Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 91


__ADS_3

Setelah seharian penuh aku menginap di rumah Denis kini aku pulang .


Aku mulai melajukan motorku perlahan dari dalam garasi rumahnya.


"Makasih ya Den buat tumpanganya...."


"Oke Jul lain kali nginep lagi rumah gue terbuka lebar buat lo"


"Iya"


Aku terus memandangi kotak makan yang akan aku kembalikan kepada yang empunya nama.


Setelah berbulan-bulan lamanya aku tak pernah sapa kini hatiku mulai merasa aku mulai butuh dia.


Aku mulai melajukan motorku menuju rumahnya, di perempatan jalan terdapat penjual bubur ayam aku berhenti dan membeli untuk Eliza.


"Pak beli dua ya komplit" ucapku kepada tukang bubur itu.


"Iya mas" jawbnya sambil melayani pembeli yang sudah ngantri lumayan lama itu mungkin karena terlihat bersih tempat serta penjualnya jadi terlihat laris.


"Ini mas..." ucapnya sembari menyerahkan dua buah kotak bubur berkatong plstik transparan itu.


"Iya berapa pak..."


"Dua puluh empat" jawabnya menghitung harga bubur yang aku beli.


"Nih makasih pak" ucapku sambil menyerahkan uang duapuluh lima ribu. Setelah itu aku bergegas menuju rumah Eliza.


"Kembalianya mas.." ucapnya yang masih terdengar.


"Buat bapak aja"


Perlahan matahari mulai menyoroti tubuhku menandakan hari semakin siang.


Kurang lebih dua puluh menit aku sampai rumahnya karena jarak anatar rumah Denis dan Eliza terbilang cukup jauh.


Terlihat jendela besar transparan itu masih tertutupi oleh gorden menandakan yang punya kamar masih asik terlelap dengan mimpinya.


Permisi


Ten.... Ten... Dengan terpaksa aku menyalakan klakson motorku.


Dia muncul masih dengan baju piyama dan rambut yang terurai menandakan dia baru bangun tidur.


Grekkk.... Dia menarik pagar dan melihatku.


Dia diam mematung mungkin beruusaha mencerna kedatanganku yang tiba-tiba


"Baru bangun...??" tanyaku dengan halus. Ya ini ucapan pertamuku untuk dia.


"Oh iya" dia nenjawab sembari mengusap matanya dengan jari tangannya terlihat dia sangat gugup sekarang.


"Masuk..." Dia mempersilahkan aku masuk tentu hatiku meloncat kegirangan.


"Makasih...." ucapku dengan sopan.


Aku memilih duduk di teras sekalian aku melihat pemandangan di rumahnya ini yang terlihat nyaman bagiku.


Hampir setengah jam aku menunggu dia kembali keluar ya aku berusaha menoleh dia dari luar tentu aku kepo sedang apa Dia sekarang.


"Maaf ya lama Soalnya mandi dulu...." ucapnya tiba-tiba datang dan membuatku terkejut dia sekarang sudah tampil cantik bak bidadari dengan celana panjang serta baju bergaris hitam itu.


"Iya gak papa" jawabku dengan menghilangkan aura kekepoanku namun mataku tak bisa lepas dari wajahnya.


"Eum boleh numpang mandi gak...." ya aku memang belum mandi dengan jailnya mulut ini berkata.


"Oh silahkan..." jawabnya dengan rendah hati.


Aku memang sengaja dari rumah Denis tidak mandi sekalian, karena tentu aku punya rencana lain.

__ADS_1


"Kamu tinggal masuk aja lurus nanti dekat dapur ada kamar mandi" ucapnya sembari menunjukan arah menuju kamar mandi dengan sopan.


"Iya" jawabku sambil berjalan menuju kamar mandi.


Aku berdecak kagum melihat seisi rumahnya.


Rumah yang nyaman terlihat begitu rapi serta terurus.


Aku memasuki kamar mandi yang berwarna cream itu dengan desain interior yang menarik.


Kurang lebih lima belas menit aku mandi setelahnya aku keluar dengan baju yang terlihat basah karena aku sekalian keramas.


Dia tertegun memandangiku yang muncul dihadapanya dengan rambut yang basah kuyuh.


"Oh maaf sebentar" ucapnya sembari berlari menuju ruang kamar itu dan ternyata dia mengambilkan aku handuk


"Ini buat ngeringin rambut kamu..." ucapnya dengan tangan kanan mengulurkan handuk berwarna putih itu ke arahku.


"Makasih ya..." jawabku sambil mengambil handuk dari tanganya dan aku mulai mengusap rambutku dengan handuk.


Eliza saat ini sedang berbunga-bunga dia hanya menikmati waktu yang tak pernah mengejutkan hatinya seperti sekarang ini.


Setelah itu aku duduk di sampingnya dan kecangungan ini mulai muncul kembali rupanya.


"El aku mau ngembaliin ini ucapku sambil menyerahkan tempat makan miliknya...."


''Makasih ya" ucapku lagi membuhi ucapanku tadi.


"Iya sama-sama maaf ya kalau kurang enak" jawabnya sembari mengambilnya dari tamgan aku dengan senyum tipis.


"Enak banget kok" jawabku memujinya walau emang kenyataanya enak.


"Dia sepertinya sedang gugup denganku" batinku dalam hati.


Kita kembali terdiam dan hanya detakan jam yang berbunyi sampai lupa aku membelikan bubur untuknya tadi.


"Sebentar ya..." ucapku sambil berjalan keluar.


"Iya"


"Kamu belum sarapan kan..." ucapku sambil menarub bubur ini di atas meja kayu ini.


Dia hanya menjawab dengan senyuman yang tak mudah untuk muncul itu.


"Makan gih..." ucapku lagi sembari membuka plastik kresek ini.


"Iya sebentar" dia berdiri dan berjalan ke dapur


"Diminum Jul" ucapnya sembari meletakan dua buah cangkir berisi colkat panas itu.


"Oh iya makasih ya" ucapku dengan tak sabar karena aku ingin mencicipinya.


"Buran dimakan ntar keburu dingin" ucapku ke arahnya dia hanya diam.


Aku membukakan dus putih berisi bubur itu untuknya


"Jul aku bisa sendiri kok" Dia berusaha meraih dan mengambilnya.


"Gak papa" aku justru menahan tanganya agar tak kotor terkena cipratan bubur yang keluar.


Ting sedok miliknya jatuh ke bawah kolong meja kita sama-sama berusaha mengambil hingga kepala kita bertemu.


"Nih hati-hati gak usah gugup" ucapku sambil menyerahkan sendok dengan nada halus.


"Gugup banget sih El" umpatku dalam hati.


Jadi merona rupanya wajah Eliza mirip buah tomat yang ranum dan benar saja tanganya ikut bergetar.


"Ini drama banget ya Tuhan boneka kecil ciptaanmu ini" ucapku berdecak kagum dengan tingkah konyol Eliza.

__ADS_1


"Mau gue suapin....??" godaku ke arahnya


''Engak bisa sendiri kok..." jawabnya semakin malu-malu.


Kita saling menikmati makanan ini tak ada suara hanya terdengar suara gesekan sendok.


"Kamu tetap semangat ya Jul..." ucapnya yang membuatku menghentikan acara mengunyah bubur di mulut.


"Iya maaf ya El gue ngecewain kamu" jawabku sambil melanjutkan mengunyah makanan.


"Gak Jul gakpapa aku tetap bangga kok dengan hasilnya...." ucapnya yang membuatku tenang.


"Wiih lembut banget coklatnya El..." ucapku sembari menyeruput coklat dalam cangkir yang masih mengeluarkan uap panas.


"Iya soalnya ini coklat kiriman pamanku dari paris" jawabnya sembari menyisihkan kacang dari buburnya.


"Eum gak ada bedanya kok sama kamu sama-sama lembut" ucapku berusaha mencairkan suasana yang awakrddd


"Apaan sih Jul garing tau" walaupun garing dia berusaha menahan tawanya terlihat makanan dari mulutnya hampir keluar.


"Gak suka kacang...??" tanyaku melihat kacang yang disisihkan olehnya.


"Engak" jawabnya yang membuat aku tahu dia tak menyukai kacang.


"Lo gak pulang semaleman...??" tanyanya yang membuat letusan di hati aku.


"Kok tau..." ucapku dengan mengangkat dagu.


"Ya itu kan kamu bawa ransel ya gak mungkin dong kamu dari rumah" jelasnya lagi sembari menyedok bubur.


"Iya aku semalem nginep di rumah Denis" jawabku jujur kepadanya.


"Nih bini takut banget apa ya gue nginep di rumah Putri" ucapku dalam hati sembari tertawa.


"Peduli ya....??" godaku ke arahnya.


"Maksudnya...??" ternyata godaanku meleset.


"Gak apa-apa ngigo aku tadi..." jawabku yang terdengar garing.


"Oh kirain ngomong apa"


Setelah itu kita menghabiskan bubur dilanjutan berbincang-bincang dengan di temani coklat panas.


Tak terasa hari hampir siang rupanya matahari mulai meninggi.


"Udah mau zuhur aja" ucapku sembari melihat sinnar matahari yang tampak dari luar.


"Iya nih sholat disini aja" tawarnya yang membuat hatiku adem dibuatnya.


"Gak boleh pulang ya...?" tanyaku dengan alis kuanaikan.


"Boleh kok nawarin aja mau nginep disini apa gak" jawabnya yang membuatku tertawa geli.


"Apaa...??" ucapku dengan terkejut.


"Maksudnya mau sholat di sini apa engak maaf keceplosan..." dia berusaha menutupi rona wajah yang memerah itu.


Hahaha aku tertawa dibuatnya


"Jangan lupa senyum oke aku balik dulu ya" ucapku penuh rasa sayang untuknya sembari berdiri dan berjalan keluar dari rumahmya.


"Iya makasih untuk sarapanya" jawabnya dengan senyum.


Dia mengantarkan aku sampai gerbang


"Hati-hati" ucapnya sebari melambaikan tangan.


Begitu baiknya Tuhan mempertemukan aku kembali demgan Dia.

__ADS_1


Kisah cinta yang mungkin akan terulang kembali.


Setiap kenangan indah bersamanya terasa cepat berlalu hingga aku tak punya waktu untuk mencerna semua yang terjadi hari ini yang begitu indah.


__ADS_2