Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 109


__ADS_3

Wanita itu terus mengeluarkan air mata tanpa henti dia bersandar di kursi itu dengan mata berair dan hidung tampak memerah.


Wajah cantiknya itu kini tak nampak, hanya terlihat guratan kepedihan yang kini tericpta.


Dia tak habis pikir ada orang setega itu kepada anaknya tanpa Dia tau penyebap permasalajan yang sedang di hadapi anaknya saat ini.


Dia terus menyilangkan tangan dan jarinya mengusap air mata itu dengan selembar tisu.


Matanya memandang nanar baju bekas anaknya ang Dia tau berangkat tadi dengan keadaan sehat sedang sekarang Dia tak menau bagaiman kondisinya saat ini.


Hatinya terus berdoa berharap yang terbaik dengan sang pencipta berharap semua ini segera berlalu dan keaadan baik-baik saja.


"Udah yang sabar..." ucap lelaki berseragam kerja rapi itu sembari mengelus-elus pundak wanita itu dengan lembut.


Sedang wanita itu hanya diam dan menganguk bibirnya serasa sedang tak mampu bersuara.


Tubuhnya lemas sedang jantungnya serasa berdentum tak berirama, pikiranya serasa sedang dihalui badai.


"Bagaimana keadaanya.....??" tanya lelaki itu sembari duduk di sebelah wanita itu,


"Aku belum tau aku belum masuk cuma malam hari ini juga harus di operasi..." jawabnya pada akhirnya dengan nada tertatih senyum yang biasa Ia tunjukan ke lelaki itu kini tak nampak, hanya terlihat bagai bulan tertutupi awan.


"Separah itu...??" tanya lelaki itu dengan mengeriytakan kening terheran-heran.


"Ya hanya itu ucapan Dokter tadi ketika aku menanyakan kondisinya serta menandatangi beberapa berkas...." jawab Ayunda masih dengan suara parau hatinya begitu sakit begitu membuat Dia merasa sangat terjatuh sedalam ini.


"Tenang ya biar nanti masalahnya yang urus aku..." lelaki itu berusaha menengkan Ayunda.


"Mas cukup aku tau pelakunya aku gak minta apa-apa selain pelaku itu menyadari kesalahanya.." ucap Ayunda yang tak ada rasa benci kepelaku sedikitpun walau dia tau tindakanha sangat membahayakan anaknya.


"Siapa yang lakuin...?, tapi gak bisa gitu aku akan bawa ke polisi. Masalah ini." jelas lelaki itu lagi berusaha membantu menyelesaikan permasalah yang sedang di hadapi Ayunda.

__ADS_1


"Temen wanitanya, aku juga wanita mas aku cuma pengen ketemu sama pelakunya yang jelas tadi ada dua temenya yang membantu Rehan di bawa kesini salah seorang mereka menjelaskan kronologinya namun tak lengkap karena salah satunya masih syok terlihat tadi juga Dia tak mampu berkata banyak mas.." ucap Ayunda terlihat begitu tak menyangka ada wanita setega itu dan Dia berpikir ini semua pasti penyebabnya adalah masalah cinta.


"Oh gitu kamu kenal orangnya...??" tanya lelaki itu dengan alis dinaikan.


"Aku gak tau mas mungkin Dia adek kelasnya Rehan soalnya aku jarang keyemu gadis itu saat rapat di sekolah..." jelas Ayunda lagi kembali mengulang-ulang rupa gadis tadi.


"Yaudah kamu yang sabar aja ya kita tungu sama-sama kamu harus tenang ada aku disini..." dengan sikap bijaknya lelaki itu berusaha menengkan Ayunda.


"Aku gak tega mas lihat Rehan sekarang begitu menyakitkan bagiku Dia anaku satu satunya aku takut nyawanya tak tertolong" ucap Ayunda dengan air mata justru mengalir semakin deras rasa sesak didada itu kini muncul pikiranya tak menentu saat ini.


"Kamu jangan ngomong gitu kamu harus berdoa semoga semua baik-baik saja..." Seka lelaki itu berusaha menengakan Ayunda lagi walau dia tau pikiranya tak sama halnya seperti perahu yang terombang-ambing ombak di tengah lelautan.


"Tapi aku ini ibunya mas aku merasa bersalah jika ada hal buruk terjadi darinya..." jelasnya lagi dengan nada ketar-ketir.


"Udah mending kamu minum teh ini dulu ini baru aku beli tadi...." lelaki itu menyodorkan sebotol teh panas yang Ia beli di kedai depan Rumah Sakit.


"Aku gak nafsu mas aku cuma pengen ketemu Rehan sekarang aku mau tau kondisinya." Ayunda menolak dengan halus pikiranya tak memikirkan hal lain selain anak satu-satunya itu.


"Ini udah malem mending kamu pulang mas kasiahan Julian..." Ayunda jelas memherti disisi lain lelaki yang dekat denganya itu juga punya tanggung jawab anak, dia juga tak akan meminta lelaki itu untuk terus disampingnya.


"Udah gak papa dia pasti ngerti kok" lelaki itu serasa tak ingin pergi karena kondisi Ayunda sedang tak baik.


Tak berap lama dokter yang menangani Rehan muncul dari ruang sterilisasi itu.


"Ini dengan saudara pasien...??" ucap Dokter itu seraya berjalan ke arah Ayunda dan lelaki itu.


"Iya saya ibunya dok" ucap Ayunda dengan berdiri.


"Baik buk sebentar lagi anak ibu akan di operasi jadi persiapkan biaya adminitrasinya di ruang operasiaonal ya lebih cepat akan lebih baik..." jelas dokter lelaki berkacamata itu kepada Ayunda.


"Tapi dia bisa selamat kan Dok..?" icap Ayunda sembari menganguk.

__ADS_1


"Iya saya hanya bisa menjalankan tugas saya semaksimal mungkin ibu harus banyak berdoa ya semoga semua berjalan lancar beruntungnya pasein di bawa dengan cepat telat beberapa menita saja mohon maaf nyawanya sudah tak tertolong karena pasein mengalami pendarahan hebat ..." Dokter itu menjelaskan dengan detail keadaan Rehan saat ini wanita itu hanya tersenyum berusaha baik-baik saja padahal hatinya sedang terguncang hebat setiap perkataan yang terlontar dari dokter itu serasa menyayat hatinya.


Dokter itu berjalan menuju ruang operasioanal sedang lelaki berjas itu menyusul dari belakanganya.


"Biar aku saja kamu tinggu disini.." lelaki itu yang berdiri dan berjalan menuju ruang untuk mengurus keperluan operasi Rehan.


Tak berapa lama lelaki itu muncul dengan membawa selembar kertas berisi rincian biaya.


"Bagaimana..." tanya Ayunda dengan perasaan was-was.


"Semua berjalan baik.." jawab lelaki iti dengan wajah datar namun masih menunjukan senyum tipis.


"Sebenatar lagi Rehan akan di operasi ..." ucap Ayunda dengan pandangan kosong.


"Apapun yang terjadi nanti kamu harus kuat ya yang sabar..." lelaki itu terus berusaha menyemangati Ayunda.


Ayunda tak bisa membayangakan hal buruk jika terjadi pada anak satu-satunya itu


"Aku akan tuntut rumah sakit ini..." ucap Ayunda dengan ketus karena berapapun biayanya Ayunda akan tanggung agar anaknya bisa selamat.


"Udah ya kamu harus tenang semua akan baik-baik saja..." ucap lelaki itu yang terus berada di samping Ayunda dengan setia.


"Iya mas..." jawab Ayunda pada akhirnya.


.....


Angin malam terus berlalu Ayunda dan lelaki itu menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan yang sudah tak bisa di tanya lagi.


Ayunda terus mondar-mandir pikiranya tak bisa tenang rasa lelahnya tak Ia rasakan selain memikirkan Rehan anak satu-satunya sampai Dia lupa sedari siang belum sesuap nasipun masuk dalam perutnya.


"Duduk aja semua akan baik-baik saja..."

__ADS_1


"Aku gak bisa tenang mas..."


__ADS_2