
Hampir seminggu lebih semua siswa mengikuti ujian kenaikan kelas tak terkecuali Eliza dan kesemua temanya.
Seperti biasa setelah ujian usai Eliza masih harus mengikuti sesi latihan untuk pensi di acara perpisahan kelas dua belas yang tinggal menghitung hari lagi itu.
Dia akan mempersembahkan suara emasnya nanti di pertenghan acara bersama ketiga siswa lainya.
"Oke anak-anak cukup untuk latihan hari ini dan perlu kalian tau beesok hari rabu gladi bersih untuk acara hari kamis nanti jadi dimohon untuk mempersiapkan sebaik-baiknya...." jelas kak Deva selaku pembibing latihan.
"Baik kak..." jawab seluruh siswa yang mengikuti latihan ini dengan serentak.
Ya begitulah ucapan pembimbing latihan kali ini yang di kepalai kak Deva yang masih terlihat awet muda itu.
"O iya El jangan lupa ya nanti kamu kasih lembaran ini ke pak Ridho selaku dia penanggung jawab acara nanti.." ucap kak Deva kearah Eliza dengan menyodorkan selembar kertas.
"Oh iya kak..." jawab Eliza menerima uluran kertas itu.
Tanpa Eliza sadari Julian sudah mengintai dari celah jendela itu dengan senyum kebanggan Dia begitu terkejut dengan suara emas milik kekasihnya itu.
Eliza mulai keluar bersamaan Stevi yang seusai latihan Drama.
Mereka berjalan hingga berpisah dipintu gerbang sekolah.
"Gue duluan El udah di jemput..." ucap Stevi dengan melepaskan gegam tangannya dari Eliza dan berjalan menuju mobil berwarna putih itu yang di dalamnya berada kakak lelakinya.
''Iya" jawab Eliza dengan tersenyum sembari membalas lambaian tangan dari Stevi yang mulai nenutup pintu mobil itu.
Eliza tertegun Dia begitu iri dengan kekompakan adik kakak itu.
Tak berpikir lama Eliza berjalan ke arah tempat parkir untuk mengambil sepedanya tak lupa Ia merogoh uang kertas satu lembar dua ribuan itu untuk biaya parkir.
Seperti biasa dia pulang kerumah dengan raut wajah tampak murung karena begitu tersiksa hatinya dengan sikap Julian yang membuatnya selalu salah tingkah ketika dia tak peduli rasanya sakit tapi ketika dia peduli rasanya jauh lebih sakit karena Julian seperti sudah tak mengagapnya lagi.
Dia mulai membuka pintu itu dan berjalan ke arah dapur karena cacing di perutnya sudah minta diberi jatah.
Dia membuka tudung saji dari rotan itu yang menampakan hanya sisa ayam goreng sisaan semalam.
Merasa tak tertarik Eliza membuka kulkas dan mendapati ada sup buah kesukaanya.
Dua mengambil dan membawanya ke ruang keluarga dia mulai menyalakan televisi sembari menikmati segarnya sup buah itu.
Hari semakin petang dia melihat sorotan cahaya mobil milik kedua orang tuanya itu mulai masuk kedalam rumahnya
Dengan segera Eliza membukakan pintu gerbang dan menutupnya kembali dengan masih memakai baju seragam yang belum Ia ganti itu.
__ADS_1
''Tumben udah pulang kesayangaan mama ini..." ucap wanita paruh baya itu dengan mengusap lembut rambut anaknya.
"Iya ma..." jawab Eliza dengan tersenyum.
Sehabis mandi Dia mulai memutar lagu berjudul never enough yang dinyanyikan oleh Loren allred yang akan dia bawakan pada pensi nanti.
Dia terus mendengarkan musik itu hingga membuatnya senyum-senyum sendiri
Hari mulai larut malam Dia begitu bahagia tugas sekolah sudah hampir selesai tinggal merasakan momen liburan nanti yang tinggal beberapa hari lagi.
Dia mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur tak lupa selimut tebal itu Ia tarik hinga menetupi seluruh tubuhnya.
Perlahan deru nafasnya mulai teratur dia mulai tegelam di alam mimpi hingga satu kecupan itu mendarat di pipinya dia seperti merasakan tersentuh lembut oleh setuhan marsmelow yang membuatnya perlahan mulai merasakan hatinya kembali hangat.
"Happy brithday to you" suara yang terasa lembut itu mulai mengusik alam bawah sadarnya hingga ia mulai membuka perlahan kelopak matanya
Dia tertegun ketika lelaki yang sangat Ia sayangi itu sedang duduk di dekatnya dengan membawakan kue yang terera angka satu dan tujuh itu.
"Suprise..." ucapnya sedikit berbisik ke arah telinga Eliza
Eliza terdiam dia begitu haru hingga dia meneteskan air mata bahagia itu Dia sangat terkejut lebih terkejut lagi hatinya ketika sosok yang sangat Ia sayangi itu datang membawakan sesuatu hal yang tak pernah Dia sangka.
"Kamu jahat Jul" ucapnya dengan suara orang terisak namun dia lirihkan sembari dia meliht jam beker yang menujukan angka 00.00 itu.
Julian memeluk Eliza dengan erat "selamat ulang tahun happy sweet seventeen day my swety" ucapnya dengan terus mengecup kening itu tanpa jeda.
"Ditiup dong kuenya..." ucapnya dengan mendekatkan sekotak kue tart berlapis coklat tebal itu ke arah Eliza yang masih diam di tempat dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya itu.
"Minta permohonan dulu dong..." ucap Julian sembari membantu Eliza bangun
Eliza mulai menundukan kepala tanda permohonanya kali ini di hari ulang tahunya.
"Doanya pasti biar kita jodoh kan...?" goda Julian dengan percaya diri.
"Apa sih Jul Rahasia dong..." jawab Eliza dengan terkekeh.
Eliza mulai meniup lilin itu hingga Julian kembali memeluk erat kekasihnya itu.
Selanjutnya Eliza memotong kue itu dan suapan pertama dia suapakan ke Julian.
"Jul gimana cara kamu masuk...?" tanya Eliza yang mulai beranjak dari tempat tidur dan duduk disisi Julian.
"Sutt diem nanti kedengeran mama kamu..." ucap Julian dengan perlahan.
__ADS_1
Julian mulai meraih tubuh mungil itu dan dia dudukan dipangkuanya dia mulai menikmati waktu bersama itu yang hampir dua minggu Ia taham demi membuat kejutan untuk Eliza.
"Maafin aku ya kemarin semua itu aku lakukan buat kejutan buat kamu aku kira buat aku mudah lakuin itu, tapi engak El sama sulitnya seperti kamu saat aku jahuin..." jelasnya dengan terus membelai rambut hitam lekat milik Eliza itu dengan lembut.
"Tapi sakit lho Jul..." ucap Eliza yang di bungkam dengan bibir milik Julian.
Malam itu mereka sedang duduk berdua menikmati waktu yang terasa begitu cepat berlalu sembari melihat rembulan yang tampak gagah diatas gelapnya langit tu.
"Jul makasih banyak ya buat suprise nya" ucap Eliza dengan bibir bergetar.
"Iya sayang tutup mata kamu dulu dong..." ucap Julian yang membuat Eliza kebingungan
"Ada apa...?" tanya Eliza dengan penasaran.
"Tutup..." ucap Julian lagi yang mulai di lakukan Eliza dengan menutup kedua matanya.
Julian mulai meraih kotak merah itu yang kemudian Ia buka dan memperlihatkan sebuah kalung berwarna gold yang tertera hurup E bersambung J yang akan Ia pakaikan di leher milik Eliza.
"Sekarang buka mata kamu .." ucap Julian dengan perlahan.
Eliza mulai membuka mata dan mendapati kalung yang sudah tertempel di lehernya Dia begitu terkejut hingga dia tak bisa mengukapkan dengan kata-kata.
"Jul ini serius buat aku...?"
"Iyalah suka kan.." Julian mulai menyeka helaian rambut milik Eliza agar tidak menutupi barang pemberianya yang Ia tempelkan di leher Eliza.
"Suka banget Jul" jawab Eliza dengan raut wajah bahagia.
"Aku gak nyangka lo kalau kamu tu cuma diemin aku, aku kira beneran..." ucap Eliza dengan menekuk wajahnya
"Hahaha" Julian tertawa mendengar ucapan Eliza yang mirip anak kecil.
"Kamu tadi lewat tangga...?" tanya Eliza dengan menatap lekat wajah Julian.
"Iya kenapa emang...??" jawab Julian dengan menaikan alis matanya.
"Kan bahaya Jul..." terang Eliza dengan rasa khawatir.
"Aku berani mati kok jika itu demi kamu..." ucap Julian yang membuat Eliza merasa berharga dimata Julian.
"Janganlah nanti tambah sakit hati aku karena gak ada obat..."
Next chapter 123
__ADS_1