Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 94


__ADS_3

Lanjutan


Aju langsung masuk ke dapur mengambil gelas dan menuanginya dengan minuman dingin dari kulkas.


Setelah itu aku berjalan dan menemui Dia di luar.


"Nih minumnya..." ucapku sambil menaruh segelas air putih di atas meja minimalis berbahan rotan ini.


"Makasih ya Jul..." ucap Putri yang masih sibuk dengan lembaran kertas itu.


"Ya" jawabku denangan nada datar.


Aku hanya diam sembari menungu Dia menulis di lembaran kertas folio itu yang entah apa yang sedang Ia tulis.


"Jul jadi sekertaris ribet ya..."cerita Putri yang membuat Julian tak mau ambil pusing.


"Oh iya emang..." jawabnya sembari menyilangkan kaki di atas paha.


"Ups... Air dingin ya" ucap Putri dengan menyipitkan mata Ia terkejut ketika meneguk air putih di dalam gelas itu ternyata air dingin.


"Hehehe iya belum beli galon soalnya yang ada hanya air dingin di kulkas.." ucap Julian terkekeh dengan kelakuan absrudnya.


"O iya gak papa suka linu aja sih..." ucap Putri sembari memegang pipinya.


"Bentar ya"


Julian kembali beranjak fari tempat duduknya, Dia ingin memgambilkan kue yang berada di kulkas.


"Nih ada kue makan gih...'" ucap Julian sembari mengulurkan sepiring kue bika ambon kiriman dari bawahan papanya yang pergi tugas ke Ambon.


"Oh iya makasih Jul..."


"Buruan cicipi gak usah malu anggap aja rumah sendiri" perkataan Julian jelas membuat Putri salting hatinya jelas terasa di bawa terbang ke awan oleh Julian.


Putri mulai mengambil sepotong kue yang sudah terpotong itu.


"Lagi ambilnya jangan cuma satu masih restok kok" ucap Julian sembsri mengambil tisu yang berada dalam kotak itu.


"Nih buat bersihin bekas kue di tangan kamu.


"O iya Jul makasih ya...." Putri merasa bagai permasuri Julian sekarang begitu di perhatikanya Dia.


Sedang Julian hanya menangapinya dengan santai.


Sekitar lima belas menitan mereka hanya diam Julian hanya melihat Putri yang sok sibuk dengan lembaran kertas itu dia tak menyangkal Putri mungkin ada maksud lain main ke rumahnya.


"Put sory ya gue mau mandi dulu gerah..." ucapnya sembari mengibaskan baju kaos ini kode keras dari Juluan agar dia cepat pulang.


"Oh iya aku sekalian pamit kalau gitu"


"Gak entar dulu..." ucap Julian basa basi sembari dia berkata dalam hati''yes akhirnya pulang juga".

__ADS_1


"Makasih Jul, yaudah aku pamit ya..." ucap Putri dembari beranjak dari tempat duduk.


"Eh tunggu Put..."


"Ada apa...??"


Julian masuk dan mengambilkan satu bungkus kue bika ambon yang masih utuh itu.


"Nih buat kamu jangan lupa di makan..." ucapku sembari memberikan kepada Putri .


"Oh makasih ya Jul maaf jadi ngrepotin.." ucapnya dengan senyum-senyum sendiri hatinya sekarang jelas sudah meleleh dibuatoleh kelauan Julian.


"Iya hati-hati...."


Julian segera masuk rumah dan mendapati ayahnya sedang bercanda ria dengan wanitanya hatinya terbakar rasa cemburu yang sudah berkobar-kobar hebat.


"Awas tu kalau aku ketemu sama tu pelakor akan aku bejek-bejek mirip ayam geprek...!!" ucap Julian sembari mengepalkan kedua tanganya erat-erat.


"Jbrekkkkkk" tak bisa mengendalikan emosinya dia membanting pintu itu keras keras tanpa ampun.


Dia kembali merenung ketika melewati kamar Reva adiknya dia jelas rindu denganya hingga terbesit hatinya untuk menemuinya besok.


"Tunggu kakak ya dek..." ucapnya memandang nanar kamar yang pernah menjadi tempat dia bercanda ria dengn adiknya.


Dia masuk kamar dan mulai melepas kaosnya segera dia menuju kamar mandi dan mulai menguyuh kepala hingga ujung kakinya dengan air perlahan dia mulai merasakan sentuhan air yang mulai mengalir ini terasa begitu membuatnya merasa teduh.


Setelah itu dia mulai memngusap seluaruh tubuhnya dengan sabun.


Rencananya besok dia akan pergi ke Bandung menemui mama serta adiknya.


"Tunggu aku ma besok aku akan kesana"


.......


Pagi-pagi buta Julian sudah bangun ketika fajar mulai tiba.


Dia memandang langit yang nampak masih gelap diselimuti udara dingin nan teduh serta gemerlapan bintang yang hanya tertinggal beberapa itu.


Dia mulai berkemas Dia hanya membawa barang seperlunya saja


Dia menulis surat untuk papanya dia jelas tidak mungkin jika berbicara langsung bisa-bisa papanya tidak memberikan dia ijin, dia mulai bersiap setelah mandi dan bersembahyang.


Dia mengenakan celana jens serta atasanya memakai hodie berwarna army tak lupa dia memakai masker serta topi bermerek nike, untuk sepatu dia memilih warna hitam ya begitulan jiwa laki identik dengan warna gelap.


Dia keluar kamar dan mendapati papanya belum bangun perasaan lega sedang Ia rasakan.


Dia mulai berjalan mengendap-endap dIa menemui mbk Inah untuk berpamitan serta menitipkan surat untuk papanya.


"Mbk aku mau ke Bandung tolong kasih surat ini ke bapak ya..." ucap Julian sembari mengulurkan secarik surat itu.


"Iya mas" jawabnya sambil mengelap tanganya yang basah dengan bajunya sembari menerima surat dari tangan tuanya.

__ADS_1


"Maaf aku gak bisa ajak kamu" ucap Julian dengan suara berbisik.


"Hehehe iya gak papa mas" mbk Inah hanya tersenyum mendapati sikap ramah anak majikanya.


"Yaudah aku pamit mbk...." ucap Julian berpamitan kepada pembantunya.


Dia segera pergi mengambil motormya rencananya dia akan menginap dirumah neneknya di Bandung hanya sehari karena libur ujian kelas dua belas akan berakir dua hari lagi.


Dia mulai membuka pintu garasi dan mengambil motor merah kesayanganya itu.


Setelah itu dia mulai menancapkan kunci dan menyalakan motor, tak berlama-lama Julian segera melajukan motornya keluar rumah.


Tampak hari masih terlalu pagi hanya ada beberapa kendaran yang berlalu lalang dan menjadikan jalan terasa sepi di tambah angin pagi yang begitu dingin.


Dia melirik jam tangan digital berwarna hitam itu tampak angka 05 32 dia tersenyum tipis keinginanya tinggal beberapa langkah lagi akan sampai Bandung. Dia menitipkan motornya di penitipan motor setelah itu dia berkalan menuju stasiun kota, dia mulai ikut berdesak-desakan untuk membeli tiket Dia mulai mengantri di antrian loket 3.


Tak berapa lama dia membayar nominal tiket tersebut dan beranjak menuju tempat menunggu kereta tiba.


Hampir lima belas menit kereta tujuan Bandung telah tiba.


Senyum semangatnya mulai terpancar dia sangat bahagia hari ini dia mulai melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam gerbong kereta.


Dia memilih berdiri walaupun masih ada beberapa tempat duduk yang kosong.


Dia memasang aerophon di telinga kanan dan kirinya dan mulai mendengarkan lagu yang membuatnya nyaman saat di dengarkan dalam perjalan.


Dia mulai terbawa suasana dalam lagu bertema kegalauan ini Dia jadi teringat kenangan waktu itu naik kereta bersama Eliza.


"Kapan-kapan akan aku ajak kamu kesini menemaniku disaat sendiri El" ucapnya di dalam hati.


Tak di sangka tiba-tiba ada wanita yang semula duduk itu ikut berdiri karena ada wanita hamil yang perlu di perioritaskan tempat duduknya.


Dia berjalan menuju sebelah samping kiri Julian, Dia merasa canggung sekarang padahal di sebelah kanan masih banyak tempat kosong.


Terlihat wanita yang berseragam kerja rapi itu terbilang masih muda Julian hanya menangapinya sebagai ujian zina matanya dia berisaha menwngok arah lain agar mata ini aman.


Dia menoleh arah luar jendela yang menampakan pemandangan yang luar biasa terlihat sang mentari mulai menampakan diri disisi timur Dia berdecak kagum, terkesan dengan ciptaan Tuhan yang tak ada duanya.


Kereta terus berjalan diikuti suara bisingnya rel kereta api, terasa perjalanan ini penuh makna.


Wanita itu terus memandang Julian dengan tatapan berbeda.


Kurang lebih tiga jam dia sampai di stasiun kota bandung.


Hari perlahan mulai siang terlihat sang cakrawala mulai meninggi.


Julian mulai turun dan kejadian memalukan dialami oleh wanita yang berdiri disampingnya.


Wanita itu terpeleset dan dengan segera Jukuan membantunya.


"Maaf kak biar saya bantu" ucap Jukian sembari membantunya Dia bangun.

__ADS_1


"Iya maksih ya" ucap wanita itu dengan suara lembut dan pandangan mata itu kini bertemu.


__ADS_2