
Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah
Anug'rah cinta yang pernah kupunya
Kau buatku percaya ketulusan cinta
Seakan kisah sempurna 'kan tiba
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya (rindu untuknya)
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan yang t'lah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama (waktu bersama)
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja? (Begitu saja)
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Oh, masih tersimpan
Setiap kеnangan, ho-wo-wo-oh
Semua cinta yang kau beri
Kau takkan terganti
Mеngapa masih ada (masih ada)
Sisa rasa di dada (rasa di dada)
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
__ADS_1
(Tanpa hadirmu, sayang?)
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Sampaikan rinduku untuknya
Berulang kali aku mendengarkan musik ini dengan aerophone yang kutempelkan di telingaku, setiap nada yang keluar seakan-akan tau isi hatiku serta memompa jiwaku dengan membuat setiap liriknya begitu bermakna bagiku, cerita lagu ini seakan sama dengan yang sedang aku alami saat ini.
"Jul kenapa, kenapa buat gue susah untuk lupain lo kenapa lo begitu hebat memiliki hati ini hingga akupun kesulitan untuk melepasnya...."
Aku terus menangis hingga mata ini perlahan bengkak dan mulai memerah.
Hari ini aku benar-benar patah hati.
Aku mulai menghapus satu persatu memoriku denganya hingga aku memblokir no watsaapnya.
"Aku sekarang sadar Jul mukin begitu menjijikanya hatiku saat ini tanpa mau berpisah dari kamu...."
Memang aku tak memungkiri Julian termasuk lelaki idaman hingga aku pernah menyebutnya aku beruntung memilikinya .
Tapi tidak untuk sekarang aku akan belajar Jul buat lupain kamu walau aku tau hatiku tak akan mampu namun aku percaya aku bisa.
Terkadang aku masih berharap bahwa kita bisa melewati liku perjalanan cinta kita namun untuk kali ini aku menyerah karena sekarang hatiku terlanjur patah.
Terimakasih untuk waktu serta kenangan yang telah kau ukir indah dihatiku yang kini hanya meninggalkan luka lara.
Aku tak ingin beranjak dari posisiku sekarang aku masih rebahan dengan batal yang hampir basah terbanjiri air mataku.
......
Keesokan harinya.
Bagitu malasnya aku untuk bangun pagi ini, karena hari ini ada ulangan Ipa dengan terpaksa aku harus masuk sekolah walaupun kemalasanku ke sekolah hampir sembilan puluh sembilan persen.
"Huft ini gimana ngilanginya coba...??" ucapku frustasi sambil mengusap bola mataku.
Aku mulai memoleskan wajahku dengan bedak berharap mataku yang sembam bisa sedikit tertutupi.
Aku mulai berangkat sekolah namun ada yang berbeda sekarang, aku kembali teringat Dia namun dengan perlahan aku mulai mengalihkan pikiranku untuk melupakan dia kembali seperti janjiku semalam.
Aku mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi berharap amarahku bisa terlampiasakan dengan caraku saat ini.
Saat sampai sekolah seperti biasa aku memarkirkan motorku terlebih dahulu dan berlanjut berjalan menuju kekas.
"Eliza tunggu....!!" ucap suara yang membuat duniaku sekarang runtuh aku tak membalikan badan dan terus mempercepat langkah kakiku yang semula lambat.
"El tunggu...." teriakan itu semkin jelas terdengar di telingaku dan langkah kaki yang hampir sejajar dengan langkahku.
"Cukup ya Jul cukuppp ..!!!" ucapku dengan keras.
Aku tak mempedukikan jika ada yang mendengar ucapanku aku hanya terus berjakan menuju ruang kelasku.
Sampai kelas
"Lo gk papa El....??" tanya Rena berusaha mendekatiku.
"Gak..." jawabku datar dan langsung duduk di sebelahnya.
"Mata lo...??" tanya Vey yang sekarang bergantian menanyaiku.
"Diem kek ini semalem gue kena gigitan semut..." jelasku berupaya mereka tak terus menanyaiku sebab aku tak ingin mereka tau semalam aku gila karena cinta.
"Kok bisa dua-duanya sih....??" sambung Rena sembari menatap lekat penglihatanku.
__ADS_1
"Plis deh jangan berisik gue mau belajar buat ulangan nanti...!!" ucapku sembari mengeluarkan buku dari ranselku.
''Iya-iya" jawab mereka brsamaan mukin merka tau saat ini tidak tepat untuk berdebat.
"Woy dia kayaknya habis nangis deh..." ucap Vey berbisik ke samping telinga Rena.
"Suthh diem...." jawab Rena sedikit pelan namun telingaku jelas masih berfungsi hingga aku masih bisa mendengarkanya.
"Aku mulai sekarang harus mengatur emosiku agar tak meledak tanpa tau tempat....." umpatku dalam hati
"Sabar-sabar eliza....!!" ucapku berusaha mengendalikan emosiku.
Bel masuk berbunyi dan pelajaran di mulai.
"Selamat pagi anak-anak..." ucap Bu Tika mengawali pelajaran hari ini dengan ramah.
"Pagi bu..." jawab semua teman-temanku serentak.
"Oke untuk kali ini seperti janji ibu minggu kemarin hari ini kita akan ulangan sudah kalian siapakan persiapan untuk ujian hari ini....??" jelas Bu Tika menanyai kesiapan ujian hari ini.
"Siap buk..." jawab semua siswa serentak.
"Baik akan ibu kasih waktu satu jam untuk menyelesaikan ulangan hari ini dan jika sudah selesai bisa menunggu di luar paham anak-anak....."
"Paham buk"
Setelah itu Bu Tika mulai membagikan lembaran soal serta satu lembar untuk mengisi jawaban.
Eliza mulai melihat dan meneliti semua soal dia tersenyum penuh kebanggan karena soal seperti ini baginya mudah
"El lo kenapa..?" bisik Rena ditelinga kiriku.
"Kayaknya gue bisa semua..." ucapku dengan percaya diri.
"Dih sombong" jawab Rena yang terlihat sirik terhadapku.
"Lihat aja...." jawabku semakin percaya diri dengan mengangkat alis.
Setelah itu semua siswa di kelas itu diam dan mulai mengerjakan soal.
Dan benar saja kurang dari satu jam Eliza sudah menyelesaikan soal ujian itu dengan lima puluh pertanyaan disusul Rena
"Lo serius udah selesai....??" tanyaku kepada Rena dengan terheran.
"Udah nih..." jawabnya sambil memperlihatkan satu lembar jawaban yang penuh dengen tulisan rapi bak ribuan padi berjajar di sawah.
setelah itu kita menyerahkan lembaran jawaban kepada Bu Tika.
"Silahkan menunggu di luar...!" ucap Bu Tika kepadaku dan Rena.
"Iya buk" jawab kita berdua bersamaan.
Setelah itu aku dan Rena keluar terlihat Vey menujukan muka masamnya
"Semangat..." ucapku sambil mengacungkan jari jempol.
Namun dengan sialnya hari ini bertepatan jadwal olahraga dari kelas Julian, terlihat disisi sebelah ada Putri sedang duduk di temani kedua temanya dan dilapangan nampak Julian sedang bermain basket.
"Tau gitu aku milih di kelas aja..." ucapku sedikit pelan.
"Kenapa El...??" tanya Rena mendekatiku.
"Gak papa Ren..." jawabku meyakinkan.
__ADS_1
Aku duduk disisi teras sekolah yang mengahdap langsung ke lapangan, tak sedikitpun mataku aku tolehkan ke arah Julian, namun hatiku sedikit terusik dengan tingkah Putri yang selalu menyoraki kata semangat ke Julian.....