus lembut pundakku.
"Tadi banyak tugas El ini kita bawakan juga buat kamu kertas ulanganya" ucap Rena sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Oh maksih" ucapku sambil tersenyum.
"Kemaren Julian nanyain kamu tau"
Deggg......
Aku rasanya menelan kerikil mentah- mentah.
''Oh terus kenapa...??" tanyaku berpua-pura ingin tau.
__ADS_1
"Dia itu kaya kawatir banget sama kamu".
"Iya tu El sampai menelpone kita bekali- kali tau" tambah Rena yang membuat hatiku kembali memar serasa di pukul besi.
"Jujur deh El kamu sebenarnya ada hubungan aa sama dia....??" tanya Vey dengan wajah mengarahku dengan tatapan tajam.
Haruskah aku jawab...??
Haruskah aku menceritakan kejadian pahit saat kemarin...???.
"Hanya teman" jawabku lirih dan tak terasa air mataku kembali jatuh.
"Jangan nangis El...."
"Apaa sih ini kelilipan tau" jawabku berbohong.
"Tapi El anehnya lagi pas kita tanyain soal kamu tapi jawaban dia marah-marah intinya berbeda baget dari kemarin..." ucap Rena dengan raut wajah kesal.
"Bener banget tu El sampai kita nyesel lo nanyain kamu ke dia terus dia berucap kasar kekita".
"Oh gitu..." jawabku datar
"Mukin dia emosi" tambahku lagi
Dan setelah itu kita bercengkrama membahas hal yang lain.
***
Aku kembali menangis saat Vey dan Rena pulang...!!!
Aku tau Jul sekarang kamu benar-benar kecewa...!!!
Tapi taukah kamu Jul aku benar-benar tersiksa saat ini...!!!.
Sedari kemarin belum sesuap makanan pun aku telan kecuali air mata.
"Sampai kapan aku terus terpuruk sampai kapan...!!!!!!" ucapku brutal.
Aku lepas semua perban yang melingkar dipergelangan tanganku dan memukulnya keras-keras.
Sakit... Tapi lebih sakit hati aku saat ini
Aku beranjak ke kamar mandi dan aku guyur semua badan aku dengan air yang mengalir.
Aku berjam jam didalam kamar mandi tak ada yang aku lakukan selai menangis dan meraung.
"Aku harus bisa bangkit dan tetap melangkah aku harus lebih kuat dari dia"
ucapku dengan tatapan kosong.
Mengingat Aska menjadikanku semakin tersiksa hebat
Bukanya dulu aku pernah berkata bahwa aku harus berhati-hati dalam cinta dan ini hasilnya aku kalah dan hatiku terbakar hebat.
Aku mengigil hebat segera aku lepas semua bajuku dan kuganti dengan handuk untuk menghangatkan tubuh pucat ku.
Mengenaskan itu kata yang pas menggabarkan keadaan ku saat ini.
***
Julian pov
Sepulang nongkong dari kafe aku langsung merebahakn tubuh ku ke ranjang kamarku
Aku hempaskan nafas lelahku kali ini.
Drettt....ponsel ku bergetar dari dalam sakuku segera aku buka ternyata pesan dari Dea.
*Bisa lo keluar sekarang* isi pesan darinya
*Gaje* jawabku menolak ajakkanya
*Ini tentang Eliza*
*Gak penting* jawabku tak mempedulikan apapun dari dia
*Terserah yang intinya aku akan bongkar semua rencana Rehan*.
Segera aku mangambil jaket dan memakaianya dan segera aku turun dan kembali melajuakn motor ke tempat yang sudah ditentukan oleh Dea
Setelah sampai aku segera berhenti dan menemui dia.
"Apa...??" tanyaku.
__ADS_1
"Kemaren itu Eliza diculik sama Rehan" ucapnya sambil membalikkan badan ke arahku dengan senyum menjijikanya.
"Ha...???" tanyaku dengan kaget
"Iya dan kamu bisa tanyakan sediri saksi matanya Aftur" tambah Dea lagi dengan suara sok tegasnya.
"Terus ...????"
"Yang jelas dia sudah tak perawan lagi...".
Plakk aku tampar keras keras wajahnya.
"Hati-hati kamu kalo ngomong Dea...!!"
"Terserah Jul" jawabnya dengan menyeringai puas.
"Rehan itu nafsunya tinggi jadi besar kemukinan dia udah ngambil punya El" ucapanya yang seperti melempar bola panas ke arahku.
"Sialan lo kesini cuma mau kasih info itu aja...???" ucapku dengan ucapan basi
"Kasih alamat Aftur ke gue sekarang" ucapku lagi ke arahnya.
"Santai Jul nih" ucapnya sambil memperlihatkan alamat rumah Aftur.
Segera aku melajukan motorku dengan kencang dan mencari alamat Aftur.
Tok.. Tok... Tok
Aku mengetuk pintu rumahnya tiga kali dan dia keluar.
"Ada apa...??? tanya dengan datar sembari membuka pintu.
"Gue mau nanya ke lo tentang Eliza..?" jawabku to the point.
"Apa benar Rehan yang menculik Eliza waktu itu...??" ucapku langsung ke arahnya.
"Benar...."
"Terus apakah benar Juga Rehan sudah menyentuh Eliza dengan tidak wajar..??"
"Apa yang kamu katakan itu salah" ucap Aftur sambi duduk dikursi kayu.
''Duduk dulu Jul !!!" tawarnya ke aku
''Gak perlu" jawabku menolak tawaranya.
"Lo pacarnya Eliza..??" tanynya lagi yang wajah menyekidiki.
"Iya untuk kemaren tapi sekarang aku ingin berhenti" jawabku tanpa kesadaran.
"Oh syukurlah ada kesempatan untuk aku mendekati dia'' jawabnya yang seketika membuat ubun-ubunku panas.
Prakkk....
"Gak seharusnya mulut busuk lo berucap seberani itu sama gue" ucapku sambil mengebrak meja yang ada didekatnya.
"Apa ada yang salah...?? dia masih perawan Jul aku bisa jamin...!!" ucapnya sambil tersenyum licik.
"Sialan lo mau panas-panasin gue...??" ucapku dengan nada kasar.
"Terserah yang jelas gue suka sama Eliza..!!" ucapnya dengan ketus sembari menutup pintu rumahnya dengan keras.
"Sialan....!!!".
Segera aku beranjak pulang.
Sampai rumah segera aku banting semua barang yang ada di meja kamarku dengan brutal.
"Kak kamu kenapa...??" tanya adekku dari luar kamar.
''Ada kucing dek" jawabku dengan tipuan.
Eliza lo kenapa mongobrak-abrik otak gue dengan begitu mudahnya...!!!
Aku harus percaya sama siapa El....???.
"Aku cape dan aku harus mengehentikan semua ini" umpatku dalam hati.
Gue masih cinta tapi sakit hati ku lebih dominan saat ini.
Aku mencoba memikirkan dia kembali
Aku ingin menemuinya tapi aku takut justru membuat sakit dihatinya.
__ADS_1
"Tuhan apa yang harus aku lakukan....???".