Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 87


__ADS_3

Hatinya saat ini sedang rapuh melihat wanitanya sedang menjahuinya salah paham yang tercipta seperti ujian hebat baginya dia selalu salah dalam melangkah menajdikamn cinta mereka perlahan mulai goyah.


Setelah Eliza pergi aku masih diam aku mencerna semua ini, aku begitu menyesal dengan kelakuanku waktu yang menjadikan dia manjahuiku.


"Jul lo kenapa....,??" ucap Denis yang mengetahui aku memasang wajah murung.


"Gue gak papa..." jawabku dengan lesu


"Lo akhir-akhir ini tampak beda kenapa sih lo gak cerita aja....??" tanya Denis yang mungkin mengetahui sifat aku yang mudah berubah.


....


Saat ini aku masih terus berlatih hingga dua jam lamanya tak ada rasa lelah aku hanya berusa melupakan rasa sakit yang di buat olehnya.


Latihan kali ini cukup tapi tidak untuk aku, aku masih betah bermain disini penyebabnya sudah tentu keadaan rumah yang tak pernah membuatku nyaman.


Langit tampak mendung terlihat awan hitam sedang berkumpul dan siap menumpahkan beban yang sedang dipikulnya.


Aku bertekad untuk tetap latihan basket ya setidaknya cara ini bisa menghiburku sedikit perihal aku yang sedang patah hati.


"Jul lo gak balik mau hujan lho....??" ucap Denis yang menggangu kosentrasiku saja.


"Engak gue mau sekolah kita menang...."  ucapku berusaha mencari alasan agar aku tetap latihan.


"Dasar lo Jul serah deh kita mau cabut dulu...." ucap Denis meyerah menasehatiku.


Benar saja tak berselang lama saat mereka pulang dengan bergerumu angin mulai bertiup disusul rintihan air hujan tiba.


Aku begitu menikmatinya aku terus memainkan bola dan memasukkan ke keranjang.


Hujan turun semakin deras seolah olah mengerti kondisi hatiku saat ini.


Aku tumpahkan semua beban hidup yang aku rasakan kini yang


Aku memandang langit yang terlihat semakin hitam disusul tiupan angin yang semakin membut tubuhku semakin dingin, terasa semua ini menandakan tak tau kapan hujan ini reda.


Hingga tanpa aku sadari ada seseorang yang sedang melihatku dari jauh.


"Jul gue mohon lo berhenti" ucap Putri yang entah kenapa dia masih di sekolah dan berdiri di depan lapangan.


"Gak aku masih pengen latihan" ucapku dengan keras kepala dengan masih terus mendribel bola.

__ADS_1


"Jangan paksain semua hal yang kamu gak mampu Jul...." ucapnya lagi sedikit keras dan dia mulai berjalan ke arahku.


"Menepilah" ucapnya lagi sembari memayungiku dengan payung berwarna merah ini


''Gak..." aku tetap dalam pendirianku.


"Nanti kamu sakit Jul..." ucapnya lagi dengan lembut.


"Engak....!!" ucapku keras baru kali ini aku membentak Putri.


"Oke aku bakal ikut kamu hujan-hujanan" ucapnya sambil melempar payung itu dan mulai berhujan-hujanan sepertiku dia tampak bahagia merasakan setiap tetasan hujan yang terasa menyejukan ini.


"Jangan bodoh" ucapku sambil mengambil payung itu dan memberikan kembali kepada Putri.


"Aku berani bodoh kalau itu soal cinta" ucap Putri sedikit pelan dan tak terdengar oleh telinga Julian.


"Oke aku berhenti..." ucapku finis.


''Nah gitu dong .." ucap Putri dengan memberikan aku senyum manis itu.


"Kenapa sih kamu gak pulang aja...??" tanyaku terus terang sembari kita berjalan menuju teras Sekolah.


"Tau sendiri aku kan sekertaris osis jadi tadi banyak tugas yang belum aku selesein" jelasnya panjang lebar menjelaskan kenapa Dia masih berada di Sekolah.


"Duduk dulu" ucapku kepada Putri


Dia menuruti mauku dan Dia duduk di sampingku kita sama-sama sedang memandangi air hujan yang terus turun ini..


"Lo pernah patah hati gak sih...??" tanyaku mencoba curhat dengan Dia ya hanya dekedar basa-basi barang kali dia pernah merasakan apa yang kurasakan sekarang.


"Pernah tapi aku tak terlalu lama aku meraskan itu" jelasnya sambil membukakan kotak bekal makan itu.


"Mending kamu makan dulu kamu sekarang terlihat kurus lho kamu ada masalah Jul..?" tanyanya dengan rasa peduli tapi itu tak penting bagiku.


"Aku, banyak Put..." jawabku sambil menghempaskan nafas dengan lesu


"Boleh cerita....,?" Dia berusaha mengukik ceritaku.


"Hahaha kamu tu gak perlu jadi kaya aku kamu cukup jadi diri kamu sendiri yang selalu bahagia" ucapku dengan jelas diikuti suara tertawa.


"Ups jangan sok tau deh..." jawabnya terlihat dia terlalu polos.

__ADS_1


"Lo tau kan gue syang banget sama Eliza" jelasku lagi entah kenapa Eliza selalu menari ria di dalam hayalanku.


Mataku terbuka tapi pandanganku sedang tak ada di tempat ini.


Dan seketika wajah Putri menjadi asam seasam buah lemon.


Dia hanya diam tanpa menjawab.


"Tapi kenapa waktu tak pernh memihak hubungan aku sama dia....?" ceritaku lagi berusahaa mengadu pada sang empunya waktu.


"Oh yaudah kamu yang sabar aja mungkin akan ada pengganti Dia yang lebih baik"jelas Putri dia terlihat seperti tidak suka dengan ucapan Julian.


"Gak ada aku belum pernah nemuin wanita sebik Dia" ucapku lagi yang membuat Dia semakin kesal mungkin dengan aku.


"Jul dunia itu luas gak sedikit kok orang seperti Eliza" dan benar saja dia terlihat cemburu.


Aku tak jadi memakan bekal itu rasanya perutku sudah terlanjur kenyang.


"Buat kamu aja ya aku udah kenyang" ucapku sambil berdiri.


"kamu harus makan Jul .."


"Gak papa ambil aja lain kali gak usah relain hujan-hujan demi orang lain" jelasku sembari memberikan senyuman yang hangat.


"Oh iya"


Julian tetap membiarkan Putri duduk di teras sekolah itu sedang dia sudah mengambil motornya dan akan beranjak pulang walaupun hujan tak reda tekatnya lebih kuat dari baja.


"Mending lo pulang Put sebelum ada petir" ucapnya dengan lantang memperingati Putri


Putri memandang tubuh lelaki yang dia cintai itu mulai pergi dia kecewa pasti tapi bisa apa Julian tetap bukan miliknya.


Andai Jul kamu tau menyimpan rasa suka dalam diam itu berat.


Segera Putri beranjak dari tempat duduk dan menata kembali bekal makanan milik Julian untuk dia bawa pulang karena dia tentu akan memakan bekal itu.


Dia memang menyukai Julian namun hati Julian tetap milik Eliza seorang rupanya walau saat ini cinta mereka sedang di uji.


Julian memang tak punya rasa suka kepada Putri dia hanya melampiaskan kekesalanya dengan Putri begitupun Eliza dia terlanjur merasakan sakitnya patah hati menjadikan dia trauma untuk soal cinta yang kedua kalinya.


Mereka berdua saat ini disibukkan dengan kegiatan sekolah, Eliza yang sibuk dengan latihan pensi sedang Julian sibuk dengan latihan basket karena bulan ini dia akan mewakili sekolahnya tingkat provinsi.

__ADS_1


Mereka memang sedang berjauhan namun hati mereka tetap setia mereka masih saling menyayangi satu sama lain


Mereka tak pernah saling sapa mereka hanya mengagumi dari jauh, mencintai dalam diam mereka memang masih saling mencinta namun waktu belum berpihak kepada mereka.


__ADS_2