Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 111


__ADS_3

Sedang disisi lain.


Keempat sahabat itu sedang asik membaca buku di perpustakaan walau sebenarnya hanya mengikuti jadwal absensi saja.


"Jul lo udah tau berita hot belum...??" ucap Roy sembari menepuk pundak Julian.


"Apaan...??"tanya Julian dengan menoleh ke arah Roy.


"Itu si Rehan ketusuk..." ucap Roy sedikit berbisik ke telinga Julian.


"Iya gue tau kan gue yang nolongin dia.." jawab Julian sembari membuka bungkus permen berwarna merah bertulis "kiss" itu.


"Serius, terus pelakunya katanya gebetan lo... " Denis ikut-ikutan bersuara.


"Siapa...?" tanya Julian basa-basi walau sebenarnya Dia tau maksud arah pembincaraan Denis.


"Eliza..." jawab Denis dengan menaikan alis matanya.


"Hoaks dia tu hampir ketusuk yang ada" jekas Julian sembari membuka buku bacaanya yang berici cerita pra sejarah itu. Sedang Dika terlihat masih memilih buku dan perdebatan itu bisa terhindarkan karena Dika memang berbeda bagi kawanya.


"Lah ini gimana ceritanya...?" tanya Roy dengan tatapan bingung.


"Ya menurut gue Dea hampir nusuk Eliza tapi di tahan Rehan jadi ya gitu Eliza selamat lo kaya gak tau aja sifat Dea..." jelas Julian kepada Roy dan Denis.


"Oh jadi gitu, jadi berita yang bersileweran kaya tukang ojek pengkolan itu itu hanya hoaks belaka dong..."


"Iya begitulah..."


"Ngomongin apaan sih kok gak ajak-ajak'' Dika datang dan langsung duduk di dekat Julian.


"Gak apa-apa masalah perut Dik..." ucap Roy yang memang memiliki bakat lawak.


"Oh..." dan dengan bodohnya Dika percaya hingga akhirya ketiga sahabatnya itu menertawai tingkah laku Dika.


"Hwaaa hwaaa" suara tertawa mereka.


"Kok malahan ketawa sih pada aneh..." si empunya nama rupanya menyadari keanehan sahabatnya.


"Lo yang aneh tulalit" ucap Roy dengan nada mengejek.


Dika hanya cengar-cengir menangapi tingkah laku temanya dia tak sadar bahwa dirinya selalu jadi bahan lelucon mereka.


....


Seusai pulang sekolah Eliza tampak murung Dia tetap pulang seperti biasa namun Dia tak ingin menemui Julian sebab hatinya sedang tak membaik seperti tadi pagi.

__ADS_1


Dia mulai berjalan ke luar sekolah sendirian, Dia berjalan menuju halte tempat untuk menuggu bus yang biasa ia tumpangi untuk mengantarkanya pulang.


"El... Eliza..."ucap Julian yang berisaha mengejar Eliza namun Eliza berpura-pura tuli dan Dia tetap masuk berhubung bus itu berhenti di depanya.


Dia tak menghiraukan ucapan Julian sebab rasa sakitnya kali ini serasa berkali lipat Dia bukan marah pada Julian tapi marah pada keadaan yang selalu memaksanya untuk menerima.


Dia mulai mencari tempat duduk Dia memilih kursi paling belakang yang terhilat masih tampak kosong.


Dia senderkan kepalanya di kursi penumpang itu Dia perlahan mengusap perlahan wajahnya dengan kedua tanganya Dia mengusap keringat yang terus menetes di wajahnya mengingat siang ini terasa panas.


Tak berapa lama bus yang di tumpanginya itu berhenti depan gang menuju perumahanya.


Dia meyerahkan uang lembaran dan berjalan keluar tanpa dia sadari Julian sudah berada di di dekat gang jalan menuju perumahanya itu dengan duduk di atas motor miliknya.


"Tunggu..." ucap Julian sembari meraih tangan mulus itu Dia tarik sedikit lebih kencang.


"Lepas..." Eliza berusaha memberontak tapi apa daya kekuatannya tak bisa menyeimbangi tenaga Julian.


"Kamu kenapa sih sayang..." ucapnya berusaha menatap rembulan itu yamg kini tampak berbeda.


"Aku lagi pengen sendiri..." jawabnya dengan membuang muka


"Eliza .." ucapnya lagi dengan nada memohon terasa tak tega Julian melongarkan pegangan itu.


Julian berusaha mengejar dan meraih pundak itu kembali ketika mengetahui Eliza berjalan meninggalkanya.


"Kenapa sakit kah...?" tanya Julian dengan panik.


"Aku capek Jul aku gak kuat" ucapnya pada akhirnya dengan berteriak dia berhenti di jalanan.


Julian berusaha memeluk kekasihnya dengan lembut di perlakukanya dengan penuh kasih sayang.


"Udah kamu kenapa sih cerita ke aku..." ucapnya dengan memeluk tubuh kurus itu erat-erat.


Dia hanya Diam Julian berusaha memapah Eliza mrnuju motornya karena jarak menuju blok perumahanya masih sedikit jauh karena bus yang di tumpangi Eliza hanya berhenti di tepian jalan raya.


Eliza menaiki tumpangan itu Dia hanya terdiam.


Setelah sampai depan rumah Julian mulai membuka gerbang dan Eliza segera masuk.


Eliza duduk di kursi teras berwarna putih itu dengan kepala di tundukan sedang kedua telapak tanganya berusaha menutupi wajahnya.


"Kamu kenapa sih...?" tanya Julian dengan nada halus.


"Aku takut sekolah Jul..." jawabny pada akhirnya perlahan Dia tak mampu menyokong beban ini sendiri.

__ADS_1


"Kenapa...?" tanya Julian berusaha mengerti perasaan kekasihnya itu.


"Aku yang di tuduh nusuk Rehan..." ucapnya dengan nada sendu disusul suara sesegukan.


Julian mulai memeluk Eliza di rangkuknya tubuh kekasihnya itu.


"Kamu boleh kok nangis tapi jangan berlarut..." ucapnya berusaha menengakan keadaan.


"Sekarang kamu ceritain kejadianya biar nanti kamu bisa memberi saksi jika masalah ini di bawa ke rana hukum" tambah Julian lagi berusaha menguatkan Eliza.


Eliza mulai menceritakan dari awal pertemuan dengan Rehan hingga pada akhirnya pertikaian dengan Dea.


"Dea tu hampir nusuk aku Jul tapi dengan cepat Rehan datang dan tanpa Dea sadari pisau utu nusuk perut Rehan" ucapnya dengan mata terlihat sedang mengiingat-ingat kejadian waktu itu.


"Terus...?" tanya Julian masih dengan rasa penasaran.


"Dea frustasi dia mencoba megambil pisau yang masih menacap di perut Rehan itu dan Dia mencoba menusuk dirinya sendiri tapi aku tahan dan pada akhirnya sidik jariku tertinggal di pisau ini...."jelas Eliza dengan berurai air mata.


"Iya aku percaya kok sama kamu sayang..." ucap Julian dengan terus mengelus-elus pundak Eliza walau pada hatinya sedikit membenci Rehan karena permasalahanya dengan Dea jadi melibatkan kekasihnya.


Julian mulai mengusap air mata itu dengan lembut


"Udah jangan nangis buat apa kamu tangisi orang yang buat kamu menangis..."


Eliza hanya menganguk.


"Terus kenapa seragam kamu kotor..?" ucap Julian sembari menunjukan bekas tenadangan Devi yang tampak membekas noda berbentuk sepatu.


"Ini tadi aku gak sengaja di tenadang Devi" jawab Eliza jujur walaupun sedikit menutupi kesalahan Devi.


"Apa..? kamu serius..." tanya Julian lagi dengan terheran-heran.


"Udah Jul jangan besarin masalah ini cukup masalah dengan kak Rehan selesai kita tutup masalah ini aku gak papa..." jawaban Eliza membuat Julian sedikit meredakan emosinya.


"Ini gak bisa di biarin kalau sampai tulang kamu patah gimana...?" Julian berusaha membuka lengan seragam Eliza namun dengan cepat Eliza menolak.


"Gak kok tadi cuma gak sengaja aja.." jawab Eliza berusaha meredamkan amarah Julian.


"Besok kita ketemu Dea" ucap Julian dengan tatapan tajam.


"Tapi Jul aku takut" Eliza tentu masih trauma dengan kejadian kemarin.


"Buang rasa takut kamu akan aku bikin perhitungan sama Dia"


"Jul aku mohon tunggu kak Rehan sadar dulu nanti Dia pasti cerita kok"

__ADS_1


Julian hanya diam berusaha mencerna ucapan kekasihnya itu.


__ADS_2