
Hari hampir larut malam namun Eliza juga masih belum bisa memejamkan matanya. Dipikiranya terus terbesit nama Julian memikirkan satu nama itu membuatnya terasa tergila-gila serasa tiada lelaki lain yang membuatnya jatuh cinta sedalam ini.
Dia saat ini sedang tidur dengan wanita yamg dipanggil mama itu perasaan takut kini muncul karena Dia yakin mamanya tak suka dengan Julian. Sedari acara hingga usai pesta tadi dia belum menyentuh benda kesayanganya itu hingga menjadikanya sangat khawatir dengan Julian karena Dia belum sama sekali menghubunginya.
Eliza mulai beranjak dari tempat tidurnya secara perlahan-lahan berharap wanita yang sedang tidur meghadap ke kanan itu tak bangun dan tak memdengarkan suara langakah kakinya.
Dia segera masuk ke bilih toilet sembari membuka layar ponsel miliknya, perasaan campur aduk kini memenuhi lubuk hatinya antara rasa takut dan antusias.
Hampir lima belas pesan serta dua puluh kali pangilan suara dari Julian yang tak terjawab.
Dia segera membalas pesan dari Julian .satu persatu.
"Maaf sayang tadi aku ada acara mirip kejutan dari orangtua aku jadi aku gak sempet bawa hp..." tulisnya pada layar ponselnya itu yang dikirimkan ke Julian.
Dan ternyata saat ini Julian masih online menjadikan Eliza tersenyum di saat hari hampir tengah malam tapi lelaki itu dengan setia menungunya.
"Iya gak papa aku khawatir aja kok" balas Julian yang membuat Eliza bernafas lega.
"Besok jadi..?" tulis Julian lagi yang dengan cepat di baca oleh Eliza.
"Jadi tapi kamu jemput aku di hotel ya nanti aku share location tempatnya" jawab Eliza juga berusaha secepat mungkin agar mamanya tak mengetahui jikalau Dia sedang bermain ponsel saat malam hari.
"Iya buruan bobok besok kita jalan...." tulis Julian lagi yang segera di baca oleh Eliza yang kembali tersenyum hingga tak Dia sadari baterai ponselnya hampir habis
Disaat Dia sedang asik dengan ponsel itu wanita itu terbangun dan mendapati Putrinya tak berada di sebelahnya.
"Eliza kamu dimana...?" ucap wanita itu pada akhirnya dan membuat Eliza merinding ketakutan suara mamanya seperti suara hantu rasanya karena begitu mengejutkanya.
"Di toilet ma..." jawabnya dengan bibir bergetar.
"Oh buruan tidur jangan main ponsel terus" ucap wanita itu yang membuat Eliza kembali bergidik ngeri betapa susahnya untuk menyembunyikan semua hal ini dari mamanya.
"Iya iya..." Eliza segera beranjak dan berjalan kembali ke tempat tidurnya.
Ya ponsel berwarna rosegold itu segera di tancapkan ke kabel charger karena baterai hampir habis dan tinggal 15 persen.
Perasaan gugup kini menghampirinya namun Dia berusaha sekeras mungkin agar segera tertidur dan kembali berjumpa dengan pagi hari yang sangat Ia tunggu-tunggu.
......
Hari ini Julian begitu semangat karena setelah sekian hari tak bertemu dengan Eliza hari ini akhirnya dia bisa bertemu kembali. Sedari subuh Dia sudah terbangun setelah sembahyang bersama adik perempuanya Dia melakukan olaraga ringan dengan jonging di sekitar perumahan omanya itu yang terlihat masih mengeluarkan udara segar.
Setelah selesai joging Dia segera mandi dan berganti pakaian tak lupa Dia sudah menghabiskan segelas susu dan sepiring nasi goreng buatan mamanya.
__ADS_1
"Sayang mau jalan sama siapa sih bahagia banget keliatanya..." ucap wanita itu kepada putranya yang tengah memakai hodie berwarna biru tua itu.
"Ada ma nanti aku kenalin ke mama..." ucap Julian yang terlihat sumringah dengan menujukan senyum kepada wanita itu.
"Cewek...?" tanya wanita itu dengan penasaran sembari memakai jam tangan di pergelangan tangan kananya.
"Iya..." jawab Julian dengan raut wajah bahagia.
"Yaudah hati-hati asal kamu jaga kehormatan wanita itu mama gak akan ngelarang kamu" ucap wanita yang sudah berpakaian rapi itu sembari mengelus-elus pungung anak lelakinya itu.
"Iya ma" jawab Julian sembari mencium tangan wanita yang terlihat siap berangkat bekerja itu.
Julian segera keluar dari rumah dan membawa motor milik sepupunya yang jarang terpakai itu Dia mulai memaukan kunci dan menyalakan mesin motor itu.
Dia mulai melajukan motornya melewati ramainya jalanan kota Bandung yang walau terlihat masih pagi itu namun banyak pengendara berlalu-lalang untuk bekerja atau sekedar membeli sarapan pagi.
Dia kembali melirik arloji miliknya dia kembali tersenyum ketika mendapati hari masih pagi masih banyak waktu yang akan Julian habiskan bersama Eliza nanti.
Dia mulai memakai goegle maps maklumlah Dia jarang touring di kota Bandung menjadikan Dia kurang menau jalanan kota bandung sebelah selatan.
Kurang lebih tiga puluh menit Dia sampai di depan Hotel yang terkenal di Bandung itu, tempat diman Eliza menginap bersama keluarganya. Disudut Hotel dekat pintu masuk itu terlihat Eliza sudah rapi dengan baju yang dikenakan yang terlihat fasionebel.
Julian segera menghampirinya seraya mematikan mesin motornya dan membuka kaca helm miliknya.
"Suthh tunggu dulu kamu turun dulu" jawab Eliza dengan menempelkan jari telunjukan ke arah mulutnya agar Julian sedikit mengecilkan suaranya.
"Ada apa..?" tanya Julian dengan raut wajah penasaran.
"Gini Jul keluarga aku mau ketemu sama kamu dulu..." ucapan Eliza seketika membuat jantung Julian serasa berdegup kencang ya walau hanya sekedar bertemu tapi saat ini bukan saat yang tepat.
"Serius ya jangan lah aku pakai baju main gak sopan sayang" elaknya berusaha mencari alasan karena untuk bertemu keluarganya akan dia lakukan ketika Dia akan meminang Eliza kelak.
"Udah gak papa nanti malah aku gak bakal dapat ijin" jelas Eliza sembari menunjukan raut wajah lesu.
"Oh yaudah lah" jawab Julian dengan pasrah.
Eliza mulai meraih tangan Julian dan masuk kedalam restoran yang berada di dalam hotel itu yang saat ini terlihat keluargnya sedang sarapan.
Ya baru pertama kali Julian bertemu saudara kandung Eliza sedang kedua orang tua itu sudah Dia jumpai beberapa waktu lalu.
Dengan bermodal nyali yang pas-pasn Julian mengahampiri keluarga itu.
"Asallamualaikum om tante..." ucapnya dengan rasa sopan dan menundukan kepala.
__ADS_1
"Oh nak Julian duduk dulu gih..." jawab lelaki itu yang terlihat ramah dan mengahrgai kedatangan Julian sembari menarikan kursi itu untuk duduk Julian. Begitupun kedua lelaki yang terlihat masih muda itu menyambutnya dengan senyum hangat.
Sedang wanita itu tampak tak merespon kehadiran Julian dan sukses membuat hati Julian sedikit tergores. Namun bagi Julian dia tak terlalu memusingkan hal itu karena baginya pepatah "tak kenal maka tak sayang" itu bisa mengambarkan sifat wanita tersebut saat ini.
"Makan dulu dek..." ucap lelaki bernama Bima itu dengan nada ramah.
Julian hanya menganguk dan duduk di sebelah Eliza.
Ya Julian saat ini benar-benar merasa minder dengan keluarga Eliza yang terlihat begitu berwibawa dan harmonis tidak seperti keluarganya yang hancur. Mengingat keluarganya saat ini membuat Julian semakin tak percaya diri.
Suasana kembali cangung ya dengan adanya anak kecil bernama Raca itu setidaknya bisa mencairkan suasana saat ini dan membuat Julian tak terlalu berpikir keras hal apa yang harus dilakuakan.
Tak berlama-lama Eliza segera mengajak Julian keluar karena Dia tak ingin melihat Julian merasa menderita dengan kecangungan ini ya begitulah ketika sepasang kekasih haruslah bisa menjaga hati satu sama lain dan saling melengkapi.
"Ma pa aku jalan dulu keburu siang..." ucap Eliza dengan segera beranjak dari tempat duduk dan diikuti Julian.
"Hati gati ya jaga anak om..." ucap lelaki bernama Handoko itu dengan menunjukan senyum tipis.
"Baik om.." jawab Julian dengan membalas senyum lelaki itu.
"Jangan dibikin nangis lo anak manja inj" ucap Dio dan di tanggapi senyuman oleh Julian sedang Eliza terlihat jengkel dengan ucapan kakak keduanya itu.
Sedang Raca terlihat ingin ikut dengan ocehan sederhana itu dan membuta Julian tak tega ingin rasanya mengedong anak kecil itu namun baginya jelas ridak mungkin disaat suasana seperti ini.
"Nanti sama bunda sama Ayah jalanya ya biar tante jalan dulu" ucap Tea kepada putra kecilnya itu sembari memeluk tubuh mungil itu.
Tak lupa sebelum pergi Julian berpamitam dengan mencium tangan kedua orang tua Eliza.
"Yaudah kita jalan dulu" ucap Eliza sembari melakukan hal yang sama dengan Julian setelah itu mereka berjalan keluar dari hotel.
''Jul kamu gak papa kok kelihatan pucet sih.." tanya Eliza yang terlihat khwatir dengan kekasihnya itu.
"Nervest sayang ketemu keluarga kamu apalagi liat tampang kedua kakak kamu yang mirip pengawal kerajaan " ucap Julian dengan nada berlebihan dan membuat Eliza tertawa geli.
"Hahaha kamu apaan sih kita mau kemana sih Sayang...?" ucap Eliza yang tidak menau akan diajak kemana hari ini.
"Lihat aja kita akan kesuatu tempat oke" jawab Julian yang terdengar penuh teka-teki itu. Dan membuat Eliza semakin penasaran.
Eliza mulai menaiki punggung motor itu dan dengan segera Julian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Eliza harus berpegangan erat dengan melingkarkan kedua tanganya di perut Julian.
"Hati-hati Jul" ucapnya dengan kencang karena derungan keras suara motor ini membuatnya harus berteriak.
"Iya biar kita sedikit merasakan terbang sayang..." ucap Julian yang terdengar samar-samar di telinga Eliza.
__ADS_1
Mereka mulai melajukan motornya kesuatu tempat yang akan membuat Eliza semakin terkejut.