Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 61 : Kedatangan Julian


__ADS_3

"Ya Tuhan kenapa ada dia di saat bersamaan aku jalan dengan Aftur akankah dia melihat Aftur...???" umpatku mengerutuki dalam hati.


"Habis dari mana kamu...??" ucap Julian yang tiba-tiba mengejutkanku.


"Habis pergi Jul..." jawabku sambil menutup pintu gerbang.


"Sama siapa...??" tanyanya acuh.


"Muak tau gak sama kamu...!!" tambahnya lagi sambil membuang muka ke arah lain.


"Iya maaf..." jawabku sembari mendekatinya.


"Apa kamu bilang cuma maaf...?" ucapnya dengan ketus.


"Ya aku harus apa..??" jawabku balik bertanya.


"Kamu pergi kan sama Aftur jalan berduaan gak ijin sama pacar sendiri diangap apa sih aku...??" ucapnya dengan lantang dan amarah yang mulai muncul membuat aku malu mendengarnya.


Aku tak menjawab hanya diam tak bergeming karena ini semua salahku.


"Sama aja kamu nuduh aku sama Putri" ucapnya lagi dengan nada sedikit turun.


"Udah Jul mending kita makan kan keburu dingin martabaknya.." ucapku agar sedikit mencairkan suasana sembari mengukurkan martabak ke arahnya.


"Gak tertarik..." jawabnya dengan angkuh seakan-akan martabak ini tak punya nilai.


"Serius kalo aku yang nyuapin ...??" ucapku sedikit bercanda.


"Basi ....!!! lagian dari Aftur kan sudi amat aku makan.." jawabnya sambil melipat tangan di dada.


"Jul udah lah marahnya gak boleh ngomong gitu depan makanan" ucapku sedikit sakit hati karena serasa dia menginjak-injak makanan.


"Gak...??" ucapnya masih dengan angkuh.


"Mirip bocah " jawabku dengan kesal.


"Ya terus...??"


"Terserah" jawabku pasrah.


"Kalo kamu buang tu martabak mukin aku mereda marahnya" ucapnya penuh penghinaan.


"Yaudah kalo kamu masih marah aku masuk aja capek juga aku" jawabku menyerah karena badan aku juga capek.


"Oh gitu ya saat Aftur datang kamu ladenin dia tapi saat aku datakan kamu tingalin aku bisa gitu ya" ucapnya membolak-balikan fakta yang membuatku ingin menampar wajahnya.


"Yaudah kamu maunya apa...!!" jawabku dengan lantang dan amarah yang mulai memuncak.


"Aku mau kita pergi malam ini.." jawabnya sedikit mereda.


"Kamu gak sakit kan Jul" ucapku sambil menyentuh keningnya.


"Apa yang salah..." ucapnya dengan bodoh


"Ini udah mau malam jelas di larang aku" jawabku terus terang.


"Sampah buktinya apa pas waktu itu...!!" ucapnya menantang yang membuatku harus mengingat kesalahanku.


"Asallamualaikum..." ucap Ayah dan mama ku yang baru pulang dari kantor.


Dan membuatku terkejut begitupun Julian.


"Julian ya..." tanya mamaku sambil menghampiri aku dan Julian duduk.


"Iya buk.." jawab Julian dengan sok ramahnya.


''Kok gak di ajak masuk sih...!!" ucap mamaku sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Iya ma" jawabku sedikit tersenyum.


"Bukanya kamu mau pulang ya Jul..." tambahku lagi sedikit mendesak agar Julian segera pulang.


"Kan aku baru dateng mau numpang mahrib juga kok" jawabnya yang menolak keinginanku.

__ADS_1


"Ya Tuhan kenapa Julian begitu keras kepala tak mengetahui apa mauku" Umpatku dalam hati dengan kekesalan yang hampir melampui batas.


"Oh iya sekalian makan malam bareng..!!" ucap Ayahku yang sudah di dalam.


"Ajak masuk El..." perintah mamaku lagi.


"Iya ma" jawabku mengiyakan.


"Masuk Jul.." ucapku mempersilahkan masuk.


Setelah itu Julian masuk dengan tampang yang membutku sangat kesal.


''Dimana tempat solatnya El" ucap Julian sok manis.


''Itu ada di samping taman kamu lewat pintu samping itu aja...!!" jawabku sambil menunjukkan arah musola.


"Oh iya makasih ya.." ucapnya berterimaksih.


"Apa sih udah deh gak usah sok manis..!!"


"Kamu kok malah marah sih" jawab Julian yang mukin kesal dengan aku.


"Eliza apa sih... teriak teriak cepat kamu mahrib juga habis iti siapin makan malam..." ucap mamaku sedikit keras.


"Iya ma" jawabku dengan pelan.


"Dasar Julian...!!!!!!!!!" ucapku dalam hati yang tak mukin aku keluarkan.


"Yaudah aku solat dulu ya..." ucap Julian sambil berjalan menuju arah mushola yang aku tunjukkan.


"Iya" jawabku sedikit


Setelah itu aku ke atas kamarku untuk mandi dan solat mahrib .


"Dasar Julian ngeselin banget sih dateng ke rumah orang tanpa bilang dulu...!!" kesalku sembari mengambil handuk dan menuju kamar mandi.


Karena minggu ini pembantuku sedang pulang kampung jadilah rutinitas rumah aku yang mengerjakan.


"Eliza..." ucap mama dari belakang pintu


"Iya mah..." jawabku segera memakai handuk.


"Mama kok masuk tanpa bilang sih..." ucapku sedikut terkejut saat keuar dari kamar mandi yang masih mengenakan handuk.


"Jelasin ke mama ngapin Julian itu jam segini datang...?" ucap mamaku sedikit mengeluarkan amarahnya.


"Ya mana aku tau ma aku habis kerja kelompok..." jawabku membual.


"Aku pusing tau gak sih ma...!!" tambahku lagi karena suasana rasanya kacau.


"Yaudah kamu beli telur sana buat bikin nasi goreng" perintah mamku sambil mengulurkan uang lima puluh ribu.


"Kok aku sih" jawabku berusaha menolok.


"Ya terus siapa...??" tanya mamaku sambil memaksa aku menerima uang itu.


"Udah cepet kamu sholatnya habis itu pergi ke warung...!!!" perintah mamaku lagi yang harus aku iyakan.


"Iya-iya" jawabku mengiyakan.


"Yaudah mama keluar.." ucap mamaku sambil berjalan ke arah pintu.


"Iya ma.." jawabku sambil mengambil mukena dan memulai sembahyang.


****


Setelah selesai memasak nasi gorengnya aku sengera memanggil Julian dan ayah untuk segera makan bersama di ruang makan yang mengarah langsung ke taman.


"Maaf ya buk bikin repot aja"  ucap Julian sambil duduk di kursi.


"Gak kok gak papa lagian kamu jarang kan main kesini..." ucap mamaku yang mukin hanya basa-basi.


"Iya buk" jawab Julian tanpa ragu.

__ADS_1


"Tapi ini makan seadanya ya...??" ucap mamaku sambil mengambilkan piring untuk Julian.


"Iya buk ini udah luar biasa kok" jawabnya dengan candaan yang nembuat aku dan ayahku ingin tertawa.


"Ambil yang banyak ya Jul" ucap ayahku yang terlihat sudah akrab dengan Julian.


"Iya pak" jawab Julian sembari mengambil nasi dari piring besar itu.


***


Selang setengah jam kita meninggalkan tempat makan karena acara makan telah usai, setelah cuci piring segera aku mengajak Julian ngobrol di teras dan di iyakan olehnya.


"Makasih ya El buat waktunya" ucap Julian sembari memasukkan telapak tanganya di saku celananya sembari memandang arah langit yang mulai gelap.


"Iya" jawabku sedikit lesu.


"Kamu marah sama aku" tanya Julian sedikit mendekatiku.


"Gak kok.." jawabku singkat.


"Terus kenapa kamu kok sedikit aneh...??" tanyanya ke arahku langsung.


"Lain kali kamu kalo ke rumah aku bilang dulu Jul" jawabku bermaksud dia menyadari kesalahanya.


"Emang salah..??" ucapnya sedikit kecewa.


"Sebenaranya engak tapi terlebih baik kamu bilang aku dulu supaya mama sama ayah tau..." jawabku memberikan masukkan.


"Jadi aku datang kesini buat kamu sedih" tanyanya yang membuatku dilema.


"Gak gitu Jul" jawabku menatap arah wajahnya.


"Eliza aku hanya mohon sama kamu percaya sama aku dan ini..." ucapnya sambil jongkok di depanku layaknya orang mau ngelamar


"Kamu pakai ini" ucapnya lagi sambil meraih tanganku dan memakainya di jari manis ku.


"Tapi Jul..." ucapu sedikit terkejut karena cincin yang pernah ia berikan waktu itu hilang.


"Kamu harus percaya kalau hatiku cuma buat kamu dan kamu inget janjiku malam ini di depan cincin ini"


Dan setelah itu dia meraih sesuatu dari sakunya lagi


"Dan ini cicin mirip dari yang kamu punya dan akan aku pakai di jari manisku juga menandakan kita akan bertemu suatu saat nanti" ucap Julian sambil memakainya di jari manisnya.


"Maksud kamu apa sih Jul...??" ucapku bertanya-tanya dalam kebimbangan.


"Kayaknya nanti pas kuliah aku mau ke luar negeri soalnya ayahku ingin aku melanjutkan pendidikan di sana" ucap Julian yang membuat aliran darahku seketika seperti terhenti dan membuat jantungku berhenti sedetik.


"Apa kamu bilang kamu bohong kan...?" ucapku bertanya-tanya tak percaya.


"Gak tau deh El" jawab Julian melihat arah luar dengan tatapan kosong.


"Makanya muali saat ini aku mohon kamu percaya sama aku El kita habisin waktu kita saat kita bersama karena kita gak akan tau kapan waktu kita akan berpisah" ucapnya yang membuat kabut di mataku.


"Bohong kamu Jul" ucapku dengan air mata yang tak tau kapan munculnya


"Aku gak percaya sama kamu Jul...!!" ucapku lagi tak percaya dan akan terus tak percaya.


"El aku sayang banget sama kamu jadi aku mohon kamu janji utuk jaga hati kamu buat aku" ucapnya sengan lembut .


"Tapi Jul kamu tarik kata kata kamu barusan gak usah ke luar negeri di sini kita banyak kok Universitas yabg bagus" ucapku dengan nafas yang sudah tak teratur.


"Doain aja ayah aku gak maksa buat itu..." ucap Julian yang membuatku sedikit lega namun belum sebuah kepastian.


"Kamu nangis.." ucap Julian sembari menyeka air mataku yang mengalir tanpa aku suruh


"Kamu harus tau Jul bahwa aku takut kehilangan kamu" ucapku sambil membalikan badan dan menyembunyikan wajahku darinya.


"Mending kamu pulang aku mau tidur" ucapku sedikit ketus karena rasa kecewa kini terbayang di hati aku.


Tiba-tiba dia memeluku dari belakang dan membuat kesedihan semakin menjadi.


Next

__ADS_1


__ADS_2